Wednesday, July 11, 2007

Special Thanks

Spesial thanks buat kamu yang selalu memberikan bingkisan atau apapun itu, cerminannya adalah sebuah nilai melebihi sekedar tali silaturrahmi yang mengembangkan. Hari ini sejumput bingkisan itu adalah untuk sebuah tanggal esok hari yang sengaja dititipkan dan diselaraskan.
Ucapannya adalah untuk sebuah hari jadi yang digaris tebal pada setiap kalender, tidak hanya itu, karena ingatanmu yang begitu kental pada segenggam persepsi dengan sejumlah ucapan yang terdengar merdu : mempererat tali persaudaraan dan perikatan pada nilai pertemanan yang panjang. Kamu sampaikan itu seperti sebuah tradisi yang kali ini tertuju untuk my wife, untuk sebuah ulangan titik kehidupan yang baru, ulang tahun.
Terimakasih banget ya
Dan nilai itu ada pada sudut hati terdalam
Lukisannya adalah pada keikhlasan jalan bersama
Catatannya adalah pada kearifan peran bersama
Tulisannya adalah cerita sepanjang jalan
****

Tuesday, July 10, 2007

Jalan Hati

Jalan diri hari ini adalah memetik hikmah
Jalan diri hari ini adalah menyiram zuhud
Jalan diri hari ini adalah menepi kerikil
Jalan diri hari ini adalah menyapa bukit hijau

Jalan hati hari ini adalah memahami KUN
Jalan hati hari ini adalah menghayati FAYAKUN
Jalan hati hari ini adalah mengunyah ruang dadda
Jalan hati hari ini adalah mencerna tikungan diri

(Sembari menikmati silhoutte Sindoro yang perkasa dari sisi Timur dan Merapi yang gagah menjelang petang, matahari mampu memberikan sinar pandang yang mengagumkan, dan sengaja membisikkan sesuatu pada jalan hati : bukankah aku dan dia menjadi saksi istiqomah pada rangkaian perjalanan berbilang tak berjejak, dan sesungguhnya pada kejernihan dan kebeningan nurani-lah jawaban yang mampu memberikan nilai cum laude pada setiap jalan hati dan jalan diri).
****

Monday, July 09, 2007

Kaliadem, Adem hati

Satu dari lima hari yang menyenangkan itu adalah menikmati udara sejuk di pinggang gunung Merapi dari sisi Kaliadem. Tidak terlalu direncanakan memang namun nikmatnya traveling adalah menikmati apa saja yang bisa dinikmati, dijalani dan di approve sebagai bingkisan sinar mata untuk mencari kesegaran nurani. Maka berjalanlah aku, maka berjalanlah kami menapaki batu-batu dan pasir yang berserakan yang melambangkan keperkasaaan itu. Semakin berjalan, semakin aku merasakan nikmatnya kebesaran itu sekaligus mematut-matut diri untuk tahu diri dan mengaca diri.

Ketika akan pulang, pengen mampir sekedarnya, syukur-syukur bisa ketemu Mbah Maridjan dan ini juga langkah kanan ketika Ashar tiba si Mbah jadi Imam, aku dan keluarga jadi makmum, kusalami dia, tatap matanya menyorot tajam, lalu tersenyum dan mempersilakan kami menuju rumahnya yang sederhana itu.

Kinahredjo adalah lambang kesederhanaan yang memberikan pelajaran tentang persahabatan dengan alam. Warganya yang ramah, selalu menyapa, bergelut dengan keseharian yang sederhana tapi menentramkan. Sungguh sebuah pemandangan yang menyejukkan manakala keseharian itu menjadi layar yang kutonton dengan ruang hati, merenungkannya sembari memaknainya sebagai sebuah cermin diri.

Sekali lagi kujabat tangan si Mbah, yang selalu apa adanya, omongnya yang lepas, guyonnya yang lepas, senyumnya yang lepas, sederhana namun memberikan makna kekuatan bathin yang luar biasa. Kami pun pamit sembari melepas dahaga diri dan menyiram pandangan sekitar dengan wajah dan sinar mata teduh. Si Mbah memberikan banyak pelajaran tentang keteduhan hati, tentang kesederhanaan peran, tentang apa adanya, tentang makna hidup sesungguhnya.

*****

Sunday, July 08, 2007

Saturday, Catatan Itu

Konsentrasi untuk persiapan tampil, kuupayakan sebaik mungkin, se pede mungkin agar bisa menghasilkan sebutan yang bagus, dan kupelajari, dan kuhayati, dan kurenungkan agar bisa menjadi yang terbaik. Dan ketika waktunya menjelang, ada grogi sedikit namun setelah giliran tampil pede itu muncul dan mengalirlah semuanya dengan gayaku sendiri, kubahas, kuceritakan, kudeskripsikan, kujelaskan dan kutampilkan dengan segenap kemampuanku.
Kujawab semua ketika sejumlah tanya dan argumen dikemukakan, dan semuanya mampu kujelaskan dengan argumenku pula dan ini yang menyenangkan, semuanya berada dalam koridor akademis, tetap mengedepankan obyektivitas, sebuah catatan yang menjadi reward bagi pembelajaran intelektualitas diri.
****

Lima Hari Yang Menyenangkan

Sejumlah hari dirangkum dan dinyatakan dengan predikat sangat menyenangkan sehingga menjadi bagian yang mampu memperbaharui parfum hati. Betapa, menikmati suasana yang hijau segar, ada yang datang, sudah lama dinanti, ada yang membawa kabar, ada yang menceritakan, ada yang membanggakan, ada yang menghangatkan, sesungguhnya membagi hari adalah cerita yang mampu dirangkum dalam episode bilangan lima kali matahari terbit, memberikan cahaya hangat pada setiap senyum yang dilontarkan.

Menjelajah kota karena memang diinginkan oleh yang datang dari tanah seberang, menjelaskan, membandingkan dan menyatakan. Kemudian menjelajah traveling lingkaran utara selatan, kembali menjelaskan dan mendefinisikan, menyinggahi, mengunjungi dan menawarkan sebuah paket yang mampu dikecap bersama. Dan kita pun menyanyi bersama mendapatkan suasana kedekatan dan keakraban, sebuah nilai persaudaraan yang mampu dibangun dengan berbagai cerita.

Kugariskan saja nilai yang kudapat
Kucatat saja sebutan yang kuperoleh
Kutulis saja predikat yang kusandang
Kucoret saja angka yang kudekap

Mengganti suasana dengan cerita berlandas primordial karena yang berkunjung adalah sebuah nilai yang kunanti, kutunggu dan kuinginkan. Maka matahari pun kusambut dengan nyanyian, untuk memastikan bahwa lima hari ini adalah cerita berbungkus pita biru yang disandingkan dengan souvenir rasa kangen, rasa hangat dan menyatukannya dengan senyum mengembang. Sungguh menjadi catatan garis tebal manakala bagian paragraf yang digaris menjadi senandung lepas yang menyatakan betapa sesungguhnya melayani dan memberikan sesuatu adalah nilai dari catatan sepanjang hari. Aku menjalani itu dan mencoba memahaminya sebagai bagian dari pembelajaran hakekat keniscayaan.
*****

Monday, July 02, 2007

Kupastikan

Secara pasti aku dapat selesaikan beberapa step yang kutargetkan, setidaknya menambah tebal apa yang kutulis untuk dipresentasikan, dan yang lebih enak lagi ternyata perubahan itu setelah kusampaikan di oke kan saja oleh otoritas sehingga menambah keyakinanku untuk mampu kuselesaikan dua hari ini. Demikian juga dengan target yang lain, kuselesaikan hari ini sehingga ada rasa plong di hati dan berbuka puasa bersama keluarga petang ini juga merupakan sebuah kebahagiaan tersendiri.
Bukankah itu merupakan iringan langkah yang menyenangkan, membungakan dan membeningkan, ya tentu saja, yang penting kuniatkan saja bahwa yang menjadi planning hari ini, esok atau lusa kupastikan dengan nawaitu bahwa moga-moga semuanya berjalan lancar, jernih dan lurus. Masih terngiang lontaran kalimat bermakna itu: Seekor katak yang tuli ternyata mampu mencapai puncak gedung mengalahkan opini dan argumentasi negatif tentangnya.
(Alhamdulillah, karunia limpahan itu semakin memberikan makna tentang rezeki di bumi Allah Yang Maha Kaya, bukankah semua ada ditanganMu tentang apa saja, dan evidence yang paling nyata adalah kesetiaan matahari untuk terbit dari Timur dan menghangati semua makhluk bumi yang dilaluinya).
****

Prisma

Menjalani pagi cerah dengan walking, jalan santai menuju pusat keramaian kota, dan seperti biasa ada yang dibeli, yang digemari dan menjadi menu mingguan. After that, menghampiri sarapan pagi di kawasan Tmbl yang banyak penggemarnya itu. Lumayanlah rasanya lagian sudah lama gak menghampirinya. After that memilih rute untuk menyapa pemandangan salah satu sudut kota yang masih hijau, menuruninya dengan perlahan dan mampu menampilkan sinar pandang yang bening cerah seperti cerahnya cuaca Ahad hari ini.

After that, menyapa taman bunga dan membersihkannya sembari berpeluh ria, lama tak menyambanginya sekedar melihat dan menatap, banyak yang harus dibersihkan, banyak yang harus dibelai agar menjadi segar, dang ganti suasana ini mampu memberikan nilai keringat tengah hari yang menyehatkan.

After that, ya istirahat
After that, bersilaturrahmi dengan toko buku terkenal, mengunjunginya, membaca on the spot dan tak lupa membeli yang sudah direncanakan.
After that, ya capek deh
After that ya tidur dong
After that, pulas
*****

Awalnya agak malas juga untuk melangkah mengikuti dan memenuhi undangan itu Sabtu ini, namun kucoba juga untuk menjelmakan kehadiranku, dan ternyata ruang luas yang mampu menampung banyak kursi itu sudah terisi penuh, namun aku masih dapat tempat juga di sisi kanan. Dan ternyata seorang guru besar terkenal mampu menghidupkan suasana hatiku dengan sedotan perhatian dan kematangan empirik dengan bebarapa analogi mampu membangunkan kelesuan nuraniku.

Banyak yang disampaikan dan tema itu sendiri adalah bagian dari catatan yang sudah banyak kutemukan diberbagai sudut perpustakaan, namun gaya pencerahan yang dimiliki pakar kenamaan itu memberikan suntikan adrenalin pada semangat hati. Iya juga ya, bergegas dong menyambut matahari dan berlari seperti sejumlah katak yang hendak melompat gedung tinggi. Bahwa penceritaannya yang jelas itu dengan kesempurnaan mengalihkan dan menggantinya dengan kesegaran adalah daya tarik yang menjadikan general college sebagai yang terbaik sepanjang yang kuikuti selama ini.

