Sunday, August 19, 2007

Trims GG

Serial Marketing Komunikasi (2)

TERIMAKASIH GUDANG GARAM
Oleh : Jagarin Pane

Sebuah marketing komunikasi yang persuasif, sebuah marketing berbahasa yang menyentuh, sebuah cara mengajak yang beredukasi untuk memproklamasikan keindonesiaan yang kita miliki. Iklan layanan masyarakat dari perusahaan rokok terkemuka Gudang Garam selama Agustus 2007 menghiasi seluruh layar kaca TV swasta saluran manapun. Dan hebatnya lagi Gudang Garam adalah satu-satunya perusahaan yang menggelorakan semangat kebangsaan itu dengan intensitas frekuensi tayang yang cukup tinggi.

Pertanyaannya mengapa hanya Gudang Garam. Apakah hanya Gudang Garam perusahaan yang besar yang dimiliki oleh republik ini. Jawabnya tentu tidak. Lantas dimana yang lain. Apa yang lain hanyut dengan rutinitas mencari keuntungan, atau memang sudah tidak peduli dengan suasana nasionalisme yang semakin pudar ini. Bagaimana dengan BUMN, bagaimana dengan Bank-Bank Pemerintah, bagaimana dengan Telkom kita sendiri.

Nasionalisme itu adalah perekat rantai keutuhan yang setiap saat harus diolesi kembali agar mampu terus berputar dengan kemampuan penuh, dan memacunya di tengah perputaran globalisasi. Nasionalisme itu adalah kesepakatan bersama ketika seluruh jajahan Belanda yang bernama Hindia Belanda sepakat untuk membebaskan diri menjadi sebuah bangsa, bangsa Indonesia. Nasionalisme itu adalah bunga mawar yang selalu memberikan inspirasi cinta pada semuanya, pada semua anak bangsa, pada semua nilai kultur yang dimilikinya, pada semua keindahan yang dimilikinya, pada semua yang ada pada dirinya, Indonesia sayang.

Rangkaian pulau yang membentang di tali khatulistiwa, rangkaian keindahan yang tiada banding, sebuah negara kepulauan terbesar didunia. Sebuah bangsa yang multi etnik dan ragam kultur kebhinnekaannya adalah kehebatan yang tidak pernah kita sadari manakala kita selalu terhanyut oleh riak dan ombak kesangsian dengan apa yang kita miliki.

Duhai, betapa kita belum memahami benar hakekat dan definisi suara kesetiaan matahari yang senantiasa memberikan benderang cahaya dua belas jam penuh pada jamrud khatulistiwa ini. Kita belum sampai pada makna kesetiaan, pada nilai kebangsaan yang telah dibangun oleh The Founding Father. Kita belum tiba pada niat keikhlasan pada terminal akhir yang bernama Indonesia. Kita masih sering terpukau oleh silaunya cara penglihatan mata karena memandang hanya dengan cahaya mata, bukan matahati.

Lalu kemanakah ruang semangat yang telah digegapgempitakan itu enampuluhdua tahun sebelumnya. Dimanakah bersemayamnya rasa syukur yang semestinya disanjung sebagai bagian dari menikmati alam kemerdekaan. Apakah kemerdekaan itu hanya sebuah seremoni yang diperingati sebagai rutinitas tahunan setelah itu kembali ke khasanah perluasan primordial. Siapakah yang merasa bertanggung jawab mengajak seisi rumah untuk bertafakkur, merenungkan sesaat dan menapaktilaskan fragmen kesejarahan yang membuat kita sampai di batas ini.

Begitu sibuknya kita sehingga tidak tahu lagi atau tidak mau tahu lagi dengan national character building itu. Dan ketika Gudang Garam tampil sendirian mengumandangkan tema membangun sisi humanisme keindonesiaan itu, betapa sesungguhnya kita memiliki sesuatu yang luarbiasa, betapa kita memiliki semuanya yang luar biasa.

Gudang Garam adalah sebuah ”dinasti” yang selalu konsisten mengumandangkan semangat kebangsaan. Iklan layanan masyarakat yang dihingarbingarkannya selama tiga minggu ini adalah jawaban tentang konsistensi itu. Point utamanya adalah dia tetap berlari kencang ketika semangat yang lain (baca : Corporate lain) agak memudar dan cenderung biasa-biasa saja menyongsong hari merah putih itu.

Layaklah kita ucapkan terimakasih pada GG yang memberikan inspirasi terutama bagi anak bangsa yang bernama generasi penerus, yang semakin menjauh dari titik episode proklamasi kemerdekaan bangsa itu. Tayangan seperti itu adalah bagian dari pembangunan wawasan kebangsaan kita yang perlu dikumandangkan dengan cara yang persuasif. Membiarkan nilai kebangsaan mengalir dan ada di meja hati anak bangsa ini.

Dan sangatlah dijunjung tinggi manakala inovasi persuasi GG memberikan ruang pencerahan pada setiap ruang dada yang pengap bermain dirutinitas keseharian. GG yang tergeser posisi klasemen puncaknya oleh Sampurna awal tahun ini boleh saja dianggap sebagai bagian dari iklan pencitraan diri. Namun secara konten tetaplah dimaksudkan sebagai pengingat akan pentingnya nilai dan semangat kebangsaaan yang dimiliki bangsa ini.

Harapan kita semoga Telkom juga bisa memberikan nilai dan semangat kebangsaan itu dengan membangun inovasi marketing komunikasi yang tentu saja lebih greget dari yang telah ditampilkan oleh GG. Bukankah kalau kita mau kita bisa melakukannya dengan semangat kebersamaan yang kita miliki. Bukankah Telkom selalu menjadi yang terdepan dalam memberikan ”bingkisan” pada lingkungan bisnisnya.

Bukankah momen proklamasi ini adalah halte yang paling tepat untuk mensiar ulangkan kembali national character buliding yang kita miliki. Bangsa ini adalah bangsa yang merdeka dengan lumuran darah merah. Bandingkan misalnya dengan para tetangga yang merdeka adalah souvenir penjajah. Tidaklah sulit dengan kemauan ikhlas untuk kembali menyegarkan kemampuan inovasi marketing komunikasi itu kepada khalayak yang bernama anak bangsa. Selamat Ulang tahun negeriku.

Semarang 16 Agustus 2007

Wednesday, August 15, 2007

Seremoni, Puisi, Arif

Seremoni adalah tampilan performansi, seremoni adalah testimoni yang dikumandangkan, seremoni adalah karnaval yang ditonton banyak orang, seremoni adalah upacara penganugerahan yang dipastikan akan menjadi titik penting pada sebuah kubah. Ya kubah penceritaan yang berwujud kesenangan, kegembiraan dan benderangnya suasana.

Karnaval kota Rabu siang nan terik ini sengaja kutonton, berbaris di jalan yang dilalui konvoy. Ada senyum, ada gairah, ada tawa, ada bunga dirangkai, ada tepuk tangan, ada yang menyentuh, ada yang menghampiri. Semuanya bercampur dalam riangnya suasana seremoni. Ya hanya seremoni, hanya ungkapan tanpa menyentuh ruang nadi, hanya ucapan tanpa membawa sanubari.

Sama saja dengan orang yang hobbynya berjabat tangan namun perilaku tidak mencerminkan kesejatian pertemanan atau persaudaraan. Sama saja dengan orang yang bermental banci, hanya bisa mengintrovetisasi dirinya sebagai patung tanpa ekspresi. Sama saja dengan orang yang hobbynya ngomong, ngatur, nglantur, gak fokus, mirip penyakit autis, dan bermental iri. Kalau ngomong pinter ngatur ritme padahal kebusukan hatinya sudah menjadi stadium empat kronis.

Seremoni, ditampilkan dalam lipstick berganti wajah, pura-pura baik padahal tidak lebih dari tirai yang menutupi kebusukan diri. Ya semoga saja aku terhindar dari penyakit bathin ini, aku ingin yang polos-polos saja, seirama, seiring sejalan antara suasana dan cuaca, antara hati dan ucapan, antara matahari dan matahati.
*****
Ada yang hangat bersemangat ketika ananda minta dibuatkan beberapa bait puisi kemerdekaan untuk dibacakan di sekolahnya. Kubuatkan dan kusiapkan serta kusempatkan melatihnya untuk membaca dengan ekspressi full hati dan full sentuhan. Dengan iringan musik instrumental, dicoba dan dicoba melantunkannya dengan semangat membakar. Dia ternyata mampu, berbakat dan kuyakinkan kembali agar dapat mempertahankan ritmenya. Si Ragil memeluk manja.

Kesibukan juga terasa, ketika ruang rumah menjadi markas untuk persiapan tujuhbelasan, maklum itu kesepakatan warga, menyajikan setumpuk hadiah yang telah diperlombakan Ahad kemarin sekalian rembug tentang anatomi pelaksanaannya. Ya semuanya mempersiapkan, lingkungan berseri dan bernyala merah putih, warga bergiat bersama, kompak bersama dan memastikan kebersamaan itu dengan semangat menuangkan merah putih pada niat tafakkur itu.
****
(Ya hasilnya memang ada yang harus dikurangi, hasil GCU Selasa ini, setidaknya melihat raport diri sejauh mana nilai yang didapat sekalian memastikan niat untuk mengurangi menu yang menjadi penyubur tiga nilai waspada itu).
(Belum selesai memang namun kuyakin pada Sabtu ini semuanya dapat terselesaikan setidaknya bisa ditampilkan. Ya sibuk juga tapi berbagai langkah hari ini setidaknya ingin memastikan tahapan-tahapan langkah itu).
****

Sebuah tulisan Hasan Al Banna di kalender Senin yang bermakna dalam itu :

Dunia membutuhkan dakwah dan apa yang ada di dunia ini telah menyediakan jalan dakwah. Alhamdulillah kami bebas dari kerakusan pribadi dan jauh dari keinginan untuk memperoleh keuntungan materi. Yang menjadi tujuan kami adalah keridhaan Allah dan kebaikan manusia. Kami selalu menanti bantuan dan pertolongan Allah. Dan barang siapa diberi pertolongan oleh Allah maka tidak ada yang dapat mengalahkannya.

Sementara definisi seorang arif bijak kusimak dengan jernih :

Bekerjalah seoptimal mungkin sebab bekerja dapat menenteramkan hati, mendorong kemajuan, sebagai tempat pelarian, sebagai tempat pelatihan untuk peningkatan dan juga suatu hiburan.

