Monday, March 19, 2007

Dua Traveling

Traveling Hati

Monday ini berkonsentrasi penuh dengan traveling hati sembari menyelesaikan tugas proposal yang agak ketinggalan. Maka kunikmati hari dengan suasana hati yang berkeliling, mengelilingi lintasan aura, bersenandung tentang irama jazz, menyuarakan hasrat tanpa harus bercakap, membisikkan hati dengan bait kehijauan hakekat.

Kunikmati hari
Kujalani waktu
Kudapati hati
Kupeluk nurani
Kuselesaikan nyanyian
Kusiapkan naskah

Tak terasa waktu menjadi berarti ketika hampir seluruh yang kutargetkan dapat kuselesaikan malam ini. Dan semboyan yang menjadi traveling hatiku hari ini adalah menyanyikan suasana dengan denting melodi sembari mengayunkan penyelesaian tugas.

(Met jalan ananda, hati-hati selalu, semoga traveling dan perjalananmu menyenangkan dan selalu dalam perlindungan Allah. Kemanjaanmu memberikan nilai kedekatan dan baru kurasakan ketika engkau jauh, pergi bersama menikmati rekreasi bersama sekolahmu yang ramai itu).
*****

Traveling Keliling

Sesuai jadwal maka kunikmatilah jalan-jalan memandang kesegaran, jalan-jalan keliling lintas timur, jalan-jalan penyambung silaturrahmi, merealisasikan janji, melepaskan amanah, menjalani family day. Seharian pada Ahad yang menyenangkan, menghangatkan kembali perjalanan napak tilas, memperhatikan suasana, menjelaskan rangkaian perjalanan dan memastikan untuk menghadirkan nilai kekeluargaan pada titik simpul yang pernah disulam.

Dan sambutan pun begitu membahagiakan, ada sajian yang khas, ada obrolan historis, ada tanya ada jawab, ada nasehat ada resapan, ada lunch bareng dengan menu penyemangat rasa dan lidah, ada perubahan, ada kebijakan yang pasti. Begitu mempesona, ada hamparan sawah hijau menjelang panen, ada cerita tentang kisah perjalanan, ada surprise dan semuanya diolah dalam tembang kalimat diiringi suling senyum yang merekah.

Di kota yang lain, sebuah suasana juga memastikan kedekatan persaudaraan yang begitu dekat. Ada cerita tentang next day, ada cerita tentang situasi terkini, ada sajian yang menyenangkan dan tentu saja diakhiri dengan dinner bersama. Sebelum pulang aku pesan seperangkat meubel untuk perabot rumah. Hampir seluruh perabot rumahku pesannya dari keluarga ragil yang memang jadi pengusaha meubel sukses di kota ukir ini, tentu saja harganya harga keluarga. Maka sekali lagi aku bersyukur, abis kalo beli perabot jati dari luar, duh harganya pasti selangit. Nikmatnya punya keluarga besar dari segala macam profesi, ada yang pengusaha, ada yang pengacara, ada yang militer, ada yang pengajar, ada yang profesi , ada yang biasa-biasa aja. Semua itu karunia Tuhan yang Maha Bijaksana.

****

Saturday, March 17, 2007

Ambang Batas

Logika yang dikumandangkan Sabtu ini adalah menelusuri hampir semua referensi dan mengaduknya dalam lembaran kertas, menuliskannya lagi, membacanya lagi sampai akhirnya diambang titik jenuh. Sementara siang menjelang dan mataku letih. Aku berhenti dan mengamati rekanku yang lagi asyik menulis dan mengambil referensi biru.

Ya, ada ketibaan yang gak disangka manakala ingin menyelesaikan dengan percepatan melebihi tolok ukur. Jadinya ya seperti ini, ada batas kulminasi, ada batas ambang yang mengharuskan aku tidak harus memforsir untuk segera selesai. Maka sejenak aku tertegun dan mengamati sekeliling ruangan penuh bahan referensi. Akhirnya kukemas yang kubawa dan segera meluncur pulang dengan iringan rintik hujan.

Capek juga ya, padahal semangat tetap prima namun ada yang harus dijaga agar tidak melewati ambang batas. Bukankah besok masih ada. Dan sementara ada di persimpangan aku mempersiapkan traveling tomorrow untuk realisasi janji sekaligus menyampaikan amanat. Ya aku harus istirahat, setidaknya ada 3 program di hari Ahad yang harus kuselesaikan dan itu tentu memerlukan fisik yang prima jua. Aku ingin istirahat.
****
(Thanks to Ek yang ikut menemani di ruang baca, sekaligus memastikan langkah yang sudah tersedia).
(Thanks to My yang mampu menjelaskan dengan kehangatan suasana dan ini bagian dari pertemanan yang menyenangkan, saling memahami dengan kedekatan persuasif).
****

Melakoni Jalan-Jalan Rasio

Membasuh dan mengisi ruang rasio dengan memasuki ruang baca, ruang luas menuju jendela yang memberikan tambahan bekal, tambahan daya. Aku nikmati suasana itu hampir setengah hari, memaknai jalan pikiran yang tertulis, memahami alur pikir yang didokumentasikan dan sekaligus menggali referensi untuk pemahaman kerangka olah pikirku. Ya, ruang yang paling pas itu ada disini, sebuah ruang luas, sejuk dan terkesan sedikit kusam namun mampu memberikan inspirasi untuk konsentrasi dan memfokuskan diri untuk mengambil dan menyalin sekalian menerjemahkan reviewnya. Walau banyak yang terkumpul di ruangan, namun suasana hening, masing-masing menekuni obyeknya, menjadikan suasana benar-benar khusyuk dan menimbulkan gairah untuk berlama-lama didalamnya.

Mengisi malam dengan menjelajah ruang baca yang lain, Grmd JM untuk mencari magazine kesayangan, Angkasa, dan ternyata sudah nongol. Ada juga buku-buku baru, best seller, ada juga buku kembang yang beraneka, ada yang bahas aglaonema, adenium, euphorbia, dan lain-lain. Sekedar baca kemudian beranjak menelusuri bagian lain. Di swalayan Mthr, ada juga yang dicari, ketemu, buah-buahan wajib seperti sirsak dan belimbing untuk di juice sebagai menu malam. Aku memang sedang coba untuk tidak dinner dan menggantinya dengan juice buah-buahan ini. Kecuali pada waktu-waktu liburan, bersama keluarga dinner di luar untuk membeli suasana.

Dan seperti bisa ditebak, dua bacaan kuhabiskan Jumat malam ini sampai akhirnya terlelap. Membaca memang bagian dari konsumsiku, dengannya aku makin bisa memahami sentuhan pola pandang dan pola rasa bagaimana membangun dan mempersepsikan argumentasi sebagai bekal diskusi atau apalah namanya. Maka jangan heran kalau perabot rumah tanggaku sebagian diisi dengan jejalan pustaka, dokumentasi untuk mengolah daya pikir dan spirit rasio. Rasanya kok menyenangkan ya, dengan kombinasi baca dan tulis, sebuah hobby yang menyatu di sisi rasa dan rasioku.

Maka puisiku hari ini adalah melakoni jalan-jalan rasio, menyenandungkan jalan-jalan rasa dan menyerulingkan nyanyian beroktaf tinggi (terinspirasi lagunya Gita Gutawa). Dan semuanya ada dalam nyanyian hati. Aku tidak ingin menafsirkan apa-apa, aku tidak ingin mengapresiasikan apa-apa. Aku ingin nyanyikan ruang rasaku dengan berbaris puisi, kubacakan dalam hati dan kutuliskan dalam hati.

Thursday, March 15, 2007

Intervening Abstrak

Cerita yang hendak dijelaskan adalah mempersandingkan variable intervening dengan fenomena abstrak yang dianalogikan sebagai pencarian titik temu dalam menafsirkan aura. Kuingin jelaskan bahwa kesejatian peran adalah menjalani langkah dengan susunan sudut absolute bersama cermin tigaratus enampuluh derajat. Jadi tidak usah menyetel sikap dan memutarnya dengan gelombang FM karena dari jauh pun sudah tergolek spanduk bertuliskan : not for intervening. Segepok kisah sudah dituliskan, semangkok kuah penyedap rasa sudah pula dituangkan. Dan jawabannya adalah sekedar dicicipi sebagai penyedap pandang di kebun bunga.

Aku segera berangkat menuju halte berikutnya, menjalani kehijauan tanpa harus berlalu lalang, menjalani keseharian tanpa harus membuka ruang. Perjalanan tidak harus selalu memfasilitasi ruang, bisa jadi full time menikmati keindahan, kesegaran dan daya pandang panorama yang mampu menuliskan sejuta kata penuh karunia. Yang terakhir ini adalah bagian yang menjadi titik sentral, dan menuangkannya menjadi pesona baris berbaris, bait berbait dan garis bergaris.

Aku segera berlari menuju konsistensi point of view, dan perlahan meninggalkan barisan pesona yang mampu meluluhlantakkan sinar pandang, siar pandang dan cara pandang selama ini. Perlahan, seperti sebuah close up shooting sinetron, perlahan dan menjauh lalu menghilang dan digantikan dengan cahaya pandang berikutnya yang (mampu) memukau dan memaku, terpana, terpukau. Aku ingin gantikan itu, aku ingin tukarkan itu, aku ingin pindahkan itu dan membungkusnya kembali bersama perjalanan langkah yang kujalani sampai dibatas ini.

(Surprise juga dengan kedatangan seorang sahabat yang dituakan, penyambung silaturrahmi, pemeliharaan persahabatan, dan menjadi titik jumpa yang menyenangkan bersama keluarga. Insya Allah nanti akan ganti kunjungan).

(Menjalani hari dengan konsentrasi untuk menyelesaikan beberapa planning yang sudah digenggam sejak mentari mengantar sinarnya, dan alhamdulillah semuanya berjalan baik, sukses dan yang penting menyenangkan ruang fikir dan ruang sanubari).

Wednesday, March 14, 2007

Supaya Engkau Tahu

Supaya engkau tahu
Aku tidak suka dengan warna yang kau pilihkan
Supaya engkau tahu
Aku tidak suka dengan bait yang kau sodorkan
Supaya engkau tahu
Aku tidak suka dengan senyum yang kau kiaskan
Supaya engkau tahu
Aku tidak suka dengan langgam yang kau perankan

Mengapa ?
Karena aku suka dengan keindahan taman bunga
Karena aku suka dengan bait-baitku sendiri
Karena aku suka dengan thanks with smile
karena aku suka dengan langgam kesederhanaan

Maka
Aku akan tinggalkan halte menjelang senja
Aku akan tinggalkan halte satu warna
Aku tinggalkan hati yang tak punya kamar
Aku tinggalkan hati yang tak punya pintu
Aku tinggalkan hati yang tak punya nada
******
(Menjelajah library, tuk temukan cara, akhirnya kutemukan, walau belum selesai tapi setidaknya sudah kutemukan metode dan melanjutkannya di hari berikutnya).
(Thanks to fren yang ikut menemani suasana sehingga kita bisa sama-sama paham dengan step yang kita lalui, dan beginilah tahapan itu, kita nikmati aja).