(Banyak yang harus diganti ketika mengikuti arahan, maka setelah itu aku mencoba mensiasati waktu yang tersisa untuk menyempurnakannya. Soalnya minggu depan harus tampil, dan aku ingin semuanya berjalan lancar dan berhasil).
(Thanks to Hr yang mau berbagi halaman untuk sekedar membandingkan dan membedakan, dimana sih bedanya dan setelah kubanding dengan yang lain, banyak juga bedanya, trus yang mana yang harus ditampilkan, itulah sejuta tanya yang menggelayut hati).
*****

Menelisik yang belum terkatakan
Mengungkap yang belum tersentuh
Membaca yang belum ditulis
Mengatakan yang belum terbaca

Adalah bagian pengindraan yang membuih
Adalah bagian pengimbuhan yang berakhiran
Adalah bagian pencitraan yang tercurah
Adalah bagian penelusuran yang tersimbah

Dan
Jalan dihadapan adalah meneliti langkah
Jalan dihadapan adalah menelisik ruang
Jalan di hadapan adalah menelikung bukit hijau
Jalan dihadapan adalah menuruni ngarai hijau

(Menanti kedatangan sampai Jumat ini tuk menyambut dengan pelangi akhir hujan, adalah yang menjadi curahan pada one moment dari sekian banyak liku persimpangan yang didapat. Maka nilai selamat datang menjadi garis yang diulang-ulang untuk menyatakan betapa sukacitanya ruang perjumpaan itu).
*****


Thursday, June 28, 2007

Lapang

Lapangan adalah tempat bermain, ruang publik, dan koridor untuk memandang luas apa saja yang bisa dipandang, memberikan cahaya pandang pada setiap layar yang menjadi fokus sudutpandangnya. Lapangan hati adalah koridor untuk bercermin diri ketika kita ingin menyaksikan pertarungan ego melawan nurani.
Lapang dada adalah serat yang memberikan sinar terang untuk mematut-matut diri dan tahu diri dalam setiap unjuk diri dan mampu membersihkan sudut pandang pada kebeningan air pancuran, segar, sejuk dan menggirahkan bathin. Kepada siapa lapang dada ditunjukkan eksistensinya, tidak lain adalah kepada kebeningan itu jua, pada sosok yang mampu menjalani sinar pandang dengan terang rasa, tenang nada.
Batas maksimal yang ingin ditampilkan adalah mencoba mengais nilai itu dengan sebungkus naluri yang masih tersimpan utuh di lapis legitnya aura, bahwa suntikan halus yang menyemai pada titik nadir bisa ditunaskan kembali, seiring datangnya musim semi yang menyapa. Batas yang didapat pada persimpangan ini adalah traffic light yang memberikan ruang kesempatan untuk melanjutkan, tak perlu menoleh dan membiarkan angin menerpa dengan kecepatan sepoi-sepoi yang menidurkan.
Lapang rasa
Terang rasa
Tenang nada
Tenang aura
(Tidak harus dijelaskan kembali, pada sebuah batas yang diperoleh, kalaupun harus berlabuh, keniscayaan adalah cerita terakhir yang ingin diperoleh dengan sentuhan pelabuhan hati).
****

Wednesday, June 27, 2007

Nilai

Nilai yang dikumandangkan itu bukanlah sesuatu yang mampu mendefinisikan ukuran tiga dimensi, apalagi jika membawa bungkusan yang bernama attitude, perilaku dan estetika. Sayangnya komponen itu tidak dilekatkan dan dipaku pada setiap unsur sehingga seperti sebuah proklamasi, diumumkan lalu "tiada yang menandatanganinya" sebagai pusat pertanggungjawaban argumentasi.
Sama juga ketika bicara sudut pandang atau nilai pandang. Tidak perlu menyatakan apresiasi jika itu menyangkut penilaian sisi luar dan sosiologi yang ditampilkan bukan karena menutup pintu, bisa jadi lebih baik menyatakan tidak daripada harus menjelaskan dengan teriakan di lorong gua. Bergema tanpa ada yang mendengar.
Sudut pandang itu adalah bagian dari sikap diri untuk tidak lagi bermain di lapangan rumput, untuk tidak lagi mengayuh diri, untuk tidak lagi berlari menuju cakrawala. Setting ulangnya adalah ruang pandang yang kuingin kudekap, kucium dan kurangkul sembari mengatakan: bukanlah sesuatu yang bernilai mutlak manakala nilai itu dikumandangkan, apalagi berlabel imbuhan TER.
Dan itulah hipotesis yang tercetus dan nilai pembuktiannya adalah mengenali sudut ruang yang selalu menyatakan nilai kebenaran hakekat, bahwa itulah sejatinya nilai seperti yang tergores malam ini :
"Wahai anakku, carilah ketinggian kedudukan dengan merendahkan hatimu. Carilah kemuliaan dengan berpegang teguh pada agama. Dan carilah kodrat Allah dengan memaafkan orang lain".
Subhanallah....
*****

Tuesday, June 26, 2007

Menanti

Jalani suasana liburan, mendatangkan yang sudah dijanjikan dengan berharap dapat memberikan nilai kekentalan nuansa, dan sesungguhnya menginginkan semua menjadi nilai tambah yang diamini oleh hati nurani. Betapa, ketika ada ungkapan sudah berjalan dan disepanjang perjalanan menantikan kabar dan cerita, sesungguhnya hati merasa senang sembari menantikan jua kedatangan bersama, menghirup bersama, bercerita bersama dan mengail apa sebenarnya nilai yang hendak ditampilkan itu.
Bahwa nilai elemen yang menjadi panutan adalah untuk menjanjikan sentuhan pada apa yang disebut menikmati suasana, mengganti suasana, mencuci suasana dan berupaya melayani dengan kebeningan rasa, adalah itu yang ingin disampaikan ketika berita ketibaan kugenggam dan kupersiakan memasuki ruang untuk berbagi kabar.
(jalan-jalan sepanjang petang juga adalah untuk membagi nilai itu, maka setibanya saat, kunikmati dengan menghitung jumlah langkah dan menghampiri kesejukan untuk mengecup juice kesukaan, dan kafilah yang berjalan dan bersenda gurau adalah tampilan yang mengedepankan suasana: berbagi episode petang. Dan ananda pun tersenyum).
****

Monday, June 25, 2007

Catatan Pelangi

Puasa hari ini dengan segempal aura yang menampilkan keinginan untuk berbenah, dan alhamdulillah bisa menjelajah ruang hari dengan semangat prima. Ruang yang ingin disampaikan adalah keinginan untuk menapaki kedekatan yang sempat dicampakkan pada sejumlah catatan hari, catatan hati. Dan dengan berlindung itu, keprihatinan pada suguhan potensi adalah pengambilalihan yang memang dilayangkan seperti bermain layang-layang.
Sungguh ketidakmampuan adalah tarikan tali itu
Sungguh kelemahan adalah ketidakmampuan mengolah tali itu
Sungguh kelengahan itu adalah mencoba melepas tali itu
(Dan bermainlah dengan suguhan wayang tanpa kejelasan cerita)
*****
Menjadikan Ahad sebagai ruang untuk melepas penat, menjadikan Ahad sebagai lapangan untuk berteduh bathin dan mencoba mengulitinya dengan bermain pada sejumlah pilihan, ada dialog, ada guyonan, ada ceria, ada cerah, ada kesibukan, ada benah-benah, ada resik-resik, ada tawa, semuanya ada di lapangan yang bernama rumah dan isinya.

Sejatinya bermain adalah mencoba memahami letak sisi mana sih yang menjadikan bumbu penyedap hari, nyatanya dengan itu aku bisa kembali menyelinapkan rasa sumringah pada kedua buah hati yang perlu sentuhan hati. Kabar baiknya adalah menelisik nilai yang dilaporkan, dan pilihan si cantik kuamini saja karena bidangnya adalah di lapangan itu sementara si tomboy mendapatkan nilai yang lumayan sebagai peningkatan langkah kompetensi yang dimilikinya.
Dan jadilah hari sebagai cerahnya hati
Dan jadilah hari sebagai cerahnya nadi
Dan jadilah hari sebagai cerahnya arti
*****

Sabtu serius
Sebagai titik simpul
Sebagai titik final
Sebagai titik awal
Untuk menuju akhir
Untuk menuju terminal
Untuk menuju muara

Sabtu seru
Sebagai rancangan awal
Sebagai persiapan awal
Sebagai langkah awal
Sebagai definisi awal
(Semoga aku bisa melewatinya dengan semangat menjadi yang terbaik)
(Semoga aku bisa melapangkannya dengan semangat menjadi yang prima)
****

Friday, June 22, 2007

Ikatan, Resonansi

Ada kabar untuk berjalan, untuk bertemu, untuk bertutur, dan kuyakinkan jua bahwa bisa saja namun perlu juga dilayangkan jarak yang akan ditempuh. Adik kembar menyatakan hasrat itu dan moga-moga bisa direalisasikan dalam waktu dekat. Bukankah itu bagian dari perekat, bukankah itu bagian dari kehangatan, bukankah itu bagian dari persamaan.

Membayangkan rindu tidak lain adalah membayangi ruang yang terikat pada nilai persaudaraan, membayangkan rindu tidak lain adalah membayar ruang yang tidak pernah diisi untuk sekian lama pada dialog dan tatap hati. Dan ketika semua menjadi ruang nyata, garis yang hendak dijamah adalah memperkuat ikatan, menceritakan progress dan mencoba membangun saran dengan bungkusan yang menciptakan nilai berkah.

(Thanks to Yn, dialog yang menyenangkan, memberi kabar terbaru dan menyapa dengan voice yang khas, cerita tentang headline terakhir, menambah nilai kedekatan yang bernilai.)

(Thanks to Mi, An, rampunglah tugas yang bebebankan selama sebulan ini, bagi informasi, bagi kesamaan untuk dipersamakan pada nilai yang disamadengankan itu. Plong rasanya).
******

Menceritakan resonansi adalah gema yang disuarakan tanpa harus diperdengarkan pada sejumlah bilangan anggota karena suara itu tidak mampu didengarkan pada kapasitas normal yang diedarkan. Makanya aku lebih suka melantunkan lagu tanpa harus didengarkan apalagi ditestimonikan pada sejumlah taman bunga. Lebih baik menyanyikannya dalam arung jeram sehingga teriakannya dikalahkan oleh derasnya arus yang mengalir dan membentur.