(Perenungan dengan membaca alam pikir dan akal budi yang dicetak oleh kearifan pengalaman perlu disemayamkan sebagai referensi untuk bekal di jalan raya tata etika dan memastikan diri berada di posisi mana sekaligus mengingatkan tentang adanya rambu dan marka yang harus dipeluk hangat).
*****

Sunday, August 12, 2007

Sebuah Pesta

Ahad yang penuh, Ahad yang tumpah, Ahad yang mengalir dan menyatakan kegembiraan bersama, menyemarakkan bersama, lomba bersama, menghias bibir-bibir sepanjang matahari, bersama menyaksikan kelucuan. Bersama melihat tingkah-tingkah lucu dan mengakhirinya dengan puncak kelucuan itu, sepakbola daster, berlari, menendang, dan berkeringat. Kombinasinya tentu saja kebersamaan membangun keceriaan sehingga sempurnalah rangkaian itu dalam kepurnaan sisi kegiatan this week.
Sungguh sebuah pesta yang menyenangkan
Sungguh sebuah kebersamaan yang menggembirakan
Sungguh sebuah sajian yang membungakan
Dan warnanya adalah bermain di keceriaan dan kebersamaan
Sebuah warna republik yang mentradisi setiap tahun
Sebuah warna republik yang membanggakan pertiwi
*****
Bermain dengan dua warna, menghias dengan dua warna, dikombinasikan dengan keikutsertaan semua yang sudah disepakati, bercandalah kita sembari menghias, tertawalah kita sembari mengecat, bercakaplah kita sembari membersihkan. Kebersamaan yang bernilai tentu saja, dengan semangat untuk mwenjelaskan nilai dua warna itu yang tetap mengkilap sepanjang diri, sepanjang masa, tidak tergerus oleh abrasi pantai atau erosi arus. Maka selesailah menjelang Ahad dinihari dan dua warna itu semakin mengkilap manakala sinar mentari menyinarinya dengan tekun, merah putih.
****

Hakekat

Menyimpulkan rangkuman tentang hakekat itu sebenarnya adalah menuliskan tentang versi seremoni. Ada yang pandai banget memainkan seremoni tata gaul dengan selalu berdalih dan bersilat lidah sekaligus jago dalam diskusi tapi gak boleh dibantah. Ada yang hobbynya berjabat tangan seremoni padahal hanya bungkusan pada sebuah isi yang sudah basi. Ada yang pinter banget mengajak untuk bersekutu dengan opininya lewat meyakinkan dialog tanpa tema selain menggempur sesuatu dan menghempaskannya pada sebuah pantai tanpa pasir.
Semua laksana sebuah tayangan, dan memang pelajaran dari tayangan ini adalah untuk menggalinya pada nilai pencahayaan hati, pada ruang yang bernama filter untuk dilontar balik menjadi sebuah sudut pandang dan tak pula untuk diarusbalikkan. Ccukuplah sekedar memberi catatan bahwa si polan bukanlah teman sejati, atau si anu ternyata adalah sahabat terbaik. Itu adalah tema hati yang menjadi rangkuman hakekat. Tidak perlu banyak basa-basi seperti orang yang hobbynya jabat tangan setiap bertemu padahal tampilan dirinya tidak lebih seremoni, bukan hekekat apalagi kebeningan.
Nah itu dia yang menjelang tiba, sekali lagi seperti gaya seorang yang merasa penting (menurut dia), padahal mental sayurnya telah membuktikan hanya seorang yang sebatas mengolah tata kalimat ditambah sedikit bumbu penyedap omong, jadilah seperti lontar kalimatnya sudah menjadi merk jaminan kebenaran. Ketika sekali waktu dikonfirmasi ternyata tidak seluruhnya menjadi definisi, bahkan ada yang mengatakan, hanya lewat pinter omong saja padahal diluar itu gak ada apa-apanya. Aku tersenyum saja melihat tayangan ini.

Thursday, August 09, 2007

Aku, Merkuri dan Pesona

Ketika batik menjadi seragam
Ketika seragam menjadi putih
Ketika putih dan batik menjadi seragam
Apakah kemudian jalinan cerita menjadi seragam juga
Apakah kemudian jalan kisah harus diseragamkan

Tidaklah tidak
Tidaklah jua
Jalan ceritaku hari ini bukanlah seragam kisah
Jalan ceritaku hari ini bukanlah segenggam debu
Jalan ceritaku hari ini bukanlah persetujuan itu
Jalan ceritaku hari ini bukanlah rangkuman itu

Aku adalah pemerhati yang menatap di trotoar jalan
Aku adalah pemuja nurani yang indah permai
Aku adalah pemeluk rasional berbungkus aroma
Aku adalah peserta rally yang tak ingin berhenti
Aku adalah penggemar jalan berliku yang hijau
Aku adalah jejak langkah yang bersafari biru
Aku adalah prolog dan epilog hatiku sendiri
Tidak perlu mendapat persetujuan darimu
******

Sejumlah sinar mata menghantar dialog merkuri ketika benderangnya jalan raya mampu mendefinisikan sebuah pesta. Ya sebuah pesta yang digelar dengan sejumlah argumen yang dipasang di setiap sudut sembari mengatakan : pesta adalah sebuah seremoni untuk menjelaskan sejauh mana persiapan menunju titik puncak klasemen.

Benderangnya suasana adalah mengantisipasi ruang yang pengap untuk dapat dialiri dengan wewangi parfum dan pesona mata yang memandang kerlap kerlip. Apakah kemudian persetujuan tentang nilai jalan-jalan adalah untuk mendelete titik-titik dimana selalu bersemayam cerita versi curiga. Apakah itu yang dimaksud menjelaskan rangkaian alinea yang dirangkum pada sebuah tema dialog tanpa penjelasan.

Sekeranjang bawaan yang dipikul untuk dijajakan pada nilai jual yang dibentang dipinggir jalan adalah ukuran yang dapat disejajarkan pada setiap nilai soal yang tercantum, apapun itu. Fenomenanya adalah selalu mendekap jawaban yang tak pernah didengungkan karena tidak mampu mengurai definisi.

Maka sejumlah sinar mata menghantar jalan-jalan malam untuk diselaraskan dengan cerita baru yang dikumandangkan. Dan benderangnya pun hanya di seputar catatan tanpa garis pinggir. Tanpa garis pinggir.
****



Tuesday, August 07, 2007

Ketika Ide Mengalir

Lagi, sebuah tulisan ketika ide mengalir dan dipublikasikan ke media internal
Fenomena Marketing Pandang Dengar

Oleh: Jagarin Pane

Dua penyiar radio swasta di pagi sebuah hari kerja berdialog dan menyapa pendengar yang sebagian berada di perjalanan menuju sekolah atau kantor. Marketing siar dengar yang lagi ngetrend, bercerita tentang produk. Keduanya bertutur tinular tentang cara membersihkan rambut dari ketombe, maka pakailah sampho merek aiueo. Nah setelah oke, kata yang satunya, gak salahkan kalau kita curhat atau omongin dengan temen kita lewat operator bla bla bla cukup hanya 10 rupiah perdetik. Jelaslah maksud ceritanya, memasarkan dua produk sekaligus dengan bahasa canda dan gaul tentunya.

Lain lagi dengan host termahal Tukul, kita sudah tahu gaya banyolnya dalam memperkenalkan produk dan memasarkannya lewat layar kaca pandang yang ditonton oleh puluhan juta penonton lima kali seminggu. Kemudian jika kita berhenti di persimpangan jalanan kota karena giliran traffic light, ruang pandang kita secara naluri akan melihat dan membaca baliho-baliho raksasa dengan gambar yang aduhai dan spanduk-spanduk yang membentang dihadapan. Kontennya menginformasikan dengan bahasa kontemporer dan menyolok bahwa ada layanan begini ada produk begitu.

Marketing membaca sambil menunggu, bercakap-cakap dan memandang karena ada pandangan, yang model beginian didengar, disimak dan dipandang oleh konsumen merupakan inovasi marketing yang efektif karena didengar dan disaksikan dengan sengaja lewat kesadaran membagi suasana dan “menyediakan waktu”, walaupun bukan untuk iklan itu. Fenomena penguasaan ruang publik seperti ini merupakan siasat yang bagus seiring dengan format waktu yang demikian padat dan kompleks. Banyaknya ruang baca maya, media kertas informasi, jadwal kerja sepanjang matahari bersinar, lalulintas padat merayap, hiruk pikuk keseharian yang padat memberikan kesan waktu yang 24 jam itu jadi seperti berkejaran dengan aktivitas dan waktu edar matahari, tak punya waktu luang yang rileks.

Untuk siar dengar, ruang imajinasi pendengar tentu berbeda dengan media televisi. Radio yang didengar sembari berkegiatan, mengendarai mobil dan lain-lain memberikan kesan ada yang menemani lewat dialog penyiar yang punya kemampuan komunikasi prima. Dan pesan marketing komunikasi yang disampaikan mampu mengajak imajinasi pendengar sampai pada tingkat “menyimpan keinginan dan mengingatnya”. Demikian juga dengan siar pandang layar kaca, kesediaan pemirsa untuk mendengar sembari menyaksikan tentu secara komunikasi lebih menghasilkan nilai tambah dan mampu menyampaikan pesan kalimat lebih bergema di ruang kesadaran rasional konsumen.

Marketing komunikasi sesungguhnya adalah penyambung lidah hasrat yang diceritakan kepada ruang publik every where dan mampu menyentuh ruang privacy konsumen secara persuasi. Setidaknya menampung ruang kesadaran rasio dan emosinya sehingga menimbulkan hasrat pula untuk menggunakannya, mengidolakannya dan bahkan menceritakannya kembali. Ini efek multifliernya.

Konsumen itu sebenarnya adalah massa mengambang, bukan anggota partai politik produk apalagi memiliki predikat loyal. Konsumen kita adalah peselingkuh sejati yang sangat mudah dipengaruhi rayuan gombal produk dan layanan. Mayoritas konsumen adalah arus air yang susah ditebak arah aliran kesetiaannya sehingga perlu jalan raya marketing komunikasi yang menuntunnya ke arah persuasi memakai suatu produk dan layanan. Tidak ada perkawinan abadi antara konsumen dengan sebuah service dan produk. Yang ada hanyalah minat dan keinginan pada keunggulan dan keunikan yang dimiliki, yang tentu nilainya seperti pergeseran klasemen sementara Liga Indonesia.

Apa yang harus dilakukan untuk mensiasati pasar yang gemar berselingkuh itu. Jawabannya ada banyak cara, beri sentuhan hangat pada konsumen dengan komitmen, kejutan yang mampu menohok hati konsumen. Lakukan komunikasi yang pantang menyerah lewat even live, sinetron, presenter, festival, karnaval sehingga ada kesan nilai tambah pada eksistensi produk atau layanan. SCTV mampu menggiring pemirsanya untuk tetap setia pada channelnya melalui media music live dan safari karnaval. Disamping itu perlu memanfaatkan ruang publik lain yang secara pengamatan on the spot belum tergarap secara optimal.