Tuesday, March 13, 2007

Dua Dering

Dua dering mengumumkan jingga dan merah
Dua ranting mengabarkan gemeretak
Dan sepoi angin menjadi tidak semerbak
Dan jelajah hari menjadi panggung tanpa penonton

Apakah kejelasan dan cara pandang harus diulang
Apakah hipotesa dan asumsi mampu diatasi dengan senyum
Apakah tidak harus diletakkan pada lemari pendingin dulu
Apakah tidak harus meneteskan dingin embun dulu

Hempasan buih ombak datang bergulung beraturan
Dan kesetiaannya adalah selalu mengabdi ke pantai
Dan kesetiaannya adalah selalu berlari ke pantai
Dan kesetiaannya adalah selalu memeluk pasir pantai

Maka
Asumsi yang menjadi horison di titik timur
Adalah logaritma yang menjadi formula jawab
Asumsi yang menjadi kulminasi di timur
Adalah diferensial yang menjadi pola tanya(mu)

Dua dering menceritakan putih dan kelabu
Dua-duanya adalah peniti hati yang berkancing
Dua-duanya adalah fragmen yang tepercik cat air
Dua-duanya adalah cerita tentang protagonis bening
****
(Traveling yang melelahkan, namun masih mampu menikmati pegunungan cadas di kejauhan, dan bentang sawah yang menghijau. Duh, kontras banget dengan yang kuasumsikan selama ini, indah ternyata.)

Monday, March 12, 2007

Ketika Langit Melukis Biru

Senandung tembang mengiringi detak dan detik, mengiringi ayunan dan helaan, membawanya ke langit cerah yang melukis biru. Sekelumit siar cakap mendentingkan suasana, mengabarkan rindu pada pada keteguhan alur, dan membawanya pada perahu yang bertuliskan : sampaikanlah pada halte terakhir yang ada di sudut siku, kabarkan pada semua persinggahan bahwa buih dan percikan adalah hempasan yang menyatakan keinginan.

Sejumlah aliena tidak pernah mengalir apalagi berbunyi menyatakan tema, karena ada bungkus keengganan untuk berlaku tutur dan mencoba bisu karena langit telah melukis biru. Cetusannya adalah riak air yang menuju rutinitas, melewati detak dan detik, melalui lalu lalang tanpa berkata, menyiapkan persimpangan yang dilalui setiap petang. Aku menikmati lukisan biru, lukisan langit dan lebih berkata nyaring padanya, pada keluasan, pada keniscayaan, pada kepuasan, pada pengakuan, ketimbang melukis di pasir pantai, ketika ombak datang, sirnalah ungkapan hati, ungkapan suka, ungkapan cinta.

Lukisan langit adalah pengakuan tentang eksistensi, lukisan langit adalah pengumuman tentang harmoni, lukisan langit adalah penjelasan tentang keluasan dan keleluasaan pandang, pandang mata, pandang hati. Ya pandang hatiku, ya sinar hatiku yang mampu menjelaskan pada sejumlah kisah untuk dipersaksikan pada lukisan langit. Pengumuman itu adalah semburat rasa yang membuncah dan mengantarkan figura pernyataan untuk dilepaskan dan dilontarkan pada persamaan bait dan syair lagu.

Sembari menikmati keindahan biru langit, kusimak dan kusemai lirik-lirik lagu yang mampu menggetarkan ruang hati dan menikmatinya di kesendirian keteduhan, karena aku ingin membirukan hatiku dengan getar nada dan mempersandingkannya dengan persamaan hati. Sebuah Senin yang membeningkan, sebuah hari yang mengantarkan, sebuah saat yang menggetarkan.

****

Sunday, March 11, 2007

This One

Memandikan Hasrat

Memandikan hasrat dengan meminjam tatapan matahari dan menjemurnya untuk mendapatkan kehangatan. Sepanjang Ahad aku ingin dapatkan kehangatan itu. Maka aku berupaya meyakinkan diri bahwa cahaya yang sesungguhnya adalah dari inner diri dan mengekspresikannya dengan liputan benderang hari, meyakinkan bahwa sesungguhnya kehangatan itu adalah anugerah yang harus disiram ketika hati menjaminnya dengan sinar kelembutan. Aku mandikan hasratku, aku mandikan matahatiku, aku mandikan aura rasaku, aku mandikan cerita hari ini dengan sabun mandi yang mewangi, melembutkan dan mengharumkan.

Album hari ini adalah menceritakan pada bilik hati bahwa aku mengadopsi ruang kebersamaan, keseksamaan dengan menggalinya dari sisi dialog, menghabiskan hari dengan melantunkan kedekatan pada buah hati, pada kemanjaan yang menyenangkan, mengajak memainkan bahasa dengan dentingan irama, dan mengakhirinya dengan membagi hati, membagi suasana, dan memeluk keselarasan pada dua buah hati yang berceloteh tentang dunianya. Aku rasakan itu sebagai pengisi hari, pengisi hati yang membeningkan.

Betapa kebersamaan itu mampu mengbirukan aneka warna
Betapa kebersamaan itu mampu mendekatkan aneka rasa
Betapa kebersamaan itu mampu menjelmakan kemanjaan
Selamat malam ananda
Pastikanlah kebersamaan ini menjadi titik lindung
Yang meneduhkan dan menidurkan
****

Gak Sreg

Menghadiri general college, mestinya materinya menarik dan berbobot tentang proaktif, entrepreneur dan membangun persepsi kewirausahaan. Namun karena disajikan bernuansa sekuler, seakan dunia ini menjadi yang utama dan mulai dari awal acara tidak menunjukkan suasana religi minimal ngucapin assalamualaikum, ada kesan seperti menyepelekan audiens yang sebagian besar muslim. Maka separuh waktu kutinggalkan dan bahkan aku gak mau teken daftar hadir untuk administrasi. Bukan apa-apa, gak sreg dengan suasana yang memamerkan keberhasilan tetapi ada misi lain yang coba dibahasakan dengan gaya bahasa halus. Untuk yang begini ini aku memang sensitive karena bagiku aqidah itu adalah harga mati sekaligus lakum dinukum waliyadin. Aku ingin dalam setiap forum formal akademis atau apa saja minimal mempunyai warna religi, menghormati yang mayoritas, sekaligus menjaga toleransi. Tapi memang kampus bunga ini didominasi oleh” driver” yang berwarna seperti itu.

(Banyak tugas yang harus dieksekusi, mikirin waktunya, bagaimana solusinya, bagaimana mendiskusikannya, mampukah kuselesaikan, masih ragu dan bimbang, masih perlu mengendapkan diri, setidaknya itulah warna pikiranku sepanjang hari Sabtu ini).

(Ada rindu pada bunda, pengen ketemu, cari waktu yang pas, secepatnya, untuk melebur rindu menjadi curahan, untuk melebur rindu menjadi pelukan, untuk melebur rindu menjadi ungkapan).
****

Feel New

See new
Hear new
Feel new
Begitu sapaan yang halus, lembut dan menghanyutkan. Aku terkesima dengan quality service sebuah centre of service megah di jl P ketika berkunjung for buy salah satu produknya yang laris manis N73 ME Jumat malam ini. Ya tidak hanya kalimat yang tertera besar di beberapa sudut ruang pamer yang luas dan elegan tapi juga pembuktiannya yang menjelaskan semua makna kata–kata itu. Deskripsi pelayanan, sambutan yang hangat, tidak sekedar basa-basi, memberikan makna yang dalam tentang nilai pelayanan.

Aku biarkan customer carenya berbicara dan berdiskusi dengan si sulung nan cantik sebagai kado pembuktian untuknya. Ku sapu pandanganku ke seluruh ruang pamer produk, kebersihannya, interiornya, arsitekturnya, semuanya terkesan wah dan menyenangkan. Pusat pelayanan ini sejatinya adalah pusat penyiraman mutu pelayanan dan dengan metode tutur tinular, akan dibuktikan kemudian kisah perjalanan pelayanan yang konsisten, terukur dan mampu membetahkan sekaligus memelihara customernya. Mottonya pas dengan kondisi terkini dan tomorrow : see new, hear new, feel new.
*****

Thursday, March 08, 2007

Ah, Sebodo Amat


Ah sebodo amat dengan meeting internal atau apalah namanya, yang penting aku ingin nikmati suasana jalannya, suasana travelingnya dan suasana asesoriesnya. Maka sepanjang materi lebih banyak mempasifkan diri, gak banyak kasih pendapat atau usulan atau apalah namanya.
Sejatinya aku ingin ringankan ruang brain, ruang pikiran, dan mengisinya dengan memandang lepas, menatap pegunungan di balik kaca, hijau, segar sementara awan gelap bergelantungan seakan hendak menyergap seluruh kehijauan itu.
Tapi, peduli amat dengan suasana itu, aku ingin bentangkan dan kosongkan semua jalur yang menuju ke jalur brainku, pikiranku. Kusenangkan saja nurani, kuriangkan saja hati sanubari sembari menyeleksi situasi yang mampu membangkitkan gairah kebersamaan dan membaginya bersama.

Dan kudapatkan itu
Dan kuraih suasana itu
Dan kugenggam asesories itu

Bahwa bentangan jalur memberikan keluasan pada kebebasan ekspresi, memberikan nafas segar untuk membebaskan diri dari formalitas dan menjemputnya di sisi simpang yang menunggu dengan seulas senyum.
Aku nikmati perjalanan diri, aku nikmati perjalanan hari, aku nikmati perjalanan hati dengan caraku, membagi ruang dialog antara rasa dan rasio dan kemudian menerbangkannya pada deru angin yang bertiup kencang, sembari mengatakan : aku bebas euy...!!

(Maaf to My, dealnya gagal maning, seperti kayuhan pedal sepeda, gak pernah sejajar pedalnya, gak pernah klop waktunya, ada saja yang mengirisnya. Ntar deh disetting lagi waktunya, tapi ya itu tadi, tugasnya dibatasi time loh, harus ketemuan secepatnya).
****

Wednesday, March 07, 2007

Dua Puisi

Puisi Cinta

Puisi itu adalah noktah cahaya yang dengannya aku bisa melagukan nyanyian kesukaanku dan menyiraminya dengan embun hati yang jernih dan bening. Puisi itu adalah lantunan irama hati yang dengannya aku bisa berjalan diatas angan, diatas awan dan menyampaikannya pada sebuah pohon, pada sebuah asa, pada sebuah halte, pada sebuah nama. Puisi itu adalah nyanyian kamar hati yang diceritakan dengan gemerlapnya keindahan melewati terminal rasa dan membunyikannya tanpa harus bersuara.

Sejuta ungkapan dikemas dengan semburat pipi memerah, bibir tipis nan basah, keindahan tatapan, rambut sebahu yang tergerai. Tidak perlu harus bercakap dan berdialog karena ungkapan itu adalah dialog imajiner yang bermarkas di titik singgung inspirasi kegairahan hati. Maka elemen utama yang menjadi catatan tanpa titik itu adalah pesona yang dibangun dari sosok diri dan mengantarkannya ke depan pintu gerbang sebuah kebun bunga nan indah warna warni. Maka suara puisi itu adalah mengapresiasi keindahan anthurium jenmani, pesona aglaonema tiara atau romantisme anggrek bulan. Puisi yang tercetus itu adalah letusan magma yang mengalir dan membasahi sekujur diri, kemudian menyuburkan rerumputan, memberikan kehangatan dan bumbu kasih sayang serta cinta sepenuh hati.