Resonansi yang menjadi judul gema hati ini adalah berupaya membayar desakan yang menyesakkan dengan mencoba memberi nilai senyum pada sejumlah halte, sejumlah pemberhentian ketika aku harus menapakinya. Bayaran itu tidaklah menjadikan diri sebagai kondektur tanpa kendaraan, hanya berupaya mengedepankan suara bahwa nilai yang diperdengarkan adalah untuk memotret patron yang selalu menjadi baju berlabel sistem.

Aku tidak lagi mengedepankan itu apalagi membahasnya. Aku hanya mencoba menghitung berapa jumlah pesimpangan yang bakal dilalui, berapa waktu yang diperlukan untuk sampai di pertigaan decision. Dan itu adalah bagian dari analisis resonansi yang mengemuka sampai mejelang titik temu untuk dilipat, digunting dan ditaburkan pada pasir pantai.

Sampai kemudian ada kapal yang merapat
Sampai kemudian ada jemputan yang menjabat
Sampai kemudian ada tangga untuk menjelang
Sampai kemudian ada selat untuk dilayarkan

(Menyelesaikan episode kamis dengan memfinalkan segala yang menjadi target hari ini, dan semuanya berjalan dengan ramah aini, ramah hati dan ramah bathin).
*****


Wednesday, June 20, 2007

Dan Kita pun

Bersua lagi dengan sobat-sobat milis yang membentangkan nilai silaturrahmi dan pertemanan yang demikian akrab, untuk merealisasikan janji yang punya hajat, ya selamat aja deh, dan selama itu menjadi ungkapan rasa syukur maka nilai berkahnya adalah semakin bersinarnya kamar hati dan cahaya mata.

Dan kita pun bersenda gurau
Dan kita pun bercengkerama
Dan kita pun tertawa bersama
Dan kita pun menyantap bersama
Sekaligus memastikan bahwa episode cerita terus saja bergulir tanpa harus menyatakan sudah sampai di bagian berapakah kisah cerita yang disenandungkan.

(Thanks to group milis yang mampu menghantar keramaian suasana dan kedamaian hati, spesial tuk yang punya gawean, moga menjadi sinar mentari jam sepuluh yang menghangatkan hari dan hati.)
****

Tuesday, June 19, 2007

Kira-kira Begini

Kira-kira begini gambarannya : Seolah menjadi presenter tetapi tidak ada pemirsanya, paling juga lingkungan yang memang sudah menjadi habitatnya, paling juga person yang sudah menjadi kru tanpa surat keputusan, paling juga gitu-gitu aja, dengan hobby suka menyetir ke arah kelabu hatinya.

Merasa seperti pilot dengan baju berlabel mentang-mentang, sepertinya dialah yang tahu segalanya, dan mampu menguasai fenomenanya, padahal hipotesis sudah menyatakan begini : pengaruh arogansi diri terhadap cakrawala pandang, adalah bagian dari kealpaan yang menggantungkan antipati pada sejumlah definisi.

Hobbynya suka menghasut, dan label iri pantas ditaruh di ruang dadanya yang merasa sudah menjadi mahatahu, mahapintar dan mahayakin. Padahal kekerdilan jiwanya mendapatkan porsi di lintas diri dengan sebutan : Kaciaan deh lu, hanya bisa beberkan omongan murahan, ternyata bermental tempe, dan ini yang bergaris tebal : pintar mengolah kata dengan menggoreng kebusukan hati dan menaruhnya di setiap sudut bertuliskan : 100% halal untuk dicerca.

Ketika semuanya ada di sinar mentari jam duabelas ; lagi-lagi pintar mengganti raut wajah dengan berdalih pada sejuta asumsi, padahal ruang hatinya yang hitam legam itu sudah menuliskan sebuah puisi : pembusukan di lintas periferi yang menghitam pelan.
****
(Thanks to all fren yang sudah mengetahui jalan ceritanya, thanks juga atas simpatinya).
(Thanks to Sf, janjiannya moga-moga menjadi berkah tersendiri untuk persahabatan yang menyenangkan).

Seutuhnya

Seutuhnya adalah yang menepikan hasrat
Untuk tidak lagi mengatakan kelanjutan
Untuk tidak lagi melanjutkan cerita
Untuk tidak lagi menuliskan mentari pagi
Untuk tidak lagi membacakan testimoni

Sejauh itu yang menjadi proklamasi diri
Bahwa ternyata hanya bermain di logika diri
Bahwa ternyata hanya berenang di kolam keruh
Bahwa ternyata hanya berjalan di atas awan
bahwa ternyata hanya berselancar di tikar usang

Tidak lagi untuk digenggam
Tidak lagi untuk direngkuh
Tidak lagi untuk dipeluk
Tidak lagi untuk dikulum
Tidak lagi untuk dikecup
Karena hanya ada di sendi riak
Yang tidak dapat di reka ulang
Dan sudah menjadi fosil tanpa rangka
(Bahwa itulah kadar yang menjadi kepekatan rasa)
****

Monday, June 18, 2007

Berjalan, Bercerita, Berkisah

Berjalan kembali ketika mentari belum berjabat tangan di pagi Ahad nan cerah ini, berpacu dengan semangat keceriaan memandikan jalanan pantura menuju rancangan piknik yang telah dirajut selama sepekan ini. Dan meluncurlah, dan berlarilah, dan berceritalah, dan bersendaguraulah bersama keluarga, menjelaskan titik-titik pesona yan didapatkan sepanjang rute signifikan. Kulalui dengan apresiasi, kulaluii dengan kegembiraan, melewati suasana seharian penuh melintasi jalan-jalan penuh pesona.

Sungguh sebuah traveling yang menyenangkan, melewati kawasan Pml, Rdk, Gc, Mg, Prbl, Bjn, Wns dan kembali dengan semangat yaang sama, semarak dan memuaskan semua walau selimut malam telah membentang. Ya, tentu saja letih namun masih dapat dibungkus dengan rasa puas dan riang hati, sepanjang jalan bertutur kalimat, beradu argumen dan memberikan cakrawala pandang tentang nilai kebesaran alam, keramahan alam, dan kedigdayaan yang dimililkinya.

Kukatakan dengan ketus pada semuanya, bahwa makna perjalanan ini adalah mencoba memahami nilai kebesaran itu dan memperteguh khasanah aqidah bahwa ciptaanNya sungguh Maha banget, Hebat banget, Wonderfull banget, dan pada semua itu terdapat personifikasi yang pantas untuk disematkan dalam ruang hari dan kamar sanubari, yakni menambah rasa tahu diri yang sebenarnya.
*****

Bergabung kembali setelah di etappe lalu memisahkan diri dengan konsentrasi masing-masing. Dan ketika bersua, jabat tangan dan senyum full color melukis suasana, riang, penuh canda dan biasalah selalu ada yang menjadi headline atau highlight. Maka cuaca Sabtu adalah suhu terbaik yang dimiliki selama sepekan ini ketika dipertemukan dengan hati dan asa. Campurannya adalah menandatangani kesepahaman pada nilai kebersamaan dengan keinginan untuk sampai di titik jalan akhir.

Pada sebuah senyum, gairah yang dikumandangkan adalah menyanyikan syair-syair modul yang menjadi bahan bacaan berikutnya. Kusimak dengan semangat diri sembari berharap akan mampu mencernanya sebagai etappe terakhir dari sekian yang telah kulalui sampai di batas ini. Paling tidak aku telah sampai di sudut batas dengan satu kayuhan lagi tiba di seberang cemerlang, moga-moga.
******

Kalaupun harus dilalui, jalannya adalah meluruskan sikap dan tidak ingin menatap mata elang yang telah menorehkan kerikil pada anak tanggaku. Kepastian untuk menjalani itu adalah bentangan hasrat yang bermain di seputar argumen untuk menjelaskan duduk cerita tanpa harus menjelaskannya lagi.

Pelajaran adalah membuka halaman baru namun bukankah halaman lama juga bagian dari cerita itu sehingga tetap saja akan menafsirkan cerita tanpa jeda dan rehat sejanak. Bukankah paku yang pernah dihunjamkan pada sebuah pohon ketika dicabut tetap saja masih ada bekas tusukan itu. Bukankah penceritaan itu telah menghunjam titik ulu hati dan kemudian dinyatakan sebagai sebuah hal yang biasa padahal menjadi luarbiasa, lalu ada permintaan untuk tidak melanjutkan, lalu ada jabat dan peluk, bukankah itu menandakan keluarbiasaan yang senantiasa diproklamirkan sebagai arogansi berwajah ganda.

Pesan Bunda yang terngiang adalah : luruskan saja sikap dan langkahmu, bukankah itu adalah nilai yang hendak diujikan pada titik dimana engkau harus menyelesaikannya dengan ketegaran diri. Ya, benar, dan kebenaran adalah definisi yang tak akan pernah ditolak pada moral sanubari dan senantiasa dinyatakan dengan penjelasan kamar hati yang berbisik di tengah malam.

Dan halaman berikutnya adalah memastikan tataran diri tidak lagi bermain dengan pasir di pantai, tidak lagi memompakan pemberdayaan, tidak lagi menyenandungkan lagu, tidak lagi memainkan biola, tidak lagi menyatakan warna. Sudah habis bab yang ingin dibaca, sudah habis baris yang hendak digaris, sudah habis cerita yang hendak dicoret.

