Bersua lagi dengan sobat-sobat milis yang membentangkan nilai silaturrahmi dan pertemanan yang demikian akrab, untuk merealisasikan janji yang punya hajat, ya selamat aja deh, dan selama itu menjadi ungkapan rasa syukur maka nilai berkahnya adalah semakin bersinarnya kamar hati dan cahaya mata.
Dan kita pun bersenda gurau
Dan kita pun bercengkerama
Dan kita pun tertawa bersama
Dan kita pun menyantap bersama
Sekaligus memastikan bahwa episode cerita terus saja bergulir tanpa harus menyatakan sudah sampai di bagian berapakah kisah cerita yang disenandungkan.
(Thanks to group milis yang mampu menghantar keramaian suasana dan kedamaian hati, spesial tuk yang punya gawean, moga menjadi sinar mentari jam sepuluh yang menghangatkan hari dan hati.)
****
Wednesday, June 20, 2007
Tuesday, June 19, 2007
Kira-kira Begini
Kira-kira begini gambarannya : Seolah menjadi presenter tetapi tidak ada pemirsanya, paling juga lingkungan yang memang sudah menjadi habitatnya, paling juga person yang sudah menjadi kru tanpa surat keputusan, paling juga gitu-gitu aja, dengan hobby suka menyetir ke arah kelabu hatinya.
Merasa seperti pilot dengan baju berlabel mentang-mentang, sepertinya dialah yang tahu segalanya, dan mampu menguasai fenomenanya, padahal hipotesis sudah menyatakan begini : pengaruh arogansi diri terhadap cakrawala pandang, adalah bagian dari kealpaan yang menggantungkan antipati pada sejumlah definisi.
Hobbynya suka menghasut, dan label iri pantas ditaruh di ruang dadanya yang merasa sudah menjadi mahatahu, mahapintar dan mahayakin. Padahal kekerdilan jiwanya mendapatkan porsi di lintas diri dengan sebutan : Kaciaan deh lu, hanya bisa beberkan omongan murahan, ternyata bermental tempe, dan ini yang bergaris tebal : pintar mengolah kata dengan menggoreng kebusukan hati dan menaruhnya di setiap sudut bertuliskan : 100% halal untuk dicerca.
Ketika semuanya ada di sinar mentari jam duabelas ; lagi-lagi pintar mengganti raut wajah dengan berdalih pada sejuta asumsi, padahal ruang hatinya yang hitam legam itu sudah menuliskan sebuah puisi : pembusukan di lintas periferi yang menghitam pelan.
****
(Thanks to all fren yang sudah mengetahui jalan ceritanya, thanks juga atas simpatinya).
(Thanks to Sf, janjiannya moga-moga menjadi berkah tersendiri untuk persahabatan yang menyenangkan).
Merasa seperti pilot dengan baju berlabel mentang-mentang, sepertinya dialah yang tahu segalanya, dan mampu menguasai fenomenanya, padahal hipotesis sudah menyatakan begini : pengaruh arogansi diri terhadap cakrawala pandang, adalah bagian dari kealpaan yang menggantungkan antipati pada sejumlah definisi.
Hobbynya suka menghasut, dan label iri pantas ditaruh di ruang dadanya yang merasa sudah menjadi mahatahu, mahapintar dan mahayakin. Padahal kekerdilan jiwanya mendapatkan porsi di lintas diri dengan sebutan : Kaciaan deh lu, hanya bisa beberkan omongan murahan, ternyata bermental tempe, dan ini yang bergaris tebal : pintar mengolah kata dengan menggoreng kebusukan hati dan menaruhnya di setiap sudut bertuliskan : 100% halal untuk dicerca.
Ketika semuanya ada di sinar mentari jam duabelas ; lagi-lagi pintar mengganti raut wajah dengan berdalih pada sejuta asumsi, padahal ruang hatinya yang hitam legam itu sudah menuliskan sebuah puisi : pembusukan di lintas periferi yang menghitam pelan.
****
(Thanks to all fren yang sudah mengetahui jalan ceritanya, thanks juga atas simpatinya).
(Thanks to Sf, janjiannya moga-moga menjadi berkah tersendiri untuk persahabatan yang menyenangkan).
Seutuhnya
Seutuhnya adalah yang menepikan hasrat
Untuk tidak lagi mengatakan kelanjutan
Untuk tidak lagi melanjutkan cerita
Untuk tidak lagi menuliskan mentari pagi
Untuk tidak lagi membacakan testimoni
Sejauh itu yang menjadi proklamasi diri
Bahwa ternyata hanya bermain di logika diri
Bahwa ternyata hanya berenang di kolam keruh
Bahwa ternyata hanya berjalan di atas awan
bahwa ternyata hanya berselancar di tikar usang
Tidak lagi untuk digenggam
Tidak lagi untuk direngkuh
Tidak lagi untuk dipeluk
Tidak lagi untuk dikulum
Tidak lagi untuk dikecup
Karena hanya ada di sendi riak
Yang tidak dapat di reka ulang
Dan sudah menjadi fosil tanpa rangka
(Bahwa itulah kadar yang menjadi kepekatan rasa)
****
Untuk tidak lagi mengatakan kelanjutan
Untuk tidak lagi melanjutkan cerita
Untuk tidak lagi menuliskan mentari pagi
Untuk tidak lagi membacakan testimoni
Sejauh itu yang menjadi proklamasi diri
Bahwa ternyata hanya bermain di logika diri
Bahwa ternyata hanya berenang di kolam keruh
Bahwa ternyata hanya berjalan di atas awan
bahwa ternyata hanya berselancar di tikar usang
Tidak lagi untuk digenggam
Tidak lagi untuk direngkuh
Tidak lagi untuk dipeluk
Tidak lagi untuk dikulum
Tidak lagi untuk dikecup
Karena hanya ada di sendi riak
Yang tidak dapat di reka ulang
Dan sudah menjadi fosil tanpa rangka
(Bahwa itulah kadar yang menjadi kepekatan rasa)
****
Monday, June 18, 2007
Berjalan, Bercerita, Berkisah
Berjalan kembali ketika mentari belum berjabat tangan di pagi Ahad nan cerah ini, berpacu dengan semangat keceriaan memandikan jalanan pantura menuju rancangan piknik yang telah dirajut selama sepekan ini. Dan meluncurlah, dan berlarilah, dan berceritalah, dan bersendaguraulah bersama keluarga, menjelaskan titik-titik pesona yan didapatkan sepanjang rute signifikan. Kulalui dengan apresiasi, kulaluii dengan kegembiraan, melewati suasana seharian penuh melintasi jalan-jalan penuh pesona.
Sungguh sebuah traveling yang menyenangkan, melewati kawasan Pml, Rdk, Gc, Mg, Prbl, Bjn, Wns dan kembali dengan semangat yaang sama, semarak dan memuaskan semua walau selimut malam telah membentang. Ya, tentu saja letih namun masih dapat dibungkus dengan rasa puas dan riang hati, sepanjang jalan bertutur kalimat, beradu argumen dan memberikan cakrawala pandang tentang nilai kebesaran alam, keramahan alam, dan kedigdayaan yang dimililkinya.
Kukatakan dengan ketus pada semuanya, bahwa makna perjalanan ini adalah mencoba memahami nilai kebesaran itu dan memperteguh khasanah aqidah bahwa ciptaanNya sungguh Maha banget, Hebat banget, Wonderfull banget, dan pada semua itu terdapat personifikasi yang pantas untuk disematkan dalam ruang hari dan kamar sanubari, yakni menambah rasa tahu diri yang sebenarnya.
*****
Bergabung kembali setelah di etappe lalu memisahkan diri dengan konsentrasi masing-masing. Dan ketika bersua, jabat tangan dan senyum full color melukis suasana, riang, penuh canda dan biasalah selalu ada yang menjadi headline atau highlight. Maka cuaca Sabtu adalah suhu terbaik yang dimiliki selama sepekan ini ketika dipertemukan dengan hati dan asa. Campurannya adalah menandatangani kesepahaman pada nilai kebersamaan dengan keinginan untuk sampai di titik jalan akhir.
Pada sebuah senyum, gairah yang dikumandangkan adalah menyanyikan syair-syair modul yang menjadi bahan bacaan berikutnya. Kusimak dengan semangat diri sembari berharap akan mampu mencernanya sebagai etappe terakhir dari sekian yang telah kulalui sampai di batas ini. Paling tidak aku telah sampai di sudut batas dengan satu kayuhan lagi tiba di seberang cemerlang, moga-moga.
******
Kalaupun harus dilalui, jalannya adalah meluruskan sikap dan tidak ingin menatap mata elang yang telah menorehkan kerikil pada anak tanggaku. Kepastian untuk menjalani itu adalah bentangan hasrat yang bermain di seputar argumen untuk menjelaskan duduk cerita tanpa harus menjelaskannya lagi.
Pelajaran adalah membuka halaman baru namun bukankah halaman lama juga bagian dari cerita itu sehingga tetap saja akan menafsirkan cerita tanpa jeda dan rehat sejanak. Bukankah paku yang pernah dihunjamkan pada sebuah pohon ketika dicabut tetap saja masih ada bekas tusukan itu. Bukankah penceritaan itu telah menghunjam titik ulu hati dan kemudian dinyatakan sebagai sebuah hal yang biasa padahal menjadi luarbiasa, lalu ada permintaan untuk tidak melanjutkan, lalu ada jabat dan peluk, bukankah itu menandakan keluarbiasaan yang senantiasa diproklamirkan sebagai arogansi berwajah ganda.
Pesan Bunda yang terngiang adalah : luruskan saja sikap dan langkahmu, bukankah itu adalah nilai yang hendak diujikan pada titik dimana engkau harus menyelesaikannya dengan ketegaran diri. Ya, benar, dan kebenaran adalah definisi yang tak akan pernah ditolak pada moral sanubari dan senantiasa dinyatakan dengan penjelasan kamar hati yang berbisik di tengah malam.
Dan halaman berikutnya adalah memastikan tataran diri tidak lagi bermain dengan pasir di pantai, tidak lagi memompakan pemberdayaan, tidak lagi menyenandungkan lagu, tidak lagi memainkan biola, tidak lagi menyatakan warna. Sudah habis bab yang ingin dibaca, sudah habis baris yang hendak digaris, sudah habis cerita yang hendak dicoret.
*****
Rinjani itu indah
Ketika matahati mampu menjelaskannya
Dengan seratus delapanpuluh derajat sudut pandang
Indah
Mempesona
Melambai
Kotaku
Jarang kunikmati
Menafsirkan suasana bathin
Bahwa pemandangan adalah karunia
Bahwa view adalah anugerah
Dan penjelasannya di bilik hati
Dan penceritaannya di kamar sanubari
Dan pencuciannya adalah birunya langit
Dan pencerahannya adalah hijaunya pandang
Rinjani itu indah
Walaupun matahari menjelaskannya dengan terik
*****
Sungguh sebuah traveling yang menyenangkan, melewati kawasan Pml, Rdk, Gc, Mg, Prbl, Bjn, Wns dan kembali dengan semangat yaang sama, semarak dan memuaskan semua walau selimut malam telah membentang. Ya, tentu saja letih namun masih dapat dibungkus dengan rasa puas dan riang hati, sepanjang jalan bertutur kalimat, beradu argumen dan memberikan cakrawala pandang tentang nilai kebesaran alam, keramahan alam, dan kedigdayaan yang dimililkinya.
Kukatakan dengan ketus pada semuanya, bahwa makna perjalanan ini adalah mencoba memahami nilai kebesaran itu dan memperteguh khasanah aqidah bahwa ciptaanNya sungguh Maha banget, Hebat banget, Wonderfull banget, dan pada semua itu terdapat personifikasi yang pantas untuk disematkan dalam ruang hari dan kamar sanubari, yakni menambah rasa tahu diri yang sebenarnya.
*****
Bergabung kembali setelah di etappe lalu memisahkan diri dengan konsentrasi masing-masing. Dan ketika bersua, jabat tangan dan senyum full color melukis suasana, riang, penuh canda dan biasalah selalu ada yang menjadi headline atau highlight. Maka cuaca Sabtu adalah suhu terbaik yang dimiliki selama sepekan ini ketika dipertemukan dengan hati dan asa. Campurannya adalah menandatangani kesepahaman pada nilai kebersamaan dengan keinginan untuk sampai di titik jalan akhir.
Pada sebuah senyum, gairah yang dikumandangkan adalah menyanyikan syair-syair modul yang menjadi bahan bacaan berikutnya. Kusimak dengan semangat diri sembari berharap akan mampu mencernanya sebagai etappe terakhir dari sekian yang telah kulalui sampai di batas ini. Paling tidak aku telah sampai di sudut batas dengan satu kayuhan lagi tiba di seberang cemerlang, moga-moga.
******
Kalaupun harus dilalui, jalannya adalah meluruskan sikap dan tidak ingin menatap mata elang yang telah menorehkan kerikil pada anak tanggaku. Kepastian untuk menjalani itu adalah bentangan hasrat yang bermain di seputar argumen untuk menjelaskan duduk cerita tanpa harus menjelaskannya lagi.
Pelajaran adalah membuka halaman baru namun bukankah halaman lama juga bagian dari cerita itu sehingga tetap saja akan menafsirkan cerita tanpa jeda dan rehat sejanak. Bukankah paku yang pernah dihunjamkan pada sebuah pohon ketika dicabut tetap saja masih ada bekas tusukan itu. Bukankah penceritaan itu telah menghunjam titik ulu hati dan kemudian dinyatakan sebagai sebuah hal yang biasa padahal menjadi luarbiasa, lalu ada permintaan untuk tidak melanjutkan, lalu ada jabat dan peluk, bukankah itu menandakan keluarbiasaan yang senantiasa diproklamirkan sebagai arogansi berwajah ganda.
Pesan Bunda yang terngiang adalah : luruskan saja sikap dan langkahmu, bukankah itu adalah nilai yang hendak diujikan pada titik dimana engkau harus menyelesaikannya dengan ketegaran diri. Ya, benar, dan kebenaran adalah definisi yang tak akan pernah ditolak pada moral sanubari dan senantiasa dinyatakan dengan penjelasan kamar hati yang berbisik di tengah malam.
Dan halaman berikutnya adalah memastikan tataran diri tidak lagi bermain dengan pasir di pantai, tidak lagi memompakan pemberdayaan, tidak lagi menyenandungkan lagu, tidak lagi memainkan biola, tidak lagi menyatakan warna. Sudah habis bab yang ingin dibaca, sudah habis baris yang hendak digaris, sudah habis cerita yang hendak dicoret.
*****
Rinjani itu indah
Ketika matahati mampu menjelaskannya
Dengan seratus delapanpuluh derajat sudut pandang
Indah
Mempesona
Melambai
Kotaku
Jarang kunikmati
Menafsirkan suasana bathin
Bahwa pemandangan adalah karunia
Bahwa view adalah anugerah
Dan penjelasannya di bilik hati
Dan penceritaannya di kamar sanubari
Dan pencuciannya adalah birunya langit
Dan pencerahannya adalah hijaunya pandang
Rinjani itu indah
Walaupun matahari menjelaskannya dengan terik
*****
Friday, June 15, 2007
Hujan Hati
Hujan hati adalah mengalirnya sejumlah ungkap
Hujan hati adalah mengalirnya sejumlah bait
Hujan hati adalah mengalirnya limbah umpat
Hujan hati adalah mengalirnya bening air
Hujan hati adalah mengalirnya baris rasa berbanjar
Hujan hati adalah mengalirnya adonan hasrat menimang
Hujan hati adalah mengalirnya aneka warna merona merah
Hujan hatiku adalah mengalirnya semua rasa yang membunga
****
Tidak Lagi
Tidak lagi untuk dipersamakan
Tidak lagi untuk dipersandingkan
Tidak lagi untuk dipersembahkan
Tidak lagi untuk diungkapkan
Apapun itu
Kesetaraan adalah adalah nilai terdepan
Bahwa kemudian di persimpangan ada restriksi
Itulah bagian dari ketidaksamaan yang engkau bangun
Itulah bagian dari ketidaksamaan yang engkau katakan
Itulah bagian dari ketidaksamaan yang engkau sumbangkan
Tidak lagi
Walaupun setangkai bunga engkau kirimkan
Walaupun sebungkus kado engkau bingkiskan
Walaupun sepucuk kalimat engkau ulang-ulang
Walaupun segenggam senyum engkau limpahkan
Tidak lagi
Tidak akan lagi
****
Tidak lagi untuk dipersandingkan
Tidak lagi untuk dipersembahkan
Tidak lagi untuk diungkapkan
Apapun itu
Kesetaraan adalah adalah nilai terdepan
Bahwa kemudian di persimpangan ada restriksi
Itulah bagian dari ketidaksamaan yang engkau bangun
Itulah bagian dari ketidaksamaan yang engkau katakan
Itulah bagian dari ketidaksamaan yang engkau sumbangkan
Tidak lagi
Walaupun setangkai bunga engkau kirimkan
Walaupun sebungkus kado engkau bingkiskan
Walaupun sepucuk kalimat engkau ulang-ulang
Walaupun segenggam senyum engkau limpahkan
Tidak lagi
Tidak akan lagi
****
Adalah Itu
Cerita tentangmu adalah mengais tentang kebersahajaan yang disandingkan dengan pengertian yang luar biasa tentang nilai perekat kekuatan personal. Aku rasakan itu manakala menjabat erat kedekatan yang dibangun dengan sentuhan kerapihan nuansa dan sinar mentari jam sepuluh. Hangat, menyenangkan sekaligus juga mampu menyentuh ranting ruang berkoridor luas. Apakah kemudian nilai yang dibangun menjadi hipotesa atau menjadi analisis kuantitatif tidaklah dalam konteks sama dengan atau sama dan sebangun. Ruang yang dibentang adalah berupaya menemani dan menjalani semuanya based on aplikasi, tidak sekedar wacana bertemakan analisis pengaruh kehangatan mentari jam sepuluh terhadap kebugaran diri.