Media marketing komunikasi yang belum tergarap optimal misalnya adalah ruang siar dengar di Bis Kota, Bis Antar Kota, Taxi, Pengumuman di Stadion, Terminal Bis, Stasiun KA, Bandara, Dermaga Kapal Penumpang, VCD / DVD yang mengusung cerita film. Bank Bukopin punya ide bagus dengan preview marketing komunikasinya di awal film Nagabonar jadi Dua, ada sisipan iklan di VCD dan DVD film itu.

Karena belum tergarap secara optimal, Flexi seharusnya bisa memanfaatkan ruang itu sehingga memberikan maksimisasi nilai persuasi. Menyuarakan komunikasi marketing di Bis Kota, Bis Antar Kota, Taxi, Terminal, Bandara dan lain ruang publik diyakini mampu memberikan nilai persuasi lebih sebagai penambah tebal memori konsumen ketika konsumen punya “waktu jeda” sesaat. Teknis penceritaan maupun pola kerjasamanya tak perlu disambungrasakan di alinea ini. Inovasi marketing itu mirip bait puisi Chairil Anwar, Sekali Berarti Sesudah Itu Mati, maksudnya lakukan inovasi dengan kejutan yang tak terduga, maka penirunya tidak dapat apa-apa. Bagaimana Flexi, apa kabar Speedy?
****
(Thanks to Hn yang ikut kerja bakti menyelesaikan entri dan tentu saja ini memberikan percepatan langkah untuk next process).
(Thanks to Hr yang bersedia menyelesaikan olah datanya, ini juga bagian dari sinergi untuk menghasilkan yang terbaik).
****
Menanti di titik jelas
Mengharap kesediaan angin pantai membawa lembaran
Dan menyinggahi panorama berbukit di sudut barat daya
Dan mengabarkan keindahan pita hati yang bersulam
Dan menceritakan kedamaian pantai hati yang berpualam
Menanti di titik singgah
Sampai mentari mencari peraduan senja
****

Monday, August 06, 2007

Tulisan Itu

Sebuah Tulisan yang mendapat applaus;

Corporate Negaholic
Apakah Inkubasinya Ada Di Sekitar Kita

Oleh : Jagarin Pane

Dunia perkantoran di perusahaan bisnis bisa disebut sebagai pertemuan interaksi karyawan baik yang berlabel manajemen atau staf dalam rangka membangun menara kinerja yang sudah tentu berorientasi bisnis. Interaksi proses bekerja itu persentase standar dominannya adalah menyebarkan formalitas transformasi komunikasi atas bawah dan kiri kanan. Nilai kultur yang menjembatani beragam peran yang diambil adalah menghangatkan komunikasi informal sebagai simpul figuran yang sekaligus menjadi oli bahasa tata krama.

Di keseharian hari kerja sebuah unit bisnis, terekam fragmen fenomena penjelmaan yang membalikkan standar keharusan tadi (yang seharusnya menjadi faktor dominan), dengan lebih mengembangkan wacana, etika dan sikap yang sama sekali tidak memberikan kontribusi pertambahan nilai kinerja apalagi nilai bisnis. Bahasa terang-terangannya kira-kira begini : Komunikasi informal yang cenderung merajai keseharian jam kerja tidak lagi menjadi oli tata krama bahasa gaul namun sudah menjurus ke halte yang bernama definisi subyektivitas keakuan yang merasa bangga dengan perannya, merasa angkuh dengan pendapatnya dan mengobral informasi yang tidak jelas kantor beritanya atau bahkan merasa menjadi kantor berita.

Di level manajemen dalam konteks berbagi struktur peran, tugas-tugas itu masih dapat bertahan di koridornya dan mudah-mudahan dapat terus bertahan. Namun di level dibawahnya, basis pertahanan itu sudah rubuh di beberapa tempat bersamaan dengan bertunasnya ego sektoral dan mengaku menjadi aktor dominan dalam peran tugasnya. Walaupun masih banyak manager dan karyawan yang berperan sesuai arahan sutradara namun kelakuan segelintir oknum itu memberikan kesan adanya disfungsi tugas dan indikasi terjebak dalam apa yang disebut Corporate Negaholic.

Corporate Negaholic adalah sebuah penyakit di perusahaan yang dapat memasuki kehidupan para karyawan dan pimpinannya. Menurut Cherie Carter-Scott penulis buku Corporate Negaholic, virus penyakit ini ada dimana-mana, di bagian administrasi, akuntansi, human resources atau bahkan di front liner yang berhubungan langsung dengan pelanggan. Mereka bisa saja manager, karyawan atau pimpinan kantor. Cherie Carter-Scott menggunakan kata negaholisme untuk menggambarkan kondisi yang mungkin timbul secara sistematis dalam suatu perusahaan baik secara departemen maupun secara perorangan.

Ciri-ciri perusahaan dan atau kantor yang terinkubasi tunas Corporate Negaholic antara lain keinginan untuk mempertahankan jabatan dan bukan memenuhi misi dan tujuan perusahaan. Sifat pribadi yang suka memaksakan, mengobral informasi dan bermental kuli, maksudnya kalau ada pimpinan rajin sampai jam kerja usai namun kalau tak ada pimpinan ikut keluyuran juga. Tanda yang lain adalah karyawan lebih suka menghakimi rekan sekerja, sistem manajemen yang berlaku, daripada melakukan sesuatu yang berguna misalnya menyumbang saran penyelesaian.

Secara individual struktur Corporate Negaholic dibedakan atas empat jenis yaitu sikap, perilaku, mental dan verbal. Dari sudut pandang antar departemen penyakit ini disebut negaholisme situasional. Masing-masing dan atau keduanya dapat membangkitkan virus corporate negaholic secara cepat dan menyebar ke semua lini interkoneksi komunikasi, informasi dan solusi. Dari titik personal penyakit ini berlaku untuk pribadi apatis dan egois sekaligus autis, merasa paling pintar serta mau menang sendiri.

Hirarki kewenangan yang teradopsi dalam struktur organisasi sebenarnya merupakan rangka yang jelas untuk mengembangkan pola komunikasi yang terukur, terarah dan konsisten. Struktur merupakan konsep pragmatis yang menjelaskan kepada setiap karyawan bahwa proses bisnis berada di seputar kawasan itu. Oleh sebab itu praktisnya pula setiap karyawan dapat selalu mengambil peran yang berada pada garis komando yang bernama job desription.

Tetapi begitulah teorinya, struktur atau bangunan apapun dapat menjadi ajang perdebatan pola kewenangan dan dikalahkan oleh kultur yang mengedepankan egoisme pribadi, ego sektoral dan naluri non intelektual. Dalam pandangan ini tunas egoisme ini masih berada pada tahap inkubasi embrio, namun pernyataan sikap nominal perlu dikedepankan agar paling tidak sebagai bentuk dialog imajiner pada diri masing-masing termasuk yang tidak terkena imbas indikasi inkubasi corporate negaholic.

Apa raut wajah yang terindikasi penyakit corporate negaholic di sebuah kantor? Bisa disebutkan disini antara lain iri melihat keberuntungan karyawan lain, senang mencela orang lain, senang menghalangi sukses rekan sekerja. Suka menyalahkan kondisi kerja, merasa paling pantas untuk tampil sebagai aktor keberhasilan proses kerja, menjadi pemain sinetron yang menjadi tokoh antagonis, penyebar isyu, menghancurkan motivasi kerja, melakukan pembunuhan karakter dan merasa menentukan nasib karir karyawan.

Negaholisme situasional atau antar departemen dapat dilihat dari kondisi seperti terlalu banyak memikirkan sebab, alasan dan penjelasan masalah dibanding mencari solusinya. Kemudian sering tidak konsisten dalam menetapkan tujuan, strategi dan prosedur. Perdebatan dalam rapat antar departemen dengan proteksi diri yang melempar kesalahan, dan waktu yang senantiasa tidak pernah tepat waktu meyakinkan kita bahwa telah terjadi sengatan virus autis yang menghambat nilai kinerja bisnis. Setiap departemen saling berbeda dan berselisih paham tentang tujuan yang akan dicapai. Yang paling parah adalah setiap departemen merasa yang TER ( terpenting, terhebat, terpintar ).

Rentang kendali dalam proses kerja setidaknya dapat menjelaskan apakah prosesi rutinitas kerja telah dijangkiti bakteri corporate negaholic. Cherie Carter-Scott mengambil satu contoh pada sebuah perusahaan yang mengidap virus ini yaitu terlukisnya sikap arogansi dalam berkomunikasi antara karyawan Kantor Pusat dengan karyawan Kantor Cabangnya. Sebagai pemegang kendali kebijakan, patron itu sering digunakan sebagai kalimat akhir ketika terjadi kebuntuan implementasi dengan regulasi yang sudah dianggap kuno oleh aparat Kantor Cabang. “Pokoknya itu aturannya”, kata karyawan bermental birokrat, padahal Kantor Pusat lebih sering ketinggalan kereta dalam membuat aturan.

Lukisan lainnya adalah pemberatan cost ketika awak birokrat tadi berkunjung ke Cabangnya dengan meminta jamuan tamu yang melebihi batas-batas nilai silaturahim atau memang sengaja berkolusi dengan segelintir orang di Kantor Cabang agar programnya selesai secara harfiah. Semua ini terjadi karena rentang kendali belum maksimal dijalankan dan hanya berdasarkan laporan satu arah tanpa melakukan konfirmasi ulang tentang cerita yang sebenarnya terjadi.

Dalam kitab kuno Wulangreh karya Sri Paku Buwono IV jelas disebutkan bahwa penghormatan kepada sesorang bukan karena jabatannya melainkan oleh sikap dan perilakunya. Dalam struktur interaksi kerja yang sudah memiliki role statement, job description, kompetensi dan kinerja, masih sangat diperlukan budi pekerti untuk melumasi mesin-mesin yang “sedang berfungsi”.

Lumuran budi pekerti itu adalah selalu memperhatikan dan mempertimbangkan segala sesuatu sebelum bertindak, berkomunikasi dan berdiskusi, kemudian ikut pula dipertimbangkan hal-hal yang baik sebelum mengerjakannya sembari memikirkan sesuatu secara serius dan mendalam. Budi pekerti adalah tampilan display yang dengannya kita berupaya membungkus dan menghiden egois pribadi dan egois sektoral, setidaknya meminimalkannya.

Obat mujarab untuk menghambat pertunasan egoisme yang berlabel kebanggan diri dan kekuasaan, sederhana sekali dan karena ini menyangkut kultur yang mengemas struktur, maka tidak salah juga kita simak pembukuan kultur nenek moyang dengan membaca lagi kitab-kitab kuno yang terjamin prosesi kebijaksanaannya. Kebenaran dan kesalahan, keberuntungan dan kerugian, kebaikan dan keburukan semuanya berasal dari perilaku kita sendiri. Pupuh Durma mengatakan dengan jelas : Ajining diri saka obahing lathi, seseorang itu dihargai karena ucapannya.