*****
Rinjani itu indah
Ketika matahati mampu menjelaskannya
Dengan seratus delapanpuluh derajat sudut pandang
Indah
Mempesona
Melambai
Kotaku
Jarang kunikmati
Menafsirkan suasana bathin
Bahwa pemandangan adalah karunia
Bahwa view adalah anugerah
Dan penjelasannya di bilik hati
Dan penceritaannya di kamar sanubari
Dan pencuciannya adalah birunya langit
Dan pencerahannya adalah hijaunya pandang
Rinjani itu indah
Walaupun matahari menjelaskannya dengan terik
*****

Friday, June 15, 2007

Hujan Hati


Hujan hati adalah mengalirnya sejumlah ungkap
Hujan hati adalah mengalirnya sejumlah bait
Hujan hati adalah mengalirnya limbah umpat
Hujan hati adalah mengalirnya bening air
Hujan hati adalah mengalirnya baris rasa berbanjar
Hujan hati adalah mengalirnya adonan hasrat menimang
Hujan hati adalah mengalirnya aneka warna merona merah
Hujan hatiku adalah mengalirnya semua rasa yang membunga
****

Tidak Lagi

Tidak lagi untuk dipersamakan
Tidak lagi untuk dipersandingkan
Tidak lagi untuk dipersembahkan
Tidak lagi untuk diungkapkan

Apapun itu
Kesetaraan adalah adalah nilai terdepan
Bahwa kemudian di persimpangan ada restriksi
Itulah bagian dari ketidaksamaan yang engkau bangun
Itulah bagian dari ketidaksamaan yang engkau katakan
Itulah bagian dari ketidaksamaan yang engkau sumbangkan

Tidak lagi
Walaupun setangkai bunga engkau kirimkan
Walaupun sebungkus kado engkau bingkiskan
Walaupun sepucuk kalimat engkau ulang-ulang
Walaupun segenggam senyum engkau limpahkan
Tidak lagi
Tidak akan lagi
****

Adalah Itu

Cerita tentangmu adalah mengais tentang kebersahajaan yang disandingkan dengan pengertian yang luar biasa tentang nilai perekat kekuatan personal. Aku rasakan itu manakala menjabat erat kedekatan yang dibangun dengan sentuhan kerapihan nuansa dan sinar mentari jam sepuluh. Hangat, menyenangkan sekaligus juga mampu menyentuh ranting ruang berkoridor luas. Apakah kemudian nilai yang dibangun menjadi hipotesa atau menjadi analisis kuantitatif tidaklah dalam konteks sama dengan atau sama dan sebangun. Ruang yang dibentang adalah berupaya menemani dan menjalani semuanya based on aplikasi, tidak sekedar wacana bertemakan analisis pengaruh kehangatan mentari jam sepuluh terhadap kebugaran diri.
Bukankah sinar mentari jam sepuluh cukup menghangatkan
Bukankah sinar mentari jam sepuluh cukup menyinarkan
Bukankah sinar mentari jam sepuluh cukup memberikan keringat
Bukankah sinar mentari jam sepuluh cukup menggairahkan
Adalah itu jua yang menjadi cara aku memandang jalan-jalan lintas personal ketika terminal di hadapan memberikan nilai kesejukan, tanpa harus memakai jaket, tanpa harus memakai selimut, tanpa harus menebalkan baju. Adalah itu jua yang menjadi ruang waktu ketika aku menimbang dan menimang asa, rasa dan nada. TIdaklah selalu harus menyatakan hasrat manakala kesamaan pandang dan cara sudah memberikan nilai perekat itu. Dan itu jua yang menjadikan cerita menjadi jalan-jalan sepanjang jalan, jalan-jalan sepanjang rasa.
*****

Tuesday, June 12, 2007

Catatan Bening


Bening itu adalah kedamaian
Bening itu adalah kepasrahan
Bening itu adalah ketulusan
Bening itu adalah kejernihan

Selasa bening adalah menjalankan langkah dengan kepastian diri bahwa niat yang dibungkus ketika mengucapkan salam dan meninggalkan halaman untuk kemudian memasuki ruang adalah anak tangga yang mampu menjelaskan makna niat yang dikumandangkan. Untuk berlaku dan berlakon dengan be carefully dan sekaligus memastikan untuk never again pada sejumlah tanya, pada sejumlah ajakan, pada sejumlah harapan, pada sejumlah bilangan hari. Karena sikapku sudah jelas, ingin menghitung hariku sendiri dengan langkah bening.

Tidak lagi untuk memproklamirkan sentence atau apa yang menjadi evidence ketika pengumuman sudah menjelaskan makna dan langkah. Tidak lagi menjual, tidak lagi menjaja, tidak lagi berjemur, tidak lagi memutar lagu atau apapun. Tidak lagi untuk menghitung langkah. Aku hanyan ingin langkahku bening, itu saja.
*******

Monday, awal hari kumulai dengan kesibukan untuk menyemai rangkaian pekerjaan yang masih terputus, berkonsentrasi dan mengambil peran lebih khusyuk untuk menjalankan penyelesaian. Aku harus menyelesaikan target yang menjadi bagian dari layout itu, maka bergegas aku untuk mendapatkan finishingnya dan walaupun belum selesai setidaknya menjadi bagian dari kesibukan itu.

Dan berjalanlah hari
Dan berjalanlah nadi
Dan berjalanlah inspirasi
Dan berjalanlah hati
Dan berjalanlah suasana
Dan berjalanlah matahari
(Tak terasa senja menghantar kepulanganku, letihpun mengguyur sekujur).

******

Sepanjang malam tadi menyapu pantura yang ramai dan pagi ini mencapai kota kembang yang bening, menjumpai bunda dan memberi setangkai bunga untuknya. Ya, bunda kusempatkan untuk menjengukmu yang renta untuk menghapus rindu, untuk membeningkan hati, untuk membeningkan rasa, untuk membeningkan dada.

Betapa rangkaian kalimatmu yang kugenggam dan kuikat sebagai bekal, agar hati ini selalu putih, agar hati ini selalu jernih, agar hati ini selalu bening. Kalimatmu yang terukir adalah agar memandang semua handicap sebagai penyemangat jalan. Tidak harus diopeni apa yang menjadi cara pandang orang, yakini saja dengan hakekat dan nikmat kehidupan yang diberikanNya pada kita. Betapa sejuk, betapa bening lantunan kalimat itu sampai dan terbungkus di telinga mata hatiku.

Kota bening, kembang bening, hati bening, dan perjalanan pulang dengan Harina memberikan kelegaan pada udara hati dan mampu memulaskan tidurku sampai menjelang tiba.
*****

Menjalani aktivitas dengan fokus penyelesaian exam dan tentu saja dengan berupaya merengkuh beningnya sinar Sabtu akhir pekan yang mencerahkan. Kuselesaikan semuanya dengan semangat bening, dan melanjutkannya dengan percakapan bening, melayani guyonan teman dengan kacamata bening, untuk memberikan suasana yang mampu memberi semangat hati ini.

Perjalanan bening adalah mengkaitkannya dengan irama hati pada perjalanan yang mengesankan, yang membungakan, yang membahagiakan, yang membeningkan dengan merengkuh, dengan meraih perolehan pada sambutan yang bernilai bunga dan menafsirkan liku-liku inner city bersama keyakinan diri.

Duh, betapa ada yang mampu bersinar
Duh, betapa ada yang mampu bercahaya
Duh, betapa ada yang mampu bersahaja
Duh, betapa ada yang mampu bercerita

(Thanks to all fren yang mampu membagi kebersamaan dalam langkah menguji kemampuan cerdas kita. Semoga menjadi sarana untuk lebih rapat lagi dalam menjalin silaturrahmi)
******

Banyu Bening menghantar kehadiran ketika matahari menjelang titik tertinggi Jumat Siang ini, dan perjamuan ini adalah perlambang, adalah ikatan, adalah penyambung, adalah pemanis rasa. Lebih dari itu, juga adalah pengantar catatan bening. Ya, harusnya kunikmati lunch siang di keteduhan dan keceriaan, membagi cerita, membagi suasana, dan berbagi warna. Beningnya banyu bening mampu membeningkan ruang, mampu membeningkan kamar, mampu membeningkan wajah dan tentu saja ketibaan ini bukanlah sesuatu yang sia-sia melainkan sebagai bagian dari rancangan yang lebih sering tertunda.

Maka mengalirlah ungkapan
Maka mengalirlah visualisasi
Maka mengalirlah celoteh
Maka mengalirlah bait kata berikat lagu tubuh

Kedekatan itu menjadi bukti bahwa pertemanan kita adalah ikatan yang menjalin nilai silaturrahmi pada sejumlah titik yang kita lewati bersama. Dan anugerah itu layaknya sebuah reward bagi terciptanya suasana saling memahami, saling mengerti dan saling menjaga. Kuhirup saja udara banyu bening, tanpa harus tergesa-gesa karena ingin menikmati suasana yang membeningkan ini, membeningkan mata hati, membeningkan rasa hati.
*****

Friday, June 08, 2007

Puisi Pekan Lembayung

Puisi Pekan Lembayung (4)

Menikmati pernik dengan catatan tanpa koma
Menikmati keniscayaan tanpa harus menyingkap asa
Menikmati alunan tanpa harus memiliki syair
Menikmati syair tanpa harus memakai bait

Kepastian adalah jawaban atas segala penilaian
Dan itu tidak berarti menjadi garis angka atau huruf
Apapun itu, adalah titik tanpa lanjutan
Apapun itu, adalah terminal tanpa lanjutan
Apapun itu, adalah halte tanpa sambungan simpang

Dan tidak usah lagi disinari ungkap dan ucap
Dan tidak usah lagi dicahayakan dengan senyum lapis legit
Dan tidak usah lagi dihangatkan dengan kalimat bersayap
Dan tidak usah lagi diceritakan dengan tembang penyejuk

Pada sejumlah kisah
Pada sejumlah bab
Pada sejumlah paragraf
Pada sejumlah pasal
Sudah tertera materai penegasan
Untuk apa lagu dilantunkan
******

Puisi Pekan Lembayung (3)

Secerah apa yang ingin dibuktikan pada sejumlah hari
Meskipun terik mampu menghantarkan keringat tengah hari
Tak kan lagi menyatakan hasrat untuk dilombakan
Takkan lagi menyatakan tekad untuk bertahan di ruang pengap
Tak kan lagi mengumumkan aura rasa dibungkus kembang mawar

Tidak lagi
Pada apapun sejumlah kalimat yang dihantarkan
Pada sederet kisah yang bertuliskan rasa yang begitu dalam
Pada biru langit
Pada biru angin
Pada biru nadi
Pada biru catatan hati

Tidak lagi
Pada apapun yang terlontarkan dari manisan pace
Pada segelas teh manis hangat yang dihidangkan
Pada sebungkus kado yang dibingkiskan
Pada sebongkah prasasti yang diumumkan
Tidak lagi
(Dan aku memilih untuk berkemas)
(Dan aku memilih untuk berangkat)
*******


Puisi Pekan Lembayung (2)

Kita pahami sebagai anugerah
Kita pahami sebagai gumpalan kelabu
Kita pahami sebagai ungkapan nada
Kita pahami sebagai riak menuju pantai
(Aku hanya membisu dan mendengar)

Apakah sejauh itu penafsiran yang dibuktikan
Bukankah sejalan hari ada haru dan hore
Bukankah sepanjang hari ada haru dan hore
Bukankah sedalam hati ada kehati-hatian
Bukankah sebesar asa ada ruang untuk rasa
(Kukatakan itu pada sosok yang berhati emas)