Bukankah sinar mentari jam sepuluh cukup menghangatkan
Bukankah sinar mentari jam sepuluh cukup menyinarkan
Bukankah sinar mentari jam sepuluh cukup memberikan keringat
Bukankah sinar mentari jam sepuluh cukup menggairahkan
Adalah itu jua yang menjadi cara aku memandang jalan-jalan lintas personal ketika terminal di hadapan memberikan nilai kesejukan, tanpa harus memakai jaket, tanpa harus memakai selimut, tanpa harus menebalkan baju. Adalah itu jua yang menjadi ruang waktu ketika aku menimbang dan menimang asa, rasa dan nada. TIdaklah selalu harus menyatakan hasrat manakala kesamaan pandang dan cara sudah memberikan nilai perekat itu. Dan itu jua yang menjadikan cerita menjadi jalan-jalan sepanjang jalan, jalan-jalan sepanjang rasa.
*****
Tuesday, June 12, 2007
Catatan Bening
Bening itu adalah kedamaian
Bening itu adalah kepasrahan
Bening itu adalah ketulusan
Bening itu adalah kejernihan
Selasa bening adalah menjalankan langkah dengan kepastian diri bahwa niat yang dibungkus ketika mengucapkan salam dan meninggalkan halaman untuk kemudian memasuki ruang adalah anak tangga yang mampu menjelaskan makna niat yang dikumandangkan. Untuk berlaku dan berlakon dengan be carefully dan sekaligus memastikan untuk never again pada sejumlah tanya, pada sejumlah ajakan, pada sejumlah harapan, pada sejumlah bilangan hari. Karena sikapku sudah jelas, ingin menghitung hariku sendiri dengan langkah bening.
Tidak lagi untuk memproklamirkan sentence atau apa yang menjadi evidence ketika pengumuman sudah menjelaskan makna dan langkah. Tidak lagi menjual, tidak lagi menjaja, tidak lagi berjemur, tidak lagi memutar lagu atau apapun. Tidak lagi untuk menghitung langkah. Aku hanyan ingin langkahku bening, itu saja.
*******
Monday, awal hari kumulai dengan kesibukan untuk menyemai rangkaian pekerjaan yang masih terputus, berkonsentrasi dan mengambil peran lebih khusyuk untuk menjalankan penyelesaian. Aku harus menyelesaikan target yang menjadi bagian dari layout itu, maka bergegas aku untuk mendapatkan finishingnya dan walaupun belum selesai setidaknya menjadi bagian dari kesibukan itu.
Dan berjalanlah hari
Dan berjalanlah nadi
Dan berjalanlah inspirasi
Dan berjalanlah hati
Dan berjalanlah suasana
Dan berjalanlah matahari
(Tak terasa senja menghantar kepulanganku, letihpun mengguyur sekujur).
******
Sepanjang malam tadi menyapu pantura yang ramai dan pagi ini mencapai kota kembang yang bening, menjumpai bunda dan memberi setangkai bunga untuknya. Ya, bunda kusempatkan untuk menjengukmu yang renta untuk menghapus rindu, untuk membeningkan hati, untuk membeningkan rasa, untuk membeningkan dada.
Betapa rangkaian kalimatmu yang kugenggam dan kuikat sebagai bekal, agar hati ini selalu putih, agar hati ini selalu jernih, agar hati ini selalu bening. Kalimatmu yang terukir adalah agar memandang semua handicap sebagai penyemangat jalan. Tidak harus diopeni apa yang menjadi cara pandang orang, yakini saja dengan hakekat dan nikmat kehidupan yang diberikanNya pada kita. Betapa sejuk, betapa bening lantunan kalimat itu sampai dan terbungkus di telinga mata hatiku.
Kota bening, kembang bening, hati bening, dan perjalanan pulang dengan Harina memberikan kelegaan pada udara hati dan mampu memulaskan tidurku sampai menjelang tiba.
*****
Menjalani aktivitas dengan fokus penyelesaian exam dan tentu saja dengan berupaya merengkuh beningnya sinar Sabtu akhir pekan yang mencerahkan. Kuselesaikan semuanya dengan semangat bening, dan melanjutkannya dengan percakapan bening, melayani guyonan teman dengan kacamata bening, untuk memberikan suasana yang mampu memberi semangat hati ini.
Perjalanan bening adalah mengkaitkannya dengan irama hati pada perjalanan yang mengesankan, yang membungakan, yang membahagiakan, yang membeningkan dengan merengkuh, dengan meraih perolehan pada sambutan yang bernilai bunga dan menafsirkan liku-liku inner city bersama keyakinan diri.
Duh, betapa ada yang mampu bersinar
Duh, betapa ada yang mampu bercahaya
Duh, betapa ada yang mampu bersahaja
Duh, betapa ada yang mampu bercerita
(Thanks to all fren yang mampu membagi kebersamaan dalam langkah menguji kemampuan cerdas kita. Semoga menjadi sarana untuk lebih rapat lagi dalam menjalin silaturrahmi)
******
Banyu Bening menghantar kehadiran ketika matahari menjelang titik tertinggi Jumat Siang ini, dan perjamuan ini adalah perlambang, adalah ikatan, adalah penyambung, adalah pemanis rasa. Lebih dari itu, juga adalah pengantar catatan bening. Ya, harusnya kunikmati lunch siang di keteduhan dan keceriaan, membagi cerita, membagi suasana, dan berbagi warna. Beningnya banyu bening mampu membeningkan ruang, mampu membeningkan kamar, mampu membeningkan wajah dan tentu saja ketibaan ini bukanlah sesuatu yang sia-sia melainkan sebagai bagian dari rancangan yang lebih sering tertunda.
Maka mengalirlah ungkapan
Maka mengalirlah visualisasi
Maka mengalirlah celoteh
Maka mengalirlah bait kata berikat lagu tubuh
Kedekatan itu menjadi bukti bahwa pertemanan kita adalah ikatan yang menjalin nilai silaturrahmi pada sejumlah titik yang kita lewati bersama. Dan anugerah itu layaknya sebuah reward bagi terciptanya suasana saling memahami, saling mengerti dan saling menjaga. Kuhirup saja udara banyu bening, tanpa harus tergesa-gesa karena ingin menikmati suasana yang membeningkan ini, membeningkan mata hati, membeningkan rasa hati.
*****
Friday, June 08, 2007
Puisi Pekan Lembayung
Puisi Pekan Lembayung (4)
Menikmati pernik dengan catatan tanpa koma
Menikmati keniscayaan tanpa harus menyingkap asa
Menikmati alunan tanpa harus memiliki syair
Menikmati syair tanpa harus memakai bait
Kepastian adalah jawaban atas segala penilaian
Dan itu tidak berarti menjadi garis angka atau huruf
Apapun itu, adalah titik tanpa lanjutan
Apapun itu, adalah terminal tanpa lanjutan
Apapun itu, adalah halte tanpa sambungan simpang
Dan tidak usah lagi disinari ungkap dan ucap
Dan tidak usah lagi dicahayakan dengan senyum lapis legit
Dan tidak usah lagi dihangatkan dengan kalimat bersayap
Dan tidak usah lagi diceritakan dengan tembang penyejuk
Pada sejumlah kisah
Pada sejumlah bab
Pada sejumlah paragraf
Pada sejumlah pasal
Sudah tertera materai penegasan
Untuk apa lagu dilantunkan
******
Puisi Pekan Lembayung (3)
Secerah apa yang ingin dibuktikan pada sejumlah hari
Meskipun terik mampu menghantarkan keringat tengah hari
Tak kan lagi menyatakan hasrat untuk dilombakan
Takkan lagi menyatakan tekad untuk bertahan di ruang pengap
Tak kan lagi mengumumkan aura rasa dibungkus kembang mawar
Tidak lagi
Pada apapun sejumlah kalimat yang dihantarkan
Pada sederet kisah yang bertuliskan rasa yang begitu dalam
Pada biru langit
Pada biru angin
Pada biru nadi
Pada biru catatan hati
Tidak lagi
Pada apapun yang terlontarkan dari manisan pace
Pada segelas teh manis hangat yang dihidangkan
Pada sebungkus kado yang dibingkiskan
Pada sebongkah prasasti yang diumumkan
Tidak lagi
(Dan aku memilih untuk berkemas)
(Dan aku memilih untuk berangkat)
*******
Puisi Pekan Lembayung (2)
Kita pahami sebagai anugerah
Kita pahami sebagai gumpalan kelabu
Kita pahami sebagai ungkapan nada
Kita pahami sebagai riak menuju pantai
(Aku hanya membisu dan mendengar)
Apakah sejauh itu penafsiran yang dibuktikan
Bukankah sejalan hari ada haru dan hore
Bukankah sepanjang hari ada haru dan hore
Bukankah sedalam hati ada kehati-hatian
Bukankah sebesar asa ada ruang untuk rasa
(Kukatakan itu pada sosok yang berhati emas)
Biarlah, katanya
Toh ada yang menjanjikan cerita bersambung
Toh akan menjadi bagian dari bab penulisan
Toh akan menjadi paragraf garis tebal
Tanpa harus dicatat ulang
Tanpa harus dicat ulang
Tanpa harus diulang
(Sejumlah nada pun dikumandangkan)
*******
Puisi Pekan Lembayung (1)
Hanya sejumput itu
Pada kalimat yang terlontarkan
Pada seraut yang terdampar
Pada segenggam kepal yang menggumpal
Hanya sebatas itu
Dan mentari lembayung menyapa
Tak perlu diberi awan
Tak perlu diberi hujan
Tak perlu diberi ombak
Tak perlu diberi bayu
Hanya sejengkal itu
Dan menorehkan asa biru malam
Tak jua menyapa hati
Tak jua mengetuk pintu
Tak jua menyemarakkan kata
Wajah itu
Adalah rona yang menggelembungkan
Adalah garis yang menyiratkan gundah
Adalah coretan yang menyapu nadi
Adalah yang tak tertumpahkan
Ketika sendu memeluk diri
******
Menikmati pernik dengan catatan tanpa koma
Menikmati keniscayaan tanpa harus menyingkap asa
Menikmati alunan tanpa harus memiliki syair
Menikmati syair tanpa harus memakai bait
Kepastian adalah jawaban atas segala penilaian
Dan itu tidak berarti menjadi garis angka atau huruf
Apapun itu, adalah titik tanpa lanjutan
Apapun itu, adalah terminal tanpa lanjutan
Apapun itu, adalah halte tanpa sambungan simpang
Dan tidak usah lagi disinari ungkap dan ucap
Dan tidak usah lagi dicahayakan dengan senyum lapis legit
Dan tidak usah lagi dihangatkan dengan kalimat bersayap
Dan tidak usah lagi diceritakan dengan tembang penyejuk
Pada sejumlah kisah
Pada sejumlah bab
Pada sejumlah paragraf
Pada sejumlah pasal
Sudah tertera materai penegasan
Untuk apa lagu dilantunkan
******
Puisi Pekan Lembayung (3)
Secerah apa yang ingin dibuktikan pada sejumlah hari
Meskipun terik mampu menghantarkan keringat tengah hari
Tak kan lagi menyatakan hasrat untuk dilombakan
Takkan lagi menyatakan tekad untuk bertahan di ruang pengap
Tak kan lagi mengumumkan aura rasa dibungkus kembang mawar
Tidak lagi
Pada apapun sejumlah kalimat yang dihantarkan
Pada sederet kisah yang bertuliskan rasa yang begitu dalam
Pada biru langit
Pada biru angin
Pada biru nadi
Pada biru catatan hati
Tidak lagi
Pada apapun yang terlontarkan dari manisan pace
Pada segelas teh manis hangat yang dihidangkan
Pada sebungkus kado yang dibingkiskan
Pada sebongkah prasasti yang diumumkan
Tidak lagi
(Dan aku memilih untuk berkemas)
(Dan aku memilih untuk berangkat)
*******
Puisi Pekan Lembayung (2)
Kita pahami sebagai anugerah
Kita pahami sebagai gumpalan kelabu
Kita pahami sebagai ungkapan nada
Kita pahami sebagai riak menuju pantai
(Aku hanya membisu dan mendengar)
Apakah sejauh itu penafsiran yang dibuktikan
Bukankah sejalan hari ada haru dan hore
Bukankah sepanjang hari ada haru dan hore
Bukankah sedalam hati ada kehati-hatian
Bukankah sebesar asa ada ruang untuk rasa
(Kukatakan itu pada sosok yang berhati emas)
Biarlah, katanya
Toh ada yang menjanjikan cerita bersambung
Toh akan menjadi bagian dari bab penulisan
Toh akan menjadi paragraf garis tebal
Tanpa harus dicatat ulang
Tanpa harus dicat ulang
Tanpa harus diulang
(Sejumlah nada pun dikumandangkan)
*******
Puisi Pekan Lembayung (1)
Hanya sejumput itu
Pada kalimat yang terlontarkan
Pada seraut yang terdampar
Pada segenggam kepal yang menggumpal
Hanya sebatas itu
Dan mentari lembayung menyapa
Tak perlu diberi awan
Tak perlu diberi hujan
Tak perlu diberi ombak
Tak perlu diberi bayu
Hanya sejengkal itu
Dan menorehkan asa biru malam
Tak jua menyapa hati
Tak jua mengetuk pintu
Tak jua menyemarakkan kata
Wajah itu
Adalah rona yang menggelembungkan
Adalah garis yang menyiratkan gundah
Adalah coretan yang menyapu nadi
Adalah yang tak tertumpahkan
Ketika sendu memeluk diri
******
Friday, June 01, 2007
Betapa, Ternyata
Titik Tuhan itu kucerdaskan lagi ketika Jumat pagi ini menghadiri tausiah bersama ustad terkenal yang berceramah di sekolah ternama kota ini, sekalian melunaskan undangan yang disebarkan. Bahwa matematika Tuhan yang dijelaskan adalah bagian dari pembelajaran sanubari bahwa tidak semestinya kita berkiblat pada asas ruang pandang eksakta seperti misalnya 10-1 itu tidak harus sembilan, bisa jadi sembilan belas.
Dan itu hanya bisa diyakini ketika kita mengapresiasikan dengan keyakinan bahwa nilai berkah dan manfaat dari kacamata aqidah adalah kemutlakan yan akan menjadi pijakan bekal. Ruang mimpi yang sering digelar pada saat kita tidur pulas adalah bagian dari pembelajaran rohani bahwa ada alam bawah sadar yang berada di luar kontrol untuk meyakini kita bahwa nilai kehidupan itu adalah dalam rangka fastabiqul khoirot.
Apakah kita yang diberi kesempatan hidup ini memiliki raga yang dibungkus ini, jawabannya adalah tidak. Jika ya, buktinya adalah kita tidak bisa mengontrol denyut jantung kita, kita tidak mengatahui proses pencernaan di tubuh kita, semuanya berjalan otomatis dan sudah berproses sendiri. Tak sadar jua kita setiap saat menghirup oksigen gratis, tanpa diatur dan gak pernah lupa. Ya kalau lupa bisa game dong dan itu satu bukti bahwa kita hanya diberi pinjaman.