Warning Cherie Carter-Scott sengaja dikedepankan sebagai bagian dari evaluasi psikologi proses bisnis dengan harapan ada peluang untuk menyadarkan elemen human capital bahwa proses bisnis, proses bekerja dan proses interaksi tetap harus diberi baju yang bernama jahitan kebersamaan untuk memperoleh hasil yang optimal dengan mengedepankan nilai moral dan etika. Beragam peran dan hirarki yang telah dirumuskan melalui regulasi diharapkan mampu untuk dijalankan dengan keikhlasan mutlak. Dan membaca siar pandang dan pandang dengar interaksi diharapkan dengan kebeningan nurani sebagai bagian dari pencerahan cakrawala pola pikir.

Penitikberatan sudut pandang ini diharapkan dapat memberikan efek multiflier kearifan peran yang kita jalankan masing-masing. Tantangan bisnis di depan menunggu kecepatan dan percepatan proses bisnis dan kita tidak ingin dikalahkan oleh kecepatan dan percepatan itu, maka bergegaslah menyambut matahari pagi.
*****


Sunday, August 05, 2007

Hujan Kemarau

Hujan di Ahad malam sangat membantu mendinginkan dan menyejukkan ruang terbuka, ruang publik dan ruang kelegaan. Deras juga jatuhnya hujan ketika aku mengantar ke stasiun dan sepanjang jalan seperti ada kelegaan pada sejumlah ruang yang luang, menyapu debu, menggerus daki kota yang diterpa kemarau basah. Ya kemarau basah seperti dugaan bmg bahwa kotaku akan mengalami kemarau yang basah, kemarau yang diselingi hujan lebat sesaat.
Udara yang sejuk after hujan itu tentu bagi sebagian besar warga kota sangat membantu mendinginkan ruang rumah, ruang kamar dan ruang yang lain terutama tentu ruang hati masing-masing. Memang perlu hujan, perlu membasahkan hati, perlu membeaahkan sukma agar kita bisa menampung keteduhan itu di kamar dada kita, dan merawatnya dengan kesejukan suasana.
Kemarau hati adalah endapan debu yang menerbangkan potensi dan eksistensi dan tidak mampu mendaratkannya pada sejumlah definisi yang sudah dibuktikan. Kemarau itu yang perlu disejukkan dengan hujan atau embun pagi. Kemarau hati adalah ketidakmampuan mengoleksi pertambahan nilai ketika pelangi mempercantik horison sehabis hujan yang menyegarkan.
****

Saturday, August 04, 2007

Menelusuri Maya

Menelusuri google sekali ini cukup mengasyikkan sementara teman pada sibuk berapresiasi dengan spss analisis kuantitatif, ah bodo amat, mumpung di kawasan hot spot kampus dengan sejumlah networkingnya. Aku pun berjalan-jalan dan memandang jendela maya dengan binar pandang, menjelajah. Kan sangat sederhana key wordnya, cukup tulis nama seseorang, lalu muncullah tampilannya, ada gambarnya, ada ceritanya.
Kucoba menulis namaku sendiri, kalau dulu masih sedikit koleksi pagenya maka kali ini sudah berbagai hal dirangkum si google. Dan ternyata beberapa tulisanku ada yang mengumpulkannya kembali dan dijadikan bahan di blognya sendiri, atau komentar di gatra dan lain-lain. Banyak hal yang kudapat, banyak pula yang kurekam, ada berbagai ragam dan gaya, dan setidaknya jalan-jalan di jendela ini mampu mengusir jenuhku jika mengingat berbagai task yang belum rampung. Jadi biar aja kujelajah sesukaku mengisi waktu dan mengisi ruang pandang simak yang menyenangkan, biar aja, toh gak ada yang terganggu, paling cuma satu dua teman bilang gini : lagi asyik ya, kok diem aja, duh ada yang sibuk tuh...menyendiri.
******

Friday, August 03, 2007

Bahwa Engkau

Kutulis lagi
Menjadi dua
Dan kukirimkan
Terserah apa kata dunia, kata Nagabonar
Ia juga, kataku
Tuliskan saja
Jelaskan saja
Agar dunia tahu
Bahwa nilai adalah abstraksi sebuah definisi
Bahwa engkau adalah jelmaan yang tak pernah nisbi
Bahwa engkau adalah kisah tanpa jeda
Bahwa engkau adalah kudis autis yang terkikis
Bahwa engkau adalah antagonis yang berhati bengis
Bahwa engkau adalah epidemis yang pintar mengemis
****
(Dua jadwal terselesaikan dengan manis, ada yang datang ada yang dijemput, ada yang dibawa, ada yang disetujui, ada yang diharapkan, ada yang dijelaskan, senan hati deh)
(Dinner yang menyenangkan, bersama, di tempat favorit, mengisi dengan senandung, berbagi cerita dan kisah, selamat malam cerita hari).
******

Thursday, August 02, 2007

Puisi Untuk Kembang Setaman

Duh, makin cantik aja
Duh, makin indah saja
Sinar bola mata itu (seperti luna maya)
Sinar aura indah itu (seperti mawar putih)
Duh seandainya

Ruang hati bening adalah kavling permai taman bunga
Kembang setaman yang tetap bersemayam
Dilapisi pita ungu dan altar merah jambu
Menggelar perjumpaan incognito yang tak tercatat
Adalah kuesioner yang selalu bernada lagu hati

Begitupun
Koridor catatan tidak ingin mencelupkan diri
Cukuplah sebagai catatan sebuah novel biru malam
Cukuplah sebagai barisan tata hati yang mengagumi
Keindahanmu, keselarasanmu memakai busana santun
Kecantikanmu memiliki nilai cum laude di kamar hati
Duhai, kembang setaman hati
****
(Ada yang mau datang, tentu harus disambut dengan senyum, tentu saja dengan senang hati, dengan tangan terbuka, selamat datang ya)
(Berupaya menyelesaikan dengan membagi waktu, walaupun kurang puas tetapi setidaknya sudah kusiapkan untuk jadwal yang sudah direncanakan this week)
*****

Wednesday, August 01, 2007

Special Thanks

Special thanks for all friend yang telah memberikan sumbangsih pada sebaran kues yang telah kusiapkan. Maknanya berteman itu adalah memberikan nilai ketika kita membutuhkan dan atau sebaliknya. Senang hati menerimanya dan itu adalah bagian penting dari sebuah tahapan yang sedang dan akan kukerjakan.
Semangat, tentu saja wong namanya mengejar asa, menggapai terminal yang sebentar lagi kujelang. Ada juga dinamikanya tentang ini ketika ada sejenis pita penghalang yang mencoba merajut jala untuk no entry, ya kusimpulkan saja dengan serpihan omongan yang sempat tersimpan, memang no entry tadi adalah attitude yang memberikan kesan "hebat deh loh", maksudnya menurut loh hebat padahal menurut temen loh sendiri, maaf cakap, sebuah arogansi. Biar aja deh.
Special thanks for Ning, atas antaran kues itu. Kamu baik deh, kamu memang baik, kamu memang sangat baik, dan memang kamu sangat baik dan menyenangkan.
Special thanks for Jum, yang lumayan lengkap dan itu adalah sebuah apresiasi yang memutihkan hati, makasih banget fren.
Special thanks for Ngd, BbIr, Iwy yang juga memberikan langkah proaktif untuk sebuah tahapan yang menurutku penting. Semoga menjadi nilai tambah dalam etika gaul kita ya.
****

Tuesday, July 31, 2007

Bisikan Itu

Teman hati membisikkan seperti ini :
Tahukah engkau bahwa kedengkian itu adalah iri dikali dua, maksudnya kalau sekedar iri, itu maknanya sama dengan ketidaksukaan orang pada orang lain namun tidak sampai mempengaruhi temannya. Kalau dengki ya itu sudah iri, terus mulut embernya kasak kusuk menjual fitnah dan mirip sales mempromosikan produk berlabel iri. Dan engkau harus tahu, orang seperti ini ada di sekitar kita, pintar memainkan peran dan pintar pula bertukar kalimat layaknya seorang berwajah putih tetapi sebenarnya hatinya busuk. Iri dan dengki itu adalah produk hati yang kurang siap menjalani takdir dan berupaya memahami dirinya dengan semangat 'rak trimo" sehingga nilai dan potensi orang lain dianggap sebagai pesaing dan harus diupayakan untuk ditepikan.
Engkau juga harus paham bahwa dengki yang dimiliki oleh makhluk itu adalah ritme yang harus engkau sikapi dengan semangat: biar anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu, berjalan dan menikmati karunia yang dilimpahkan untuk disyukuri. Engkau pun bisa mentertawakannya sembari mengatakan, tapi dalam hati saja loh, bahwa nilai dirinya hanya sebatas itu, banci sikap, pengecut dan hanya bisa jualan kalimat tanpa bisa membentangkannya dalam ruang dan koridor kearifan. Perhatikanlah secara lebih teliti : biasanya bahasa tubuhnya selalu gelisah, cari perhatian, ngoceh gak karuan, trus merasa menjadi komandan lapangan, trus kalau argumennya gak diterima mencak-mencak, sampai mukul-mukul meja, selalu ingin mendikte orang lain, meremehkan orang lain. Dan ini yang menjadi label kesehariannya: Keki banget jika ada orang lain mendapat sesuatu entah itu berupa kesempatan atau yang bernilai karunia.
Pesanku singkat saja : nikmati itu sebagai catatan dosa horizontalnya, simak saja perilakunya sembari berdialog dengan hatimu, anggap dia sebagai pemeran yang sedang berpameran ego. Engkau tidak perlu mengunyah kisah ceritanya dengan memamah biak, ngapain juga, simak saja dan ceritakan pada hatimu dan menjadi alinea yang mampu mengukur nilai diri. Itu saja.
****
(Terasa penat menyelesaikan tugas, namun belum selesai jua, dan sampai habis hari, belum juga memuaskan harapan).