Biarlah, katanya
Toh ada yang menjanjikan cerita bersambung
Toh akan menjadi bagian dari bab penulisan
Toh akan menjadi paragraf garis tebal
Tanpa harus dicatat ulang
Tanpa harus dicat ulang
Tanpa harus diulang
(Sejumlah nada pun dikumandangkan)
*******

Puisi Pekan Lembayung (1)

Hanya sejumput itu
Pada kalimat yang terlontarkan
Pada seraut yang terdampar
Pada segenggam kepal yang menggumpal

Hanya sebatas itu
Dan mentari lembayung menyapa
Tak perlu diberi awan
Tak perlu diberi hujan
Tak perlu diberi ombak
Tak perlu diberi bayu

Hanya sejengkal itu
Dan menorehkan asa biru malam
Tak jua menyapa hati
Tak jua mengetuk pintu
Tak jua menyemarakkan kata

Wajah itu
Adalah rona yang menggelembungkan
Adalah garis yang menyiratkan gundah
Adalah coretan yang menyapu nadi
Adalah yang tak tertumpahkan
Ketika sendu memeluk diri
******

Friday, June 01, 2007

Betapa, Ternyata

Titik Tuhan itu kucerdaskan lagi ketika Jumat pagi ini menghadiri tausiah bersama ustad terkenal yang berceramah di sekolah ternama kota ini, sekalian melunaskan undangan yang disebarkan. Bahwa matematika Tuhan yang dijelaskan adalah bagian dari pembelajaran sanubari bahwa tidak semestinya kita berkiblat pada asas ruang pandang eksakta seperti misalnya 10-1 itu tidak harus sembilan, bisa jadi sembilan belas.

Dan itu hanya bisa diyakini ketika kita mengapresiasikan dengan keyakinan bahwa nilai berkah dan manfaat dari kacamata aqidah adalah kemutlakan yan akan menjadi pijakan bekal. Ruang mimpi yang sering digelar pada saat kita tidur pulas adalah bagian dari pembelajaran rohani bahwa ada alam bawah sadar yang berada di luar kontrol untuk meyakini kita bahwa nilai kehidupan itu adalah dalam rangka fastabiqul khoirot.

Apakah kita yang diberi kesempatan hidup ini memiliki raga yang dibungkus ini, jawabannya adalah tidak. Jika ya, buktinya adalah kita tidak bisa mengontrol denyut jantung kita, kita tidak mengatahui proses pencernaan di tubuh kita, semuanya berjalan otomatis dan sudah berproses sendiri. Tak sadar jua kita setiap saat menghirup oksigen gratis, tanpa diatur dan gak pernah lupa. Ya kalau lupa bisa game dong dan itu satu bukti bahwa kita hanya diberi pinjaman.

Subhanallah, betapa nestapanya aku
Subhanallah, betapa papanya aku

******
Menyeterika hari dengan konsentrasi membuat yang 40 halaman itu sekaligus mencoba memahami hakekat dan analogi yang disimak. Kucoba mencernanya dengan semangat penyelesaian dan kalau boleh jujur belumlah maksimal yang kuperoleh dan kudapatkan setidaknya sampai Kamis ini.

Namun hari juga akan menjelaskan nantinya, bahwa pola yang hendak dipatrikan adalah berupaya memahami konten dengan berjibaku sendirian, mengerjakan sendirian, memahami dengan keyakinan, bahwa ini adalah bagian dari penambahan itu yang seharusnya memang dikunyah sendiri.

Ketika aku sedang asyik dengan panorama ini barulah kuyakini ternyata memang asyik juga menjelajah paragraf demi paragraf dan menjalinnya dalam satu kesatuan yang setidaknya mampu membuat aku puas hati dan berkeyakinan untuk bisa mempertahankannya kelak. Bahwa ketika belum dimulai dan malas untuk memulainya adalah handicap yang akan terus menghalangi. Dan hanya dengan modal pede dan keyakinan semuanya dapat dijalankan dengan semangat ”aku harus bisa maka aku harus kerjakan”.

Dan ternyata demikian lancarnya aliran yang mengalir
Dan ternyata demikian luasnya adonan yang dilumuri
Dan ternyata demikian asyiknya bercerita dengan rasio neon
Dan ternyata demikian cerdasnya kalimat yang digariskan
******

Wednesday, May 30, 2007

Bunglon Banci

Menjelajah ring road kota sekedar memastikan apakah ada yang berubah, dan tentu saja ada yang gak sama, ada yang baru, ada yang tetap kumuh, ada yang berlubang, ada yang mulus. Sepenggal waktu itu mengisyaratkan adanya kebutuhan untuk menafsirkan sekaligus memperbesar ruang pandang, agar mampu menjelaskan titik simpul yang belum mampu diurai sampai hari ini.

Belum mampu diurai selain menjelmakannya sebagai gumpalan gemuruh untuk ditumpahkan pada sosok yang harus digelontor dengan deterjen gebrakan. Tunggu saat yang tepat sampai semuanya dapat dibayar dengan hukum jual beli yang diproklamirkan sepihak. Banyak cara untuk menjelmakan itu, dan sangatlah mudah untuk menggelontornya ke dalam kondisi basah kuyup dan sekaligus menghajar nalurinya untuk menguji nyalinya yang ternyata hanya mampu kukuruyukk tapi tak punya taji untuk menguji.

Lempar batu sembunyi tangan
Adalah lambang banci isme yang dimilikinya
Merasa bertambah kekuatannya
Ketika ada supporting bermental bunglon

Tapi ternyata hanya bermain di argumentasi
Hanya sampai disitu
Wajah pucat pasinya adalah bukti
Bahwa ternyata hanya mampu kukuruyuuk

(Dan jalan cerita yang harus dikumandangkan adalah bahwa semuanya harus dijelaskan dengan berbagai cara sampai berdarah sekalipun karena ini adalah harga diri, harga mati, harga martabat, dan diamini oleh handaitolan. Tantangan harus dihadapi dengan berbagai cara sekaligus memecah gumpalan gemuruh).
*****

Tuesday, May 29, 2007

Adrenalinku

Perilaku tidak etis dan berkepanjangan mesti dijawab dengan ketenangan dan membiarkannya dengan peran ”bancinya”. Dari beberapa referensi yang kudapat sifat banci itu adalah lambang kepengecutan dan susah menebak kelamin yang sesunguhnya dan dampaknya jelas, tidak menghormati sunatullah seperti misalnya mencari pasangan untuk berbagi cerita dan berbagi masa depan.

Tetapi kesabaran itu bisa meluap menjadi titik didih ketka keliaran dan kezaliman berkedok bancinya itu menantang diri untuk beradu jantan. Ya tentu saja harus dijawab dengan hal yang sama, namun kenyataannya mirip seperti ayam sayur, pucat pasi, dan diam terpaku. Jadi kesimpulannya ya benar-benar banci.

Tetapi karena ini menyangkut harga diri dan kehormatan, tentu tidak sampai disitu ceritanya, Maka episode berikutnya adalah menjelaskannya pada handai tolan untuk mengambil langkah mempertaruhkannya untuk setiap tataran langkah sampai dia basah kuyup.

Ali Imran 120 menjelaskan : ”Jika kamu bersabar dan bertaqwa niscaya tipu daya mereka tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu, sesungguhnya Allah mengetahui apa yang mereka kerjakan”.

Dari titik simpul itu, selama ini aku berangkat dan berupaya untuk menetralisir semua tingkah laku non etis yang kemayu itu. Ternyata hanya sampai di sisi itu kadar adrenalinnya, sudah terlanjur basah, dan harus diberikan pelajaran sampai tuntas dan lunas.
****

Monday, May 28, 2007

Kalau Saja

Senin itu indah
Dan matahari pun menyambut dengan senyum
Apakah kemudian hati juga mempertaruhkannya
Apakah kemudian hati juga memperjelas ceritanya

Ya
Kalau saja cerita tidak berkepanjangan
Sebeningnya ingin kurasakan kejelasan cerita
Seputihnya ingin kusimak harmoni angan
Sejernihnya ingin kubacakan testimoni

Bukankah kesetaraan yang dijunjung pada sketsa
Bukankah kesetiaan yang dijunjung pada kebersamaan
Bukankah kesetiaan dan kesetaraan yang dibangun bersama
Bukankah itu yang menjadi cerita sepanjang jalan

Ya
Kalau saja tidak kudengar itu
Matahari pun akan kusambut dengan pelukan
Rembulan pun akan kusambut dengan dekapan
Kalau saja..........

****

Sunday Happy and Busy

Sunday is busy, setidaknya isian hari yang kudekap bersama rencana yang ditulis hati. After Subuh jjp (jalan-jalan pagi) bersama my wife menuju kawasan spl yang ramai itu, rutenya sampai Trlj yang penuh sesak, kayaknya ada seremoni tsel gitu, sampai akhirnya beli jajanan yang kugemari saban minggu, ya itu kue cucur warna coklat.
Berkeringat, memang itu yang dicari, bukankah keringat mencerminkan adanya pembakaran dan itu artinya ada yang dibakar, ya lemak, ya kolesterol, ya asam urat kalee. Yang jelas ada kebugaran, ada keafiatan, ada kesegaran. Aku menikmati kebugaran yang berkeringat itu.
After that, biasalah bersih-bersih jadi cleaning service, kemudian mempersiapkan naskah dan konsep untuk diselesaikan, lumayan juga tebalnya tapi aku yakin bisa kuselesaikan. Tapi melayani tamu yang datang juga perlu waktu, tanpa rencana, dan harus dilayani, apalagi yang datang sahabat dekat yang baik yang ramah. Dan ngajak lunch bareng, oke-oke saja dan kita nikmati bersama.
After that lagi, to office and campus, dua-duanya penting untuk dijalani, berkutat menyelesaikan TM yang harus finis sore ini. Selesai, lega, capek tapi menyenangkan. Begitupun masih menyempatkan diri "mengasuh" kebun bunga, membersihkan dan merawat, sebuah kesibukan yang menyenangkan mengisi hari bersama bunga di taman bunga.
*****