Subhanallah, betapa nestapanya aku
Subhanallah, betapa papanya aku
******
Menyeterika hari dengan konsentrasi membuat yang 40 halaman itu sekaligus mencoba memahami hakekat dan analogi yang disimak. Kucoba mencernanya dengan semangat penyelesaian dan kalau boleh jujur belumlah maksimal yang kuperoleh dan kudapatkan setidaknya sampai Kamis ini.
Namun hari juga akan menjelaskan nantinya, bahwa pola yang hendak dipatrikan adalah berupaya memahami konten dengan berjibaku sendirian, mengerjakan sendirian, memahami dengan keyakinan, bahwa ini adalah bagian dari penambahan itu yang seharusnya memang dikunyah sendiri.
Ketika aku sedang asyik dengan panorama ini barulah kuyakini ternyata memang asyik juga menjelajah paragraf demi paragraf dan menjalinnya dalam satu kesatuan yang setidaknya mampu membuat aku puas hati dan berkeyakinan untuk bisa mempertahankannya kelak. Bahwa ketika belum dimulai dan malas untuk memulainya adalah handicap yang akan terus menghalangi. Dan hanya dengan modal pede dan keyakinan semuanya dapat dijalankan dengan semangat ”aku harus bisa maka aku harus kerjakan”.
Dan ternyata demikian lancarnya aliran yang mengalir
Dan ternyata demikian luasnya adonan yang dilumuri
Dan ternyata demikian asyiknya bercerita dengan rasio neon
Dan ternyata demikian cerdasnya kalimat yang digariskan
******
Dan itu hanya bisa diyakini ketika kita mengapresiasikan dengan keyakinan bahwa nilai berkah dan manfaat dari kacamata aqidah adalah kemutlakan yan akan menjadi pijakan bekal. Ruang mimpi yang sering digelar pada saat kita tidur pulas adalah bagian dari pembelajaran rohani bahwa ada alam bawah sadar yang berada di luar kontrol untuk meyakini kita bahwa nilai kehidupan itu adalah dalam rangka fastabiqul khoirot.
Apakah kita yang diberi kesempatan hidup ini memiliki raga yang dibungkus ini, jawabannya adalah tidak. Jika ya, buktinya adalah kita tidak bisa mengontrol denyut jantung kita, kita tidak mengatahui proses pencernaan di tubuh kita, semuanya berjalan otomatis dan sudah berproses sendiri. Tak sadar jua kita setiap saat menghirup oksigen gratis, tanpa diatur dan gak pernah lupa. Ya kalau lupa bisa game dong dan itu satu bukti bahwa kita hanya diberi pinjaman.
Subhanallah, betapa nestapanya aku
Subhanallah, betapa papanya aku
******
Menyeterika hari dengan konsentrasi membuat yang 40 halaman itu sekaligus mencoba memahami hakekat dan analogi yang disimak. Kucoba mencernanya dengan semangat penyelesaian dan kalau boleh jujur belumlah maksimal yang kuperoleh dan kudapatkan setidaknya sampai Kamis ini.
Namun hari juga akan menjelaskan nantinya, bahwa pola yang hendak dipatrikan adalah berupaya memahami konten dengan berjibaku sendirian, mengerjakan sendirian, memahami dengan keyakinan, bahwa ini adalah bagian dari penambahan itu yang seharusnya memang dikunyah sendiri.
Ketika aku sedang asyik dengan panorama ini barulah kuyakini ternyata memang asyik juga menjelajah paragraf demi paragraf dan menjalinnya dalam satu kesatuan yang setidaknya mampu membuat aku puas hati dan berkeyakinan untuk bisa mempertahankannya kelak. Bahwa ketika belum dimulai dan malas untuk memulainya adalah handicap yang akan terus menghalangi. Dan hanya dengan modal pede dan keyakinan semuanya dapat dijalankan dengan semangat ”aku harus bisa maka aku harus kerjakan”.
Dan ternyata demikian lancarnya aliran yang mengalir
Dan ternyata demikian luasnya adonan yang dilumuri
Dan ternyata demikian asyiknya bercerita dengan rasio neon
Dan ternyata demikian cerdasnya kalimat yang digariskan
******
Wednesday, May 30, 2007
Bunglon Banci
Menjelajah ring road kota sekedar memastikan apakah ada yang berubah, dan tentu saja ada yang gak sama, ada yang baru, ada yang tetap kumuh, ada yang berlubang, ada yang mulus. Sepenggal waktu itu mengisyaratkan adanya kebutuhan untuk menafsirkan sekaligus memperbesar ruang pandang, agar mampu menjelaskan titik simpul yang belum mampu diurai sampai hari ini.
Belum mampu diurai selain menjelmakannya sebagai gumpalan gemuruh untuk ditumpahkan pada sosok yang harus digelontor dengan deterjen gebrakan. Tunggu saat yang tepat sampai semuanya dapat dibayar dengan hukum jual beli yang diproklamirkan sepihak. Banyak cara untuk menjelmakan itu, dan sangatlah mudah untuk menggelontornya ke dalam kondisi basah kuyup dan sekaligus menghajar nalurinya untuk menguji nyalinya yang ternyata hanya mampu kukuruyukk tapi tak punya taji untuk menguji.
Lempar batu sembunyi tangan
Adalah lambang banci isme yang dimilikinya
Merasa bertambah kekuatannya
Ketika ada supporting bermental bunglon
Tapi ternyata hanya bermain di argumentasi
Hanya sampai disitu
Wajah pucat pasinya adalah bukti
Bahwa ternyata hanya mampu kukuruyuuk
(Dan jalan cerita yang harus dikumandangkan adalah bahwa semuanya harus dijelaskan dengan berbagai cara sampai berdarah sekalipun karena ini adalah harga diri, harga mati, harga martabat, dan diamini oleh handaitolan. Tantangan harus dihadapi dengan berbagai cara sekaligus memecah gumpalan gemuruh).
*****
Belum mampu diurai selain menjelmakannya sebagai gumpalan gemuruh untuk ditumpahkan pada sosok yang harus digelontor dengan deterjen gebrakan. Tunggu saat yang tepat sampai semuanya dapat dibayar dengan hukum jual beli yang diproklamirkan sepihak. Banyak cara untuk menjelmakan itu, dan sangatlah mudah untuk menggelontornya ke dalam kondisi basah kuyup dan sekaligus menghajar nalurinya untuk menguji nyalinya yang ternyata hanya mampu kukuruyukk tapi tak punya taji untuk menguji.
Lempar batu sembunyi tangan
Adalah lambang banci isme yang dimilikinya
Merasa bertambah kekuatannya
Ketika ada supporting bermental bunglon
Tapi ternyata hanya bermain di argumentasi
Hanya sampai disitu
Wajah pucat pasinya adalah bukti
Bahwa ternyata hanya mampu kukuruyuuk
(Dan jalan cerita yang harus dikumandangkan adalah bahwa semuanya harus dijelaskan dengan berbagai cara sampai berdarah sekalipun karena ini adalah harga diri, harga mati, harga martabat, dan diamini oleh handaitolan. Tantangan harus dihadapi dengan berbagai cara sekaligus memecah gumpalan gemuruh).
*****
Tuesday, May 29, 2007
Adrenalinku
Perilaku tidak etis dan berkepanjangan mesti dijawab dengan ketenangan dan membiarkannya dengan peran ”bancinya”. Dari beberapa referensi yang kudapat sifat banci itu adalah lambang kepengecutan dan susah menebak kelamin yang sesunguhnya dan dampaknya jelas, tidak menghormati sunatullah seperti misalnya mencari pasangan untuk berbagi cerita dan berbagi masa depan.
Tetapi kesabaran itu bisa meluap menjadi titik didih ketka keliaran dan kezaliman berkedok bancinya itu menantang diri untuk beradu jantan. Ya tentu saja harus dijawab dengan hal yang sama, namun kenyataannya mirip seperti ayam sayur, pucat pasi, dan diam terpaku. Jadi kesimpulannya ya benar-benar banci.
Tetapi karena ini menyangkut harga diri dan kehormatan, tentu tidak sampai disitu ceritanya, Maka episode berikutnya adalah menjelaskannya pada handai tolan untuk mengambil langkah mempertaruhkannya untuk setiap tataran langkah sampai dia basah kuyup.
Ali Imran 120 menjelaskan : ”Jika kamu bersabar dan bertaqwa niscaya tipu daya mereka tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu, sesungguhnya Allah mengetahui apa yang mereka kerjakan”.
Dari titik simpul itu, selama ini aku berangkat dan berupaya untuk menetralisir semua tingkah laku non etis yang kemayu itu. Ternyata hanya sampai di sisi itu kadar adrenalinnya, sudah terlanjur basah, dan harus diberikan pelajaran sampai tuntas dan lunas.
Tetapi kesabaran itu bisa meluap menjadi titik didih ketka keliaran dan kezaliman berkedok bancinya itu menantang diri untuk beradu jantan. Ya tentu saja harus dijawab dengan hal yang sama, namun kenyataannya mirip seperti ayam sayur, pucat pasi, dan diam terpaku. Jadi kesimpulannya ya benar-benar banci.
Tetapi karena ini menyangkut harga diri dan kehormatan, tentu tidak sampai disitu ceritanya, Maka episode berikutnya adalah menjelaskannya pada handai tolan untuk mengambil langkah mempertaruhkannya untuk setiap tataran langkah sampai dia basah kuyup.
Ali Imran 120 menjelaskan : ”Jika kamu bersabar dan bertaqwa niscaya tipu daya mereka tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu, sesungguhnya Allah mengetahui apa yang mereka kerjakan”.
Dari titik simpul itu, selama ini aku berangkat dan berupaya untuk menetralisir semua tingkah laku non etis yang kemayu itu. Ternyata hanya sampai di sisi itu kadar adrenalinnya, sudah terlanjur basah, dan harus diberikan pelajaran sampai tuntas dan lunas.
****
Monday, May 28, 2007
Kalau Saja
Senin itu indah
Dan matahari pun menyambut dengan senyum
Apakah kemudian hati juga mempertaruhkannya
Apakah kemudian hati juga memperjelas ceritanya
Ya
Kalau saja cerita tidak berkepanjangan
Sebeningnya ingin kurasakan kejelasan cerita
Seputihnya ingin kusimak harmoni angan
Sejernihnya ingin kubacakan testimoni
Bukankah kesetaraan yang dijunjung pada sketsa
Bukankah kesetiaan yang dijunjung pada kebersamaan
Bukankah kesetiaan dan kesetaraan yang dibangun bersama
Bukankah itu yang menjadi cerita sepanjang jalan
Ya
Kalau saja tidak kudengar itu
Matahari pun akan kusambut dengan pelukan
Rembulan pun akan kusambut dengan dekapan
Kalau saja..........
****
Dan matahari pun menyambut dengan senyum
Apakah kemudian hati juga mempertaruhkannya
Apakah kemudian hati juga memperjelas ceritanya
Ya
Kalau saja cerita tidak berkepanjangan
Sebeningnya ingin kurasakan kejelasan cerita
Seputihnya ingin kusimak harmoni angan
Sejernihnya ingin kubacakan testimoni
Bukankah kesetaraan yang dijunjung pada sketsa
Bukankah kesetiaan yang dijunjung pada kebersamaan
Bukankah kesetiaan dan kesetaraan yang dibangun bersama
Bukankah itu yang menjadi cerita sepanjang jalan
Ya
Kalau saja tidak kudengar itu
Matahari pun akan kusambut dengan pelukan
Rembulan pun akan kusambut dengan dekapan
Kalau saja..........
****
Sunday Happy and Busy
Sunday is busy, setidaknya isian hari yang kudekap bersama rencana yang ditulis hati. After Subuh jjp (jalan-jalan pagi) bersama my wife menuju kawasan spl yang ramai itu, rutenya sampai Trlj yang penuh sesak, kayaknya ada seremoni tsel gitu, sampai akhirnya beli jajanan yang kugemari saban minggu, ya itu kue cucur warna coklat.
Berkeringat, memang itu yang dicari, bukankah keringat mencerminkan adanya pembakaran dan itu artinya ada yang dibakar, ya lemak, ya kolesterol, ya asam urat kalee. Yang jelas ada kebugaran, ada keafiatan, ada kesegaran. Aku menikmati kebugaran yang berkeringat itu.
After that, biasalah bersih-bersih jadi cleaning service, kemudian mempersiapkan naskah dan konsep untuk diselesaikan, lumayan juga tebalnya tapi aku yakin bisa kuselesaikan. Tapi melayani tamu yang datang juga perlu waktu, tanpa rencana, dan harus dilayani, apalagi yang datang sahabat dekat yang baik yang ramah. Dan ngajak lunch bareng, oke-oke saja dan kita nikmati bersama.
After that lagi, to office and campus, dua-duanya penting untuk dijalani, berkutat menyelesaikan TM yang harus finis sore ini. Selesai, lega, capek tapi menyenangkan. Begitupun masih menyempatkan diri "mengasuh" kebun bunga, membersihkan dan merawat, sebuah kesibukan yang menyenangkan mengisi hari bersama bunga di taman bunga.
*****
Saturday, May 26, 2007
Coretan Akhir Pekan
Sabtu yang menyenangkan, berbagi, bercengkerana, bercakap, berdiskusi baik yang formal maupun non formal. Semuanya dirangkum dalam kahadiran di cerita akhir pekan bertemu dengan rekan college, berbagi bahan, berbagi suasana dan menceritakan tentang situasi two week yang gak ketemu.
Apa kabar
Baik aja
Salaman
Bagi Senyum
Renyah
Ada yang baru
Lunch bareng
Menyapu sudut ruang
Tertawa lagi
Ramai lagi
Hilang letih
Ganti warna
Siapa dia
Ah peduli amat
******
Mensinkronkan antara rasa dan rasio itu kadang memerlukan rekonsiliasi untuk saling berbaikan waktu, seperti misalnya, rasaku ingin merehatkan diri sementara rasioku ingin menyelesaikan sisa yang harus dituntaskan sebagai take home yang dead linenya sampai Juma sore ini.
Dan rasaku harus mengalah dikit, karena itu kutuntaskannlah dengan segala kemampuanku untuk menyelesaikan take home dengan semangat yang hampir lunglai karena rasa menginginkan rileks. Dengan stimulan yang dipaksakan akhirnya menjelang rembang hari selesailah setelah berjibaku dengan waktu selama pekan ini. Puas, letih dan melegakan dicampur jadi satu dan kuminum bersama juice senang hati. Tidur pun lega dan tinggal menunggu hari menjelang pagi.
*****
(Thanks to Yn, berbagi cerita dengan bungkusan canda dan kedekatan memberikan kehangatan pada hati yang pengen rehat ini. Makasih again, sungguh sangat menyenangkan).
(Thanks to Wl, janjiannya tomorrow aja, sekalian silaturrahmi untuk kesetiaan pertemanan kita, See you next).
*****
Thursday, May 24, 2007
Angan dan Harapku
Mengapa gak muncul tulisannya lagi, kata seorang rekan Purel, maka jawabku adalah lagi nabung tulisan, sekalian berancang-ancang untuk go external, apalagi kalau berada di ruang yang sama, kataku. Maksudnya di medan yang sama adalah sesuatu yang maksimal untuk mengembangkan gelombang talenta ini.
Angan dan harapku seperti itu, setidaknya berada di lingkungan yang memiliki persepsi sama, diskusi sama, cara pandang sama, cara bahas sama dan memberikan nilai maksimal pada kemampuan untuk berbagi peran. Sepanjang ini, bagiku tidaklah mencapai titik optimal ketika harus berhadapan dengan setting beda, belum lagi sudut pandang yang menganggap tidak fokus.
Keinginan dan harap itu semogalah akan disampaikan oleh angin sepoi yang malam ini menghampiriku sembari membisikkan : "ciptakanlah terus tanpa harus mengedepankan area rutinitas. Aku akan sampaikan asamu itu ketika aku singgahi sejumlah pohon dan kebun bunga, percayalah".
Bukankah nilai yang dibangun adalah memaksimalkan peran yang diemban dan sekaligus membuktikan betapa semua itu adalah mengekspresikan kembang hati yang setulusnya ingin membuktikan bakti, di ruang rutinitas, di luar rutinitas, di ruang angan, di ruang harap, di ruang gelap sekalipun.