Monday, July 30, 2007

Sebuah Paragraf Hitam

Sebuah paragraf yang tersimpan mengatakan
Adalah sebuah manifes yang menjadi ruang pandang
Sekaligus memuntahkan segumpal lendir kue basi
Yang disajikan sebagai menu omongan tak bermakna

Ya, demikianlah siaran pandang dengar
Mendengar guru bermental autis dan berkudis
Mendengar celotehan penjual obat bermental iri
Menyaksikan fragmen yang dimainkan dengan tema dengki
(Kasihan itu terhapus oleh sikapnya yang butek dan keruh)

Bagaimana mungkin bisa sampai seperti itu
Adalah kisahnya jua yang membuatnya merasa ter
Ter (terhebat, terbaik, terpesona)
Tapi bagiku justru seperti ter yang lain, sejenis aspal
Yang diinjak, yang dilalui tanpa bisa meronta
Ruang yang dihirupnya adalah memerankan ego berdaun kaktus
Ruang yang dilaluinya adalah memainkan peran bunglon
Ruang yang dilaluinya adalah menuliskan kalimat dengki berlapis iri

Antagonisnya dikira sebagai peran utama
Protagonisnya dikira sebagai pusat kekuatan diri
Padahal sejatinya mentalnya adalah autisme berbaju khasad
Padahal sejatinya sikapnya adalah belum mampu bijak
Karena keletihan beban
Karena keletihan asa
Karena keletihan harap
Karena keletihan jasad
Autisnya adalah kekalahan pada kelegaan sikap bening hati
*****

Sunday, July 29, 2007

Lagi, sebuah aktivitas mengalir begitu saja walau sebenarnya planning di Ahad ini adalah menyelesaikan tugas itu. Tapi lagi-lagi langkah memang kadang harus berbelok karena situasi, ada apresiasi untuk kebersamaan di lingkungan dan berupaya mengantisipasinya untuk persiapan Agustusan. Maka setengah hari sampai menjelang siang adalah menjawab apresiasi itu sembari merapikan ruang halaman dengan sentuhan keindahan.
Kemudian mengisi malam dengan rembug warga, pengennya sih nonton final itu, tapi lagi-lagi sebagai bagian tanggung jawab sosial untuk manfaat bersama, keinginan itu di simpan saja, apalagi sebagai tuan rumah tentu harus menjamu tamu dengan senang kata dan senang sapa. semuanya berjalan oke, semuanya direncanakan baik, ada kepanitiaan, ada kesepakatan, ada niat yang baik dan tentu saja ada dinamika berorganisasi namun yang penting adalah nilai solusinya yang mengedepankan kebersamaan. Alhamdulillah.
****

Incognito

Taman bungaku tak terlihat indah, maka kurapikan dia, kurawat dia dan kumandikan dengan cahaya lantunan sembari membersihkan "daki" yang menempel di ruang wajahnya, menyiramnya dan mengelusnya dengan sentuhan halus serta mengharapkan keindahannya bersemi kembali.
Ya, menyemai dan membersihkan taman bungaku di Sabtu bening ini memberikan makna pada nilai kejernihan langkah, memberi kepuasan, dan tentu saja mengisi waktu dari rentang kejenuhan yang membentang diri.
Sebenarnya ingin menyelesaikan tahapan itu
Sebenarnya ingin menghabiskan bab awal itu
Sebenarnya ingin mengisi yang ditugaskan itu
Agar selesai pada waktunya
Agar purna menjelang purnama bulan
Namun
Improvisasi menatap taman bunga
Membuatku hanyut untuk bercengkerama bersamanya
Dan mengisi separuh hari untuk memeluknya
Ada rasa puas
Ada rasa senang
Walau bermandi keringat
(Dan lunch together pun begitu terasa dan menyantap dengan lahap di tengah keramaian sebuah resto cepat saji, duh nikmatnya dalam kebersamaan membagi hari).
*****
Kuselesaikan target di Jumat akhir pekan ini dan menjawab semua tahapan dengan keseriusan, membaca peta peran dan melahap ruang keseharian dengan menuntaskan untuk sebuah perencanaan yang sudah kusiapkan. Alhamdulillah selesai dengan senyum hati yang mengapplausnya.
Senang hati adalah nilai kepuasan itu
Senang hari adalah nilai langkah itu
Senang hati adalah nilai kesimpulan itu
Senang hari adalah nilai isian itu
(Begitupun tidak seharusnya menyatakannya pada sebutan melambungkan pesan hati, karena ruang itu hanya untuk nilai hati dan nilai hari).
****

Thursday, July 26, 2007

Sejauh Yang Kuamati

Sikap telunjuk lurus kelingking berkait adalah lambang etika yang kurang mengedepankan putih hati, dan selalu menjadi catatan analisis yang menarik apalagi jika ada sub temanya yang berjudul iri. Gampang banget mencari dan menemukan tipikal pribadi seperti ini, misalnya pura-pura menunjukkan sikap baik padahal bahasa tubuhnya menggambarkan sebaliknya. Atau kalau ngomong "teratur tutur bahasanya" tetapi sesungguhnya hatinya berkerikil. Ini yang disebut sikap banci hati dan sekaligus mental iri.
Sejauh yang kuamati ada person yang merasa selalu pandai mengatur irama padahal sejarahnya dulu adalah maling teriak maling, dan pintar menyembunyikan sesuatu, pintar membuat opini dan sekaligus menutupi belang diri sendiri. Pemandangan seperti ini, kata seorang yang berhati istiqomah adalah nomor soal ujian yang berjudul nahi munkar, harus ada kalimat yang menyatakan ; kulil haq walaukana murran, katakan yang benar walaupun teras pahit.
Sejauh yang kuamati jua, sandiwaranya cukup bagus
Sejauh yang kuamati jua, peran malingnya cukup apik
Sejauh yang kuamati jua, kisah sejarahnya menyimpan debu
Sejauh yang kuamati jua, perilakunya bermental iri
(Ada saatnya menyatakan yang benar walau pahit niscaya obat)
*****

Wednesday, July 25, 2007

Rembulan Hati

Isian yang harus diolesi adalah berupaya membelai percakapan imajiner dengan kalimat-kalimat putih, untuk mengecat menjadi putih dan membandingkannya dengan rembulan bening. Bukankah rembulan lambang keteduhan, bukankah rembulan lambang keheningan, bukankah rembulan lambang kedamaian. Dan memandang bulan empat belas hari pada sudut siku pandang adalah menengadah pada langit. Dan mengirimkan ucapan senandung pada semesta adalah hasrat untuk mengembang, adalah bagian dari celah yang hening dan bening tadi.

Dan jadikanlah senyum bening itu sebagai ungkapan
Dan jadikanlah benang sutra itu sebagai ucapan
Dan jadikanlah keheningan itu sebagai pandangan
Dan jadikanlah kebeningan itu sebagai dendang

Aku inginkan hasrat itu mampu dimandikan bersama harap
Aku inginkan damba itu mampu dicelupkan bersama asa
Aku inginkan ingin itu mampu dikecupkan bersama senyum
Aku inginkan hasrat damba dan ingin itu dimandikan bersama

(Thanks to Ng, semoga bernilai cum laude ya bantuannya itu untuk percepatan penyelesaian yang sudah menjadi target. Makasih ya)
****

Tuesday, July 24, 2007

Ember

Ember, sebutan untuk yang suka nyaring bahasa tapi gak jelas kedalaman maknanya. Biasanya kategori ini dari kaum hawa dan biasa juga ketika kita menyadari ini sebagai cerita seputar kaum hawa. Namun jika sebutan itu untuk lelaki yang suka pamer cangkem, jadi pemandangan yang "menyedihkan" karena mencerminkan sikap gede rasa, gede rumongso.
Sering kuamati fenomena ini, gayanya yang merasa gede itu tadi, ngomongnya seperti air pancuran yang berisik, pantas saja disebut ember, karena ember kaleng kalau diisi air pasti berbunyi heboh. Jarang lelaki yang suka ngomongin temennya dan anomalinya ada pada yang satu ini, padahal sejatinya ruang hatinya itu hanya diisi oleh petualangan menghidupi belang diri termasuk perilaku belangnya selama ini dan memberikan kesan seakan dia yang menjadi protagonis cerita. Lebih tepatnya pengen jadi pemeran utama padahal ya itu tadi untuk menyimpan kepengecutan diri berlapis mulut ember.
Aku kadang merasa kasihan dengan kepribadian yang bermental ember ini, grusa grusu, gak tau sopan santun apalagi memakai grammar dalam bertutur kata. Terus merasa paling hebat dalam tata pergaulan padahal rekam jejaknya sesungguhnya adalah pemetik kembang plastik yang dibungkus dengan seikat kangkung pemicu tidur. Belum lagi kalau bicara ruang sekat, duh mirip komplotan mafia amatiran yang berada di jalur inner cyrcle dan terlanjur menjadi semacam sindikat berbaju seragam, senangnya memfitnah dan membuat opini padahal sesungguhnya telah terjadi pembusukan pada ruang hatinya.
Makanya ketika ada seorang teman yang mendiskusikan tentang dia, langsung kujawab : kita tonton saja seperti sebuah sinetron, judulnya "Preman Bermulut Ember". Sayangnya gak ada produser yang mau menerbitkan jalan cerita itu, jadi kasian deh lu hanya bisa bermain di inner cyrcle saja dan hanya menulis lembaran tanpa paragraf.
*****
(Thanks to Jm, Wy atas bantuan sebaran itu, sebagai bagian dari pertemenan yang saling menyenangkan, saling membantu)

Monday, July 23, 2007

Terukur

Langkahku terukur, maksudnya dari sekian atau katakanlah seabreg rancangan yang disiapkan untuk hari ini, semuanya kuatur iramanya dengan manajemen waktu, menyelesaikan reporting final, kemudian persiapan sebaran kues yang membutuhkan manajemen tersendiri pula, kemudian merevisi kembali bentuk yang paling pas untuk sebaran itu, kemudian merealisasikan amanah yang menjadi tugas jariah diri, kemudian kembali memelototi referensi yang bakalan di rehab untuk kisi-kisi dimensi operasional.

Malam juga demikian, beranjak sebentar untuk melengkapi sarana cetak agar gak mondar mandir, dapat dengan harga sekian dan dicoba walau belum berhasil, kemudian rembug kelola lingkungan dengan pengurus, tentang partisipasi, tentang panitia, tentang penyempurnaan tugas, tentang yang lagi jadi isyu, tentang persiapan agustusan. Selesai sudah larut malam dan larut pula diri dalam kepenatan.