Saturday, May 26, 2007

Coretan Akhir Pekan

Sabtu yang menyenangkan, berbagi, bercengkerana, bercakap, berdiskusi baik yang formal maupun non formal. Semuanya dirangkum dalam kahadiran di cerita akhir pekan bertemu dengan rekan college, berbagi bahan, berbagi suasana dan menceritakan tentang situasi two week yang gak ketemu.
Apa kabar
Baik aja
Salaman
Bagi Senyum
Renyah
Ada yang baru
Lunch bareng
Menyapu sudut ruang
Tertawa lagi
Ramai lagi
Hilang letih
Ganti warna
Siapa dia
Ah peduli amat
******
Mensinkronkan antara rasa dan rasio itu kadang memerlukan rekonsiliasi untuk saling berbaikan waktu, seperti misalnya, rasaku ingin merehatkan diri sementara rasioku ingin menyelesaikan sisa yang harus dituntaskan sebagai take home yang dead linenya sampai Juma sore ini.
Dan rasaku harus mengalah dikit, karena itu kutuntaskannlah dengan segala kemampuanku untuk menyelesaikan take home dengan semangat yang hampir lunglai karena rasa menginginkan rileks. Dengan stimulan yang dipaksakan akhirnya menjelang rembang hari selesailah setelah berjibaku dengan waktu selama pekan ini. Puas, letih dan melegakan dicampur jadi satu dan kuminum bersama juice senang hati. Tidur pun lega dan tinggal menunggu hari menjelang pagi.
*****
(Thanks to Yn, berbagi cerita dengan bungkusan canda dan kedekatan memberikan kehangatan pada hati yang pengen rehat ini. Makasih again, sungguh sangat menyenangkan).
(Thanks to Wl, janjiannya tomorrow aja, sekalian silaturrahmi untuk kesetiaan pertemanan kita, See you next).
*****

Thursday, May 24, 2007

Angan dan Harapku

Mengapa gak muncul tulisannya lagi, kata seorang rekan Purel, maka jawabku adalah lagi nabung tulisan, sekalian berancang-ancang untuk go external, apalagi kalau berada di ruang yang sama, kataku. Maksudnya di medan yang sama adalah sesuatu yang maksimal untuk mengembangkan gelombang talenta ini.
Angan dan harapku seperti itu, setidaknya berada di lingkungan yang memiliki persepsi sama, diskusi sama, cara pandang sama, cara bahas sama dan memberikan nilai maksimal pada kemampuan untuk berbagi peran. Sepanjang ini, bagiku tidaklah mencapai titik optimal ketika harus berhadapan dengan setting beda, belum lagi sudut pandang yang menganggap tidak fokus.
Keinginan dan harap itu semogalah akan disampaikan oleh angin sepoi yang malam ini menghampiriku sembari membisikkan : "ciptakanlah terus tanpa harus mengedepankan area rutinitas. Aku akan sampaikan asamu itu ketika aku singgahi sejumlah pohon dan kebun bunga, percayalah".
Bukankah nilai yang dibangun adalah memaksimalkan peran yang diemban dan sekaligus membuktikan betapa semua itu adalah mengekspresikan kembang hati yang setulusnya ingin membuktikan bakti, di ruang rutinitas, di luar rutinitas, di ruang angan, di ruang harap, di ruang gelap sekalipun.
Dan Tuhan pun tahu tentang bukti bakti yang kukisahkan dengan sejumlah lagu bahasa, tembang paragraf dan nyanyian apresiasi tanpa harus mengumumkannya. Ujiannya itu adalah ketegaran pada sejumlah "catatan autis bathin" yang dibungkus dengan arogansi pada sinar mata elang dan dikumandangkan dengan wajah dengki. Autis bathin itu adalah iri dan khasad yang lebih berbahaya dari autis zahir. Kata-kata bunda yang masih terngiang adalah : "biarkan dia, toh akan menjadi kebangkrutan pada nilai dirinya sendiri". Kunci jawabannya adalah Innalloha maashobiriin.
*****

Wednesday, May 23, 2007

Siraman Itu

Siraman itu sungguh mencerahkan, seperti mengusir arak-arakan awan yang menutupi langit biru, langit hati. Ya, sangat menyentuh ketika berbagai ucap dan lantun salawat mampu menggetarkan hatiku. Nasehat dalam Binroh bulanan itu mampu mengajakku untuk berdamai dengan hati, bersalaman dengan nurani dan mengajaknya untuk memutihkan langkah.
Langkah yang Engkau atur tanpa harus diumumkan adalah bagian pembelajaran pada diri untuk menjalin dan menyulam nilai istiqomah dan disejukkan dengan penyemaian hati pada sekotak asa yang masih ada dan setia. Begitu dalamnya makna yang disampaikan itu sampai-sampai membuatku berkaca hati dan menekuninya bersama kesyahduan dan mengembunkan sinar mata beningku.
Terimakasih Tuhan, ada hal yang selalu mengejawantahkan nilai kasih sayangMu ketika memberikan pelajaran pada nilai, pada hakekat, pada dinamika, pada perjalanan diri, pada perjalanan hati, bahwa tanda-tanda kepiawaianMu dalam mengajarkan hati hambaMu adalah sentuhan pada bilik hati untuk menggapai nilai kembali pada kesejatian diri. Betapa aku merasakan sebuah pelajaran pada nilai ujian perjalanan tanpa nomor soal. Engkau adalah anugerah yang memberikan nilai kasih itu pada kedalaman firmanMu, menggetarkan nadi hati dan bersimpuh pada sudut bening airmata.
Tuhan, betapa dalamnya nilai yang Kau berikan itu
Tuhan, betapa kasihnya rahman yang Kau bisikkan itu
Tuhan, betapa indahnya pelajaran itu
******

Tuesday, May 22, 2007

Aku Ingin

Aku ingin membumikan keniscayaan itu
Dan mengunyahnya bersama permen keprihatinan
Dan mencernanya bersama berita air mata
Dan menerimanya bersama garis diri

Aku ingin membumikan keangkuhan itu
Dan menceritakannya bersama kisah sketsa
Dan memberitakannya bersama kesamaan peran
Dan menggariskannya bersama hakekat diri

Aku ingin menjalani keniscayaan itu
Dan melipatnya bersama kesementaraan fana
Dan mengguntingnya bersama patron sikap
Dan menyeterikanya bersama keyakinan diri

Aku ingin jalani itu
Bersama perjanjian yang sudah kudengungkan
Bersama persetujuan yang sudah kuikrarkan
Testimoninya adalah hari-hari bersama hati
****
(Makasih ya Pa, kata si Ragil ketika yang diingininya kupenuhi di Grm. Sebuah kalimat yang mampu menyentuh relung dan menghangatkan kamar hati).

Monday, May 21, 2007

Perjanjian Dengan Hati

Perjanjian dengan hati
Mengisahkan tentang bening air
(yang ingin kukecup)
Menceritakan tentang pelangi
(yang ingin kuhirup)
Memberitakan tentang persimpangan
(yang ingin kuselesaikan)
Mengikrarkan tentang hakekat putih
(yang ingin kupeluk erat)
Membacakan tentang syariat
(yang ingin kulafal dengar)
Menuliskan tentang sinar jalan
(yang ingin kulalui dengan teguh)

Semoga menjadi bening
Semoga menjadi puitih
Semoga menjadi erat
Semoga menjadi bersinar

Terimakasih Tuhan
Engkau telah menjelajah relung hati ini
Dan sekaligus memberi catatan pada riak hati

(Thanks to Wl, perhatiannya sungguh menggugah, semoga menjadi catatan berkah bagi cerita kehidupanmu)
(Thanks to My, bagi-bagi yang belum selesai setidaknya meringankan beban yang harus dilahap, bertahap diselesaikan, gitu kan).

*****

Sunday, May 20, 2007

Long Weekend di Hospital


Perjanjian dengan hari adalah mengupayakan untuk mengisinya dengan sejumlah catatan. Dan catatan long weekend ini adalah bermain di teritori Hospital, selama libur panjang, menunggu, merawat, menceritakan, memberian nilai kasih yang lebih kepada si ragil yang harus terbaring.

Kunikmati suasana ini sembari merenungkan hakekat perjalanan
Kujalani libur panjang dengan mendengarkan dan menceritakan
Kuisi hari-hari dengan membuka bacaan, dan menjelaskannya pada rasio
Kugenapi langkah-langkah perjanjian dengan hari untuk bermain di hospital

Perjanjianku dengan hari adalah
Menyelesaikan draft untuk memastikan
Menulis catatan yang belum diselesaikan
Merenungkan pelangi sehabis hujan
Mengecup kening dan pipi si ragil tersayang
Menceritakan tentang rasa sayang itu padanya

Lekas sembuh ya sayang
Aku ingin dengarkan celotehmu yang berisik itu
Aku ingin mengganggu ketekunanmu yang fokus itu
Nanda, adalah kebanggaan yang mampu menerangi
Sejauh apapun nilai yang engkau paraskan
Pada bundar wajahmu yang menggemaskan itu
*****

Wednesday, May 16, 2007

Mon, Tue, Wed

Nanda harus dirawat inap ya, ujarku sambil mengusap kening si ragil yang kelelahan dengan panas yang tinggi. Sejak pagi aku harus wira wiri mengunjungi dokter lalu ke lab yang kedua kali dalam duapuluh empat jam ini dan hasilnya Rabu petang ini memang harus masuk RS. Dan kekuatan si ragil untuk menanggung dua jenis sakit itu sungguh menakjubkan, termasuk Dokter sendiri yang mengatakan. Kadang aku guyoni juga dia bahwa sakit itu perlu agar bisa ngurangi berat badan dan sebagai koreksi bahwa pola makan perlu diatur. Dia yang tomboy itu hanya tersenyum tipis dan memukul-mukul lenganku dengan manja.

Beristirahat ya sayang, kataku sembari mendoakan kesembuhannya. Padahal sesungguhnya liburan panjang ini akan diisi dengan traveling dan kunjungan silautrrahmi, namun semuanya harus dibubarkan dan diganti dengan kegiatan mengawal si ragil yang lincah ini. Semogalah lekas sembuh, untuk beraktivitas kembali, untu meramaikan kembali suasana rumah, untuk menyemarakkan kembali dinamika keseharian yang menyenangkan.

Betapa nanda sangat menyenangkan hatiku
Betapa nanda sangat membanggakan asaku
Betapa nanda sangat membahagiakan nadiku
Betapa nanda sangat mewarnakan hari-hariku
******

Aku berupaya mengejar target, maksudnya ada timer yang telah kuplanning dan harus kuselesaikan this week. Maka secuil waktu yang ada di Selasa ini kucoba membukanya dengan mengerahkan segala kekuatan daya pikir untuk menyelesaikannya. HRP yang menjadi judulnya, untungnya adalah aku dapat menginventarisasi masalah dan problemnya sehingga hanya memoles bagaimana tampilan terbaik yang harus dikedepankan.