Dan Tuhan pun tahu tentang bukti bakti yang kukisahkan dengan sejumlah lagu bahasa, tembang paragraf dan nyanyian apresiasi tanpa harus mengumumkannya. Ujiannya itu adalah ketegaran pada sejumlah "catatan autis bathin" yang dibungkus dengan arogansi pada sinar mata elang dan dikumandangkan dengan wajah dengki. Autis bathin itu adalah iri dan khasad yang lebih berbahaya dari autis zahir. Kata-kata bunda yang masih terngiang adalah : "biarkan dia, toh akan menjadi kebangkrutan pada nilai dirinya sendiri". Kunci jawabannya adalah Innalloha maashobiriin.
*****
Wednesday, May 23, 2007
Siraman Itu
Siraman itu sungguh mencerahkan, seperti mengusir arak-arakan awan yang menutupi langit biru, langit hati. Ya, sangat menyentuh ketika berbagai ucap dan lantun salawat mampu menggetarkan hatiku. Nasehat dalam Binroh bulanan itu mampu mengajakku untuk berdamai dengan hati, bersalaman dengan nurani dan mengajaknya untuk memutihkan langkah.
Langkah yang Engkau atur tanpa harus diumumkan adalah bagian pembelajaran pada diri untuk menjalin dan menyulam nilai istiqomah dan disejukkan dengan penyemaian hati pada sekotak asa yang masih ada dan setia. Begitu dalamnya makna yang disampaikan itu sampai-sampai membuatku berkaca hati dan menekuninya bersama kesyahduan dan mengembunkan sinar mata beningku.
Terimakasih Tuhan, ada hal yang selalu mengejawantahkan nilai kasih sayangMu ketika memberikan pelajaran pada nilai, pada hakekat, pada dinamika, pada perjalanan diri, pada perjalanan hati, bahwa tanda-tanda kepiawaianMu dalam mengajarkan hati hambaMu adalah sentuhan pada bilik hati untuk menggapai nilai kembali pada kesejatian diri. Betapa aku merasakan sebuah pelajaran pada nilai ujian perjalanan tanpa nomor soal. Engkau adalah anugerah yang memberikan nilai kasih itu pada kedalaman firmanMu, menggetarkan nadi hati dan bersimpuh pada sudut bening airmata.
Tuhan, betapa dalamnya nilai yang Kau berikan itu
Tuhan, betapa kasihnya rahman yang Kau bisikkan itu
Tuhan, betapa indahnya pelajaran itu
******
Tuesday, May 22, 2007
Aku Ingin
Aku ingin membumikan keniscayaan itu
Dan mengunyahnya bersama permen keprihatinan
Dan mencernanya bersama berita air mata
Dan menerimanya bersama garis diri
Aku ingin membumikan keangkuhan itu
Dan menceritakannya bersama kisah sketsa
Dan memberitakannya bersama kesamaan peran
Dan menggariskannya bersama hakekat diri
Aku ingin menjalani keniscayaan itu
Dan melipatnya bersama kesementaraan fana
Dan mengguntingnya bersama patron sikap
Dan menyeterikanya bersama keyakinan diri
Aku ingin jalani itu
Bersama perjanjian yang sudah kudengungkan
Bersama persetujuan yang sudah kuikrarkan
Testimoninya adalah hari-hari bersama hati
****
(Makasih ya Pa, kata si Ragil ketika yang diingininya kupenuhi di Grm. Sebuah kalimat yang mampu menyentuh relung dan menghangatkan kamar hati).
Dan mengunyahnya bersama permen keprihatinan
Dan mencernanya bersama berita air mata
Dan menerimanya bersama garis diri
Aku ingin membumikan keangkuhan itu
Dan menceritakannya bersama kisah sketsa
Dan memberitakannya bersama kesamaan peran
Dan menggariskannya bersama hakekat diri
Aku ingin menjalani keniscayaan itu
Dan melipatnya bersama kesementaraan fana
Dan mengguntingnya bersama patron sikap
Dan menyeterikanya bersama keyakinan diri
Aku ingin jalani itu
Bersama perjanjian yang sudah kudengungkan
Bersama persetujuan yang sudah kuikrarkan
Testimoninya adalah hari-hari bersama hati
****
(Makasih ya Pa, kata si Ragil ketika yang diingininya kupenuhi di Grm. Sebuah kalimat yang mampu menyentuh relung dan menghangatkan kamar hati).
Monday, May 21, 2007
Perjanjian Dengan Hati
Perjanjian dengan hati
Mengisahkan tentang bening air
(yang ingin kukecup)
Menceritakan tentang pelangi
(yang ingin kuhirup)
Memberitakan tentang persimpangan
(yang ingin kuselesaikan)
Mengikrarkan tentang hakekat putih
(yang ingin kupeluk erat)
Membacakan tentang syariat
(yang ingin kulafal dengar)
Menuliskan tentang sinar jalan
(yang ingin kulalui dengan teguh)
Semoga menjadi bening
Semoga menjadi puitih
Semoga menjadi erat
Semoga menjadi bersinar
Terimakasih Tuhan
Engkau telah menjelajah relung hati ini
Dan sekaligus memberi catatan pada riak hati
(Thanks to Wl, perhatiannya sungguh menggugah, semoga menjadi catatan berkah bagi cerita kehidupanmu)
(Thanks to My, bagi-bagi yang belum selesai setidaknya meringankan beban yang harus dilahap, bertahap diselesaikan, gitu kan).
*****
Mengisahkan tentang bening air
(yang ingin kukecup)
Menceritakan tentang pelangi
(yang ingin kuhirup)
Memberitakan tentang persimpangan
(yang ingin kuselesaikan)
Mengikrarkan tentang hakekat putih
(yang ingin kupeluk erat)
Membacakan tentang syariat
(yang ingin kulafal dengar)
Menuliskan tentang sinar jalan
(yang ingin kulalui dengan teguh)
Semoga menjadi bening
Semoga menjadi puitih
Semoga menjadi erat
Semoga menjadi bersinar
Terimakasih Tuhan
Engkau telah menjelajah relung hati ini
Dan sekaligus memberi catatan pada riak hati
(Thanks to Wl, perhatiannya sungguh menggugah, semoga menjadi catatan berkah bagi cerita kehidupanmu)
(Thanks to My, bagi-bagi yang belum selesai setidaknya meringankan beban yang harus dilahap, bertahap diselesaikan, gitu kan).
*****
Sunday, May 20, 2007
Long Weekend di Hospital
Perjanjian dengan hari adalah mengupayakan untuk mengisinya dengan sejumlah catatan. Dan catatan long weekend ini adalah bermain di teritori Hospital, selama libur panjang, menunggu, merawat, menceritakan, memberian nilai kasih yang lebih kepada si ragil yang harus terbaring.
Kunikmati suasana ini sembari merenungkan hakekat perjalanan
Kujalani libur panjang dengan mendengarkan dan menceritakan
Kuisi hari-hari dengan membuka bacaan, dan menjelaskannya pada rasio
Kugenapi langkah-langkah perjanjian dengan hari untuk bermain di hospital
Perjanjianku dengan hari adalah
Menyelesaikan draft untuk memastikan
Menulis catatan yang belum diselesaikan
Merenungkan pelangi sehabis hujan
Mengecup kening dan pipi si ragil tersayang
Menceritakan tentang rasa sayang itu padanya
Lekas sembuh ya sayang
Aku ingin dengarkan celotehmu yang berisik itu
Aku ingin mengganggu ketekunanmu yang fokus itu
Nanda, adalah kebanggaan yang mampu menerangi
Sejauh apapun nilai yang engkau paraskan
Pada bundar wajahmu yang menggemaskan itu
*****
Wednesday, May 16, 2007
Mon, Tue, Wed
Nanda harus dirawat inap ya, ujarku sambil mengusap kening si ragil yang kelelahan dengan panas yang tinggi. Sejak pagi aku harus wira wiri mengunjungi dokter lalu ke lab yang kedua kali dalam duapuluh empat jam ini dan hasilnya Rabu petang ini memang harus masuk RS. Dan kekuatan si ragil untuk menanggung dua jenis sakit itu sungguh menakjubkan, termasuk Dokter sendiri yang mengatakan. Kadang aku guyoni juga dia bahwa sakit itu perlu agar bisa ngurangi berat badan dan sebagai koreksi bahwa pola makan perlu diatur. Dia yang tomboy itu hanya tersenyum tipis dan memukul-mukul lenganku dengan manja.
Beristirahat ya sayang, kataku sembari mendoakan kesembuhannya. Padahal sesungguhnya liburan panjang ini akan diisi dengan traveling dan kunjungan silautrrahmi, namun semuanya harus dibubarkan dan diganti dengan kegiatan mengawal si ragil yang lincah ini. Semogalah lekas sembuh, untuk beraktivitas kembali, untu meramaikan kembali suasana rumah, untuk menyemarakkan kembali dinamika keseharian yang menyenangkan.
Betapa nanda sangat menyenangkan hatiku
Betapa nanda sangat membanggakan asaku
Betapa nanda sangat membahagiakan nadiku
Betapa nanda sangat mewarnakan hari-hariku
******
Aku berupaya mengejar target, maksudnya ada timer yang telah kuplanning dan harus kuselesaikan this week. Maka secuil waktu yang ada di Selasa ini kucoba membukanya dengan mengerahkan segala kekuatan daya pikir untuk menyelesaikannya. HRP yang menjadi judulnya, untungnya adalah aku dapat menginventarisasi masalah dan problemnya sehingga hanya memoles bagaimana tampilan terbaik yang harus dikedepankan.
Aku memang lagi konsentrasi untuk memacu dan menyelesaikan karena aku tidak ingin ketinggalan, aku ingin selesai maka secara bertahap dan terukur aku harus selesaikan dengan mencuri secuil waktu yang ada. Menariknya adalah ini bagian dari proses lay out, dengan mencoba menggali dan menggali. Kalau hanya sekedar bermain di highlight, kayaknya bukan tipe aku. Aku ingin memahami dan mengapresiasikannya dengan segenap upaya dan olah pikir terlepas dari perolehan nilai yang kudapat.
(Si Ragil kurang fit, maka siang ini kubawa ke dokter, kubawa ke lab, sepertinya sakitnya agak serius, kukompres keningnya, duh betapa kuatnya kamu menahan panas tinggi itu. Nanda yang besar lincah, tergolek dan aku menemaninya dengan cerita-cerita yang menyenangkan hatinya sepanjang malam).
*****
Banyak yang harus keselesaikan sepanjang pekan ini setidaknya ada di pola perencanaanku. Tentang tugas rutin yang mulai menumpuk, tentang materi college yang makin menimbun, tentang aktivitas traveling menyambut long weekend. Rencana traveling kali ini adalah membuka rute baru menuju Pct dan Trg. Maka kusiapkan semua, kurembugkan semua, memilah hari, menyelesaikan sesuai jadwal, dan urutan skala prioritasnya.
Sepanjang Senin ini prioritasnya adalah menyelesaikan yang tertinggal sembari meneruskan tulisan HRP yang sudah mulai menemukan bentuknya. Sibuk juga kelihatannya, tapi mengisi hari dengan semangat adalah bagian dari pencapaian yang harus diselesaikan itu. Aku selalu ingin seperti itu.
*****
Beristirahat ya sayang, kataku sembari mendoakan kesembuhannya. Padahal sesungguhnya liburan panjang ini akan diisi dengan traveling dan kunjungan silautrrahmi, namun semuanya harus dibubarkan dan diganti dengan kegiatan mengawal si ragil yang lincah ini. Semogalah lekas sembuh, untuk beraktivitas kembali, untu meramaikan kembali suasana rumah, untuk menyemarakkan kembali dinamika keseharian yang menyenangkan.
Betapa nanda sangat menyenangkan hatiku
Betapa nanda sangat membanggakan asaku
Betapa nanda sangat membahagiakan nadiku
Betapa nanda sangat mewarnakan hari-hariku
******
Aku berupaya mengejar target, maksudnya ada timer yang telah kuplanning dan harus kuselesaikan this week. Maka secuil waktu yang ada di Selasa ini kucoba membukanya dengan mengerahkan segala kekuatan daya pikir untuk menyelesaikannya. HRP yang menjadi judulnya, untungnya adalah aku dapat menginventarisasi masalah dan problemnya sehingga hanya memoles bagaimana tampilan terbaik yang harus dikedepankan.
Aku memang lagi konsentrasi untuk memacu dan menyelesaikan karena aku tidak ingin ketinggalan, aku ingin selesai maka secara bertahap dan terukur aku harus selesaikan dengan mencuri secuil waktu yang ada. Menariknya adalah ini bagian dari proses lay out, dengan mencoba menggali dan menggali. Kalau hanya sekedar bermain di highlight, kayaknya bukan tipe aku. Aku ingin memahami dan mengapresiasikannya dengan segenap upaya dan olah pikir terlepas dari perolehan nilai yang kudapat.
(Si Ragil kurang fit, maka siang ini kubawa ke dokter, kubawa ke lab, sepertinya sakitnya agak serius, kukompres keningnya, duh betapa kuatnya kamu menahan panas tinggi itu. Nanda yang besar lincah, tergolek dan aku menemaninya dengan cerita-cerita yang menyenangkan hatinya sepanjang malam).
*****
Banyak yang harus keselesaikan sepanjang pekan ini setidaknya ada di pola perencanaanku. Tentang tugas rutin yang mulai menumpuk, tentang materi college yang makin menimbun, tentang aktivitas traveling menyambut long weekend. Rencana traveling kali ini adalah membuka rute baru menuju Pct dan Trg. Maka kusiapkan semua, kurembugkan semua, memilah hari, menyelesaikan sesuai jadwal, dan urutan skala prioritasnya.
Sepanjang Senin ini prioritasnya adalah menyelesaikan yang tertinggal sembari meneruskan tulisan HRP yang sudah mulai menemukan bentuknya. Sibuk juga kelihatannya, tapi mengisi hari dengan semangat adalah bagian dari pencapaian yang harus diselesaikan itu. Aku selalu ingin seperti itu.
*****
Sunday, May 13, 2007
Berbagai aktivitas mengisi Ahad yang cerah dan menyenangkan ini. After subuh sudah sibuk menjadi cleaning service, bersih-bersih, apa aja dibersihkan, ya mobil, ya teras, ya bunga. Terus punya hobby baru main basket alone, maksudnya main sendiri memasukkan bola ke keranjangnya yang memang kupasang di depan rumah. Lumayanlah untuk menambah aktivitas fisik yang mengalirkan keringat pagi.
After that, memulai kegiatan Take Home yang menjadi tugas sepanjang pekan, menyelesaikannnya dengan semangat untuk selesai. Banyak tugas yang harus rampung next week sehingga perlu dicicil. Aku memang lagi fokus untuk konsentrasi yang menjadi pilihanku dan waktu akhir pekan adalah saat yang tepat untuk memacunya. Ya moga-moga aja mendapat value yang memuaskan, buat sendiri, upaya sendiri, sibuk sendiri, gak papa, yang penting hasil sendiri.
After that again, menikmati jalan-jalan siang menjelajah pusat perbelanjaan menepati janji pada si sulung yang terus menagihnya, buy several, menikmati camilan, menjelajah lagi dan kembali dengan semangat tetap konsentrasi pada tugas tadi. Maka kulanjutkan lagi, kunikmati lagi sampai senja menyambut.
Aktivitas malam, menghadiri pertemuan rutin warga, biasalah, menyapa, menjelaskan, diskusi, adu argumen, membuat rancangan program, disetujui dan ditindaklanjuti. Memang sejauh ini kerukunan itu adalah kunci dari musyawarah dalam bentuk yang menyenangkan. Tak terasa sudah menjelang tengah malam.
****
Sabtu penuh
Penuh ruang
Ruang pikir
Pikir exam
Exam beragam rupa
Rupanya menyenangkan
Menyenangkan untuk dijalani
Jalani aja sampai senja
Senja datang dan pulang
Pulang sembari menghitung
Menghitung nilai yang didapat
Didapat kepenatan yang jenuh
Jenuh dengan catatan hari
Hari menjelang malam
Malam berakhir pukul 2100.
****
(Met menempuh hidup baru ya fren, kamu memang tipe sahabat yang jujur, terus terang dan menyenangkan. Oke Rd semoga bahteranya senantiasa terang benderang)
Friday, May 11, 2007
Rehat, Ucapan
Berbagai ungkap dan ucap mengalir baik direct or via sms or via imel, fokusnya menyatakan pada tema sudah fit kan, sudah sembuh kan, sudah beraktivitas kan. Ya, jawabku singkat dan memang 4 hari waktu rehat dari aktivitas membuatku merasa “ baru” dalam ruang kerja. Jumat ini walau belum pulih benar kucoba memulai lagi aktivitas pekerjaan dengan sebisa mungkin mengoptimalkan daya dan energi walau hanya cukup sampai setengah hari. Sisanya kembali beristirahat. Respons itu setidaknya mengingatkan aku akan definisi teman dan sahabat sejati, dengan itu semakin meyakinkan aku akan nilai yang digariskan pada etika gaul.