Alhamdulillah, terimakasih Tuhan, semua dapat berjalan dengan awalan doa kehadiratMu.
****

Sunday, July 22, 2007

Weekend Biru

Menikmati Ahad dengan planning yang ketat, maksudnya bersaing dengan waktu, menjalankannya dengan rangkaian waktu yang sempit. After jalan pagi, breakfast dan reading news paper, terus menyelesaikan materi kues dan sekalian menyelesaikan rangkaian report yang harus oke tomorrow, respons imel dan membaca referensi sekalian membandingkan lagi, di library sampai matahari tergelincir.
Setelah itu janjian dengan keluarga untuk lunch di sebuah rm yang mengesankan, hidangan sesuai selera dan, ini yang penting, suasananya memberikan kehangatan pada senyum yang mengembang, menyenangkan dan tentu saja mengenyangkan. Kemudian ke pusat perbelanjaan yang menjadi langganan favorit, melihat dan membeli tentu saja untuk kedua buah hati yang lincah manja dan membungakan.
Sebuah ahad yang sibuk
Sebuah ahad yang menyelesaikan
Sebuah ahad yang menyenangkan
Sebuah ahad yang membungakan
*****
Mengapresiasikan apa yang disajikan dengan lebih melihatnya sebagai komparasi untuk memposisikan apa yang kuhasilkan. Makanya aku lebih serius untuk menjalankannya, mengisinya dan mengadu dengan argumen yang ada pada sudut pandangku. Ini yang disebut proses pematangan, proses trial and error, proses yang memang mengharuskan kita untuk menjabarkannya sebagai bagian dari pertanggungjawaban nilai.
Dan waktu yang bergulir kunikmati sebagai dinamika, sebagai langkah, sebagai olah daya dan olah pikir serta olah diskusi agar memberikan perbaikan dan kesempurnaan pada langkah berikutnya yang sudah dihadapan.
Dan kunikmati saja
Dan kujalani saja
Dan kucerna saja
Dan keminum saja
Dan kuyakini saja
(Toh semua pembanding itu memberikan nuansa sama di langkah dan jalan)
****

Saturday, July 21, 2007

JELAJAH LINTAS

Kembali menjelajah kawasan regional dengan memastikan jejak arung dengan rute utara, tengah dan selatan, mirip huruf Z. Menyenangkan, so pasti, karena ini salah satu varian yang ksenangi, menjalani dan menjelajah. Tiga hari yang menderu, memacu dan sampai di kisaran puncak kecepatan. Yang pertama lurus langsung di lintas utara dengan varian mendaki di sisi hutan jati dan karet, di puncak ketinggian yang menyapa jarak pandang mencapai sedandang dan gondang.
Indah permai dan mampu menyapu variabel kesukaan yang dikorelasikan dengan identifikasi pada kesegaran menghirup lepas, dahaga yang terhempas.
Indah menawan, menyapa laut jawa dengan buih ombak bagai riak di senandung tengah hari yang terik dan ketingian yang menjulang.
Sungguh merupakan fenomena keindahan ketika memandang semua itu dengan matahati yang lurus langsung dan menengadah.
*****
Lintas vertikal menjumpai kawasan idola dan ideal yang sering kupeluk dan kunikmati. Jalan sepanjang kawasan dan mentransformasikan logika yang bermain pada ekspetasi nilai. Ya selalu begitu meskipun lengkung jalan yang menyentuh sudah kuhafal raut wajahnya. Ekspetasi itu adalah perjumpaan pada titik sentral untuk kembali menggamit asa yang sempat dilabuhkan pada titik nadir. Ekspetasi itu adalah mencoba memahami rute perjalanan pada sebuah tujuan yang kunikmati bersama bayu. Dan respondennya adalah persetujuan pada nilai harapan untuk kembali disandingkan pada pendakian naluri yang diolesi hasrat untuk berkibar. Dan pinggang Merapi terlihat angkuh manakala berhenti di sudut Pakem yang sejuk dan teduh.
*****
Pantai selatan yang indah, teluk Penyu, menyambut dengan deru dan memangilku ketika lunch bareng menjelmakan kepuasan pada rentang pandang yang luas lepas, menemukenali jalinan ombak yang berkejaran menuju titik buih yang berpendar. Sebuah siang yang letih namun mampu membersihkan kebosanan dan kejenuhan.
Duhai ombak kesetiaan
Sampaikanlah pesan yang kutumpahkan pada segelas minuman bening
Sampaikanlah asa yang kulayarkan pada sebuah perahu tanpa dayung
Sampaikanlah senyumku pada sejumlah hasrat yang bermain di angan
Sampaikanlah pada sejumlah pelabuhan yang menceritakan puisi hatiku
Dan perjalanan tiga hari kembali menuju ke titik simpul
Dan perjalanan tiga hari kembali menderu
Membelah Sindoro Sumbing tanpa matahari
Sembari memahami logika yang berkompromi dengan asumsi hening
*****

Monday, July 16, 2007

Plong

Plong dan lepas, itulah fenomena yang kudapatkan ketika semua yang kuplanningkan berjalan dengan alurnya walaupun ada tumpang tindih kegiatan. Deal dengan pembimbing waktunya idem dengan kegiatan meeting tapi kuupayakan untuk menjaga skala prioritas dan kukejar waktunya, ketemu walau agak terlambat, terengah-engah (habis naik tangga manual sebanyak 5 lantai), diskusi, argumen dikit, dan oke bisa dilanjut, maka satu tahapan lagi kulampaui.
Kemudian pending sesaat, dan melanjut lagi dengan aktivitas, merancang untuk next day dan disetujui, kemudian menyelesaikan yang masih tertinggal, dan selesai. So, plong dong rasanya, semua berjalan dengan irama yang dinamis tanpa harus tergesa-gesa. Catatan hari pun menjadi alur air yang membeningkan dan menyejukkan, intonasi nadi juga memberikan lagu kesukaan yang mampu membawa diri pada koridor berirama biru malam.
(Thanks to Drt yang memberikan ruang waktu untuk sebuah tahapan penyusunan, sehingga memberikan keyakinan pada diri bahwa aku dapat menyelesaikan tepat waktu).
****

Sunday, July 15, 2007

Jejak Sabtu-Minggu

Jejak Ahadku dimulai dengan membuka pintu Subuh yang membeningkan, and then bersalawat sesaat sebelum melangkahkan jejak kaki mengayun menuju kawasan rutinitas, jalan-jalan morning mengitari kawasan pusat kota, melepas sinar pandang dan menceritakan pada hati tentang cerahnya hari, cerahnya irama. Ada yang berirama mengiringi musik di pinggir jalan, ada yang berlari-lari kecil, ada yang berkerumun, ada yang jualan, ada yang bercengkerama, rata-rata belon mandi pagi, tapi mampu mengisi hari dengan olah tubuh, semuanya menjadi cakrawala pandang yang menyenangkan.
After that, mengisi hari dengan menekuni revisi, menyelesaikannnya dengan berbagai referensi dan berupaya menyempurnakannya sejauh yang kuinginkan, kemudian capek deh, istirahat dulu ah, kemudian lunch with my family di pusat perbelanjaan terkenal di ujung tol dan sekalian belanja kebutuhan rumah. And then sibuk lagi sampai larut malam, dengan sketsa begini ; nonton bola via tv, lanjutkan revisi, bolak balik, dan waktu beranjak larut sampai akhirnya lepas lelah.
****
Mengisi hari dengan memperdalam galian wawasan, dan memberdayakan ekspetasi terhadap proposal yang harus direvisi. Tambahan bekal Sabtu ini adalah mencoba memasuki kawasan aplikasi yang diharapkan mampu mempermudah proses akhir tugas dan setidaknya mampu menemukenali apa yang disebut proses terkini dari sebuah versi analisis kuantitatif.
Bagian lain adalah mencoba melihat sisi tampil dari made in rekan ketika tampil membawakan dan menguraikan. Ada yang menggebu-gebu namun gak jelas struktur bawaan maksudnya, ada yang kalem dan berlama-lama agar gak ditanya, ada yang kelihatan susah dan gugup duluan sehingga ketahuan grogi pada awal kalimatnya. Bagiku ini sebuah pemandangan "indah" dan sekaligus lucu, bahwa kesiapan yang dimiliki belum menjamin jejak pandang di hadapan akan mampu membawa suasana diri pada ketenangan dan pede, dua hal yang memang harus digenggam dan banyak latihan.
Gambaran hari ini jadi jelas warnanya, menyelesaikan dan merevisi kembali yang belum klop kemudian membandingkan dengan tampilan yang dikumandangkan masing-masing person sehingga aku bisa memposisikan ada di barisan mana aku berada.
****

Friday, July 13, 2007

Ijinkanlah

Ijinkanlah kunyanyikan tembang hati
Relakanlah kulantunkan sepucuk asa yang tersisa
Untuk menjelaskan posisi lekuk nada
Yang bermain di langkah
Untuk menerangkan sisi logika
Yang tertumpah di persimpangan

Bahwa perputaran hari tidak lagi untuk dicerna
Bahwa perjalanan hari tidak lagi untuk dikunyah
Bukankah bisikan jelas sudah mematri hakekat
Bukankah sketsa definisi sudah mengalir ke delta muara

Ijinkanlah kunyanyikan tembang hati
Sembari menghitung sampai dimana langkah
Memberikan kehangatan pada korelasi regresi
Ijinkanlah
****

Thursday, July 12, 2007

Binar Ultah

Sebuah ulang tahun dengan senyum matahari jam dua belas, dan ketika dirayakan bersama anggota keluarga di sebuah rumah makan siang ini, doanya sederhana, baca al fatihah dan kita pun menyantap hidangan yang sudah disajikan dengan cepat. Kukecup wajah my wife demikian juga dengan kedua buah hati yang berbinar indah dipandang dan menggemaskan. Dan suasana lunch begitu menyenangkan dan tentu saja mengenyangkan sebab sajian rumah makan ini adalah yang terbaik dari sisi selera dan suasana.
Suasana melintasi ruang rutinitas memang diperlukan untuk memberikan catatan pada warna hari, warna hati dan warna pipi memerah dengan bumbu penyedap seulas senyum, secangkir guyon dan segelas nasehat. Gabungan aneka rasa ini setidaknya siang ini mampu kugoreng dan kusajikan dengan sejuknya suasana, cerahnya sinar nurani dan bingkisannya adalah sebuah ucapan mesra : selamat ulang tahun mama.
(Thanks atas souvenir ultahnya, seorang sahabat selalu mengingatkan arti sebuah hari yang bernama ulangan tahun, ulangan umur, ulangan usia dan selalu menambahkan nilai yang menghangatkan)
****

Wednesday, July 11, 2007

Special Thanks

Spesial thanks buat kamu yang selalu memberikan bingkisan atau apapun itu, cerminannya adalah sebuah nilai melebihi sekedar tali silaturrahmi yang mengembangkan. Hari ini sejumput bingkisan itu adalah untuk sebuah tanggal esok hari yang sengaja dititipkan dan diselaraskan.
Ucapannya adalah untuk sebuah hari jadi yang digaris tebal pada setiap kalender, tidak hanya itu, karena ingatanmu yang begitu kental pada segenggam persepsi dengan sejumlah ucapan yang terdengar merdu : mempererat tali persaudaraan dan perikatan pada nilai pertemanan yang panjang. Kamu sampaikan itu seperti sebuah tradisi yang kali ini tertuju untuk my wife, untuk sebuah ulangan titik kehidupan yang baru, ulang tahun.
Terimakasih banget ya
Dan nilai itu ada pada sudut hati terdalam
Lukisannya adalah pada keikhlasan jalan bersama
Catatannya adalah pada kearifan peran bersama
Tulisannya adalah cerita sepanjang jalan
****