Dan kunikmati saja aliran-aliran yang membasahi itu
Dan kunikmati saja letusan-letusan yang menggelora itu
Dan kunikmati saja kehangatan yang menyelimuti itu
Dan kunikmati saja ruang kasih dan cinta sepenuh hati

****


Puisi Sepanjang Jalan Selasa

Lurus bergaris empat tidak menampilkan tulus
Lengkung gelombang menafsirkan goncangan tak bertepi
Melaju seratus empatpuluh memberikan sendok adrenalin
Melewati dadakan yang tak terduga, diimbuhi helaan luas
Menjalani catatan yang dirancang dengan barisan keheningan

Hening
Menikmati sembari mengaliri dengan ruang pandang jelajah
Melakoni situasi dengan mengubur segumpal baris dan bait
Menerangi ilustrasi bertuliskan kesamaan karakter berjemur diri
Menyeberangi lintasan tanpa menunda senandung yang disemayamkan

Berhenti
Menyirami dahaga yang diseret keinginan untuk segera tiba
Menyuapi rasa yang diselenggarakan keinginan untuk mengisinya
Mengunyah adonan pilihan dan mempersilakan masuk ke ruang cerna
Menghela keringat dan menyeruput kehangatan dengan titik koma

Tidak ada yang disemayamkan pada kejelasan cahaya jalur cepat
Tidak ada yang disuarakan pada kecepatan mengarungi garis demi garis
Tidak ada yang dipersepsikan selain membathinkannya dalam hati
Tidak ada yang dipersimpangkan selain menuju titik akhir cerita
Tidak ada yang dicatatkan pada titik-titik pencahayaan itu
Tidak ada yang dikoridorkan pada sejumlah kanal yang diluruskan
Tidak ada yang dinyanyikan kecuali nyanyian sepanjang jalan

(Maaf beribu maaf, ada yang gak klop, jadinya deal yang dirancang minggu lalu sebagai janji tidak kesampaian karena bertubrukan waktu. Aku mohon maaf pada all fren yang mempunyai jadwal Selasa Siang ini, gak sempat ikut gabung, padahal sudah kuiyakan. Sekali lagi maapin aku ya).

Monday, March 05, 2007

Langkah

Melangkah dengan seutas persepsi dan melanjutkannya dengan perspektif, meyakinkan diri untuk tetap bermandikan cahaya ultraviolet dan membangun assesories yang mampu menjawab kata hati. Kata hati adalah simpul paling indah yang mampu menolehkan dan menaklukkan sulaman bertuliskan : sebungkus senyum pada sebuah saat, ketika naluri meyampaikan ucapan tanpa kata. Cukuplah dengan jarak pandang, cukuplah dengan sinar pandang, dan untaian itu telah mampu menceritakan tentang sejumlah kisah, sejumlah sketsa, sejumlah fragmen dan aku tidak ingin menggarisnya pada sebuah persimpangan.

Maka mengalir saja tanpa harus berbunyi
Maka melangkah saja tanpa harus berisik
Maka membisikkan saja tanpa harus menyanyikan
Maka mengalir, melangkah, membisik, menyanyi tanpa harus berbunyi, berisik

Matahari tersenyum padaku sembari mendekatkan kehangatannya yang menghangatkan. Matahatiku tersenyum pada sejumlah langkah yang mengalir, mengaliri nadi-nadi, menjelajah ruang segala rasa tanpa harus bercerita. Ya bercerita dengan hati adalah melantunkan syair dengan sinar kehangatan yang membungakan. Bunga hati adalah kehangatan melantunkan syair, bernyanyi dalam hati, bersenandung tanpa suara. Dan langkahku adalah iringan dan irama itu.

(Ikut sedih ya My, ceritamu yang panjang itu berbungkus kesedihan, bahwa celah hari yang kamu titi hari-hari ini memberikan siraman untuk selalu tabah dan sabar. Aku yakin kamu sanggup menyelesaikannya dengan sebungkus kepastian, bahwa sinar terang akan hadir pada hari perspektif, melalui optimis yang kamu miliki. Kamu adalah sosok yang selalu optimis dan ceria, maka tunjukkan pada dunia kamu mampu mengatasinya).

Sunday, March 04, 2007

Akhir Pekan Jingga

Walking, Silaturrahmi

Walking in the morning, Sunday, dengan langkah santai menuju pusat keramaian aktivitas olahraga di Mgs. Berjalan, bercakap, melangkah, memandang, banyak yang dipandang, ada yang berjalan sepertiku, ada yang berlari, ada yang bergandengan, ada yang duduk melongo, ada yang bermain bola, ada yang melirik, ada yang cantik, ada yang manis, ada yang bloon, ada yang ndeso, ada yang sekedar cuci pandang.

Setelah berkeliling tiga putaran, menuju Spl sekedar beli penganan kesukaanku untuk bekal sarapan, cucur warna coklat. Aku fanatik banget dengan penganan ini, abis enak sih dan pas dengan lidahku. Maka setelah sampai di rumah, itulah sarapanku bersama keluarga, sambil diskusi, sambil mengunyah, sambil membaca koran minggu, sambil mengganggu si tomboy yang manja.

Ketika menghadiri undangan keluarga, maka jabat tangan bersama seluruh anggota keluarga adalah sesuatu yang menyenangkan, bercakap-cakap, membagi cerita, membagi silaturrahmi. Itu adalah nilai tambah yang tidak saja untuk merekatkan nilai keluarga tetapi juga kedekatan yang menjadi fundamen bersaudara. Maka senanglah hatiku dapat berbagi suasana sehingga memberikan setangkai atribut pada apa yang disebut nilai handai tolan.

Ada yang ingin dilihat untuk pembanding, maka bergegas aku ke JM tuk melihat yang ingin kubeli, memastikan berapa pricenya dan mencoba memilihnya. Sayangnya suasana terlalu hingar bingar, ramai banget, maklum ada hari religi, ada barongsai, ada hiruk pikuk, tapi karena targetnya adalah mencari sesuatu yang diidamkan, ya konsentrasi ke itu saja, kemudian karena lapar, mampir ke Kfc, lunch, sembari menghilangkan penat.

Sore pun kututup dengan membelai bunga-bungaku, menyiraminya dengan kelembutan, membersihkan yang kurang layak pandang, dan menata layout potnya. Ya aku merasa ada kepuasan manakala aku mampu memelihara dan menyayangi bunga-bungaku.
****

Lalu

Aku sambut Saturday dengan menata kembali prosedur titik mulai langkah, wake up pukul 03.00, lalu minum air putih satu gelas, lalu berwudhu, lalu Qiyamul Lail, lalu bertadarus dan memanjatkan doa harapan. Sembari menunggu subuh membaca apa yang bisa dibaca, lalu ke Masjid, menjadi Imam sholat Subuh, lalu menyambut matahari dengan aktivitas gerak badan, olahraga, bersih-bersih dan tentu saja bersihkan diri dengan mandi segar.

Lalu mengantar 2 remaja cantik manis ke sekolah masing-masing dengan senyum dan cium pipi, lalu breakfast bersama my wife di teras rumah. Menunya nasi putih, telur dadar, kecap manis dan segelas susu segar, tambahannya adalah membaca koran pagi. Duh nikmat banget, pikiran ringan dan segar sambil memandang komunitas bunga warna warni di halaman teras. Lalu menuju kampus, menggali lebih serius karena ini tahapan yang penting banget untuk penyusunan berikutnya. Lalu bersenda gurau dengan sesama teman, lalu lunch bersama sembari berdiskusi tentang next step, lalu masuk lagi, senyap sesaat dan seperti biasa selalu diakhiri dengan tugas seabreg dan harus diselesaikan satu minggu ke depan.

Lalu maghrib menjelang dan mati lampu lagi. Maka setelah mandi dan maghrib, daripada bergelap ria mending ngajak keluarga jalan sepanjang kota, menuju Ad Stbd, lalu dinner together, shopping sesaat dan lihat pameran bunga. Duh sayang ya gak begitu jelas karena malam dan gerimis. Lalu kembali, letih, cuci kaki, wudhu, Isya dan go to tempat tidur, dan lelap gak pake lama gak pake mimpi. Hari pun berlalu.
****

Saturday, March 03, 2007

Catatan Jumat

Menyanyi, Menyapa

Lagu Iwan Fals itu adalah evergreen, setidaknya bagiku, mungkin juga banyak orang sependapat denganku. Dengan syairnya kita bisa mempersamakan kondisi yang ada pada lingkungan kita, dengan syairnya kita bisa mempertemukannya dengan situasi yang bermain disekitar kita. Khusus albumnya yang “kuhabiskan” siang ini dengan bernyanyi sendirian adalah evergreen yang mampu membawa suasana hati ke depan ayunan keindahan, rasa yang mendayu dan melantunkannya bersama irama hati.

Bernyanyi adalah membentangkan cakrawala hati, membuka pintu brain sisi kiri dan menyuarakannya pada keindahan rasa itu sendiri. Maka ketika ada rasa letih pada rutinitas, lagian udah lama gak uji suara, aku buka saja karaoke sendirian di ruang, dan mempersamakan irama hati dengan lantunan suara Iwan. Iwan adalah salah satu icon kesukaanku disamping Ebiet, tapi bukan berarti aku gak suka yang lain. Masih ada Ungu, masih ada Nidji, juga suara Letto yang mewakili kontemporer.

Secara persamaan nada ketika ruang hati mempadankannya, maka syair yang dicetuskan itu adalah penceritaan tentang ruang hati, kata hati dan perlambang untuk disuarakan pada sejumlah testimoni. Dengan begitu lepaslah ikatan rasa dan terbanglah menuju keluasan dan kelapangan. Aku rasakan itu tanpa harus menjelaskan pada seseorang atau setiap orang. Aku rasakan itu tanpa harus berbagi rasa pada sepotong hati. Aku rasakan itu sebagai proklamasi nada hati tanpa harus mengatakannya pada sebuah nama.

(Ada yang disapa, menyambut permintaan imel, ntar aku kirimkan, kabar lain, baik aja, makin bersinar ya, ah bisa aja, emang iya, jadi perhatian loh, oh ya, pinter sih, buktinya persentasinya memukau, sudah terbiasa, biasa aja lagi, udah dulu ya, gak bisa lama-lama, thanks ya, jangan lupa, senyum yang khas, menyenangkan, aku tunggu ya).