For that, sejuta terimakasih kusampaikan pada sejumlah fren atas atensinya yang begitu dalam, berkunjung ke rumah, ikut merasakan dan menghadiahkan bingkisan yang mampu memberikan semangat. Bahwa seafdholnya begitulah yang kudapatkan, dan itu adalah evidence yang menyenangkan hati, meskipun belum mampu menjawab nilai kesejatian diantara sejumlah catatan.
(Thanks for, My, Dw, As, Ns, Bt, sobat milis dan lainnya yang mampu mengolah semburat noktah menjadi keanekaan warna pada sebuah hati yang memerlukan pelukan warna itu. Sekali lagi makasih banget ya).
*****
Menghabiskan hari dengan membaca dan melahap sejumlah majalah, melepaskan diri dari aktivitas rutin, menjauhkan segala hal yang menyangkut rutinitas dan menggantinya dengan catatan lain yang mampu menganulir keseragaman warna hari. Kamis ini terasa lega dengan membuka jendela hati pada keragaman olah rasa dan rasio.
Sebisanya aku menata itu, sembari berupaya memulihkan kondisi dan memoles langkah berikut dengan sejumlah rambu, bahwa lebih baik menyatakan dengan ketegasan sikap, tidak untuk mengatasnamakan ego diri namun lebih pada jarak sikap sebagai jawaban autis bathin.
Sederhana saja yang kupilih, bahwa sesungguhnya antagonisme peran yang ditampilkan semakin memberikan kesan pada dialog diri bahwa bukankah itu semakin membuka peta peran yang sesungguhnya pada nilai hati yang tidak mampu memberikan warna bening pada sinar mata elang yang ditampilkan. Dia adalah penderita autis yang kronis, kasian banget deh.
******
For that, sejuta terimakasih kusampaikan pada sejumlah fren atas atensinya yang begitu dalam, berkunjung ke rumah, ikut merasakan dan menghadiahkan bingkisan yang mampu memberikan semangat. Bahwa seafdholnya begitulah yang kudapatkan, dan itu adalah evidence yang menyenangkan hati, meskipun belum mampu menjawab nilai kesejatian diantara sejumlah catatan.
(Thanks for, My, Dw, As, Ns, Bt, sobat milis dan lainnya yang mampu mengolah semburat noktah menjadi keanekaan warna pada sebuah hati yang memerlukan pelukan warna itu. Sekali lagi makasih banget ya).
*****
Menghabiskan hari dengan membaca dan melahap sejumlah majalah, melepaskan diri dari aktivitas rutin, menjauhkan segala hal yang menyangkut rutinitas dan menggantinya dengan catatan lain yang mampu menganulir keseragaman warna hari. Kamis ini terasa lega dengan membuka jendela hati pada keragaman olah rasa dan rasio.
Sebisanya aku menata itu, sembari berupaya memulihkan kondisi dan memoles langkah berikut dengan sejumlah rambu, bahwa lebih baik menyatakan dengan ketegasan sikap, tidak untuk mengatasnamakan ego diri namun lebih pada jarak sikap sebagai jawaban autis bathin.
Sederhana saja yang kupilih, bahwa sesungguhnya antagonisme peran yang ditampilkan semakin memberikan kesan pada dialog diri bahwa bukankah itu semakin membuka peta peran yang sesungguhnya pada nilai hati yang tidak mampu memberikan warna bening pada sinar mata elang yang ditampilkan. Dia adalah penderita autis yang kronis, kasian banget deh.
******
Wednesday, May 09, 2007
Jelas, Autis Bathin
Kujelaskan agar mereka juga tahu
Kuceritakan agar mereka juga paham
Kukisahkan agar mereka juga mengerti
Bahwa sudah kutuliskan
Bahwa sudah kuutarakan
Bahwa sudah kukirimkan
Dan sudah pula ada jawaban
Dan sudah pula ada penyejuk
Dan sudah pula ada follow up
(Aku ingin istirahat dengan smile)
Dan mereka yang datang adalah kesejatian itu sendiri
Untuk menawarkan yang terasa asin
Untuk menawarkan yang terasa pedas
Dan memberikan kado rasa kebersamaan
Dan membungkuskan kesegaran pada nilai perjumpaan
(Thanks to all fren yang berlabel sejati, sudah memberikan nilai silaturrahmi pada kesejukan hari, dua gelombang bernilai surprise dan membungakan, niscaya waktu jua yang akan menjelaskan sejumlah argumen itu)
*******
Kupelajari dengan seksama sekalian menganalisisnya, bahwa penyakit autis yang paling berbahaya justru adalah autis bathin. Betapa tidak, kalau autis lahir, langsung kelihatan aktivitas si pasien yang gak fokus, nabrak sana nabrak sini, ngerepotin orang sekelilingnya, harus dikawal dan membuat kejenuhan serta rasa iba. Nah kalau autis bathin, lebih menghebohkan lagi, gak kelihatan sepintas biasa aja, namun jika disimak, duh betapa kumuhnya ruang hati yang diselimuti benalu autis itu. Tampilannya adalah, ego yang membesar, rasa superior, rasa mentang-mentang, pendapatnya dirasa paling benar, tega ngumpat orang lain, suka mempengaruhi orang lain untuk ikut opininya. Nama lain dari autis bathin ini tidak lain adalah rasa iri, dengki, khasad dan senang dengan kesusahan orang lain, gak punya tenggang rasa, selalu merasa kurang, maunya harus dipenuhi terus.
Aku sebenarnya kasihan melihat orang yang punya penyakit bathin seperti ini, namun jika sudah tabrak sana tabrak sini, rasa kasihan itu berubah jadi benci, sembari menyampaikan definisi bahwa itulah bagian dari hukum sebab akibat karena mengedepankan silaturrahmi dengan metode premanisme, adu kuat omongan dan merasa sudah kuat pula “kedudukannya”. Padahal jika ditelisik lebih dalam, keroposnya jelas tampak, untuk menutupi keletihannya, untuk menutupi kejenuhannya, untuk menutupi rasa malunya, sehingga sekilas kelihatan seperti jagoan neon padahal mirip lilin yang meleleh sindiri.
Seharian Selasa ini kukupas dan kudiskusikan anomali ini dengan pakar psikologi UI yang juga keponakanku, dan memang secara pembuktian ilmiah psikologi, elemen yang menjadi dasar seseorang menderita penyakit ini adalah keletihan bathinnya menghadapi situasi menahun yang menjadi karma penderitaannya. Bentuk outputnya adalah pemberontakan terhadap situasi hatinya, suasana bathinnya dan melemparkannya pada obyek yang menjadi fokus pelampiasannya. Kasihan juga sih dengan konklusi ini namun ketika itu menjadi titik persinggungan pada diriku, yang dijadikan obyek tendangannya, aku juga punya reaksi dong, dan dia tidak tahu bahwa penyakit bathinnya itu justru akan menghancurkannya sendiri. Mestinya dia harus mampu mengaca dirinya sendiri, bahwa tidak ada kesempurnaan berlabel egosentris yang mampu menggerus hakekat pertahanan diri. Lebih baik banyak beristighfar karena itu adalah tombo ati yang mampu menularkan simpati bukan antipati, jawab itu ada di bantal hati manakala hening menyelimuti gelap dinihari. Kalau saja dia tahu itu, sayang yang dipertontonkan adalah sifat Cowboy berwajah preman. Sebuah Hadits memberikan makna untuk renungan :
Berlindunglah kepada Allah dari kesengsaraan akibat bencana dan dari kesengsaraan hidup yang berkesinambungan, terus menerus dan silih berganti dan dari ketentuan takdir yang buruk dan dari cemoohan lawan-lawan (HR Muslim)
****
Monday, May 07, 2007
Break Sesaat
Istirahat dari kerja Monday ini, capek dan pengen ringan and rilex, lalu mohon ijin, ke poliklnik, dapat dispensasi, dan kembali untuk pulas seharian, lagian puasa, gak ada kegiatan, baca koran lalu istirahat lagi. Nikmat juga menghabiskan waktu di tempat tidur untuk meringankan keletihan yang luar biasa.
Nah setelah berbuka, agak lumayanlah, rupanya ada juga manfaatnya ketika keletihan membahana, diniatkan saja walau gak makan sahur, ternyata memang mampu meringankan jasmani yang terasa lelah dan letih. Ada rasa bugar maka bugar juga rasa yang lain, kucoba membuka catatan kuesioner namun masih menundanya untuk beberapa saat. Kayaknya lebih enak baca majalah Commando yang kucari d Gramed malam ini. Dan kuhabiskan saja sampai terlelap lagi.
*******
After mengantar keluarga yang hendak umroh ke Bandara, tercetus planning untuk menghabiskan Ahad ini dengan traveling, dan semuanya berpaduan suara, setuju.... Maka setelah mempersiapkan bekal dan segala sesuatunya, berangkatlah menuju arah favorit Joglosemar yang menjadi lintasan kesenangan traveling.
Aku pun menikmatinya dengan bersenandung, bercakap dan bersendagurau. Si sulung sangat apresiasi dengan perjalanan ini dan punya banyak kehendak, aku iya iya kan saja. Sementara di ragil lebih banyak berbaring karena sejak awal masih ngantuk, kubawakan bantal dan membiarkannya istirahat di baris belakang, habis melek terus lihat acara tivi kegemarannya, grand prix dan liga Inggris.
Sejumlah titik dikunjungi, lunch dulu di sate kegemaran di ujung batas Salatiga, kemudian berlalu lagi menelusuri jalan, melintas, istirahat, sampai, menghabiskan waktu di Abrk Plz, belanja, menikmati ruang pandang, jalam lagi, menjelajah kota, mampir di pusat Mlbr dan melaju lagi menuju jalan yang disepakati.
Lalu menuju rute ring road menuju Mgl, sepakat dinner di En yang murah meriah itu, istirahat lagi, kemudian melanjutkan perjalanan pulang melintasi lekuk jalan yang berkelok. Senang hati, puas rasa dan letih mengguyur menjelang tengah malam. Lelap benar.
*****
Senangnya hati, mempresentasikan dengan semangat diri yang pede banget, dan semua terkesima ketika aku menjelaskan dan menguraikan dengan yakin, jelas dan lengkap. Prof mengacungkan applaus dan sekaligus menyarankan untuk dijadikan judul yang akan datang. Aku makin yakin, dan Sabtu pagi ini memberikan penjelasan padaku bahwa jika kita meyakininya kita akan dapat menikmatinya dengan keyakinan itu.
Maka kusiapkan lagi
Kurapikan kembali
Kurangkum kembali
(Ketika rasa menjadi kurang hangat, meleburkan semangat itu mampu menjalankan diri sebagai penjelas dan peramu yang dilimpahkan melalui diskusi. Aku menjalani itu dengan senang hati).
*****
Friday, May 04, 2007
Traveling, Syukur
Ada yang harus diselesaikan, maka kesibukan dengan variasi reportase harus kuselesaikan dengan memilah pada urutan kepentingan. Dan semuanya dapat kuselesaikan ketika senja Jumat ini mulai menyelimuti hari. Planning yang ditulis pada halaman harian adalah rambu yang menjadi patron untuk menyelesaikannya. Dan dengan itu aku selesaikan dengan ketekunan, termasuk untuk persiapan uji persentasi next. Aku suka dengan perencanaan sehingga ketika sampai di akhir deadline tidak terjadi penumpukan aktvitas, mending dicicil dan diurai dengan kepastian bahwa akan sampai pada titik hari untuk diselesaikan.
Kabar gembira memberikan nilai planning untuk membagi apa yang diperoleh dengan prioritas pada setting untuk yang masih kurang. Maka nilai syukur kusyairkan pada hati nurani, adalah nyanyian untuk memastikan planning menjadi realisasi. Kuceritakan pada inner cycle dan mereka menyambutnya dengan senyum, dan mudah-mudahan menjadi berkah. Nilai Jumat ini adalah menyerahkan totalitas diri pada kemutlakan yang mengingatkan dan menerangkan, bahwa aku adalah bacaan diriku sendiri, ceritaku adalah tulisan diriku sendiri dan kemutlakan itu adalah equator yang menjelaskan dimana aku berada.
*****
Menjelajah timur, mengikuti traveling di sudut kota paling timur provinsi Kamis cerah ini, mengikuti irama kecepatan dan memastikan nilai perjalanan adalah kembali menerawang pada sejumlah perjalanan napak tilas. Ada banyak perubahan, ada banyak kemajuan, ada lintasan jati, ada kemiskinan seperti dulu, ada lekuk jalan, ada gelombang yang menjadi ciri khas jalur ini, dan sampailah tengah hari dengan sambutan terik yang memanggang.
Kucoba membuka sejumlah halaman dan mencocokkannya dengan cakrawala yang kudapat, dan perlahan kudapati pula sejumlah titik cerita yang pernah menjadi bagian dari perjalanan awal. Kunikmati dengan sejumlah lempar pandang, di sudut dan sisi yang melintasi jalan diri, kadang ada yang berkesan, kadang ada senyum yang tersungging, dan perjumpaan melalui lintasan singgah mampu memetik nilai ketika halaman-halaman lama mengirim memori untuk sekedar diingat sebagai garis tebal.
Kurenungkan dengan sejumlah phrasa
Jajak rekam menjelaskan nilai perjalanan diri
Menghantar kesepahaman pada hati nurani
Bahwa masih ada tenggang yang dipertontonkan
Untuk menghadirkan kembali nilai cerita
Dan mengarsipkan kembali halaman sketsa diri
******
Kabar gembira memberikan nilai planning untuk membagi apa yang diperoleh dengan prioritas pada setting untuk yang masih kurang. Maka nilai syukur kusyairkan pada hati nurani, adalah nyanyian untuk memastikan planning menjadi realisasi. Kuceritakan pada inner cycle dan mereka menyambutnya dengan senyum, dan mudah-mudahan menjadi berkah. Nilai Jumat ini adalah menyerahkan totalitas diri pada kemutlakan yang mengingatkan dan menerangkan, bahwa aku adalah bacaan diriku sendiri, ceritaku adalah tulisan diriku sendiri dan kemutlakan itu adalah equator yang menjelaskan dimana aku berada.
*****
Menjelajah timur, mengikuti traveling di sudut kota paling timur provinsi Kamis cerah ini, mengikuti irama kecepatan dan memastikan nilai perjalanan adalah kembali menerawang pada sejumlah perjalanan napak tilas. Ada banyak perubahan, ada banyak kemajuan, ada lintasan jati, ada kemiskinan seperti dulu, ada lekuk jalan, ada gelombang yang menjadi ciri khas jalur ini, dan sampailah tengah hari dengan sambutan terik yang memanggang.
Kucoba membuka sejumlah halaman dan mencocokkannya dengan cakrawala yang kudapat, dan perlahan kudapati pula sejumlah titik cerita yang pernah menjadi bagian dari perjalanan awal. Kunikmati dengan sejumlah lempar pandang, di sudut dan sisi yang melintasi jalan diri, kadang ada yang berkesan, kadang ada senyum yang tersungging, dan perjumpaan melalui lintasan singgah mampu memetik nilai ketika halaman-halaman lama mengirim memori untuk sekedar diingat sebagai garis tebal.
Kurenungkan dengan sejumlah phrasa
Jajak rekam menjelaskan nilai perjalanan diri
Menghantar kesepahaman pada hati nurani
Bahwa masih ada tenggang yang dipertontonkan
Untuk menghadirkan kembali nilai cerita
Dan mengarsipkan kembali halaman sketsa diri
******
Wednesday, May 02, 2007
Dua Lukisan
Sembari menelusuri koridor Rs Elsb yang panjang ketika menjenguk handaitolan yang mesti rawat inap Rabu sore ini, si sulung nan cantik, setelah kujemput dari sekolahnya yag megah itu, dengan manja menggamit lenganku dan (biasanya begitu kalau ada maunya) : Pa, Adiss pengen pizza loh, boleh kan Pa, udah lama loh kita gak ngunjungi pizza, katanya. Kujawab saja dengan plesetan, ntar kita beli saja pizzang 2 sisir, tuh didepan banyak dijual. Dan jawabanku yang seenaknya itu bikin putri sulungku cemberut sesaat. Memang adatnya begitu, manja, selalu pengen begini pengen begitu
Sebenarnya permintaan Adiss gak muluk-muluk kok Pa, Adiss pengen banget punya Jazz, katanya, juga seeenaknya. Kujawab sambil merangkulnya, Iya doakan saja, semuanya kan untuk ananda, untuk keluarga, semoga rezeki kita melimpah ya Diss. Begitulah Adiss, yang manja, selalu ingin dekat denganku, selalu ingin didengar kalimatnya, selalu ingin dipenuhi permintaannya. Dan sepanjang koridor itu kurangkul dia yang masih berseragam sekolah, dan kita ngomong apa saja yang menyenangkan.