Tuesday, July 10, 2007

Jalan Hati

Jalan diri hari ini adalah memetik hikmah
Jalan diri hari ini adalah menyiram zuhud
Jalan diri hari ini adalah menepi kerikil
Jalan diri hari ini adalah menyapa bukit hijau

Jalan hati hari ini adalah memahami KUN
Jalan hati hari ini adalah menghayati FAYAKUN
Jalan hati hari ini adalah mengunyah ruang dadda
Jalan hati hari ini adalah mencerna tikungan diri

(Sembari menikmati silhoutte Sindoro yang perkasa dari sisi Timur dan Merapi yang gagah menjelang petang, matahari mampu memberikan sinar pandang yang mengagumkan, dan sengaja membisikkan sesuatu pada jalan hati : bukankah aku dan dia menjadi saksi istiqomah pada rangkaian perjalanan berbilang tak berjejak, dan sesungguhnya pada kejernihan dan kebeningan nurani-lah jawaban yang mampu memberikan nilai cum laude pada setiap jalan hati dan jalan diri).
****

Monday, July 09, 2007

Kaliadem, Adem hati

Satu dari lima hari yang menyenangkan itu adalah menikmati udara sejuk di pinggang gunung Merapi dari sisi Kaliadem. Tidak terlalu direncanakan memang namun nikmatnya traveling adalah menikmati apa saja yang bisa dinikmati, dijalani dan di approve sebagai bingkisan sinar mata untuk mencari kesegaran nurani. Maka berjalanlah aku, maka berjalanlah kami menapaki batu-batu dan pasir yang berserakan yang melambangkan keperkasaaan itu. Semakin berjalan, semakin aku merasakan nikmatnya kebesaran itu sekaligus mematut-matut diri untuk tahu diri dan mengaca diri.

Ketika akan pulang, pengen mampir sekedarnya, syukur-syukur bisa ketemu Mbah Maridjan dan ini juga langkah kanan ketika Ashar tiba si Mbah jadi Imam, aku dan keluarga jadi makmum, kusalami dia, tatap matanya menyorot tajam, lalu tersenyum dan mempersilakan kami menuju rumahnya yang sederhana itu.

Kinahredjo adalah lambang kesederhanaan yang memberikan pelajaran tentang persahabatan dengan alam. Warganya yang ramah, selalu menyapa, bergelut dengan keseharian yang sederhana tapi menentramkan. Sungguh sebuah pemandangan yang menyejukkan manakala keseharian itu menjadi layar yang kutonton dengan ruang hati, merenungkannya sembari memaknainya sebagai sebuah cermin diri.

Sekali lagi kujabat tangan si Mbah, yang selalu apa adanya, omongnya yang lepas, guyonnya yang lepas, senyumnya yang lepas, sederhana namun memberikan makna kekuatan bathin yang luar biasa. Kami pun pamit sembari melepas dahaga diri dan menyiram pandangan sekitar dengan wajah dan sinar mata teduh. Si Mbah memberikan banyak pelajaran tentang keteduhan hati, tentang kesederhanaan peran, tentang apa adanya, tentang makna hidup sesungguhnya.

*****

Sunday, July 08, 2007

Saturday, Catatan Itu

Konsentrasi untuk persiapan tampil, kuupayakan sebaik mungkin, se pede mungkin agar bisa menghasilkan sebutan yang bagus, dan kupelajari, dan kuhayati, dan kurenungkan agar bisa menjadi yang terbaik. Dan ketika waktunya menjelang, ada grogi sedikit namun setelah giliran tampil pede itu muncul dan mengalirlah semuanya dengan gayaku sendiri, kubahas, kuceritakan, kudeskripsikan, kujelaskan dan kutampilkan dengan segenap kemampuanku.
Kujawab semua ketika sejumlah tanya dan argumen dikemukakan, dan semuanya mampu kujelaskan dengan argumenku pula dan ini yang menyenangkan, semuanya berada dalam koridor akademis, tetap mengedepankan obyektivitas, sebuah catatan yang menjadi reward bagi pembelajaran intelektualitas diri.
****

Lima Hari Yang Menyenangkan

Sejumlah hari dirangkum dan dinyatakan dengan predikat sangat menyenangkan sehingga menjadi bagian yang mampu memperbaharui parfum hati. Betapa, menikmati suasana yang hijau segar, ada yang datang, sudah lama dinanti, ada yang membawa kabar, ada yang menceritakan, ada yang membanggakan, ada yang menghangatkan, sesungguhnya membagi hari adalah cerita yang mampu dirangkum dalam episode bilangan lima kali matahari terbit, memberikan cahaya hangat pada setiap senyum yang dilontarkan.

Menjelajah kota karena memang diinginkan oleh yang datang dari tanah seberang, menjelaskan, membandingkan dan menyatakan. Kemudian menjelajah traveling lingkaran utara selatan, kembali menjelaskan dan mendefinisikan, menyinggahi, mengunjungi dan menawarkan sebuah paket yang mampu dikecap bersama. Dan kita pun menyanyi bersama mendapatkan suasana kedekatan dan keakraban, sebuah nilai persaudaraan yang mampu dibangun dengan berbagai cerita.

Kugariskan saja nilai yang kudapat
Kucatat saja sebutan yang kuperoleh
Kutulis saja predikat yang kusandang
Kucoret saja angka yang kudekap

Mengganti suasana dengan cerita berlandas primordial karena yang berkunjung adalah sebuah nilai yang kunanti, kutunggu dan kuinginkan. Maka matahari pun kusambut dengan nyanyian, untuk memastikan bahwa lima hari ini adalah cerita berbungkus pita biru yang disandingkan dengan souvenir rasa kangen, rasa hangat dan menyatukannya dengan senyum mengembang. Sungguh menjadi catatan garis tebal manakala bagian paragraf yang digaris menjadi senandung lepas yang menyatakan betapa sesungguhnya melayani dan memberikan sesuatu adalah nilai dari catatan sepanjang hari. Aku menjalani itu dan mencoba memahaminya sebagai bagian dari pembelajaran hakekat keniscayaan.
*****

Monday, July 02, 2007

Kupastikan

Secara pasti aku dapat selesaikan beberapa step yang kutargetkan, setidaknya menambah tebal apa yang kutulis untuk dipresentasikan, dan yang lebih enak lagi ternyata perubahan itu setelah kusampaikan di oke kan saja oleh otoritas sehingga menambah keyakinanku untuk mampu kuselesaikan dua hari ini. Demikian juga dengan target yang lain, kuselesaikan hari ini sehingga ada rasa plong di hati dan berbuka puasa bersama keluarga petang ini juga merupakan sebuah kebahagiaan tersendiri.
Bukankah itu merupakan iringan langkah yang menyenangkan, membungakan dan membeningkan, ya tentu saja, yang penting kuniatkan saja bahwa yang menjadi planning hari ini, esok atau lusa kupastikan dengan nawaitu bahwa moga-moga semuanya berjalan lancar, jernih dan lurus. Masih terngiang lontaran kalimat bermakna itu: Seekor katak yang tuli ternyata mampu mencapai puncak gedung mengalahkan opini dan argumentasi negatif tentangnya.
(Alhamdulillah, karunia limpahan itu semakin memberikan makna tentang rezeki di bumi Allah Yang Maha Kaya, bukankah semua ada ditanganMu tentang apa saja, dan evidence yang paling nyata adalah kesetiaan matahari untuk terbit dari Timur dan menghangati semua makhluk bumi yang dilaluinya).
****

Prisma

Menjalani pagi cerah dengan walking, jalan santai menuju pusat keramaian kota, dan seperti biasa ada yang dibeli, yang digemari dan menjadi menu mingguan. After that, menghampiri sarapan pagi di kawasan Tmbl yang banyak penggemarnya itu. Lumayanlah rasanya lagian sudah lama gak menghampirinya. After that memilih rute untuk menyapa pemandangan salah satu sudut kota yang masih hijau, menuruninya dengan perlahan dan mampu menampilkan sinar pandang yang bening cerah seperti cerahnya cuaca Ahad hari ini.

After that, menyapa taman bunga dan membersihkannya sembari berpeluh ria, lama tak menyambanginya sekedar melihat dan menatap, banyak yang harus dibersihkan, banyak yang harus dibelai agar menjadi segar, dang ganti suasana ini mampu memberikan nilai keringat tengah hari yang menyehatkan.

After that, ya istirahat
After that, bersilaturrahmi dengan toko buku terkenal, mengunjunginya, membaca on the spot dan tak lupa membeli yang sudah direncanakan.
After that, ya capek deh
After that ya tidur dong
After that, pulas
*****

Awalnya agak malas juga untuk melangkah mengikuti dan memenuhi undangan itu Sabtu ini, namun kucoba juga untuk menjelmakan kehadiranku, dan ternyata ruang luas yang mampu menampung banyak kursi itu sudah terisi penuh, namun aku masih dapat tempat juga di sisi kanan. Dan ternyata seorang guru besar terkenal mampu menghidupkan suasana hatiku dengan sedotan perhatian dan kematangan empirik dengan bebarapa analogi mampu membangunkan kelesuan nuraniku.

Banyak yang disampaikan dan tema itu sendiri adalah bagian dari catatan yang sudah banyak kutemukan diberbagai sudut perpustakaan, namun gaya pencerahan yang dimiliki pakar kenamaan itu memberikan suntikan adrenalin pada semangat hati. Iya juga ya, bergegas dong menyambut matahari dan berlari seperti sejumlah katak yang hendak melompat gedung tinggi. Bahwa penceritaannya yang jelas itu dengan kesempurnaan mengalihkan dan menggantinya dengan kesegaran adalah daya tarik yang menjadikan general college sebagai yang terbaik sepanjang yang kuikuti selama ini.