(Ada yang menyapa dari ujung Timur, maka kutepikan dan kuhentikan laju my car, kembali menyapa, mengabarkan cerita, menceritakan kabar, lama gak kasih kabar, apa kabar, kapan datang kesini, sekalian kunjungan keluarga, ada yang terasa, ada yang tak usah dikata, ada tawa ringan, ada kedekatan, ada kesamaan, ada ucapan, ada yang tak terucap. Oke deh, salam aja ya, salam apa, salam apa aja, salaman juga boleh. Selalu ada yang mengesankan dari “perjumpaan suara” denganmu di sore yang baru disiram hujan, sore yang bening).
*****

Thursday, March 01, 2007

Dua Kabar

Dua kabar memberikan nilai
Pada sebuah judul, memastikan langkah tuk menyatakan
Pada judul yang lain, mengirimkan ucap dengan sejumlah kosa kata
Dua kabar menyampaikan bingkisan bersampul
Memberikan sentuhan lembut pada titik cerita yang dibukukan

Pada perjalanan hari
Kejutan yang diperoleh adalah mencoba mewarnainya
Untuk kemudian dikelir lagi dengan padanan kata
Yang menjadi perekat nilai pendekat rasa
Yang menjadi penjelas pandang mata

Senyumku adalah penceritaan kisah
Senyumku adalah pelantun bait
Senyumku adalah penggambar rasa
Senyumku adalah pelukis nada

Maka istirahatku siang ini adalah menjelaskan senyum
Maka istirahatku siang ini adalah menggambar senyum
Dan membawanya pada relaksasi ketenangan raga
Dan membawanya pada penceritaan tanpa dialog
****
(Thanks to Da atas bagi-bagi fragmennya, bentang jalanmu di depan kubayangkan sebagai cerah cemerlang, sebagai orang pertama yang merintis dan mendapatkannya, aku ikut senang dan bahagia).
(Thanks to My atas olah highlightnya, sukses ya atas kepercayaan yang diberikan itu, dont forget, tetap hangat dan selalu smile ).
(Tuk group milis, dealnya kusambut hangat, next week aja ya sekalian menjadikannya sebagai titik temu yang menyempurnakan).
*****

Wednesday, February 28, 2007

Sejumlah Kata

Sejumlah kata yang tak terungkap
Adalah menyalin catatan sepanjang asa
Sejumlah kata yang tak terkatakan
Adalah menulis tentang keindahan(mu)
Sejumlah kata yang tak tertuliskan
Adalah menyapa keindahan yang tertata dalam rasa

Duhai
Betapa kuingin berjalan bersama angin
Dan menyampaikannya pada sebuah hati
Dan meniupkannya pada sebuah rasa
Dan menitipkannya pada sebuah nama
****

Lagi Gak Fit

Lagi gak fit, makanya lebih banyak istirahat ketimbang menyelesaikan job. Lagian gak banyak yang harus diselesaikan, karena udah dicicil lebih awal. Aku selesaikan hari kerja dengan mengistirahatkan diri, minum air putih banyak sembari membuat planning untuk hari kerja berikutnya.
Memang belakangan porsi olahragaku agak berkurang karena diisi dengan kesibukan sosial religi yang bersifat dadakan dan insidentil seperti ngurusin warga yang ribut, ngurusin takmir yang kebablasan. Itu setidaknya menimbulkan pikiran yang agak berat untuk mencari solusinya, dan tidak dapat selesai dalam hitungan hari, harus colling down dulu, harus mengendap dulu. Dan sebagai konsekuensinya aku harus juga bisa menahan diri (walau kadang gondok juga) sehingga mengurangi kubugaran diri. Malam ini aku lebih awal istirahat untuk memulihkan kebugaran itu.
(Thanks to My atas berbagi infonya, moga semakin memperdalam catatan diskusi kita untuk kesuksesan bersama).
*****

Tuesday, February 27, 2007

After Meeting

Customer intimacy adalah mencoba memahami perilaku dan situasi cara pandang mitra bisnis melalui pendekatan informal. Maka sebagai bagian dari urutan kegiatan after meeting aku menjalani itu siang ini bersama dua mitra bisnis sekaligus. Banyak hal yang didapat ketika obrolan lunch bak gayung bersambut. Kita memang harus punya banyak bahan untuk menyambung percakapan, apakah itu tentang environment diluar konteks bisnis atau menyisir kondisi perilaku terkini.
Sejatinya yang dicari adalah melepas baju informal dan menggantinya dengan kedekatan individual yang nantinya berguna dalam melanjutkan proses bisnis. Maka satu mitra bisnis yang new tentu akan menjadi value dalam melanjutkan kerjasama antar operator. Maka omong-omong siang ini adalah menggali pesan tersirat bahwa silaturrahmi informal tidak bisa diabaikan manakala kita akan memulai sesuatu bahkan dalam konteks mempererat hubungan yang sudah terjalin. Ada kesetaraan, ada kebersamaan, ada kedekatan. Semua ini akan membantu cerita kemudian yang menjadi komponen keakraban tanpa mengurangi peran yang diemban masing-masing.
Maka aku nikmati lunch ini dengan riang
Maka aku sambut obrolan siang ini dengan riang
Maka aku jalani suasana siang ini dengan riang
Sembari menyatakan dalam hati
Ringankan dan riangkanlah
(Dan hari ini beberapa langkah job diselesaikan dengan apik bersama nuansa hati yang enak dirasa).
****

Monday, February 26, 2007

Kepada Nt

Aku paling gak suka kalau disalahartikan dengan berbagai prasangka, maka ketika itu dialamatkan dan diluruskan oleh telunjukmu kearahku, aku bereaksi. Dan aku juga bisa tunjukkan bahwa aku tidak suka dengan pendefinisian itu. Padahal selama ini aku senantiasa menjaga ritme pertemanan dengan lebih banyak memberikan nilai kepadamu atau kepada siapa saja dengan maksud mempererat jenjang kedekatan dan keakraban. Tapi ketika itu menjadi sebuah pendefinisian dan seolah kamu berada di pihak yang merasa bersih, jelas aku bereaksi. Dan reaksiku adalah membalikkan semua irama yang telah tercipta selama ini, sejauh ini.

Maka ketika kita bertemu di sebuah saat atau di sebuah waktu, jangan harap aku menciptakan dialog, senyum saja aku kunci dengan sejumlah gembok. Maka jangan katakan aku salah ketika kamu menegurku, menyapaku, lantas tak akan ada sapaan lanjutan atau yang setingkat dengannya. Sekali lagi itulah sikapku. Aku merasa dipojokkan dengan argumentasimu, padahal aku merasa telah menjalankan jalinan silaturrahmi dengan senantiasa menggali nilai, menggali angka dan menyemainya dengan senyum dan canda.

Sama ketika siang ini ada perjumpaan itu, kamu yang merasa jaim itu berupaya menegurku. Sorry aja ya kalau kuanggap tidak ada "desir" kata yang terdengar. Dan ketika kamu ulangi lagi, aku sekedar menjawab tanpa ekspresi. Sekali lagi sorry karena engkau telah menumpahkan aku pada sebuah kubangan yang bertuliskan keranjang prasangka. Maka jelas juga sikapku, memamerkan egoku, supaya kamu tahu kalau aku gak suka dengan caramu, sikapmu. Masih berderet barisan temanku, sahabatku yang mampu memberikan nilai senyum pada sunggingan bibir ini.
****

Sunday, February 25, 2007

Seru, Konsentrasi

Ahad Seru

Bagaimana gak seru, ketika didiskusikan dan dimusyawarahkan ada seorang yang merasa menjadi pahlawan kesiangan dan menyatakan keputusan yang sudah dimusyawarahkan beberapa waktu yang lalu dianggap tidak sah karena ini karena itu. Terpaksa aku berdebat hangat dan menyatakan bahwa sejatinya mengurus takmir itu harus didasari dengan semangat Lillahi Taala. Nyatanya dalam praktek selama ini orang itu merasa sebagai "pemilik" sehingga yang lain dianggap penumpang atau belum mampu mengurus.

Akhirnya banyak warga yang ikut berdiskusi menyerang balik orang itu, bahwa selayaknya yang ada di lingkungan yang menjadi barometer manajemen, bukan orang luar. Apalagi setelah diketahui konten ceritanya, tak lain adalah wewenangnya yang dicukur dan dialihkan ke warga yang mampu mengelolanya. Jadi, kelihatan belang yang sebenarnya dan menjadi bahan cerita yang tak habisnya. Dan aku katakan pada yang hadir bahwa kita harus tetap fight dan konsisten mengurus rumah ibadah ini karena kita bertanggung jawab terhadap eksistensinya.

(Bersih-bersih di Ahad pagi bersama warga, berbagi cerita, berbagi canda dan dengan semangat kebersamaan itu aku berupaya menjelaskan beberapa program yang akan dilaksanakan. Dengan semnagat itu pula mereka menyetujuinya. Sambil bekerja bermusyawarah dan menjelaskan, ternyata lebih menyenangkan sembari minum teh hangat dan makan snack pemberian warga).
****

Sabtu Konsentrasi

Konsentrasi itu adalah menyeleksi bagian yang menjadi target selanjutnya, sebagai tahapan menuju penyelesaian akhir. Maka konteks dan kontennya kucoba cerna ketika memulai hari dengan menelusuri bagian materi yang menjadi bahasan dan penjelasan. Maka menjelang senja sudah dapat kugenggam judul yang menjadi bahasan dan penelitian, setidaknya menjadi cover yang dianjurkan, bahwa ada variabel independen, ada juga variabel dependen dan yang lainnya.

Untuk memahami itu, seharian aku berjuang menelaahnya dengan semangat konsentrasi. Ya, bagian hari ini adalah langkah awal menuju ke tahapan berikutnya, ke tahapan yang menjelaskan bukti fenomena dan menuangkannya pada paragraf ilmiah yang bermanfaat dan semoga aku mampu menjalaninya dengan semangat yang prima. Hari ini adalah awal langkah itu menuju bagian-bagian penting di hari berikutnya. Maka aku berupaya maksimal untuk menyelesaikannya.
****

Friday, February 23, 2007

Invisible Hand

“Aku ingin hatiku menjadi megah seperti rumah ibadah ini”, bisik hatiku ketika menelusuri bangunan megah nan spektakuler berarsitek gabungan tradisional dan modern. Masjid kebanggaan yang besar ini menjadi sangat ramai menjelang Sholat Jumat seperti hari ini. Tidak saja dari dalam kota juga dari luar kota bahkan luar daerah bahkan menjadi pusat rekreasi spiritual yang menjulang.

Sambil bersila mendengar siraman rohani, hatiku juga ingin berbenah, ingin bening, ingin jernih, ingin megah dan mengalahkan segala rasa yang membuatnya butek. Paduan environment ibadah di ruang besar dan luas, dan hasrat hati yang menginginkan kemegahan nan lapang, membantu suasana ruang rasa untuk mengambilnya sebagai definisi mengambil nafas beberapa saat, menghela dan menghembuskannya kembali sebagai buangan kelegaan.

Lingkungan memang dibutuhkan untuk membangun suasana, dan kehadiranku di Masjid Besar ini (walau bukan dalam rencana, melainkan ajakan spontanitas) adalah bagian dari kebenaran hakekat bahwa ada saat manakala kita tidak merencanakan namun jalan itu yang kita jalani. Itu satu tanda bahwa invisible hand selalu memberikan arah bahwa nilai jalan harus diberi angka untuk memberikan makna pada satu catatan diri bahwa ketika ada bagian yang menjadi keruh dan membanjiri, sisi yang lain masih menyisakan titik cahaya dan mengajakku untuk berlari ke arahnya.