Si sulung ini adalah panorama keindahan yang memberikan kedekatan bathin, kedekatan emosional dan sekaligus pemberi semangatku dalam aktivitas. Begitu dalamnya kontak bathin itu padanya sehingga selalu memberikan apresisasi pada sejumlah harapan, doa dan nuansa. Jujur kuakui bahwa nilai kasih sayangku padanya menempati nilai stimulan yang mampu memberikan motivasi padaku untuk selalu berada di semangat diri, dan mengevaluasinya based on kedekatan itu sendiri. Sementara untuk si ragil, kedekatanku padanya justru untuk memberikannya motivasi, semangat dan pendorong. Ines adalah profilku sendiri, ejawantah dari tampilanku, banyak hal yang harus dijelaskan untuk jalannya, dia banyak tanya, dia pengen banyak tahu, suka gand prix, suka sepakbola, tomboy dan juga sangat manja padaku.
Dua buah hatiku adalah jalinan kasih yang menjalar pada jalan-jalan nurani, keduanya adalah signifikansi yang menjelaskan eksitensi diri, bahwa di jalan yang kudapat saat ini, segumpal pemicu untuk tetap ada di keraton asa adalah memeluk kemanjaan mereka dan menatanya di keraton hatiku.
******
Sudah hampir tujuan, hanya tinggal dua kelokan lagi, sekitar 2 kilometer dengan tanjakan curam, namun hanya sampai disitu saja ketika inova sudah gak mampu lagi meneruskan dan terjebak tanah basah dan Lumpur. Coba dorong untuk membebaskannya tapi justru pakaian tersiram Lumpur dan jadilah seperti off road yang harus mengakui kehebatan alam. Maka traveling dinas Selasa ini adalah yang paling “berkesan” ketika harus turun, menjelajah mendaki, mendorong dan gagal mencapai bukit pringamba yang terjal namun menawan itu.
Tapi tetap saja kunikmati lukisan alam nan hijau segar ini, kupandangi dengan sepuas hati pucuk-pucuk pinus dan holtikultura lainnya, aku berjalan, menjelajah lembah dan perbukitan, mengapresiasikan sudut pandang kebesaran, lukisan alam yang terbentang luas, adalah sebuah pembuktian betapa sebenarnya sebuah karya cipta tidak mampu dijelaskan dengan ruang rasio sebatas ilmu. Semakin jauh terawang itu, semakin jelas view yang kuperoleh, bahwa nilai eksistensi adalah kemampuan untuk membaca diri, mengaca diri dan membandingkan betapa tidak berartinya kekuatan diri untuk disetarakan dengan dengan fenomena yang dibuktikan dengan view hati nurani.
(Thanks to Dw, sepatah dua kata yang terlontar adalah aneka hasrat yang dijelaskan dengan semangat untuk memberikan nilai cerita pada sejumlah hari, ketika sudah lama kita tak bercakap-cakap).
(Thanks to Yn, selalu ada yang baru untuk dikabarkan dan sukses deh dengan reuninya, tapi kok gak ngabarin ya, padahal sudah ada di depan mata loh).
******
Sebenarnya permintaan Adiss gak muluk-muluk kok Pa, Adiss pengen banget punya Jazz, katanya, juga seeenaknya. Kujawab sambil merangkulnya, Iya doakan saja, semuanya kan untuk ananda, untuk keluarga, semoga rezeki kita melimpah ya Diss. Begitulah Adiss, yang manja, selalu ingin dekat denganku, selalu ingin didengar kalimatnya, selalu ingin dipenuhi permintaannya. Dan sepanjang koridor itu kurangkul dia yang masih berseragam sekolah, dan kita ngomong apa saja yang menyenangkan.
Si sulung ini adalah panorama keindahan yang memberikan kedekatan bathin, kedekatan emosional dan sekaligus pemberi semangatku dalam aktivitas. Begitu dalamnya kontak bathin itu padanya sehingga selalu memberikan apresisasi pada sejumlah harapan, doa dan nuansa. Jujur kuakui bahwa nilai kasih sayangku padanya menempati nilai stimulan yang mampu memberikan motivasi padaku untuk selalu berada di semangat diri, dan mengevaluasinya based on kedekatan itu sendiri. Sementara untuk si ragil, kedekatanku padanya justru untuk memberikannya motivasi, semangat dan pendorong. Ines adalah profilku sendiri, ejawantah dari tampilanku, banyak hal yang harus dijelaskan untuk jalannya, dia banyak tanya, dia pengen banyak tahu, suka gand prix, suka sepakbola, tomboy dan juga sangat manja padaku.
Dua buah hatiku adalah jalinan kasih yang menjalar pada jalan-jalan nurani, keduanya adalah signifikansi yang menjelaskan eksitensi diri, bahwa di jalan yang kudapat saat ini, segumpal pemicu untuk tetap ada di keraton asa adalah memeluk kemanjaan mereka dan menatanya di keraton hatiku.
******
Sudah hampir tujuan, hanya tinggal dua kelokan lagi, sekitar 2 kilometer dengan tanjakan curam, namun hanya sampai disitu saja ketika inova sudah gak mampu lagi meneruskan dan terjebak tanah basah dan Lumpur. Coba dorong untuk membebaskannya tapi justru pakaian tersiram Lumpur dan jadilah seperti off road yang harus mengakui kehebatan alam. Maka traveling dinas Selasa ini adalah yang paling “berkesan” ketika harus turun, menjelajah mendaki, mendorong dan gagal mencapai bukit pringamba yang terjal namun menawan itu.
Tapi tetap saja kunikmati lukisan alam nan hijau segar ini, kupandangi dengan sepuas hati pucuk-pucuk pinus dan holtikultura lainnya, aku berjalan, menjelajah lembah dan perbukitan, mengapresiasikan sudut pandang kebesaran, lukisan alam yang terbentang luas, adalah sebuah pembuktian betapa sebenarnya sebuah karya cipta tidak mampu dijelaskan dengan ruang rasio sebatas ilmu. Semakin jauh terawang itu, semakin jelas view yang kuperoleh, bahwa nilai eksistensi adalah kemampuan untuk membaca diri, mengaca diri dan membandingkan betapa tidak berartinya kekuatan diri untuk disetarakan dengan dengan fenomena yang dibuktikan dengan view hati nurani.
(Thanks to Dw, sepatah dua kata yang terlontar adalah aneka hasrat yang dijelaskan dengan semangat untuk memberikan nilai cerita pada sejumlah hari, ketika sudah lama kita tak bercakap-cakap).
(Thanks to Yn, selalu ada yang baru untuk dikabarkan dan sukses deh dengan reuninya, tapi kok gak ngabarin ya, padahal sudah ada di depan mata loh).
******
Monday, April 30, 2007
Ketulusan Itu
Cerita ultah yang dikirim melalui imel itu memberikan kesan kuat di hatiku bahwa sejumlah wajah yang menemaniku adalah kadar kesetiaan yang mampu menggali kemampuan untuk bergandengan tangan bersama, bercerita bersama, dan memiliki kesepahaman tentang nilai naluri yang dibungkus ikatan kedekatan. Ya, aku harus ucapkan itu ketika seorang As adalah yang mampu mengikatkan ruang kebersamaan itu pada jalinan cerita berjudul : Kesetiaan Hati Berjalan Bersama.
Kurenungkan, dan kucoba mencari pilhan lain dengan membangun second opinion, ternyata memang dirimu adalah mutiara itu, mampu memberikan spirit kebersamaan, perekat kebersamaan, dan sekaligus pengingat sejumlah titik tanggal yang menjadi ruang pembaharu di etika pertemanan yang dibangun sekian lama. Aku sangat berterima kasih padamu, nilai itu tidak sekedar membagi ruang dialog, tetapi juga ruang rasa yang mampu mengolah nilai kedekatan, kesamaan dan persepsi. Bahwa kamu adalah sosok yang mampu membagi, sosok yang mampu menjelaskan, sosok yang selalu mampu membawakan diri, adalah itu jua yang kusimpulkan pada sejumlah definisi tentang kamu yang baik hati, bening hati dan luas rasa.
Kutanya pada yang lain, jawabnya emang iya
Lalu kutanya pada yang lain lagi, jawabnya emang iya
Dan kutanya pada semuanya, jawabnya serentak emang iya
Itulah persepsi tentang kamu, yang lurus hati, putih rasa dan damai wajah, dan sejumlah sketsa yang dijelaskan pada beberapa catatan semakin menjelaskan bahwa ketulusan yang bersemayam di hatimu adalah nilai cum laude pada sejumlah persepsi, kamu layak menjadi bintang sanubari dan kesetiaan. Ujiannya adalah bagian waktu yang telah kita lewati bersama sepanjang jalan, sepanjang kisah dan sepanjang cerita.
(Thanks to My, bantuin ya, selesai dua hari lagi, kita bahas dan kita tampilkan sebagai eksistensi yang telah terjalin. Seneng banget jika sesungging senyum itu kamu tiupkan ada pipiku dan memberikan kehangatan pada ruang diri, dan aku memang harus hangatkan diriku dan hatiku).
(Katanya hari ini puasa Ng, kataku, niatnya sih begitu, katamu, tapi tidak harus selalu sama kan, lanjutmu, oke deh, kataku sembari mempersilakan perjalanannya ketika bertemu di depan lift, ntar kapan-kapan ya, katamu, kayak lagu aja, kataku, kamu tersenyum, aku memahami, kamu melewati koridor, aku melanjutkan lagi).
Kurenungkan, dan kucoba mencari pilhan lain dengan membangun second opinion, ternyata memang dirimu adalah mutiara itu, mampu memberikan spirit kebersamaan, perekat kebersamaan, dan sekaligus pengingat sejumlah titik tanggal yang menjadi ruang pembaharu di etika pertemanan yang dibangun sekian lama. Aku sangat berterima kasih padamu, nilai itu tidak sekedar membagi ruang dialog, tetapi juga ruang rasa yang mampu mengolah nilai kedekatan, kesamaan dan persepsi. Bahwa kamu adalah sosok yang mampu membagi, sosok yang mampu menjelaskan, sosok yang selalu mampu membawakan diri, adalah itu jua yang kusimpulkan pada sejumlah definisi tentang kamu yang baik hati, bening hati dan luas rasa.
Kutanya pada yang lain, jawabnya emang iya
Lalu kutanya pada yang lain lagi, jawabnya emang iya
Dan kutanya pada semuanya, jawabnya serentak emang iya
Itulah persepsi tentang kamu, yang lurus hati, putih rasa dan damai wajah, dan sejumlah sketsa yang dijelaskan pada beberapa catatan semakin menjelaskan bahwa ketulusan yang bersemayam di hatimu adalah nilai cum laude pada sejumlah persepsi, kamu layak menjadi bintang sanubari dan kesetiaan. Ujiannya adalah bagian waktu yang telah kita lewati bersama sepanjang jalan, sepanjang kisah dan sepanjang cerita.
(Thanks to My, bantuin ya, selesai dua hari lagi, kita bahas dan kita tampilkan sebagai eksistensi yang telah terjalin. Seneng banget jika sesungging senyum itu kamu tiupkan ada pipiku dan memberikan kehangatan pada ruang diri, dan aku memang harus hangatkan diriku dan hatiku).
(Katanya hari ini puasa Ng, kataku, niatnya sih begitu, katamu, tapi tidak harus selalu sama kan, lanjutmu, oke deh, kataku sembari mempersilakan perjalanannya ketika bertemu di depan lift, ntar kapan-kapan ya, katamu, kayak lagu aja, kataku, kamu tersenyum, aku memahami, kamu melewati koridor, aku melanjutkan lagi).
*****
Sunday, April 29, 2007
Sunday Flower
Banyak sudah koleksi kembang di taman yang membuat aku bersemangat untuk merawat dan menyemainya. Ada aglaonema yang sudah berbiak dan mekar, ada samia yang beranak pinak, ada adenium, ada atnhurium muda, ada euphorbia serta banyak jenis yang lain yang mewarnai taman bungaku.
Pagi ini kunikmati aneka bunga itu, kurawat, kuresikkan dan "kubelai dengan sentuhan hati" sebagai ungkapan betapaaku merasa senang dengan kebun bungaku yang bersinar dan memberikan kedamaian hati. Pagi ini kuhabiskan waktuku untuk kembang taman bungaku, setelah jalan-jalan pagi yang bersemangat dan berkeringan, dilanjutkan dengan resik-resik taman, memindahkan letak pot, membersihkan yang kelihatan semak dan menyiraminya dengan sentuhan kelembutan. Aku merasa puas dengan situasi pagi yang cerah ini.
Siang, menjelajah kota dan menyelesaikan lunch bersama keluarga dengan mengunyah santapan yang segar, mengenyangkan dan memuaskan. Kedua putriku yang penuh senyum menandakan mereka juga menikmati hidangan aneka rasa yang mampu memberikan suasana kebersamaan yang mendamaikan. Berlanjut lagi dengan melihat dan memutuskan untuk membeli, menggantikan yang lama agar bisa menikmati tontonan dengan layar yang lebih jernih.
Sebuah Sunday yang menyenangkan
Sebuah Ahad yang membahagiakan
Sebuah Weekend yang mendamaikan
*****
Saturday, April 28, 2007
Cara Pandang
Untuk dosen yang satu ini, aku suka banget dengannya, dengan caranya mengajar, dengan lagu tuturnya yang berwibawa dan memiliki daya karisma yang lumayan. Dia seorang Profesor dalam usia yang relatif muda dan kemampuannya menganalisis sebuah tema memiliki ketajaman dan olah pikir yang cemerlang.
Makanya aku tidak pernah melewatkan mata kuliahnya seperti Sabtu pagi ini, ingin mendengarnya mengupas, ingin mendengarnya menjelajah dan sekali waktu kukomentari dengan argumen yang berbeda. Kali ini aku mampu menjawab dan menambahkan argumen yang dijelaskannya, dengan baik pula, tentang manajemen Jepang, kucoba membacanya dari sudut pandang aku, kujelaskan, historisnya, spiritnya, kebersamaannya dan beliau menyetujui cara pandangku.
Kuliah pada dasarnya adalah menambah cara pandang, mengolahnya menjadi diskusi, berbagi pendapat dan sekaligus juga menguji daya serap yang sudah dijelaskan. So bagiku ini menjadi penting ketika olah pikir di daur ulang menjadi sebuah catatan nilai dan sekaligus menjadi barometer yang mampu menjelaskan di titik mana aku berada.
Maka kuniatkan selalu setiap akhir pekan dengan mengisi hari membaca halaman, berbicara seobyektif dan seilmiah mungkin dan mentransformasikannya dengan jalinan pertemanan, guyon bersama, saling meledek dan sekali waktu serius menyelesaika tugas kelompok. Ya kunikmati dengan sepenuh hati menjalankan irama waktu menambah daya analisis berbaju argumentasi.
Dan seperti biasa pula ketika sore menjelang, tambahan tugas sudah menanti untuk diselesaikan dengan tenggang waktu next week, ada lagi sarapan tambahan, begitu memang metode pembelajaran akhir pekan, terkadang capek dengan tugas, namun juga menyenangkan ketika mampu diselesaikan.
(Thanks to Dn, percakapan denganmu sungguh menyenangkan setidaknya mengobati rasa dan ronaku yang kurang bening. Ada cerita tentang aneka warna yang memberikan nilai personifikasi pada jelajah yang diputarkan melalui obrolan lepas).
Kuliah pada dasarnya adalah menambah cara pandang, mengolahnya menjadi diskusi, berbagi pendapat dan sekaligus juga menguji daya serap yang sudah dijelaskan. So bagiku ini menjadi penting ketika olah pikir di daur ulang menjadi sebuah catatan nilai dan sekaligus menjadi barometer yang mampu menjelaskan di titik mana aku berada.