Aku memang lagi konsentrasi untuk memacu dan menyelesaikan karena aku tidak ingin ketinggalan, aku ingin selesai maka secara bertahap dan terukur aku harus selesaikan dengan mencuri secuil waktu yang ada. Menariknya adalah ini bagian dari proses lay out, dengan mencoba menggali dan menggali. Kalau hanya sekedar bermain di highlight, kayaknya bukan tipe aku. Aku ingin memahami dan mengapresiasikannya dengan segenap upaya dan olah pikir terlepas dari perolehan nilai yang kudapat.

(Si Ragil kurang fit, maka siang ini kubawa ke dokter, kubawa ke lab, sepertinya sakitnya agak serius, kukompres keningnya, duh betapa kuatnya kamu menahan panas tinggi itu. Nanda yang besar lincah, tergolek dan aku menemaninya dengan cerita-cerita yang menyenangkan hatinya sepanjang malam).
*****

Banyak yang harus keselesaikan sepanjang pekan ini setidaknya ada di pola perencanaanku. Tentang tugas rutin yang mulai menumpuk, tentang materi college yang makin menimbun, tentang aktivitas traveling menyambut long weekend. Rencana traveling kali ini adalah membuka rute baru menuju Pct dan Trg. Maka kusiapkan semua, kurembugkan semua, memilah hari, menyelesaikan sesuai jadwal, dan urutan skala prioritasnya.

Sepanjang Senin ini prioritasnya adalah menyelesaikan yang tertinggal sembari meneruskan tulisan HRP yang sudah mulai menemukan bentuknya. Sibuk juga kelihatannya, tapi mengisi hari dengan semangat adalah bagian dari pencapaian yang harus diselesaikan itu. Aku selalu ingin seperti itu.
*****

Sunday, May 13, 2007

Berbagai aktivitas mengisi Ahad yang cerah dan menyenangkan ini. After subuh sudah sibuk menjadi cleaning service, bersih-bersih, apa aja dibersihkan, ya mobil, ya teras, ya bunga. Terus punya hobby baru main basket alone, maksudnya main sendiri memasukkan bola ke keranjangnya yang memang kupasang di depan rumah. Lumayanlah untuk menambah aktivitas fisik yang mengalirkan keringat pagi.
After that, memulai kegiatan Take Home yang menjadi tugas sepanjang pekan, menyelesaikannnya dengan semangat untuk selesai. Banyak tugas yang harus rampung next week sehingga perlu dicicil. Aku memang lagi fokus untuk konsentrasi yang menjadi pilihanku dan waktu akhir pekan adalah saat yang tepat untuk memacunya. Ya moga-moga aja mendapat value yang memuaskan, buat sendiri, upaya sendiri, sibuk sendiri, gak papa, yang penting hasil sendiri.
After that again, menikmati jalan-jalan siang menjelajah pusat perbelanjaan menepati janji pada si sulung yang terus menagihnya, buy several, menikmati camilan, menjelajah lagi dan kembali dengan semangat tetap konsentrasi pada tugas tadi. Maka kulanjutkan lagi, kunikmati lagi sampai senja menyambut.
Aktivitas malam, menghadiri pertemuan rutin warga, biasalah, menyapa, menjelaskan, diskusi, adu argumen, membuat rancangan program, disetujui dan ditindaklanjuti. Memang sejauh ini kerukunan itu adalah kunci dari musyawarah dalam bentuk yang menyenangkan. Tak terasa sudah menjelang tengah malam.
****
Sabtu penuh
Penuh ruang
Ruang pikir
Pikir exam
Exam beragam rupa
Rupanya menyenangkan
Menyenangkan untuk dijalani
Jalani aja sampai senja
Senja datang dan pulang
Pulang sembari menghitung
Menghitung nilai yang didapat
Didapat kepenatan yang jenuh
Jenuh dengan catatan hari
Hari menjelang malam
Malam berakhir pukul 2100.
****
(Met menempuh hidup baru ya fren, kamu memang tipe sahabat yang jujur, terus terang dan menyenangkan. Oke Rd semoga bahteranya senantiasa terang benderang)

Friday, May 11, 2007

Rehat, Ucapan

Berbagai ungkap dan ucap mengalir baik direct or via sms or via imel, fokusnya menyatakan pada tema sudah fit kan, sudah sembuh kan, sudah beraktivitas kan. Ya, jawabku singkat dan memang 4 hari waktu rehat dari aktivitas membuatku merasa “ baru” dalam ruang kerja. Jumat ini walau belum pulih benar kucoba memulai lagi aktivitas pekerjaan dengan sebisa mungkin mengoptimalkan daya dan energi walau hanya cukup sampai setengah hari. Sisanya kembali beristirahat. Respons itu setidaknya mengingatkan aku akan definisi teman dan sahabat sejati, dengan itu semakin meyakinkan aku akan nilai yang digariskan pada etika gaul.

For that, sejuta terimakasih kusampaikan pada sejumlah fren atas atensinya yang begitu dalam, berkunjung ke rumah, ikut merasakan dan menghadiahkan bingkisan yang mampu memberikan semangat. Bahwa seafdholnya begitulah yang kudapatkan, dan itu adalah evidence yang menyenangkan hati, meskipun belum mampu menjawab nilai kesejatian diantara sejumlah catatan.

(Thanks for, My, Dw, As, Ns, Bt, sobat milis dan lainnya yang mampu mengolah semburat noktah menjadi keanekaan warna pada sebuah hati yang memerlukan pelukan warna itu. Sekali lagi makasih banget ya).
*****

Menghabiskan hari dengan membaca dan melahap sejumlah majalah, melepaskan diri dari aktivitas rutin, menjauhkan segala hal yang menyangkut rutinitas dan menggantinya dengan catatan lain yang mampu menganulir keseragaman warna hari. Kamis ini terasa lega dengan membuka jendela hati pada keragaman olah rasa dan rasio.

Sebisanya aku menata itu, sembari berupaya memulihkan kondisi dan memoles langkah berikut dengan sejumlah rambu, bahwa lebih baik menyatakan dengan ketegasan sikap, tidak untuk mengatasnamakan ego diri namun lebih pada jarak sikap sebagai jawaban autis bathin.

Sederhana saja yang kupilih, bahwa sesungguhnya antagonisme peran yang ditampilkan semakin memberikan kesan pada dialog diri bahwa bukankah itu semakin membuka peta peran yang sesungguhnya pada nilai hati yang tidak mampu memberikan warna bening pada sinar mata elang yang ditampilkan. Dia adalah penderita autis yang kronis, kasian banget deh.
******

Wednesday, May 09, 2007

Jelas, Autis Bathin


Kujelaskan agar mereka juga tahu
Kuceritakan agar mereka juga paham
Kukisahkan agar mereka juga mengerti
Bahwa sudah kutuliskan
Bahwa sudah kuutarakan
Bahwa sudah kukirimkan

Dan sudah pula ada jawaban
Dan sudah pula ada penyejuk
Dan sudah pula ada follow up
(Aku ingin istirahat dengan smile)

Dan mereka yang datang adalah kesejatian itu sendiri
Untuk menawarkan yang terasa asin
Untuk menawarkan yang terasa pedas
Dan memberikan kado rasa kebersamaan
Dan membungkuskan kesegaran pada nilai perjumpaan

(Thanks to all fren yang berlabel sejati, sudah memberikan nilai silaturrahmi pada kesejukan hari, dua gelombang bernilai surprise dan membungakan, niscaya waktu jua yang akan menjelaskan sejumlah argumen itu)
*******

Kupelajari dengan seksama sekalian menganalisisnya, bahwa penyakit autis yang paling berbahaya justru adalah autis bathin. Betapa tidak, kalau autis lahir, langsung kelihatan aktivitas si pasien yang gak fokus, nabrak sana nabrak sini, ngerepotin orang sekelilingnya, harus dikawal dan membuat kejenuhan serta rasa iba. Nah kalau autis bathin, lebih menghebohkan lagi, gak kelihatan sepintas biasa aja, namun jika disimak, duh betapa kumuhnya ruang hati yang diselimuti benalu autis itu. Tampilannya adalah, ego yang membesar, rasa superior, rasa mentang-mentang, pendapatnya dirasa paling benar, tega ngumpat orang lain, suka mempengaruhi orang lain untuk ikut opininya. Nama lain dari autis bathin ini tidak lain adalah rasa iri, dengki, khasad dan senang dengan kesusahan orang lain, gak punya tenggang rasa, selalu merasa kurang, maunya harus dipenuhi terus.

Aku sebenarnya kasihan melihat orang yang punya penyakit bathin seperti ini, namun jika sudah tabrak sana tabrak sini, rasa kasihan itu berubah jadi benci, sembari menyampaikan definisi bahwa itulah bagian dari hukum sebab akibat karena mengedepankan silaturrahmi dengan metode premanisme, adu kuat omongan dan merasa sudah kuat pula “kedudukannya”. Padahal jika ditelisik lebih dalam, keroposnya jelas tampak, untuk menutupi keletihannya, untuk menutupi kejenuhannya, untuk menutupi rasa malunya, sehingga sekilas kelihatan seperti jagoan neon padahal mirip lilin yang meleleh sindiri.