Maka ketika lantunan salawat berkumandang diantara dua khutbah dengan intonasi yang setara dengan nada Masjidil Haram, aku terpejam, aku terpaku dan mencoba memaknainya dengan getaran, ya aku bergetar dan menarik nafas sembari menyatakan dalam hati : “Wahai Allah, selalu kudapatkan pelukanmu manakala aku memaknai firmanMu dengan sujud dan titik air mata, maka izinkanlah aku untuk memberikan kemegahan pada hatiku, kebesaran pada hatiku, kelapangan pada hatiku dan izinkan aku untuk cemerlangnya langkahku, perjalananku, rasa kasih sayangku, rasa cintaku, rasa damaiku. Izinkanlah aku untuk membentangkan amanahku yang lebih besar, berikanlah kesempatan itu wahai Allah, amien”.
*******

Thursday, February 22, 2007

Sekali Waktu

Ada hal yang membuat kita sampai di batas dimana kompromi dinihilkan karena ada yang gak bisa diajak diskusi atau mencari solusi. Demikian yang terjadi, warga pada mengadu bahwa asesories cerita sengaja dilebarkan oleh orang itu untuk mengaburkan makna konten yang sesungguhnya. Kontennya adalah wan prestasi, menyalahi kesepakatan dan tidak melakukan kewajiban sehingga pihak lain perlu melakukan paksaan eksekusi.
Awalnya aku berupaya menjadi mediator sekaligus mendinginkan suasana yang sempat panas, namun akhirnya jalan kompomi itu mengalami titik buntu. Warga menginginkan dilakukan cara lain yang bersifat shock therapy. Oke, aku juga bisa lakukan itu dan sebagai pusat pengaduan tentu saja aku harus memihak pada yang mayoritas. Sejatinya hukuman terberat adalah hukuman moral, dikucilkan dari lingkungan dan gak punya tetangga dan atau teman. Tapi orang ini secara historis memang mentalnya amburadul, bermental monyet, gak tau malu dan pintar ber akting.
Nah, karena dia buka front lagi, maka cerita ke depan mungkin akan menjadi babak kedua yang "mengasyikkan" dengan tokoh antagonis yang dimusuhi, dijauhi, dibenci dan dijadikan bahan cerita yang gak habis-habisnya. Demi yang mayoritas aku akan berupaya melakukan segala sesuatu yang bersifat Fight, sekaligus demi menegakkan "adat istiadat" yang berlaku di lingkungan.
****
(Ada yang menyapa, ada yang disapa, semuanya memberikan rasa juice melon yang menyenangkan hati, membuka kalimat dengan ungkapan yang menyentuh. Thanks to My yang mau berbagi cerita. Thanks to Yn yang merasa ada yang kelupaan. Thanks to Da yang selalu mengabarkan cerita apa saja. Berilah hari senyum, berilah hati aura).
****

Wednesday, February 21, 2007

Bukan Mendung Hati

Mendung menggantung, tapi jalanku tidak semendung itu, buktinya aku bisa lancar menyelesaikan satu persatu planning yang memang selalu kubawa sebagai ” tas” kegiatan. Dari rumah kubawa” tas” itu dan kulakukan step by step, terukur dan disetting waktunya, kuselesaikan dan kunikmati sebagai pengisi hari. Lalu berkunjung, berdiskusi, ramah tamah dan permisi.
Dan ketika ada planning lewat imel tuk lunch bareng, aku respons aja, ikutan aja dan ketemulah dengan berbagai senyum, menyapa, menjawab, menanya, membanyol dan semuanya based on keriangan hati tanpa perlu berhitung waktu. Dan karena yang kirim janji adalah yang lagi mensyukuri nikmat, maka kita pun berbagi rasa dan mendoakan agar semuanya berjalan apik.

Perjalanan hari adalah merealisasikan planning menuju bingkai terselesaikannya satu bagian dari sederet bab yang harus diselesaikan sebatas maksimal peran. Semua akan menjadi enak dilakukan jika diawali dengan doa dan keyakinan bahwa sesulit apapun setiap urusan akan mampu ditemukan garis solusinya. Dan ketika itu disinari sebagai sebuah akhir, maka ada rasa senang, ada rasa puas yang melapisi rangkaian bagian itu.
Hari ini aku merasakan itu, mengawalinya dengan keyakinan, menjalaninya dengan benang hati yang menguntai menghias dan membingkai. Ketika semuanya diselesaikan, maka sisa waktu itu adalah memodifikasi hobby, membuka situs populer yang kusenangi, membacanya, memandangnya dan menyapunya sebagai tambahan wawasan.

(Thanks to Wy atas traktirannya, itu semakin mengentalkan nilai persahabatan kita. Also to Ng, Of dan As yang ikut meramaikan suasana percakapan, guyonan dan menjadikannya sebagai penebal nilai pertemanan. Semoga menjadi berkah bagi kita semua dan sekaligus memberikan pencerahan bagi rutinitas hari yang kali ini diselimuti mendung, maksudnya mendung beneran loh).
*****

Tuesday, February 20, 2007

Titik Simpul Itu

Cerita yang kamu kirimkan itu semakin menjelaskan tentang semangat berbagi diantara kita. Bahwa ada titik-titik simpul yang bersemayam dan menjadi kumpulan cerita yang menyenangkan untuk dibagi, diaduk-aduk dan dijadikan ramuan penjelas aroma. Ya aroma yang menjadi air mandi untuk dimandikan pada kebugaran keindahan. Maka apapun itu sesungguhnya adalah suara nurani yang membangkitkan naluri untuk memberikan altar karpet merah menyambut kedatangan romantisme kembang setaman. Kusimak saja lantunanmu, kudengarkan saja titipan kata dan kalimat yang disuarakan itu, kujalani saja irama melodi yang menghias stasiun hati untuk kemudian ditiupkan kembali melalui bait jawaban. Kehendakmu adalah spirit, maka berlarilah sekencangnya, kataku. Kehendakmu adalah dukungan, maka berdirilah dengan semangat lincah, kataku. Kehendakmu adalah menjelaskan senyum, itulah kelebihan yang kamu miliki, maka berikanlah dengan ketulusan yang layak. Kehendakmu adalah menjelaskan karier yang cerah didepan, maka raihlah menjadi keindahan yang membungakan. Kehendakmu adalah berbagi rasa, maka gabunglah menjadi kebersamaan yang mengembangkan bunga.
“Makasih ya, aku akan selalu mengingatnya”, katamu mengakhiri.
“Thanks again and happy always today and tomorrow” , kataku menutup.
****
(Ikut prihatin atas musibah itu ya My, ada duka ada lara, tapi aku yakin kamu mampu menjalani semuanya dengan tegar walaupun suaramu saat ini bergetar menjelaskannya).
(Ngobrol santai ba'da Isya dengan sesama jamaah memberikan makna bahwa ada sesuatu yang harus diubah lagi agar tidak meletus di kemudian hari. Maka kujanjikan akan ada pertemuan this week, secepatnya, agar tidak berlarut dan menjadi jernih kembali. Semoga menjadi bening kembali, itulah harapanku).
****
****

Monday, February 19, 2007

Menikmati Hati

Menyapa hari dengan semangat hati yang jernih
Menyapa hari dengan spirit rasio yang bening
Menyapa hari dengan dinamika rasa yang pelangi
Menyapa hari dengan sinar matahati yang putih

Maka aku nikmati hari dengan kepastian
Maka aku nikmati hari dengan keyakinan
Maka aku nikmati hari dengan interaksi
Maka aku nikmati hari dengan matahati

Selayaknya aku basahi nadi
Selayaknya aku basahi hati
Selayaknya aku basahi nuraini
Selayaknya aku basahi cahaya hati

Aku ingin mengunyah langkah dengan menyatakan pada diri bawa keyakinan pada sesuatu yang menjadi catatan hati adalah mencoba menelusuri boulevard dan menceritakannya pada dialog imajiner yang membungakan rasa tanpa harus membacakannya pada sejumlah testimoni. Aku ingin menikmatinya dengan bunga hati yang berwarna pelangi.
*****
(Met Ultah tuk yang merayakannya, moga makin bijak, moga makin wisdom, moga makin bening, moga makin putih dan menjadi kesempurnaan pada bulan empat belas hari).
(Thanks to My atas gathering informalnya, semoga memberikan nilai tambah pada semua yang menjadi catatan suasana. Dan memberikan asesories pada bingkai fragmen yang dikemas apik).
*****

Sunday, February 18, 2007

RING

Ring Satu

Sabtu dan Ahad adalah menikmati ring satu bersama keluarga. Dan aku memang lagi libur kuliah. Menyenangkan dan menjalani hari dengan melepaskan atribut rutinitas dan atau aktivitas yang kadang memberikan adrenalin dan keletihan. Sabtu dan Ahad ini kunikmati dengan shopping and lunch bareng keluarga, belanja kebutuhan bulanan di swalayan populer di kota ini, menikmati McD, menikmati RM Sdrn yang terkenal itu, mencuci sinar pandang dan tentu saja membelikan dan memberikan sesuatu yang diminati oleh my wife, si sulung nan cantik dan si ragil nan tomboy. Ya permintaan mereka kupenuhi semuanya dan diatas semua ini ucapan terimakasih dengan bahasa kemanjaan terlontar. “ Makasih ya Pa” kata mereka. Aku senang dan karena ini kawasan ring satu, maka nilai senang itu tentu juga bercampur bahagia dan bangga.

Di kawasan ring satu ini segalanya kutumpahkan, rasa sayangku, rasa kasihku semuanya kuberikan pada bentangan ruang responsibility. Ring satu ini adalah rentang teritori yang total menjadi wilayah mutlak kedekatan dan kebersamaanku. Ruang komunikasi dan sinergi menjelaskan hakekat tanggung jawab itu. Maka perintahnya adalah : Mari kita jalani dengan kecerahan hati dan kejernihan pandang. Aku menikmati dua hari yang ceria, aku menikmati dua hari yang cerah dan jalan-jalan di ring satu adalah keindahan membagi kebersamaan dan keteduhan.
******
(Alhamdulillah secara musyawarah, dinamika warga yang sempat panas selama seminggu ini berhasil kudinginkan dengan memberikan solusi, teguran dan peringatan agar persoalan internal hak dan kewajiban diselesaikan dengan kondusif, bukan malah melibatkan warga yang lain. Setidaknya decision malam ini memberikan kejelasan pada konten persoalan yang mestinya diselesaikan dengan koridor perjanjian. Bukan malah melebarkan masalah ke asesories yang gak perlu).
(Catatan Ahad)
****
Ring Dua

Menulis bagiku adalah kawasan ring dua yang mampu mengolah unjuk hati, unjuk rasa, unjuk senang, unjuk duka, unjuk jengkel, unjuk sayang, unjuk rindu pada some one or some thing yang menjadi center of attention. Maka ketika aku suka, kutulislah rangkaian kisah kesukaanku, yang memberikan persepsi dengan kompulasi baris kata membentuk perspektif kalimat. Aku tuangkan, aku ungkapkan, aku rasakan, aku nikmati.

Bagiku menulis tentang rasa dan rasio adalah pintu gerbang untuk menjalankan perintah hati dan mengumumkan pesan rasa dan rasio dengan kesanggupan menyatakan tutur hati menjadi tutur tulis. Aku senang manakala kuselesaikan satu artikel, aku senang manakala kuselesaikan satu bait puisi, aku senang manakala kuselesaikan satu cerita pendek atau novel, aku senang manakala kuselesaikan dengan kompromi hati yang jernih.

Ring dua ini memberikan makna padaku bahwa kawasan ini menjadi teritori privacy yang kumiliki, kukelola dan kunikmati berdasarkan persepsiku. Aku tidak merasa perlu memintakan persetujuan siapapun terhadap hasil karya yang kuhasilkan. Untuk artikel misalnya, tidak perlu minta lampu hijau dari siapapun. Berdasarkan moodku kukirim saja dan ternyata dimuat, ya alhamdulillah. Gak dimuat ya gak papa, tapi hampir seluruhnya dimuat, artinya memang tetap menjadi santapan tema pada setiap periode.
(Catatan Sabtu)
****
Ring Tiga

Rekan kerja itu adalah sisi langkah pada keseharian interaksi yang mampu memberikan suasana kedekatan, keakraban, dinamika dan cara pandang. Di keseharian rutinitas ada proses penggabungan realisasi komunikasi dan sinergi dengan bumbu penyedap guyonan, ledekan, canda dan bahasa informal.

