Thursday, October 25, 2007

Ruang Siar

Ruang pandang adalah terminal yang mampu mengedepankan hiruk pikuk dan kesibukan ketika perspesi yang dibangun adalah menyaksikan pertunjukan peran. Ruang pandang yang disiarkan adalah stasiun yang mampu menyiarkan artikulasi diskusi ketika penafsiran menjadikan titik bernama garis. Dan itulah ruang yang dapat dipancarulangkan manakala sejumlah adegan mempertontonkan laku lajak yang disemayamkan pada sejumlah pin bernama lakon.
Hari ini ruang yang diperdengarkan dan disiarkan adalah menyaksikan lakon sektoral yang memainkan episode rutinitas bernama sisi argumen tanpa mampu mencairkan kesetaraan. Begitu, dan ketidaksetaraan yang disebarkan adalah menyanyikan lagu yang tidak dapat dijelaskan dengan interpretasi apapun. Itulah, dan sesungguhnya kompleksitas yang dikedepankan adalah mencoba mengajak ulang dan melangkah ulang, yang sudah dilakukan berulang tetapi sayangnya tidak jua merubah paradigma, seperti biasa, telunjuk lurus kelingking berkait.
***
(Met ultah ananda, dirayakan, semarak, ikut serta, bersenandung dan menyatakan rasa sayang yang menyejukkan, makasih ya Pa, katamu)
***

Wednesday, October 24, 2007

Cerita Batas

Ketika batas menjadi iringan langkah, apakah kemudian semua akan memberikan titik kulminasi di sisi ini, adakah yang mampu memberikan ruang pandang bagi sejumlah asa yang telah diseberangkan lebih dulu. Sejumlah asumsi dibungkus dan diceritakan melalui hipotesa dan sejajar dengannya, dikumandangkan pada sebuah pagi, pada sebuah siang dan menutup reffnya dengan lagu hati yang bercampur aduk.
Ketika cerita batas dikemukakan, adalah dia yang menjadikan sejumlah siar menjadi kumpulan titik yang bernilai noktah. Dan ketika batas itu menjadi catatan yang harus dilalui, apakah kemudian persepsi yang dibangun menjadi setali tiga uang pada sebutan yang mengemuka : tutup saja dengan sebuah pintu.
Tidaklah dia mampu memberikan sekuntum senyum manakala matahari apalagi matahati tak jua memberikan kesegaran taman bunga. Dan oleh itu ada sebungkus tulisan yang selalu dinafikan bahwa perjumpaan yang memberikan sorot pijar hangat menjadikan nilai meleleh sampai di aspal nadi. Dan lewatlah sebuah kesempatan, dan lewatlah sebuah batas yang hendak diceritakan.
(Mempersiapkan perjalanan panjang, mengiringi jalinan yang diasah ulang, semoga menjadi asa baru yang menyetarakannya dengan kedamaian bunda).
(Thanks for As yang selalu concern dengan hari-hari penting, dan menjadi catatan yang bernilai souvenir).
****
****

Sunday, October 21, 2007

Fitri

Fitri
Bersenandung
Bertakbir
Bernyanyi
Riang hati
Riang nadi
Berjumpa
Bersalaman
Bersendagurau
Berkumpul
Hingar bingar
Menjelajah
Menghampiri
Menyatakan
Bermaafan
Bermacet ria
Berbarengan
Luar biasa
Menikmati
Menyelesaikan
Menuntaskan
Fitri
Betapa genggaman itu

Thursday, October 11, 2007

Menjelang

Menjelang akhir
Ketika sinar mata indahmu memastikan sudah
Ketika sesungging senyummu menyudahi pesona
Ketika langkah panjangmu mencapai halte akhir
Ketika sapaan lembutmu membelai relung hati

Menjelang sore
Ketika sinar mentari memberikan makna sampai
Ketika sinar matahati menyatakan sesampainya disana
Ketika naluri diri mengatakan ada saat di persimpangan
Ketika jumpa tidak lagi menjadi headline jawaban

Menjelang malam
Ketika rembulan enggan memastikan sinar
Ketika bintang mempesona dan menggaris langit
Ketika bayu menyentuh pipi di tepi perjumpaan
Ketika embun belum menjalankan hakekat malam

Menjelang dinihari
Catatan tentangmu adalah argumentasi terkini
Catatan tentangmu adalah menafsirkan jemari lembut
Catatan tentangmu adalah memastikan keindahan
Tentang sinar mata indahmu
Tentang aura laku sikapmu
Tentang semua yang mematri pada sunggingan senyum

Duhai dimanakah engkau
Duhai dimanakah dirimu
Duhai dimanakah pelabuhan senyumku
Duhai dimanakan terminal jumpaku
Duhai.......
*****

Wednesday, October 10, 2007

Nilai

Sebuah nilai adalah persetujuan tentang definisi yang dijaring dengan perhitungan indikator dan mengulumnya dengan sulaman predikat. Tetapi apakah kemudian bisa menjadi pendongkrak asesories yang telah dipatri dan telah menjadi sebuah nisan bertuliskan ” Telah beristirahat dengan tenang sebuah argumen pembenaran dengan asumsi hanya sebatas maksimal itu”. Itulah yang kemudian diusung, dibawa dan disanjung menjadi sebuah pencitraan yang sejatinya adalah ukuran satu dimensi yang disponsori subyektivitas peran. Dan yang lebih menjadi sosok tampilan adalah mengunci pada nilai sebutan yang diselipkan pada apa yang disebut sistem dan sistematis. Dua benda yang menjadi landas landing ketika ternyata setelan nilai sudah digantung pada dinding berlapis triplex, dan dijajakan.