Maka kuniatkan selalu setiap akhir pekan dengan mengisi hari membaca halaman, berbicara seobyektif dan seilmiah mungkin dan mentransformasikannya dengan jalinan pertemanan, guyon bersama, saling meledek dan sekali waktu serius menyelesaika tugas kelompok. Ya kunikmati dengan sepenuh hati menjalankan irama waktu menambah daya analisis berbaju argumentasi.
Dan seperti biasa pula ketika sore menjelang, tambahan tugas sudah menanti untuk diselesaikan dengan tenggang waktu next week, ada lagi sarapan tambahan, begitu memang metode pembelajaran akhir pekan, terkadang capek dengan tugas, namun juga menyenangkan ketika mampu diselesaikan.
(Thanks to Dn, percakapan denganmu sungguh menyenangkan setidaknya mengobati rasa dan ronaku yang kurang bening. Ada cerita tentang aneka warna yang memberikan nilai personifikasi pada jelajah yang diputarkan melalui obrolan lepas).
Friday, April 27, 2007
Difficult Choise
Aku harus lalui dua plihan sulit ketika ada dua deal yang bersamaan waktunya, yang satu tentang acara ultah, yang satu lagi tentang farewell. Bingung juga memilihnya, acara ultah, aku sebagai host dan tuan rumah dan temen luar kota udah pada datang sementara farewell juga sangat penting dan materinya sama, lunch bareng.
Akhirnya kupilih yang pertama itu dan dengan berat hati farewell terpaksa kutinggal. Ini pilihan sulit tetapi jika farewell disiapkan jauh hari aku rasa aku bias sesuaikan waktunya tapi ketika kutanya teman, jawabanya juga gak jelas: May katanya, may be no may be yes, busyet.
Makasih atas kesediaan fren yang baik hati, fren yang utuh seusia kerja, fren yang memiliki nilai silaturahmi tertinggi di mata hatiku, fren yang mau ngerti aku, fren yang pahami aku, fren yang suka ganggu aku, fren yang mau peduli dengan kesusahan aku, ya semuanya, menjadi catatan sepanjang hati, kita bisa guyon bareng, kita bisa curhat bareng, kita bisa diskusi bareng. Inilah group milis yang paling heboh di mataku, jumlahnya gak banyak hanya duabelasan anggota, tapi mampu memberikan ikatan emosional dan kekeluargaan yang demikian kental.
Mohon doanya ya, kataku. Aku lagi gak mood dalam bekerja, aku lagi konsentrasi di collegeku, aku lagi banyak waktu mengkhususkan diri dengan konsentrasi matakuliahku, aku lagi membeningkan rasaku pada sekuntum anggrek yang menawan pesonanya, aku lagi ingin berdamai dengan hatiku. Ya teman, jawab mereka serentak mirip koor dan kita pun akhiri acara dengan saling berjabat tangan dan pelukan erat. Aku terkesima, aku terharu dan kuantarlah mereka dengan senyum dan canda.
(Sore menyempatkan diri mengunjungi pameran bunga, sekedar cuci pandang, tambah cerita tentang kembang, cek harga, duh mahal banget anthurium itu, terpana di stand anggrek, duh alangkah indahnya koleksi anggrek itu, sayang merawatnya juga agak rumit, kata yang ahli. Gak ada yang dibeli, sekedar lihat-lihat saja).
(Malam, menghadiri pertemuan RW, banyak yang dibahas, banyak yang didiskusikan, banyak yang diceritakan, banyak yang disampaikan, ada pemilihan baru, semua sepakat, aku juga sepakat dengan sejumlah argumen, tak terasa sudah menjelang 23.30, bubar dan kembali ke masing-masing).
*****
Anggrek
Berjalanlah pada sebuah ketulusan dan kebeningan
Berjalanlah pada sebuah kepastian dan kegairahan
Berjalanlah pada sebuah ketenangan dan kedamaian
Aku akan selalu merindukanmu
Aku akan selalu menyayangimu
Aku akan selalu mengasihimu
Aku akan selalu mendoakanmu
Tanyakanlah pada ruang hatimu
Tanyakanlah pada bilik rasamu
Tanyakanlah pada kebeningan nadimu
Tanyakanlah pada ketenangan bathinmu
Jawabannya ada pada ruang hatimu
Jawabannya ada pada kujujuran hatimu
Jawabannya ada pada sinar matamu
Jawabannya ada pada keindahan auramu
******
Akhirnya kupilih yang pertama itu dan dengan berat hati farewell terpaksa kutinggal. Ini pilihan sulit tetapi jika farewell disiapkan jauh hari aku rasa aku bias sesuaikan waktunya tapi ketika kutanya teman, jawabanya juga gak jelas: May katanya, may be no may be yes, busyet.
Makasih atas kesediaan fren yang baik hati, fren yang utuh seusia kerja, fren yang memiliki nilai silaturahmi tertinggi di mata hatiku, fren yang mau ngerti aku, fren yang pahami aku, fren yang suka ganggu aku, fren yang mau peduli dengan kesusahan aku, ya semuanya, menjadi catatan sepanjang hati, kita bisa guyon bareng, kita bisa curhat bareng, kita bisa diskusi bareng. Inilah group milis yang paling heboh di mataku, jumlahnya gak banyak hanya duabelasan anggota, tapi mampu memberikan ikatan emosional dan kekeluargaan yang demikian kental.
Mohon doanya ya, kataku. Aku lagi gak mood dalam bekerja, aku lagi konsentrasi di collegeku, aku lagi banyak waktu mengkhususkan diri dengan konsentrasi matakuliahku, aku lagi membeningkan rasaku pada sekuntum anggrek yang menawan pesonanya, aku lagi ingin berdamai dengan hatiku. Ya teman, jawab mereka serentak mirip koor dan kita pun akhiri acara dengan saling berjabat tangan dan pelukan erat. Aku terkesima, aku terharu dan kuantarlah mereka dengan senyum dan canda.
(Sore menyempatkan diri mengunjungi pameran bunga, sekedar cuci pandang, tambah cerita tentang kembang, cek harga, duh mahal banget anthurium itu, terpana di stand anggrek, duh alangkah indahnya koleksi anggrek itu, sayang merawatnya juga agak rumit, kata yang ahli. Gak ada yang dibeli, sekedar lihat-lihat saja).
(Malam, menghadiri pertemuan RW, banyak yang dibahas, banyak yang didiskusikan, banyak yang diceritakan, banyak yang disampaikan, ada pemilihan baru, semua sepakat, aku juga sepakat dengan sejumlah argumen, tak terasa sudah menjelang 23.30, bubar dan kembali ke masing-masing).
*****
Anggrek
Berjalanlah pada sebuah ketulusan dan kebeningan
Berjalanlah pada sebuah kepastian dan kegairahan
Berjalanlah pada sebuah ketenangan dan kedamaian
Aku akan selalu merindukanmu
Aku akan selalu menyayangimu
Aku akan selalu mengasihimu
Aku akan selalu mendoakanmu
Tanyakanlah pada ruang hatimu
Tanyakanlah pada bilik rasamu
Tanyakanlah pada kebeningan nadimu
Tanyakanlah pada ketenangan bathinmu
Jawabannya ada pada ruang hatimu
Jawabannya ada pada kujujuran hatimu
Jawabannya ada pada sinar matamu
Jawabannya ada pada keindahan auramu
******
Thursday, April 26, 2007
Ruang Lain
Kampus hingar bingar, ada outbond kayaknya, dan aku melewati saja kerumunan itu dengan tujuan ke perpustakaan, sesuai deal ketemu dengan rekan college satu group. Dan ketemulah kita, ada juga yang lain meramaikan suasana. Diskusi itu sejatinya adalah menyenangkan, bisa mensinergikan beberapa argumen untuk dijadikan sebagai pengayaan wawasan. Namanya juga ketemu, jadinya rame gitu padahal seharusnya hening adalah suasana perpustakaan, tapi ya itu namanya juga ketemu sekian banyak person jadi gak hening lagi.
Lumayan, selesai framenya tinggal finishing dan polesan asesories namun begitupun ada rasa kurang puas jika ingin mengkaji lebih dalam. Aku inginnya seperti menggali kedalaman sumur sehingga menghasilkan air yang bening namun waktu jua yang membatasi itu, kesibukan kerja, punya jadwal masing-masing dan akhirnya disepakati untuk porsi yang standar saja.
******
(Thanks for Ng, atas atensi dan proaktifnya menjelaskan mekanisme menjalankan ruang kesempatan. Semoga memberikan manfaat bagi kesamaan cara pandang).
(Thanks for Yn, moga jadi beneran ordernya, lumayan dapet banyak loh, kan rezeki selalu ada jika memang sudah menjadi haknya. Yang penting nilai persahabatan itu semakin mendekatkan aku dan kamu, oke !).
*****
Wednesday, April 25, 2007
Aura, Rona, Rasa
Percakapan itu adalah menyampaikan sisi inner yang disuarakan melalui kalimat langsung yang mengalir mengikuti irama kemauan inner. Percakapan itu juga mengidentifikasikan adanya hasrat dan keinginan untuk menyampaikan pesan hati, apalagi ketika yang diextract adalah isi hati itu sendiri, tentu yang disuarakan adalah suasana yang mewarnai sekujur ikatan organ yang menggaris dan membentuk kluster yang bernama “kata hati”.
Anggrek, banyak yang sudah diceritakan sepanjang matahari, banyak yang sudah diungkap sepanjang bulan purnama, banyak yang sudah dituang pada sejumlah kanvas bahwa pesonamu adalah cerita tentang kembang setaman yang menghias pita hati, melapisi setiap langkah kebun hati dan mampu memberikan gairah keharuman pada nilai perjalanan yang kudapatkan. Pada sisi itu jua adalah keniscayaan yang tertoreh pada setiap koridor yang dilewati everyday, menyemai kebeningan rasa, bermandikan parfum keindahan langkah diri.
Anggrek, perjalanan tidaklah harus bersisian pada kebersamaan mengisi ruang tetapi ada saat ketika tidak harus menatap, memandang atau bahkan memetik. Perjalanan adalah ruang bacaan yang dicerna dengan kesanggupan hati memilah antara aura dan rona. Keduanya, aura dan rona adalah pemantik semangat dan spirit ketika mencium keharuman wangi bunga yang mengembang di kamar hati. Dan ketika kebersamaan perjalanan harus melalui titik simpang, maka aku tetap harus menjalankan perjalananku, perjalanan yang aku juga tidak tahu kapan batasnya. Aku meyakini, bahwa halte demi halte yang sudah dan akan kulalui adalah senantiasa mengukir keindahan sekuntum bunga anggrek yang mampu mengharu biru ruang pita hati, kamar hati.
Anggrek, persetujuan tentang kesamaan rasa adalah jalinan yang mampu menganugerahkan nilai cum laude pada judul tesis “kata hati”. Tidak ada definisi yang mampu memberikan titik rasional ketika hati menyampaikan pesan itu. Maka tidaklah salah kalau pesan itu kemudian dialiri saja mengikuti alur rasa dan diucapkan sebagai ungkapan. Tanyakanlah pada ruang hatimu, sejauh mana nilai kesamaan itu mencapai kadar tertingginya. Tanyakanlah pada kamar hatimu ketika dialog imajiner menemani dirimu, apakah memang ada rasa itu pada dirimu, apakah ada aura dan rona yang menyelimuti hatimu untuk sebuah nama. Tanyakanlah dengan kebeningan hati, bukan dengan ego diri.
Anggrek, ungkapan itu adalah kata hati dan pembuktian tentangnya bukanlah dalam konteks timbal balik tetapi adalah pembuktian nilai ungkapan itu sendiri. Meskipun begitu tidak jua aku harus mempersamakan persepsiku untuk dijadikan definisi yang sama ketika engkau memberikan sudut pandang yang berbeda. Aku hanya ingin sampaikan pesan hati dan engkau pun mendengarnya dengan kata hati, tidak dengan asesories yang lain. Maka nilai kata hati itu pula yang akan memberi pesan pada sinar mata bahwa kata hati adalah ungkapan sinar mata.
Anggrek, aku ingin melanjutkan perjalananku, mohon maaf atas segala hal yang tidak pada koridornya, semoga engkau baik-baik saja, karena aku juga baik-baik saja (seperti lirik lagu Gita Gutawa). Tetapi ini bukanlah permainan, bukanlah senda gurau. Ini adalah cerita tentang pesona, cerita tentang rasa, cerita tentang aura dan rona. Dan pesonamu yang mengharu biru kamar hati adalah kisah tanpa epilog yang mampu memberikan keindahan pada rumah hatiku.
Anggrek, banyak yang sudah diceritakan sepanjang matahari, banyak yang sudah diungkap sepanjang bulan purnama, banyak yang sudah dituang pada sejumlah kanvas bahwa pesonamu adalah cerita tentang kembang setaman yang menghias pita hati, melapisi setiap langkah kebun hati dan mampu memberikan gairah keharuman pada nilai perjalanan yang kudapatkan. Pada sisi itu jua adalah keniscayaan yang tertoreh pada setiap koridor yang dilewati everyday, menyemai kebeningan rasa, bermandikan parfum keindahan langkah diri.
Anggrek, perjalanan tidaklah harus bersisian pada kebersamaan mengisi ruang tetapi ada saat ketika tidak harus menatap, memandang atau bahkan memetik. Perjalanan adalah ruang bacaan yang dicerna dengan kesanggupan hati memilah antara aura dan rona. Keduanya, aura dan rona adalah pemantik semangat dan spirit ketika mencium keharuman wangi bunga yang mengembang di kamar hati. Dan ketika kebersamaan perjalanan harus melalui titik simpang, maka aku tetap harus menjalankan perjalananku, perjalanan yang aku juga tidak tahu kapan batasnya. Aku meyakini, bahwa halte demi halte yang sudah dan akan kulalui adalah senantiasa mengukir keindahan sekuntum bunga anggrek yang mampu mengharu biru ruang pita hati, kamar hati.
Anggrek, persetujuan tentang kesamaan rasa adalah jalinan yang mampu menganugerahkan nilai cum laude pada judul tesis “kata hati”. Tidak ada definisi yang mampu memberikan titik rasional ketika hati menyampaikan pesan itu. Maka tidaklah salah kalau pesan itu kemudian dialiri saja mengikuti alur rasa dan diucapkan sebagai ungkapan. Tanyakanlah pada ruang hatimu, sejauh mana nilai kesamaan itu mencapai kadar tertingginya. Tanyakanlah pada kamar hatimu ketika dialog imajiner menemani dirimu, apakah memang ada rasa itu pada dirimu, apakah ada aura dan rona yang menyelimuti hatimu untuk sebuah nama. Tanyakanlah dengan kebeningan hati, bukan dengan ego diri.
Anggrek, ungkapan itu adalah kata hati dan pembuktian tentangnya bukanlah dalam konteks timbal balik tetapi adalah pembuktian nilai ungkapan itu sendiri. Meskipun begitu tidak jua aku harus mempersamakan persepsiku untuk dijadikan definisi yang sama ketika engkau memberikan sudut pandang yang berbeda. Aku hanya ingin sampaikan pesan hati dan engkau pun mendengarnya dengan kata hati, tidak dengan asesories yang lain. Maka nilai kata hati itu pula yang akan memberi pesan pada sinar mata bahwa kata hati adalah ungkapan sinar mata.
Anggrek, aku ingin melanjutkan perjalananku, mohon maaf atas segala hal yang tidak pada koridornya, semoga engkau baik-baik saja, karena aku juga baik-baik saja (seperti lirik lagu Gita Gutawa). Tetapi ini bukanlah permainan, bukanlah senda gurau. Ini adalah cerita tentang pesona, cerita tentang rasa, cerita tentang aura dan rona. Dan pesonamu yang mengharu biru kamar hati adalah kisah tanpa epilog yang mampu memberikan keindahan pada rumah hatiku.
*******
Tuesday, April 24, 2007
Signifikansi, Garis-Garis
Memahami makna yang dilepas lewat nafas panjang adalah menggariskan definisi yang sudah disetujui dengan kemampuan komprehensif. Aku hela nafas panjang itu dan mencoba menggali kembali pemahaman pada setangkai makna yang selalu menyampaikan yang tak terbaca. Kucoba cerna dan menggaris-garis signifikansi yang dibangun di atas jembatan keyakinan.
Ya keyakinan itu menjelaskan sejumlah sudut pandang, bahwa kedalaman rasa adalah galian yang tak habis dianalisisi melalui mekanisme tesis sekalipun karena dia adalah kaca dan cermin sepanjang cerita insan yang didapatkan. Galian yang kudapat sejauh ini adalah mengantarkan pola pikir pada ketulusan, kepolosan dan kearifan yang dijelmakan dalam cara pandang dan pola tindak.