Seharian Selasa ini kukupas dan kudiskusikan anomali ini dengan pakar psikologi UI yang juga keponakanku, dan memang secara pembuktian ilmiah psikologi, elemen yang menjadi dasar seseorang menderita penyakit ini adalah keletihan bathinnya menghadapi situasi menahun yang menjadi karma penderitaannya. Bentuk outputnya adalah pemberontakan terhadap situasi hatinya, suasana bathinnya dan melemparkannya pada obyek yang menjadi fokus pelampiasannya. Kasihan juga sih dengan konklusi ini namun ketika itu menjadi titik persinggungan pada diriku, yang dijadikan obyek tendangannya, aku juga punya reaksi dong, dan dia tidak tahu bahwa penyakit bathinnya itu justru akan menghancurkannya sendiri. Mestinya dia harus mampu mengaca dirinya sendiri, bahwa tidak ada kesempurnaan berlabel egosentris yang mampu menggerus hakekat pertahanan diri. Lebih baik banyak beristighfar karena itu adalah tombo ati yang mampu menularkan simpati bukan antipati, jawab itu ada di bantal hati manakala hening menyelimuti gelap dinihari. Kalau saja dia tahu itu, sayang yang dipertontonkan adalah sifat Cowboy berwajah preman. Sebuah Hadits memberikan makna untuk renungan :

Berlindunglah kepada Allah dari kesengsaraan akibat bencana dan dari kesengsaraan hidup yang berkesinambungan, terus menerus dan silih berganti dan dari ketentuan takdir yang buruk dan dari cemoohan lawan-lawan (HR Muslim)
****





Monday, May 07, 2007

Break Sesaat

Istirahat dari kerja Monday ini, capek dan pengen ringan and rilex, lalu mohon ijin, ke poliklnik, dapat dispensasi, dan kembali untuk pulas seharian, lagian puasa, gak ada kegiatan, baca koran lalu istirahat lagi. Nikmat juga menghabiskan waktu di tempat tidur untuk meringankan keletihan yang luar biasa.
Nah setelah berbuka, agak lumayanlah, rupanya ada juga manfaatnya ketika keletihan membahana, diniatkan saja walau gak makan sahur, ternyata memang mampu meringankan jasmani yang terasa lelah dan letih. Ada rasa bugar maka bugar juga rasa yang lain, kucoba membuka catatan kuesioner namun masih menundanya untuk beberapa saat. Kayaknya lebih enak baca majalah Commando yang kucari d Gramed malam ini. Dan kuhabiskan saja sampai terlelap lagi.
*******
After mengantar keluarga yang hendak umroh ke Bandara, tercetus planning untuk menghabiskan Ahad ini dengan traveling, dan semuanya berpaduan suara, setuju.... Maka setelah mempersiapkan bekal dan segala sesuatunya, berangkatlah menuju arah favorit Joglosemar yang menjadi lintasan kesenangan traveling.
Aku pun menikmatinya dengan bersenandung, bercakap dan bersendagurau. Si sulung sangat apresiasi dengan perjalanan ini dan punya banyak kehendak, aku iya iya kan saja. Sementara di ragil lebih banyak berbaring karena sejak awal masih ngantuk, kubawakan bantal dan membiarkannya istirahat di baris belakang, habis melek terus lihat acara tivi kegemarannya, grand prix dan liga Inggris.
Sejumlah titik dikunjungi, lunch dulu di sate kegemaran di ujung batas Salatiga, kemudian berlalu lagi menelusuri jalan, melintas, istirahat, sampai, menghabiskan waktu di Abrk Plz, belanja, menikmati ruang pandang, jalam lagi, menjelajah kota, mampir di pusat Mlbr dan melaju lagi menuju jalan yang disepakati.
Lalu menuju rute ring road menuju Mgl, sepakat dinner di En yang murah meriah itu, istirahat lagi, kemudian melanjutkan perjalanan pulang melintasi lekuk jalan yang berkelok. Senang hati, puas rasa dan letih mengguyur menjelang tengah malam. Lelap benar.
*****
Senangnya hati, mempresentasikan dengan semangat diri yang pede banget, dan semua terkesima ketika aku menjelaskan dan menguraikan dengan yakin, jelas dan lengkap. Prof mengacungkan applaus dan sekaligus menyarankan untuk dijadikan judul yang akan datang. Aku makin yakin, dan Sabtu pagi ini memberikan penjelasan padaku bahwa jika kita meyakininya kita akan dapat menikmatinya dengan keyakinan itu.
Maka kusiapkan lagi
Kurapikan kembali
Kurangkum kembali
(Ketika rasa menjadi kurang hangat, meleburkan semangat itu mampu menjalankan diri sebagai penjelas dan peramu yang dilimpahkan melalui diskusi. Aku menjalani itu dengan senang hati).
*****

Friday, May 04, 2007

Traveling, Syukur

Ada yang harus diselesaikan, maka kesibukan dengan variasi reportase harus kuselesaikan dengan memilah pada urutan kepentingan. Dan semuanya dapat kuselesaikan ketika senja Jumat ini mulai menyelimuti hari. Planning yang ditulis pada halaman harian adalah rambu yang menjadi patron untuk menyelesaikannya. Dan dengan itu aku selesaikan dengan ketekunan, termasuk untuk persiapan uji persentasi next. Aku suka dengan perencanaan sehingga ketika sampai di akhir deadline tidak terjadi penumpukan aktvitas, mending dicicil dan diurai dengan kepastian bahwa akan sampai pada titik hari untuk diselesaikan.

Kabar gembira memberikan nilai planning untuk membagi apa yang diperoleh dengan prioritas pada setting untuk yang masih kurang. Maka nilai syukur kusyairkan pada hati nurani, adalah nyanyian untuk memastikan planning menjadi realisasi. Kuceritakan pada inner cycle dan mereka menyambutnya dengan senyum, dan mudah-mudahan menjadi berkah. Nilai Jumat ini adalah menyerahkan totalitas diri pada kemutlakan yang mengingatkan dan menerangkan, bahwa aku adalah bacaan diriku sendiri, ceritaku adalah tulisan diriku sendiri dan kemutlakan itu adalah equator yang menjelaskan dimana aku berada.
*****


Menjelajah timur, mengikuti traveling di sudut kota paling timur provinsi Kamis cerah ini, mengikuti irama kecepatan dan memastikan nilai perjalanan adalah kembali menerawang pada sejumlah perjalanan napak tilas. Ada banyak perubahan, ada banyak kemajuan, ada lintasan jati, ada kemiskinan seperti dulu, ada lekuk jalan, ada gelombang yang menjadi ciri khas jalur ini, dan sampailah tengah hari dengan sambutan terik yang memanggang.

Kucoba membuka sejumlah halaman dan mencocokkannya dengan cakrawala yang kudapat, dan perlahan kudapati pula sejumlah titik cerita yang pernah menjadi bagian dari perjalanan awal. Kunikmati dengan sejumlah lempar pandang, di sudut dan sisi yang melintasi jalan diri, kadang ada yang berkesan, kadang ada senyum yang tersungging, dan perjumpaan melalui lintasan singgah mampu memetik nilai ketika halaman-halaman lama mengirim memori untuk sekedar diingat sebagai garis tebal.

Kurenungkan dengan sejumlah phrasa
Jajak rekam menjelaskan nilai perjalanan diri
Menghantar kesepahaman pada hati nurani
Bahwa masih ada tenggang yang dipertontonkan
Untuk menghadirkan kembali nilai cerita
Dan mengarsipkan kembali halaman sketsa diri
******

Wednesday, May 02, 2007

Dua Lukisan

Sembari menelusuri koridor Rs Elsb yang panjang ketika menjenguk handaitolan yang mesti rawat inap Rabu sore ini, si sulung nan cantik, setelah kujemput dari sekolahnya yag megah itu, dengan manja menggamit lenganku dan (biasanya begitu kalau ada maunya) : Pa, Adiss pengen pizza loh, boleh kan Pa, udah lama loh kita gak ngunjungi pizza, katanya. Kujawab saja dengan plesetan, ntar kita beli saja pizzang 2 sisir, tuh didepan banyak dijual. Dan jawabanku yang seenaknya itu bikin putri sulungku cemberut sesaat. Memang adatnya begitu, manja, selalu pengen begini pengen begitu

Sebenarnya permintaan Adiss gak muluk-muluk kok Pa, Adiss pengen banget punya Jazz, katanya, juga seeenaknya. Kujawab sambil merangkulnya, Iya doakan saja, semuanya kan untuk ananda, untuk keluarga, semoga rezeki kita melimpah ya Diss. Begitulah Adiss, yang manja, selalu ingin dekat denganku, selalu ingin didengar kalimatnya, selalu ingin dipenuhi permintaannya. Dan sepanjang koridor itu kurangkul dia yang masih berseragam sekolah, dan kita ngomong apa saja yang menyenangkan.

Si sulung ini adalah panorama keindahan yang memberikan kedekatan bathin, kedekatan emosional dan sekaligus pemberi semangatku dalam aktivitas. Begitu dalamnya kontak bathin itu padanya sehingga selalu memberikan apresisasi pada sejumlah harapan, doa dan nuansa. Jujur kuakui bahwa nilai kasih sayangku padanya menempati nilai stimulan yang mampu memberikan motivasi padaku untuk selalu berada di semangat diri, dan mengevaluasinya based on kedekatan itu sendiri. Sementara untuk si ragil, kedekatanku padanya justru untuk memberikannya motivasi, semangat dan pendorong. Ines adalah profilku sendiri, ejawantah dari tampilanku, banyak hal yang harus dijelaskan untuk jalannya, dia banyak tanya, dia pengen banyak tahu, suka gand prix, suka sepakbola, tomboy dan juga sangat manja padaku.

Dua buah hatiku adalah jalinan kasih yang menjalar pada jalan-jalan nurani, keduanya adalah signifikansi yang menjelaskan eksitensi diri, bahwa di jalan yang kudapat saat ini, segumpal pemicu untuk tetap ada di keraton asa adalah memeluk kemanjaan mereka dan menatanya di keraton hatiku.

******

Sudah hampir tujuan, hanya tinggal dua kelokan lagi, sekitar 2 kilometer dengan tanjakan curam, namun hanya sampai disitu saja ketika inova sudah gak mampu lagi meneruskan dan terjebak tanah basah dan Lumpur. Coba dorong untuk membebaskannya tapi justru pakaian tersiram Lumpur dan jadilah seperti off road yang harus mengakui kehebatan alam. Maka traveling dinas Selasa ini adalah yang paling “berkesan” ketika harus turun, menjelajah mendaki, mendorong dan gagal mencapai bukit pringamba yang terjal namun menawan itu.

Tapi tetap saja kunikmati lukisan alam nan hijau segar ini, kupandangi dengan sepuas hati pucuk-pucuk pinus dan holtikultura lainnya, aku berjalan, menjelajah lembah dan perbukitan, mengapresiasikan sudut pandang kebesaran, lukisan alam yang terbentang luas, adalah sebuah pembuktian betapa sebenarnya sebuah karya cipta tidak mampu dijelaskan dengan ruang rasio sebatas ilmu. Semakin jauh terawang itu, semakin jelas view yang kuperoleh, bahwa nilai eksistensi adalah kemampuan untuk membaca diri, mengaca diri dan membandingkan betapa tidak berartinya kekuatan diri untuk disetarakan dengan dengan fenomena yang dibuktikan dengan view hati nurani.

(Thanks to Dw, sepatah dua kata yang terlontar adalah aneka hasrat yang dijelaskan dengan semangat untuk memberikan nilai cerita pada sejumlah hari, ketika sudah lama kita tak bercakap-cakap).

(Thanks to Yn, selalu ada yang baru untuk dikabarkan dan sukses deh dengan reuninya, tapi kok gak ngabarin ya, padahal sudah ada di depan mata loh).

******