Begitupun bagiku ada sisi privacy yang menjadi rambu sampai dimana batas tata cara penerimaan kedaulatan dalam konteks kebersamaan dan kesepahaman. Sedekat apapun, rekan kerja itu adalah kawasan ring tiga yang tentu saja secara pertautan rantai kesamaan cara nilai dan persepsi tetaplah menjadi “orang lain”. Jadi dasar yang diambil adalah mengejawantahkan sikap pandang untuk tetap menjaga jarak agar tidak menjadi sisi yang mengenakkan di depan tutur sapa tapi senyatanya tidak di belakang diri.

Aku merasakan itu. Ada rekan yang secara tata gaul baik banget namun sebenarnya di belakang aku, tidak sejernih yang dibayangkan. Rekan seperti ini adalah tipe orang yang merasa superior dan seakan dialah yang TER ( terbaik, terpandai, terpintar, terhebat etc, etc). Sewotnya adalah tidak boleh ada orang lain yang lebih baik darinya. Bahasa terangnya adalah : gak senang liat orang senang or senang liat orang susah. Nah menghadapi tipe rekan seperti ini, aku mencoba melihat realitas kondisinya dan setelah kupelajari, semua itu based on keletihannya menghadapi rutinitas persoalan yang ada didepan yang tak berubah, menjadi beban diri, beban hati.

Ada lagi yang berlaku seperti priyayi, sok wibawa, sok merasa gak butuh teman. Nah tipe teman seperti ini yang aku juluki seorang yang gagah gemulai. Dan setelah kuselidiki dengan rekan yang pernah bersinergi dengannya memang gak jauh beda dengan yang aku persepsikan : selalu memandang remeh rekannya dan selalu memandang rekannya salah melulu, Cuma dia yang benar. Dan ternyata latarnya adalah seorang yang pengecut, jomblo seumur hidup, egois karena gak pernah berbagi kasih dengan pasangannya, merasa single fighter, gak butuh perempuan yang lembut mengasihi. Jadilah dia sebagai orang yang bernilai banci, banci dalam segalanya. Kalau ada dinamika dalam sinergi kerja, gak berani ngomong di meeting formal, tapi main dibelakang, ngomongin bahwa dia yang benar, temannya yang salah. Aku merasa kasian dengan rekan ini, kasian dengan kehidupannya yang abnormal itu, banci, pengecut dan sok priyayi lagi padahal mentalnya lontong sayur.

So, bagaimanapun rekan itu adalah kawasan ring tiga dan aku harus tetap menjaga ritme gaulnya agar menjadi batasan yang wajar, tidak ingin terjebak dalam wilayah kedaulatan privacy dan tidak gegabah menjulurkan komunikasi informal. Rekan seperti yang kugambarkan itu ada di keseharian rutinitas. Dan mereka ada di depanku. Aku tertawa bercampur kasian, kasian deh lu.
(Catatan Jumat)
*****

Thursday, February 15, 2007

Pengen Jernih

Bodo ah, hari ini aku pengen rileks aja, peduli amat dengan kerjaan yang gak pernah abis-abisnya. Maka santai aja aku golak golek di meeting room sembari sesekali menerima telepon atau sms. Aku pengen santai, pengen ngenol kan pikiran, pengen jernihkan rasio, pengen damaikan rasa. Maka cuek aja dengan lingkungan, seharian berkurung, seharian bersendirian. Dan menjelang sore agak lumayanlah suasananya.
Ya, kadang kita perlu jernihkan aura
Ya, kadang kita perlu beningkan ruang rasa
Ya, kadang kita perlu putihkan kelabu warna
Dan hari ini, kepenatan itu terasa banget
Dan hari ini, kubuang semua rutinitas
Dan hari ini, kuinginkan semuanya berlabel relaksasi
***
(Thanks for Nf, gak nyangka ruang canda yang kita bangun menjadi bagian dari menu percakapan yang bersambung terus).
***

IMEL VALENTINE ITU

Ketika IMEL ini ku send :

Kan sesuatu yang wajar ketika ucapan dan ungkapan memberikan sentuhan pada ruang kamar hati, pada sebuah hati, pada sebuah nama. Dan rangkaian ucap dan tutur kata itu lebih indah dari seikat kembang.
Maka biarlah tutur ucap dan bait kata menjadi seikat kembang
Maka biarlah yang kirim bunga si Rudy saja
Maka biarlah yang lain melongo aja
Maka biarlah yang lain menjadi saksi
Bahwa pernyataan sikap rasa adalah keindahan kasih sayang itu
Bahwa pernyataan etos rasa adalah kasih sayang yang indah itu
---
Maka RE nya jadi berbalas pantun :

Kalo aku yg jadi mbak Tuty,
bunganya juga khusus..
bunga deposito minimal..
rd
----
Pagi yg indah,
ketika seikat kembang dikirimkannya
olehnya kepadanya..
ih ih ih..dia dia dan dia..
(aku juga lah) cembokur
huuuuuhuuu,
air mataku
ber-(cucur, apem, surabi, panekuk,dadar gulung
bolu-bronies kukus, )an dan kue-kue basah lainnya..

bgmanapun trimakasih
u/ kiriman artikelnya.

Bca
---

Setiap hari adalah hari kasih sayang untuk kita semua, bukan ???
Tapi kalo pak Bang Jack waktu itu ngucapin selamat valentine's ya...ndak apa2 tho ??
Makasih ya Bang....
Semoga Allah selalu menjaga tali silaturahmi kita agar tetap terjaga dengan penuh kasih dan sayang ya....
Jangan lupa kalo main ke Bogor, call me...ntar saya mau koq jadi guide...he he he,
mba Suci mau belanja apa aja hayooo...saya anter ke tempatnya, mba Santi gimana dah cuti ?? Kabari kalo lahiran ya...oya mba Anif, seritifikat ada di saya, Insya Allah kalo saya ke GSD mampir ke LT 6 ya....
Mas Rudi, bunga khusus ngga ada yang mau kasih soalnya....he he he
----
Tutie

Nah ketahuan sekarang,....ternyata diam-diam ada yang mencuri start dengan mengirim SMS. HAyo siapa itu......?

Jpd
-----
Yang SMS Valentine menurut prasangkaku............antara Om JACK & Cak HERU...? ngomong-ngomong udah di Delete belum.....? cuma ngingetin sebelum kena razia.......
----
Tuh...kan...., apa kataku ...Si Puitis udah bangun....ya ga'...

Sf
----
Jangan bangunkan yang lagi tidur loh
Biarkan yang tidur terlelap dan tersenyum
Biarkan yang tidur bermimpi dan berangan
Biarkanlah....
Mm
----
Yo mustiiiiiiii......, kadang2 gitulah sayangku.....sok puitis....sok manissss....sok...sok...opo yo...perhatian gichulah..., padahal yang puitis udah ada sendiri loh ....itu tuh Bang Jack...
As
----
Ocle2...., yang penting kita selalu dalam lindungan Allah SWT dan bila kita akan ketemuan jalani aja seperti air yang mengalir gak usah dipaksa2 waktunya...ok salam kangen aja buat semua.....

Ty
****

Tuesday, February 13, 2007

Kabar berselimut salju itu menyejukkan dan memberikan rentang cairnya nilai beku yang sedepa ini menjadi ruang pertanyaan tanpa kalimat tanya. Adalah perbedaan suasana itu (katamu) yang menjadikan sudut tutur ucap dan bagi celah cakap tidak seirama untuk dituangkan, setidaknya ketika itu. Maka sapaan silaturrahmi yang dikumandangkan jelang sore adalah mempertemukan kembali silhoutte dan sekaligus menganulir anggapan yang tak beralasan. Dan diujung gagang engkau katakan sejumlah cerita, dan diujung sana engkau ceritakan sejumlah kisah, dan diujung itu engkau katakan berbagai ungkapan. Dan aku tekun mendengarkan, dan aku tekun melantunkan, dan aku tekun menyimak, dan aku tekun mengapresiasikan.
“Met valentine ya”, kataku mengakhiri.
“Makasih ya, kamu selalu mendahului”, jawabmu lembut.
******
(Ikut berduka ya Tik, atas berita duka itu, semoga tabah dan ujian kesabaranmu, dan aku yakin kamu mampu melewatinya dengan kedekatan nuansa ibadahmu).

(Thanks to Rd, curhatmu menjelaskan kebersamaan dan keterbukaan yang putih, dan aku ikut mendoakan semoga jalan yang kamu rintis untuk membangun bahtera itu mendapat ridhoNya, istiqomah dan berjalan sesuai planning.. Bukankah kamu sudah menetapkan pilihan itu, sejauh ini menurutku dia sangat cocok untuk kamu).

(Thanks to Ln, morning view dan sapaan hangat kamu semakin menjelaskan kedekatan kita. Kamu adalah sepupuku yang selalu memahami penceritaan dan berita keluarga, selalu ceria dan mampu memberikan nilai solusi pada setiap persoalan. Kamu seorang dokter spesialis, tapi menurutku lebih cocok menjadi konsultan solusi. Pagi ini aku menyambut sapaanmu dengan riang, dan kamu mengakhirinya dengan tawa renyah, khas kamu).

(Sorry untuk dealnya Fren, yang gak bisa kupenuhi because banyak yang harus diselesaikan. Tetap semangat aja dan biarkan angin menyejukkan nilai pertemanan kita yang dibangun diatas kebersamaan. Lain kali kan masih ada waktu yang membentang).

Monday, February 12, 2007

Puisi Senin

Menyambut Monday dengan menata deal this week yang repotnya hampir semuanya bertabrakan waktu. Deal dengan group milis katanya sih mau lunch bareng, ada yang syukuran tuh, deal yang sempat tertahan lama karena gak ada waktu yang pas. Ada juga planning to Sltg, deal bisnis dengan mitra bisnis, hari yang sama lagi.
Ada janjian juga mau ngumpulin naskah tugas bareng this week, bisa diulur dikit itupun kalau waktunya sama, kalau gak ya cancel. Ada lagi yang ngajak diskusi riset gimana enaknya, gimana simpelnya, waktunya juga bareng, datengin pakarnya, ada beberapa pilihan, ikutin aja sekalian dapet informasi sebanyak mungkin. This week juga. Ada lagi rencana meeting Takmir, cari solusi, musyawarah, ada aja yang gak sreg, gak mau berubah, gak mau maju, hanya pake cara-cara tradisional, padahal udah disepakati loh.