Kesimpulannya adalah tidak ada yang salah dalam cara aku berjalan, tidak ada yang salah dalam cara aku bersantun diri, tidak ada yang salah dalam aku bertutur. Biasa saja dan merupakan bagian dari layout yang sudah dibordir di sejumlah titik simpul.
Lantas ketika kelabu dan awan menutupi ruang pandang hanya karena arogansi sektoral dan kedengkian yang ditransformasikan melalui tema iri dan dengki, secepatnya aku menanam pagar keyakinan, bahwa itu adalah penyakit hati yang bernama khasad, senang lihat orang susah dan susah lihat orang senang. Aku sebenarnya kasihan melihat sosok yang diselimuti dengan karakter model beginian, tetapi juga sebel dengan pembenaran subyektifitas dan pembentukan opini.
Dan itulah fundamen yang kuceritakan agar menjadi perbaikan di kemudian hari, ada teguran, ada bimbingan dan ada arahan. Bahwa interaksi adalah dinamika, aku setuju banget tapi kalau definisi dinamika dipahami sebagai penjungkirbalikan makna, maka jawabanku adalah melakukan umpan balik pada hirarki yang lebih tinggi sekedar menceritakan kabar yang digariskan lewat definisi arogansi.
Ya keyakinan itu menjelaskan sejumlah sudut pandang, bahwa kedalaman rasa adalah galian yang tak habis dianalisisi melalui mekanisme tesis sekalipun karena dia adalah kaca dan cermin sepanjang cerita insan yang didapatkan. Galian yang kudapat sejauh ini adalah mengantarkan pola pikir pada ketulusan, kepolosan dan kearifan yang dijelmakan dalam cara pandang dan pola tindak.
Kesimpulannya adalah tidak ada yang salah dalam cara aku berjalan, tidak ada yang salah dalam cara aku bersantun diri, tidak ada yang salah dalam aku bertutur. Biasa saja dan merupakan bagian dari layout yang sudah dibordir di sejumlah titik simpul.
Lantas ketika kelabu dan awan menutupi ruang pandang hanya karena arogansi sektoral dan kedengkian yang ditransformasikan melalui tema iri dan dengki, secepatnya aku menanam pagar keyakinan, bahwa itu adalah penyakit hati yang bernama khasad, senang lihat orang susah dan susah lihat orang senang. Aku sebenarnya kasihan melihat sosok yang diselimuti dengan karakter model beginian, tetapi juga sebel dengan pembenaran subyektifitas dan pembentukan opini.
Dan itulah fundamen yang kuceritakan agar menjadi perbaikan di kemudian hari, ada teguran, ada bimbingan dan ada arahan. Bahwa interaksi adalah dinamika, aku setuju banget tapi kalau definisi dinamika dipahami sebagai penjungkirbalikan makna, maka jawabanku adalah melakukan umpan balik pada hirarki yang lebih tinggi sekedar menceritakan kabar yang digariskan lewat definisi arogansi.
Intelektualitas dibangun dari kearifan dan kebijaksanaan, bukan pamer omongan dan adu omongan based on kompetensi atau yang sebangsa dengannya. Toh delapan jam itu adalah bagian dari yang duapuluhempat jam, bukanlah jaminan akan eksistensi yang sebenarnya. Jelmaan sikap itu yang diterminasi melalui superioritas niscaya akan memberikan nilai kurang dimata hati, dan sikapku jelas, lebih baik berikan umpan balik ke yang lebih memahami, setidaknya ada obyektifitas yang dapat dikembangkan sebagai second opinion.
*****
Monday, April 23, 2007
Warna Hari
Warna hari adalah aneka warna
Ada warna hijau ketika petinggi Jkt memberikan solusi kesejukan
Ada warna merah hati ketika diskusi menyamakan persepsi
Ada warna pink ketika hati menyanyikan lirik kekasih hati
Ada warna kelabu ketika mengapresiasikan nilai subyektifitas
Dan kujalani saja
Dan kunikmati saja
Dan kujelajahi saja
Dan kucerna saja
Sembari menyatakan persepsi diri luruskan langkah
(Thanks atas advis kesejukan buat Ntg, terhadap olahan cerita dan sudut pandang ketika merespons yang kukirimkan pagi ini. Setidaknya mengetahui suasana yang sebenarnya dilalui ketika berhadapan dengan arogansi bersudut sempit).
(Thanks atas nilai surprise merayakan ultah dengan tumpeng, seingat aku baru ini dirame-ramein dengan segenap rekan, thanks pada yang memberikan nilai surprise itu, setidaknya memberikan value ketika hati berwarna-warni).
(Thanks to Wl, atas souvenir ultahnya, kamu selalu memberikan itu pada sebuah nilai persahabatan yang begitu panjang, tertata, terukur dan terisi. Nanti akan kusetting sebuah acara kecil-kecilan untuk group kita, tinggal menyesuaikan waktu saja).
(Anggrek, pembuktian adalah nilai ungkapan itu, setulusnya, sebuah argumentasi yang dituangkan pada nilai kasih sayang. Maka yakinkanlah itu bukan sebagai timbal balik melainkan ungkapan pada nilai itu sendiri).
*****
Sunday, April 22, 2007
Lintas Ahad
Ada yang datang, ada yang bertandang dan jadilah keramaian mewarnai pagi Ahad yang menyenangkan. Bisa bertemu dan berbagi cerita dengan sanak saudara, ada yang bisa diceritakan, ada yang bisa diberitakan, menjelaskan dan menggambarkan, kedekatan pada situasi informal adalah bangunan yang mampu menjembatani jarak tanpa ukuran.
Maka senanglah hatiku menyambut dengan senyum dan ucapan, bahwa kemudian tidak jadi berangkat keseluruhan sesuai rencana yang sudah matang itu, tidaklah jadi soal karena memang harus demikian yang dijalani. Aku bisa katakan itu karena bagian dari langkah diri adalah ketidakmampuan kita menjelaskan realisasi rencana karena invisible hand. Maka berbincangpun adalah kesukaan membagi suasana dan semakin memberikan makna bahwa nilai persaudaraan itu adalah hal esensi yang mesti dijaga nilai kedekatannya.
(Met jalani hidup baru ya Ness, adalah perjalanan jua yang mampu menjelaskan semua titik singgung yang menjadi catatan sepanjang jalan. Dan kamu adalah bagian dari penceritaan yang menggarisbawahi alinea lintas hari sampai kemudian sampai di batas hari ini yang menyenangkan. Semoga langgeng ya dan tidaklah putus nilai yang sudah kita bangun itu).
(Jalan-jalan melintas Ada tuk kemudian singgah, menikmati, menjelajah, memandang dan memilih sampai akhirnya ada yang dibawa pulang sebagai realisasi rencana. Ada rasa puas tuk menyelesaikan hari dengan berbagi, berucap dan bercakap, itulah suasana yang menutup Sunday dengan kedamaian hati, setidaknya malam ini menyongsong tidur).
******
Membenahi taman kembang halaman
Membelai tanaman bunga di tenangnya pagi
Menyemai kelembutan sembari memberi warna
Taman kembangku semakin mempesona
Taman bungaku semakin mekar mewangi
Senandung nada dilantunkan sembari meresikkan
Duhai anggrek bulan
Engkaulah taman kembang
Sekuntum bunga yang menghangatkan
Dan menghias kamar hatiku
Maka senanglah hatiku menyambut dengan senyum dan ucapan, bahwa kemudian tidak jadi berangkat keseluruhan sesuai rencana yang sudah matang itu, tidaklah jadi soal karena memang harus demikian yang dijalani. Aku bisa katakan itu karena bagian dari langkah diri adalah ketidakmampuan kita menjelaskan realisasi rencana karena invisible hand. Maka berbincangpun adalah kesukaan membagi suasana dan semakin memberikan makna bahwa nilai persaudaraan itu adalah hal esensi yang mesti dijaga nilai kedekatannya.
(Met jalani hidup baru ya Ness, adalah perjalanan jua yang mampu menjelaskan semua titik singgung yang menjadi catatan sepanjang jalan. Dan kamu adalah bagian dari penceritaan yang menggarisbawahi alinea lintas hari sampai kemudian sampai di batas hari ini yang menyenangkan. Semoga langgeng ya dan tidaklah putus nilai yang sudah kita bangun itu).
(Jalan-jalan melintas Ada tuk kemudian singgah, menikmati, menjelajah, memandang dan memilih sampai akhirnya ada yang dibawa pulang sebagai realisasi rencana. Ada rasa puas tuk menyelesaikan hari dengan berbagi, berucap dan bercakap, itulah suasana yang menutup Sunday dengan kedamaian hati, setidaknya malam ini menyongsong tidur).
******
Membenahi taman kembang halaman
Membelai tanaman bunga di tenangnya pagi
Menyemai kelembutan sembari memberi warna
Taman kembangku semakin mempesona
Taman bungaku semakin mekar mewangi
Senandung nada dilantunkan sembari meresikkan
Duhai anggrek bulan
Engkaulah taman kembang
Sekuntum bunga yang menghangatkan
Dan menghias kamar hatiku
****
Saturday, April 21, 2007
Renung, Ultah
Ada yang menarik sebagai renungan, ketika melepas handaitolan yang hendak umrah, kok tiba-tiba jatuh sakit dan harus opname, sehingga akhirnya batal berangkat. Memang jalan itu selalu kita tidak tahu rahasianya, walau sudah direncanakan, dengan persiapan, dengan keinginan yang kuat namun ada yang harus diingatkan dengan ketidakjadian ini.
Bahwa kita tidak pernah tahu rahasia Allah tentang qudrat dan iradat itulah, yang menjadi catatan renungan. Bahwa kita tidak pernah tahu dengan next step, dengan masa depan, dengan rangkaian perjalanan, dengan adegan apa yang harus kita lalui, itulah yang mestinya menjadi renungan aqidah sebagai pembanding eksistensi diri.
Aku sebenarnya juga punya rencana itu, ingin banget untuk kembali bertamu ke rumah qiblat, baitullah bersama keluarga, untuk memperkuat ikatan aqidah yang sudah mendarah daging di sekujur lahir bathin. Moga-moga tahun ini bisa terlaksana, semoga Allah meridhoiNya. Bahwa perjalanan kita tidak tahu dimana batas akhirnya, itu juga yang menjadi rahasia tentang rencana, tentang harapan, tentang keinginan, tentang doa keselamatan dan akhir cerita yang khusnul khotimah. Semogalah aku mendapatkan itu dengan cerita perjalanan yang fastabikul khoirot.
(Makasih my wife, makasih kedua ananda atas ucapan ultahnya, di subuh Sabtu yang masih hening, si sulung memberikan ciuman manja dan ucapan ultah, kemudian si ragil memberikan sebungkus kado yang menjadi surprise bagiku. Duh sangat menyentuh dan mengharukan, kayaknya mereka memang ingin membuat surprise untukku. Makasih, semoga Allah memberikan perlindungan lahir bathin kepada kita semua, amien).
(Thanks for all college atas ucapannya, atas jabat tangannya, atas atensinya yang mampu memberikan nilai hari pada suasana yang menyenangkan, membeningkan dan sekaligus mendekatkan nilai keakraban itu).
Bahwa kita tidak pernah tahu rahasia Allah tentang qudrat dan iradat itulah, yang menjadi catatan renungan. Bahwa kita tidak pernah tahu dengan next step, dengan masa depan, dengan rangkaian perjalanan, dengan adegan apa yang harus kita lalui, itulah yang mestinya menjadi renungan aqidah sebagai pembanding eksistensi diri.
Aku sebenarnya juga punya rencana itu, ingin banget untuk kembali bertamu ke rumah qiblat, baitullah bersama keluarga, untuk memperkuat ikatan aqidah yang sudah mendarah daging di sekujur lahir bathin. Moga-moga tahun ini bisa terlaksana, semoga Allah meridhoiNya. Bahwa perjalanan kita tidak tahu dimana batas akhirnya, itu juga yang menjadi rahasia tentang rencana, tentang harapan, tentang keinginan, tentang doa keselamatan dan akhir cerita yang khusnul khotimah. Semogalah aku mendapatkan itu dengan cerita perjalanan yang fastabikul khoirot.
(Makasih my wife, makasih kedua ananda atas ucapan ultahnya, di subuh Sabtu yang masih hening, si sulung memberikan ciuman manja dan ucapan ultah, kemudian si ragil memberikan sebungkus kado yang menjadi surprise bagiku. Duh sangat menyentuh dan mengharukan, kayaknya mereka memang ingin membuat surprise untukku. Makasih, semoga Allah memberikan perlindungan lahir bathin kepada kita semua, amien).
(Thanks for all college atas ucapannya, atas jabat tangannya, atas atensinya yang mampu memberikan nilai hari pada suasana yang menyenangkan, membeningkan dan sekaligus mendekatkan nilai keakraban itu).
*****
Friday, April 20, 2007
Nilai Itu
Makasih deh atas perhatian dan ucapan-ucapan via imel atau esemes yang menunjukkan nilai persahabatan, nilai pertemanan yang utuh, panjang, menyenangkan dan forever. Untuk As, Ar, Br, Tt dan group milis yang lain aku ucapkan again makasih banget atas nilai ucapannya itu walaupun baru besokkan titik ultah itu dituliskan. Dan itulah nilai persahabatan kita, selalu mendahului untuk dijadikan deal yang merayakan.
Aku janji next week akan lunaskan deal itu, kita ketemu lagi, kita gabung lagi, kita bercakap lagi, kita tutur tatap lagi, kita bersenandung lagi sampai mentari capek menyinari. Aku merasakan nilai itu adalah ketulusan yang membalut silaturrahmi dengan kesejukan berbagi suasana, sungguh menyenangkan, sungguh membanggakan punya sahabat sepanjang usia kerja, bersama lagi, membagi lagi, mengucapkan lagi.
(Thanks to Ng yang mau bagi waktu sekedar bercerita tentang keinginan, kebosanan dan harapan. Kamu ternyata mampu menjelaskan itu dengan kejernihan pandang dan sekaligus memberikan argumen menghadapi next step).
(Ada saja kabar baru yang diceritakan di milis itu, sehingga aku perlu konfirmasi tentang jalan ceritanya, dan ternyata itu adalah yang kedua. Selamat for Ag atas second marriednya, jalan cerita terkadang memang harus menghadapi halte demi halte untuk direnungkan dan disikapi).
(Ada rasa jenuh dan bosan menghadapi rutinitas, pengen ganti suasana, pengen ganti cuaca, masih pancaroba, moga-moga segera berganti musim semi, moga-moga dikabulkan, moga-moga ada balasan dari hati yang dengki dan berdebu itu. Makin kupahami anatomi perilakunya mirip perilaku autis yang tak tersembuhkan, kasian deh lo. Makin pula kuanalisis, makin jelas polahnya mirip orang sakit yang perlu therapy sepanjang hayat, gak sembuh-sembuh, kasian deh lo).
Aku janji next week akan lunaskan deal itu, kita ketemu lagi, kita gabung lagi, kita bercakap lagi, kita tutur tatap lagi, kita bersenandung lagi sampai mentari capek menyinari. Aku merasakan nilai itu adalah ketulusan yang membalut silaturrahmi dengan kesejukan berbagi suasana, sungguh menyenangkan, sungguh membanggakan punya sahabat sepanjang usia kerja, bersama lagi, membagi lagi, mengucapkan lagi.
(Thanks to Ng yang mau bagi waktu sekedar bercerita tentang keinginan, kebosanan dan harapan. Kamu ternyata mampu menjelaskan itu dengan kejernihan pandang dan sekaligus memberikan argumen menghadapi next step).
(Ada saja kabar baru yang diceritakan di milis itu, sehingga aku perlu konfirmasi tentang jalan ceritanya, dan ternyata itu adalah yang kedua. Selamat for Ag atas second marriednya, jalan cerita terkadang memang harus menghadapi halte demi halte untuk direnungkan dan disikapi).
(Ada rasa jenuh dan bosan menghadapi rutinitas, pengen ganti suasana, pengen ganti cuaca, masih pancaroba, moga-moga segera berganti musim semi, moga-moga dikabulkan, moga-moga ada balasan dari hati yang dengki dan berdebu itu. Makin kupahami anatomi perilakunya mirip perilaku autis yang tak tersembuhkan, kasian deh lo. Makin pula kuanalisis, makin jelas polahnya mirip orang sakit yang perlu therapy sepanjang hayat, gak sembuh-sembuh, kasian deh lo).
Subscribe to:
Posts (Atom)