(Banyak yang harus diganti ketika mengikuti arahan, maka setelah itu aku mencoba mensiasati waktu yang tersisa untuk menyempurnakannya. Soalnya minggu depan harus tampil, dan aku ingin semuanya berjalan lancar dan berhasil).
(Thanks to Hr yang mau berbagi halaman untuk sekedar membandingkan dan membedakan, dimana sih bedanya dan setelah kubanding dengan yang lain, banyak juga bedanya, trus yang mana yang harus ditampilkan, itulah sejuta tanya yang menggelayut hati).
*****

Menelisik yang belum terkatakan
Mengungkap yang belum tersentuh
Membaca yang belum ditulis
Mengatakan yang belum terbaca

Adalah bagian pengindraan yang membuih
Adalah bagian pengimbuhan yang berakhiran
Adalah bagian pencitraan yang tercurah
Adalah bagian penelusuran yang tersimbah

Dan
Jalan dihadapan adalah meneliti langkah
Jalan dihadapan adalah menelisik ruang
Jalan di hadapan adalah menelikung bukit hijau
Jalan dihadapan adalah menuruni ngarai hijau

(Menanti kedatangan sampai Jumat ini tuk menyambut dengan pelangi akhir hujan, adalah yang menjadi curahan pada one moment dari sekian banyak liku persimpangan yang didapat. Maka nilai selamat datang menjadi garis yang diulang-ulang untuk menyatakan betapa sukacitanya ruang perjumpaan itu).
*****


Thursday, June 28, 2007

Lapang

Lapangan adalah tempat bermain, ruang publik, dan koridor untuk memandang luas apa saja yang bisa dipandang, memberikan cahaya pandang pada setiap layar yang menjadi fokus sudutpandangnya. Lapangan hati adalah koridor untuk bercermin diri ketika kita ingin menyaksikan pertarungan ego melawan nurani.
Lapang dada adalah serat yang memberikan sinar terang untuk mematut-matut diri dan tahu diri dalam setiap unjuk diri dan mampu membersihkan sudut pandang pada kebeningan air pancuran, segar, sejuk dan menggirahkan bathin. Kepada siapa lapang dada ditunjukkan eksistensinya, tidak lain adalah kepada kebeningan itu jua, pada sosok yang mampu menjalani sinar pandang dengan terang rasa, tenang nada.
Batas maksimal yang ingin ditampilkan adalah mencoba mengais nilai itu dengan sebungkus naluri yang masih tersimpan utuh di lapis legitnya aura, bahwa suntikan halus yang menyemai pada titik nadir bisa ditunaskan kembali, seiring datangnya musim semi yang menyapa. Batas yang didapat pada persimpangan ini adalah traffic light yang memberikan ruang kesempatan untuk melanjutkan, tak perlu menoleh dan membiarkan angin menerpa dengan kecepatan sepoi-sepoi yang menidurkan.
Lapang rasa
Terang rasa
Tenang nada
Tenang aura
(Tidak harus dijelaskan kembali, pada sebuah batas yang diperoleh, kalaupun harus berlabuh, keniscayaan adalah cerita terakhir yang ingin diperoleh dengan sentuhan pelabuhan hati).
****

Wednesday, June 27, 2007

Nilai

Nilai yang dikumandangkan itu bukanlah sesuatu yang mampu mendefinisikan ukuran tiga dimensi, apalagi jika membawa bungkusan yang bernama attitude, perilaku dan estetika. Sayangnya komponen itu tidak dilekatkan dan dipaku pada setiap unsur sehingga seperti sebuah proklamasi, diumumkan lalu "tiada yang menandatanganinya" sebagai pusat pertanggungjawaban argumentasi.
Sama juga ketika bicara sudut pandang atau nilai pandang. Tidak perlu menyatakan apresiasi jika itu menyangkut penilaian sisi luar dan sosiologi yang ditampilkan bukan karena menutup pintu, bisa jadi lebih baik menyatakan tidak daripada harus menjelaskan dengan teriakan di lorong gua. Bergema tanpa ada yang mendengar.
Sudut pandang itu adalah bagian dari sikap diri untuk tidak lagi bermain di lapangan rumput, untuk tidak lagi mengayuh diri, untuk tidak lagi berlari menuju cakrawala. Setting ulangnya adalah ruang pandang yang kuingin kudekap, kucium dan kurangkul sembari mengatakan: bukanlah sesuatu yang bernilai mutlak manakala nilai itu dikumandangkan, apalagi berlabel imbuhan TER.
Dan itulah hipotesis yang tercetus dan nilai pembuktiannya adalah mengenali sudut ruang yang selalu menyatakan nilai kebenaran hakekat, bahwa itulah sejatinya nilai seperti yang tergores malam ini :
"Wahai anakku, carilah ketinggian kedudukan dengan merendahkan hatimu. Carilah kemuliaan dengan berpegang teguh pada agama. Dan carilah kodrat Allah dengan memaafkan orang lain".
Subhanallah....
*****

Tuesday, June 26, 2007

Menanti

Jalani suasana liburan, mendatangkan yang sudah dijanjikan dengan berharap dapat memberikan nilai kekentalan nuansa, dan sesungguhnya menginginkan semua menjadi nilai tambah yang diamini oleh hati nurani. Betapa, ketika ada ungkapan sudah berjalan dan disepanjang perjalanan menantikan kabar dan cerita, sesungguhnya hati merasa senang sembari menantikan jua kedatangan bersama, menghirup bersama, bercerita bersama dan mengail apa sebenarnya nilai yang hendak ditampilkan itu.
Bahwa nilai elemen yang menjadi panutan adalah untuk menjanjikan sentuhan pada apa yang disebut menikmati suasana, mengganti suasana, mencuci suasana dan berupaya melayani dengan kebeningan rasa, adalah itu yang ingin disampaikan ketika berita ketibaan kugenggam dan kupersiakan memasuki ruang untuk berbagi kabar.
(jalan-jalan sepanjang petang juga adalah untuk membagi nilai itu, maka setibanya saat, kunikmati dengan menghitung jumlah langkah dan menghampiri kesejukan untuk mengecup juice kesukaan, dan kafilah yang berjalan dan bersenda gurau adalah tampilan yang mengedepankan suasana: berbagi episode petang. Dan ananda pun tersenyum).
****

Monday, June 25, 2007

Catatan Pelangi

Puasa hari ini dengan segempal aura yang menampilkan keinginan untuk berbenah, dan alhamdulillah bisa menjelajah ruang hari dengan semangat prima. Ruang yang ingin disampaikan adalah keinginan untuk menapaki kedekatan yang sempat dicampakkan pada sejumlah catatan hari, catatan hati. Dan dengan berlindung itu, keprihatinan pada suguhan potensi adalah pengambilalihan yang memang dilayangkan seperti bermain layang-layang.
Sungguh ketidakmampuan adalah tarikan tali itu
Sungguh kelemahan adalah ketidakmampuan mengolah tali itu
Sungguh kelengahan itu adalah mencoba melepas tali itu
(Dan bermainlah dengan suguhan wayang tanpa kejelasan cerita)
*****
Menjadikan Ahad sebagai ruang untuk melepas penat, menjadikan Ahad sebagai lapangan untuk berteduh bathin dan mencoba mengulitinya dengan bermain pada sejumlah pilihan, ada dialog, ada guyonan, ada ceria, ada cerah, ada kesibukan, ada benah-benah, ada resik-resik, ada tawa, semuanya ada di lapangan yang bernama rumah dan isinya.

Sejatinya bermain adalah mencoba memahami letak sisi mana sih yang menjadikan bumbu penyedap hari, nyatanya dengan itu aku bisa kembali menyelinapkan rasa sumringah pada kedua buah hati yang perlu sentuhan hati. Kabar baiknya adalah menelisik nilai yang dilaporkan, dan pilihan si cantik kuamini saja karena bidangnya adalah di lapangan itu sementara si tomboy mendapatkan nilai yang lumayan sebagai peningkatan langkah kompetensi yang dimilikinya.
Dan jadilah hari sebagai cerahnya hati
Dan jadilah hari sebagai cerahnya nadi
Dan jadilah hari sebagai cerahnya arti
*****

Sabtu serius
Sebagai titik simpul
Sebagai titik final
Sebagai titik awal
Untuk menuju akhir
Untuk menuju terminal
Untuk menuju muara

Sabtu seru
Sebagai rancangan awal
Sebagai persiapan awal
Sebagai langkah awal
Sebagai definisi awal
(Semoga aku bisa melewatinya dengan semangat menjadi yang terbaik)
(Semoga aku bisa melapangkannya dengan semangat menjadi yang prima)
****

Friday, June 22, 2007

Ikatan, Resonansi

Ada kabar untuk berjalan, untuk bertemu, untuk bertutur, dan kuyakinkan jua bahwa bisa saja namun perlu juga dilayangkan jarak yang akan ditempuh. Adik kembar menyatakan hasrat itu dan moga-moga bisa direalisasikan dalam waktu dekat. Bukankah itu bagian dari perekat, bukankah itu bagian dari kehangatan, bukankah itu bagian dari persamaan.

Membayangkan rindu tidak lain adalah membayangi ruang yang terikat pada nilai persaudaraan, membayangkan rindu tidak lain adalah membayar ruang yang tidak pernah diisi untuk sekian lama pada dialog dan tatap hati. Dan ketika semua menjadi ruang nyata, garis yang hendak dijamah adalah memperkuat ikatan, menceritakan progress dan mencoba membangun saran dengan bungkusan yang menciptakan nilai berkah.

(Thanks to Yn, dialog yang menyenangkan, memberi kabar terbaru dan menyapa dengan voice yang khas, cerita tentang headline terakhir, menambah nilai kedekatan yang bernilai.)

(Thanks to Mi, An, rampunglah tugas yang bebebankan selama sebulan ini, bagi informasi, bagi kesamaan untuk dipersamakan pada nilai yang disamadengankan itu. Plong rasanya).
******

Menceritakan resonansi adalah gema yang disuarakan tanpa harus diperdengarkan pada sejumlah bilangan anggota karena suara itu tidak mampu didengarkan pada kapasitas normal yang diedarkan. Makanya aku lebih suka melantunkan lagu tanpa harus didengarkan apalagi ditestimonikan pada sejumlah taman bunga. Lebih baik menyanyikannya dalam arung jeram sehingga teriakannya dikalahkan oleh derasnya arus yang mengalir dan membentur.

Resonansi yang menjadi judul gema hati ini adalah berupaya membayar desakan yang menyesakkan dengan mencoba memberi nilai senyum pada sejumlah halte, sejumlah pemberhentian ketika aku harus menapakinya. Bayaran itu tidaklah menjadikan diri sebagai kondektur tanpa kendaraan, hanya berupaya mengedepankan suara bahwa nilai yang diperdengarkan adalah untuk memotret patron yang selalu menjadi baju berlabel sistem.

Aku tidak lagi mengedepankan itu apalagi membahasnya. Aku hanya mencoba menghitung berapa jumlah pesimpangan yang bakal dilalui, berapa waktu yang diperlukan untuk sampai di pertigaan decision. Dan itu adalah bagian dari analisis resonansi yang mengemuka sampai mejelang titik temu untuk dilipat, digunting dan ditaburkan pada pasir pantai.

Sampai kemudian ada kapal yang merapat
Sampai kemudian ada jemputan yang menjabat
Sampai kemudian ada tangga untuk menjelang
Sampai kemudian ada selat untuk dilayarkan

(Menyelesaikan episode kamis dengan memfinalkan segala yang menjadi target hari ini, dan semuanya berjalan dengan ramah aini, ramah hati dan ramah bathin).
*****