Itu semua yang ada di hadapan fokusnya this week, belon lagi yang biasanya insidentil tema, yang ikut ngeramein suasana detik menit. Belon lagi yang harus diselesaikan, suka-suka jadi bikin lama waktu selesainya. Begitupun, lapisan semua new activity itu adalah memberikan nilai tampilan yang berakar wisdom pada semua step, tidak terburu-buru, punya sikap, punya tahapan dan insyaAllah bisa dijalani dengan kejelasan solusi dan decision. Insya Allah).
*****
Kaliadem, Sebuah Mendung

Adalah mencuci bongkahan noda berdaki debu
Adalah menatap pandang lurus sudut pandang 30 derajat
Adalah menyaksikan kekuatan dan kekuasaan yang perkasa
Adalah meyakini kekerdilan yang selalu dibumbui kepongahan
Adalah testimoni tentang kemahaan

Pudarlah perlahan
Bersama titik yakin yang mendatangi jalan-jalan mendaki
Bersama titik pasir yang membentang jalan-jalan di pinggang
Pudarlah sejalan
Bersama keyakinan yang menghayati pemaknaan hakekat
Bersama keinginan yang mengarungi kehijauan dan kepekatan
Pudarlah seiring
Catatan hati adalah menggaris ruang luas nan menawan
Catatan hati adalah menghias dinding ornamen nan bening putih
*****

Sunday, February 11, 2007

Plong, Ringan

Ahad Traveling
Bersama keluarga, menikmati suasana traveling yang sungguh menyenangkan, membagi bersama, menjalani bersama, mengunjungi yang ditargetkan dan semuanya dapat direalisasikan dalam perjalanan 12 jam. menikmati panorama Kldm, menelusuri Abrk Plz, berikan souvenir surprise, menjelajah kota cyber dan mencoba memahami makna perjalanan dengan langkah ringan.
Aku menikmatinya dengan hati bening
Aku menikmatinya dengan nadi jernih
Kujalani semua dengan ringan dan santai
Kujalani semua dengan damai dan indah
(Matahari dan matahati menjelajah panorama dan memberikan senyum pada sekujur nadi hatiku).
****
Sabtu Usai
Plong juga rasanya begitu keluar ruang, menyelesaikan exam yang kuanggap paling difficult. Rasanya ada beban yang lepas, ringan dan melayang. Bersama rekan lain sembari lunch bareng pada ngegosipin cerita seputar didalam ruang tadi. Ya, lewat lagi satu tahapan itu, dan dengan begitu setidaknya ada waktu luang lain yang kumanfaatkan untuk menulis lagi. Thanks to all friend yang selama ini bagi membagi, bahu membahu, sama-sama membutuhkan, sama-sama memahami, sama-sama tertawa, sama-sama bercanda. Konsentrasi di step berikutnya membuat kita "dipisah" buat sementara. Semoga sukses di langkah masing-masing.
*****

Friday, February 09, 2007

Isian Hari


Ghosh JM, malam kemarin, kunikmati aja jalan-jalan belanja ini sekalian memenuhi permintaan si ragil nan tomboy. Kubiarkan dia memilih, memilah dan mencocokkan ukuran yang pas untuknya.
“Yang ini Pa”, katanya manja sambil menggelayut, aku tersenyum melihat laku caranya itu. Sementara di sulung nan cantik mencoba asesories yang lain dan berupaya untuk menarik perhatianku untuk membelinya.
“Boleh saja sayang” ujarku meyakinkan.
Kuamati keduanya, buah hatiku yang berangkat remaja, manja dan banyak maunya itu. Si sulung jika ada maunya selalu berupaya merayu dengan kalimat dan tingkah yang gampang ditebak. Berusaha mencuri perhatian dan kemudian mengutarakan keinginannya. Lain lagi dengan si ragil, selalu blak-blakan jika menginginkan sesuatu tetapi pada saat yang bersamaan selalu merasa “tahu diri” untuk tidak memaksakan kehendak. Sama ketika dia lihar price yang tertera, dia gak maksain untuk beli padahal semahal apapun aku akan berupaya memenuhi keinginannya itu. Dan ketika kubayarkan tunai, si ragil merasa senang banget dan berkata manja :”makasih ya Pa”. Aku tersenyum dan kuraih pipinya.
Jalan-jalan sepanjang jalan, mengitari pusat konsumsi, mengelilingi outlet, menjelajah Grmd adalah isian hari untuk menyamakan ruang kebahagiaan, berbagi, bercerita dan menambah wawasan. Di Grmd, bisa baca yang perlu dibaca, bisa lihat referensi tanpa harus beli , dan yang dibawa pulang adalah majalah wajibku “Aks”, majalah bulanan yang menjadi apresiasi bacaanku. Ada rasa letih, ada rasa senang, ada rasa suka yang mengantar sepenggal jalan-jalan belanja bersama keluarga.

(Sepanjang hari, menikmati aneka campur aduk, konsentrasi ke modul, disisipi menjalani hobby pagi, kemudian aktivitas rutin, kemudian konsentrasi lagi, sejenak rehat, sejenak menghapus alinea job, dan mencoba menggali sentuhan lukisan abstrak yang tersimpan di ruang baca. Menjalani hari dengan keaneka ragaman campur sari).
(Sepohon angin yang menderu itu, seniscayanya adalah penceritaan yang diolesi garis tebal berwarna abu-abu. Nilai kecekatan highlightnya adalah mencoba mencari titik simpul.. Biar orang menafsirkan apa, terjemahan bahasa hatiku adalah mengurainya menjadi alinea kejernihan berlapis kebeningan).

****

Thursday, February 08, 2007

Menderu dan Menerpa

Sepohon angin kering menderu dan menerpa sekujur diri serta memberitakan cerita tentang kekurangpantasan, tentang kekurangjelasan, tentang pernik yang bersinggungan dengan papan estetika bertuliskan rambu etika. Perlukah harus dijelaskan dengan beberapa alinea bahwa semua itu tetap berada dalam kontrol sikap dan tidak sejelek apa yang disudutpandangkan itu. Bahwa kemudian ada perbedaan cara pandang, sejauh masih berada pada koridor kepantasan, sah-sah saja dan tidaklah menjadi catatan bergaris tebal. Tetapi ketika kemudian melampaui hotmix yang seharusnya, perlu jua aku jelaskan bahwa semua aneka prasangka itu tidak sebopeng yang dianggapkan, tidak semendung yang disangkakan.

Kali saja ada yang menjadi hiperbola dalam menanggapi posisi diri ini. Kali saja ada yang menjadi kurang bersahabat dengan metode pertemananku. Aku tidak melihat itu sebagai sesuatu yang tidak pas, bagiku cara gaulku adalah berupaya menempatkan nilai kedekatan dengan personifikasi pertemanan yang bernuansa keakraban. Dan itu menjadi standar luas, sekaligus memberikan kuantitas pertemanan yang luas. Teman-temanku banyak dari segala lapisan dan strata, dan diantara semua itu tentu ada beberapa yang masuk kategori cantik menarik.
Dan semuanya adalah bagian dari alinea kisah yang memberikan warna dan pernik pelangi di keseharianku. Semuanya menyenangkan, ada group milis yang selalu menjadwalkan lunch berkala, ada milis CMI, ada milis KbsKs, ada kelompok MM, ada boulevard girl, ada CC group, ada yang kumpulan personal. Dan meminjam ungkapan seorang teman, banyak teman banyak rezeki, sudah pula terbukti. Ada yang kirim bingkisan, ada yang kirim kado, ada yang barter buku, ada yang inget oleh-oleh dan lain-lain. Artinya jadi juga bagian rezeki yang diamini sebagai berkah. Atau ada yang ngajak lunch bareng, atau ada yang ngajak diskusi, atau ada yang traktir jajanan, atau berkaraoke, atau sekedar bercanda via milis atau telepon. Semua itu adalah fragmen yang senantiasa mewarnai jalan-jalan hariku.

Lantas, nilai apa yang harus dicocokkan ketika ada angin kering menderu dan mengabarkan berita kelabu atau sekedar april mop. Aku tidak ingin menanggapinya apalagi harus beradu argumen. Etika gaulku tetap memegang nilai, cara pertemananku tetap menjalin silaturrahmi dengan kedekatan personal, bukan sekedar formalitas. Jadi biarkan saja angin itu menderu dan aku hanya ingin menyatakan pada sejumlah ruang, pada sejumlah halte, pada sejumlah pohon bahwa tidak ada yang mesti di tipp ex dalam catatan cerita, dalam langkah kisahku. Bagiku semuanya adalah dalam kontrol diri, dalam basis standar etika. Begitu pun tidaklah aku ingin berdebat panjang tentang cerita jalan kisah ini sebagai pembenaran subyektivitas.
Yang jelas tidak ada yang melewati batas, tidak ada yang menyinggung titik singgung. Kalau ada yang menjadi tidak pas pada setitik langkah, mungkin saja dia merasa menjadi protagonis yang tak dicat ulang. Tetapi apa memang perlu dicat ulang, temtu tidak jawabku ringan. Dan biarlah anjing menggonggong kafilah berlalu. Biar orang mau bilang apa, sejatinya akulah pemilik hatiku, dan aku yang mengetahui ornamen perabot didalamnya, kamar hatiku, ruang hatiku, rasa hatiku.

(Thanks to Rd, Jf yang tetap semangat ketika kita bercerita tentang kebersamaan past tense, bahwa kemudian berangkai menjadi cerita balas-balasan via milis, itu menandakan ada yang cantik di seputar tema cerita kita).

(Thanks to Ty, sapaan pagi mengantar spirit bekerja dan menandakan ada nilai pertemanan yang menggaris dan membentuk kelugasan berbalas cerita, berbalas pantun, dan tentu saja kebersamaan beberapa saat).

(Thanks a lot for My, apresiasi tentang penyeleaian tugas itu mampu menanamkan rasa kebersamaan menjadi personifikasi kekuatan dan sekaligus ruang untuk argumen finishing. Sekali lagi aku berterimakasih banget sama kamu).
*****

Wednesday, February 07, 2007

Ruang Luas

Ada ruang luas yang menyertai langkah sepanjang hari. Ada ruang luas yang mengiringi langkah perjalanan hari. Ada ruang luas yang mengitari diri sepanjang sinar matahari. Ya, itulah bingkisan yang terbuka dan menyenangkan manakala ruang luas itu mampu melegakan asa, mampu menyejukkan irama dan mampu meneduhkan rasa.
Ketika ruang luas itu menyapa diri, sambutan yang diberikan adalah memainkan pertimbangan dan argumentasi untuk dijadikan formula aktualisasi dengan mengedepankan rasio dan realitas. Tidak lagi bermain di ruang berandai-andai. Maka lugaslah jalan dihadapan, maka luruslah langkah menjelang, maka tuluslah irama langkah menjemput nilai.
Aku sampaikan pesan pada ruang keluasan hati, bahwa aku akan bertimbang rasa, bahwa aku akan menimang rasa untuk senantiasa berhati-hati dalam meminang hasrat, dalam meminang aura dan berupaya mendefinisikan kembali layout rasa dan rasio. Aku sampaikan pesan bahwa konsolidasi pada genggaman nilai adalah konsentrasi untuk membangun estetika, kombinasi antara baris dan bait puisi hatiku.

(Thanks to Kw atas bantuan softcopynya, berguna banget dan memberikan kecepatan waktu untuk penyelesaiannya. Jadi ada lagi ruang keluasan yang menyertai aktivitas hari ini. Selesai satu, hadapi yang lain.)

(Thanks to My, berita dan sapaan hangatmu menambah ruang keluasan hati pada hari aktivitas yang boleh jadi berangkai nilai kesibukannya. Selalu ada yang bernilai indah ketika ruang keluasan itu menyongsong dengan sambutan sapa dilapis senyum : "apa kabar?", katamu manja).
****

Tuesday, February 06, 2007

Kalau Aku Sunggingkan Senyum

Kalau aku sunggingkan senyum, kalau aku bingkiskan senyum, jangan artikan aku suka langkahmu, jangan artikan aku suka gayamu, jangan artikan aku suka langgammu. Tidak lagi untuk menyuarakan semburat aura rasa, tidak lagi untuk membersitkan hasrat, tidak lagi untuk menyanjung nada, tidak lagi untuk menyanyikan hati. Yang aku lakukan adalah semata membeningkan sinar mata untuk tetap menjaga ruang rasa yang penuh pernik.
Silaturrahmiku kutumpahkan pada sesiapa yang senantiasa mengetuk pintu, menyapa hangat dan menyambut tatapan kata dan kalimat untuk diperdengarkan dengan melodi kebersamaan. Tidak pada keangkuhan, tidak pada ambivalensi, tidak pada ambiguitas, tidak pada kesombongan, tidak pada “artikel pribadi yang merasa menjadi cinderella”, tidak pada sesiapa yang melintas di boulevard.

Perfromansi sikap adalah membangun kesetaraan pada etika, memelihara nilai, dan membungkusnya dengan pita merah bertuliskan “tidak untuk diceritakan lagi”. Sudah kubungkus, sudah kutendang, sudah kubuang, sudah kutenggelamkan bersama rantai nilai yang disebut : ternyata hanya ada pada ruang tanpa suara, tanpa nada. So, this is my way dan kuputarkan haluan hati untuk menyambut setiap sapaan dan tatapan pada nilai estetika yang mengedepankan nilai harmoni dan rasa yang sama. Ternyata banyak yang wellcome, ternyata aku ada di kerumunan nuansa yang mampu membungakan hati, menghangatkan matahati.

(Thanks to Wy, atas bingkisannya yang gak diduga itu. Pertemanan kita bernilai estetika, saling menghargai dan memahami baik dikala suka dan suka. Sejatinya kita adalah cermin nilai itu).
(Alhamdulillah, ada solusi yang membahagiakan hati ketika seraut rupa mampu bertukar dengan nilai kebersamaan yang dibangun di landasan jati ulin, sepannjang jalan. Maafkan langkah diri).
(Thanks to rekans CMI, joke via milis membuatku tersenyum simpul pada pertigaan hari. Kita kompak-kompak aja ya).
****

Monday, February 05, 2007

Ketika Jadi Benci

Sampaikan pada sejumlah pohon, sampaikan pada segumpal awan, sampaikan pada segulung ombak, katakan pada bintang, katakan pada matahari, katakan pada bulan, katakan pada semuanya, toh tidak akan memberikan perubahan pada nadi hati untuk membungkus benci dan menendangnya ke comberan butek. Biarkan saja angin mau mengatakan apa, biarkan saja air mau menyampaikan apa, biarkan saja deru mau menderukan siapa, tidak ada yang dapat memperjelas keteguhan hati ini kecuali bermonolog pada diri sendiri.
Tidak ada lagi yang harus diungkap, tidak ada lagi yang harus diceritakan. Pertemanan itu tidak bisa dipatahkan oleh teriakan, pertemanan itu tidak bisa dianulir oleh umpatan, pertemanan itu tidak bisa dirubuhkan oleh cemooh, pertemanan itu tidak bisa disekat oleh fitnah. Biarkan aku dengan caraku, biarkan aku dengan langkahku, biarkan aku dengan isian hari dan mengisinya dengan puisi yang menyenangkan hati, yang membungakan rasa, yang membuncahkan nada.

Puisi hatiku adalah senandung yang senantiasa menyanjung keindahan, kecantikan, kerupawanan, kenyamanan, keteduhan, kelembutan, dan senantiasa pula kubingkai bersama voice of my heart, sejak dulu, ya sejak dulu. Maka ketika ada gemuruh yang melontarkan deru, maka ketika ada teriak yang melontarkan riak, biarkan saja, sekali lagi biarkan saja.
Jalan hatiku adalah meyakini apa yang kunikmati, menikmati hari dengan nadi hati termasuk ketika jadi benci sekalipun. Ketika jadi benci, hati tersiram cuka, rasa menjadi perih, kujalani saja, kuarungi saja bersama matahariku, bersama matahatiku. Kunikmati benci menjadi adonan cuka dan menikmatinya dengan duka hati. Bukankah itu juga puisi hati.
***
(Ikut bersedih atas musibah kecelakaan itu ya, semoga tabah dan tetap menyanjung kesabaran).
(Ikut berduka cita, selamat jalan sobat, innalillahi wa inna ilahi rojiun, semoga jalan bening mewarnai langkahmu di kekekalan nan abadi. Aku benar-benar kehilangan sosok fren yang penuh bersahabat, sejak dulu, sejak kita sama-sama bertetangga).

Sunday, February 04, 2007

Sunday Nice

Sunday Nice
Sunday Flower
Mentari bersahabat
Matahari hangat
Matahati bersinar
Menyinari langkah hari dengan bunga
Melangkah hari dengan menatap bunga
Menjalani hari dengan menghias bunga
Meniti hari dengan membungkus bunga
(Jalan-jalan ke pameran bunga, melihat pandangan, melihat macam ragam, dan memandang sepuas pandang, begitu indahnya bunga-bunga itu)
(Jalan-jalan ke taman bunga, menyaksikan rangkaian keindahan yang asri, satu dua bunga kupetik dan kuperindah untuk halaman rumah. Menjadi warna warni taman bungaku)

****

Catatan Pelangi

Sabtu Sibuk

Namun ketika semuanya berjalan sesuai layout, maka menjalaninya adalah kenikmatan seperti berjalan di jalur tol, gak ada hambatan. Konteksnya adalah menyelesaikan jadwal exam, dan asesoriesnya adalah diskusi, dan komunikasi intensif. Semua berjalan lurus, sementara cuaca mendukung untuk tidak harus merasa berkeringat.
Semua berjalan seperti nyanyian hati, bernyanyi, tak ingin bersusah hati, tak ingin mengingat lagi, tak ingin menyatakannya lagi, tak ingin menuliskannya lagi, tak ingin apa-apa lagi, tak ingin menyimpannya lagi. Semua sudah dibungkus dan dibuang ke palung laut Majene, biarkan disimpan disana bersama Adam Air, terpendam bersama perjalanan waktu. Semuanya berjalan seperti nyanyian hati sembari mengatakan salam echa, eh capek deh, emang gue masih mikir, ya nggaklah. Semuanya berjalan seperti nyanyian hati, biarkan hati menyanyikannya dengan senandung yang disenanginya tanpa harus berhenti di halte, tanpa harus berhenti di terminal. Biarkan melaju menuju jalan rasanya sendiri, dan aku akan memgolah dan mengelolanya agar tetap bersenandung riang.
****
Exam Lagi

Ganti warna, istirahat sebentar, buka halaman lagi dan mengapresiasikan apa yang akan diujikan, sholat Jumat, lunch, persiapan dan relaksasi lagi. Dan ketika saatnya tiba kunikmati aja suasana gali olah jawaban soal. Seperi biasa, adu argumen jawaban, serius, dua rius, diam, hening, tak kuhiraukan sekeliling dan selesai. Alhamdulillah ada rasa puas karena soal tidak begitu menyesakkan buah pikir. Semua berjalan baik, dan melegakan.
(Sorry to Ar, gak sempat silaturahmi karena mepetnya waktu, tapi aku meyakini bahwa silaturrahmi seperti yang di Yk itu akan memberikan nilai persahabatan yang utuh. Kita pernah menjadi sesama warga, kita pernah bertetangga, dan kita pernah menyatakan makna sebenarnya silaturrahmi itu).
****

Menikmati Suasana

Bukan karena keinginan tetapi karena keharusan yang menyebabkan jalan cerita Thursday menjadi nikmat sekaligus menyenangkan. Kurikulum menjabarkan tugas untuk on the spot, menggali informasi sebanyak mungkin dan tempatnya adalah beberapa titik di kita kembang. Maka seharian kita menikmati suasana, maka seharian kita menikmati keakraban, maka seharian kita menjelajah kota, maka seharian kita mencuci sinar pandang, maka seharian kita mengkonklusikan jalan cerita. Ada rasa puas, ada rasa happy, ada rasa gembira, ada rasa kebersamaan. Dan cerita itu dibungkus kembali dalam analisis yang menjadi titik akhir kegiatan.
Malam menjelang, dan aku permisi, pamitan lebih awal kembali karena harus menyelesaikan exam yang menunggu esok. Diizinkan, dan kembali menghampiri Harina malam dan menikmati perjalanan bersama keletihan dan pulas, sepulas-pulasnya.
****

Napak Tilas

Menikmati kampus corporate adalah menjalani napak tilas yang kesekian ketika awalnya adalah sebuah kisah menggali ilmu untuk dimasadepankan. Ya, kunikmati sembari menyatakan dalam hati, masih seperti yang dulu, masih searah dengan yang dulu, masih sejalan dengan yang dulu, masih sesuai dengan yang dulu. Ada anak tangga pedesterian, ada taman bunga, ada keteduhan, ada keasrian, ada kesejukan. Sembari menapaki dataran yang mendaki, kukatakan pada hatiku bahwa siklus perjalanan ini memberikan makna bahwa ada saatnya aku menikmati suasana sembari menapaktilasi rangkaian cerita lalu, menerawang ke masa lalu dan menyatakan bahwa semua adalah bagian dari garis yang melintas di depan mata telinga.
Sungguh, warna perjalanan Wednesday adalah menempatkan sudut siku indra untuk dikomunikasikan kembali dengan perlambang, dengan suasana, dengan garis jalan, dengan catatan usang dan menjelaskannya pada kamar hati : kembali menegaskan ingtatan sebagai jawaban perjalanan.
(Senangnya hati bisa ketemu Bunda walau sesaat, berpelukan, kusimak keriput wajahnya, ada rasa senang dihatinya, ada rasa bahagia di gurat wajahnya. Doakan ya Bunda, doakanlah selalu anakmu ini untuk perjalanan yang tak diketahui dimana dan kapan batasnya. Bunda tersenyum mengantar ketika rintik hujan belum reda).
****
Spirit Training

Adalah membagi wawasan, membuka cakrawala, mendengar informasi anyar, diskusi bersama dan ini yang penting, ketemu sesama rekan baik yang old maupun yang new dan menjalin tali silaturrahmi. Dan aku menjalani itu dengan semangat prima walaupun letih membungkus.
Membagi wawasan, menceritakan logika, menjelaskan sudut pandang, menjaga argumen dan meraih konklusi adalah cerita sepanjang hari yang mampu memberikan keluasan cara pandang dan nilai pandang. Ya itulah fragmen Tuesday yang tidak pernah diduga dalam rancangan aktivitas karena rancangan awalnya justru konsentrasi di exam untuk weekend ini.
Jadi bagi waktu, sempatkan lagi buka halaman modul, biarkan yang lain berjalan, biarkan yang lain menikmati. Biarkan kota kembang seperti tak dinikmati, setidaknya hari ini.
****
Harina Trouble

Sebenarnya aku ragu dalam memilih transportasi, pengen naik night bus or train. Akhirnya kupilih yang terakhir dengan harapan bisa tidur barang dua jenak gitu. Namun ketika sedang pulas di Crb ada gangguan perjalanan karena Ka yang didepan anjlok. Diangkur bus sing elek, bumel, dinihari, ngantuk, jengkel dan menyebalkan. Hanya sejam, terus disambung naik Harina yang lain, dan akhirnya kesiangan.
If I choice a bus may be akan lebih baik, tapi itulah pernik perjalanan yang kurang menyenangkan, Begitupun dinikmati aja, sembari menyatakan jelas dalam hati, keragu-raguan adalah bagian dari kekurangnyamanan itu sendiri.
(Thanks to My, bagi-bagi tugas, tau kesibukanku, sama-sama sibuk tapi toleransi, gak seperti member yang lain, blas gak mutu, mau terima bersih, mau enak e dewe. Ya sabarkan hati, konsekuensi jadi ketua ya gini ini, legowo aja, menyabarkan hati).
(Senangnya mendapat ciuman hangat dari si sulung nan cantik di stasiun, sementara si bongsor jaga rumah dan juga cium pipi mengantar keberangkatan).
(Catatan Subuh)
***