Sejauh itulah yang menjadi lagu pencatat hari, dan sejauh itu pula ritme dan referensi yang tidak mampu menjalankan perubahan predikat dan hanya berada di pusaran angin. Bagaimana menjelaskan pada sinar bening yang mengantar di gerbang depan, setiap hari, dengan keyakinan yang meneguhkan asa, kalau ternyata hanya berada pada barisan tanpa komando, layaknya sebuah perjalanan menuju halte rutinitas. Jawaban kebeningan itu adalah memastikan siang ini dengan menyelesaikan lagi 1 juz sebagai sebuah nilai yang melebihi hakekat kesementaraan itu. Ya hanya sebuah kesementaraan yang selalu menjadi tolok ukur dan hanya sebatas ukuran satu dimensi yang menjadi barometer. Padahal jika menggalinya lebih dalam lagi akan kelihatan bahwa rangkaian nilai itu adalah sebuah istana pasir di pantai landai. Sayangnya pula, ukuran itu selalu disematkan pada dada dan menyampaikannya sebagai definisi.
****

Monday, October 08, 2007

Khusyuk, Jelajah

Memimpin itu adalah mengaduk aroma dan mempimpin tarawih Senin malam ini adalah mengaduk adonan itu. Bagaimana hati ingin memberikan suasana kekhusyukan sembari menghitung jumlah rakaat demi rakaat dan bacaan dengan tartil yang benar. Namun itu bukanlah sesuatu yang baru, hanya karena ini malam ke 27 aku ingin menyentuhnya dengan nilai lebih yang dapat kuperbuat. Dan ketika memulai itu semua kupasrahkan bahawa aku ingin memelukMu, aku ingin mendekapMu. Dan lantunan ayat kukumandangkan dengan membawa rasa hati yang mengaduk aroma, betapa sesungguhnya Engkau dekat dengan kalbu, Engkau dekat dengan dada, Engkau dekat dengan wajah.

Subhanallah, persaksian di masjid bersejarah ini adalah untuk yang kesekian
Alhamdulillah, persaksian di masjid tua ini adalah untuk malam yang kesekian
Allahu Akbar, persaksian di masjid kebanggaan ini adalah untuk tahun yang kesekian
Engkau menyaksikan
Hamba menyelesaikan
Dan sekujur diri menyambut jabat tangan dengan teduh dan syahdu
****

Jelajah minggu adalah pengisian ruang harpa
Untuk melantunkan kesucian ayat
Dan menyentuhnya dengan semangat dekapan hati.
Betapa isian ini yang mampu menyibak tirai
Untuk tetap ada di barisan teguh
Untuk tetap ada di jembatan kukuh
Untuk tetap ada di marka rengkuh

Sementara
Jelajah warna adalah isian yang mencari
Tuk sekedar menjajakan kesiapan menyambut
Dan mengalirinya dengan jemputan sore menjelang
Sembari berkata dalam hati :
Duhai betapa jelajah yang menyentuh
Duhai betapa jelajah yang mengurai
Menyampaikan pesan pada sejumlah mata
Bahwa aku adalah sinar mata itu
*****

Berbagi, Menikmati

Berbagi waktu untuk mempersiapkan
Berbagi waktu untuk menyelesaikan
Berbagi waktu untuk mendapatkan
Berbagi waktu untuk menyambut

Dan menuntaskan rencana adalah bagian dari penyisiran hari ini
Ketika bersama membagi langkah untuk mempersiapkan
Ketika sambutan menjelang yang harus dijemput dengan fitri
Setidaknya asesories yang diarungi adalah memperindah nuansa

Dan Sabtu pun menjadi sesibuk semua
Dan Sabtu pun menjadi senandung bersama
Dan Sabtu pun menjadi episode yang berbagi

(Matahari terik tidaklah menjadi penghalang ketika matahati mampu memberikan cakupan persemaian pada apa yang disebut sebuah janji yang harus dituntaskan hari ini).
*****

Ketika buka sebuah situs adress penting Jumat pagi ini, kusimak sebuah tulisan panjang tentang tema terkini yang lagi digebyar. Dan setelah kusimak beberapa saat sembari meyakinkan, ternyata ada bagian dari tulisanku yang disisipkan di tulisan panjang itu. Kuulang lagi dan semakin kuyakinkan bahwa ada cuplikan tulisanku yang menjadi beberapa paragraf. Bercampur rasa didalamnya dan tentu merupakan kebanggaan sendiri ketika pendapatku, pandanganku menjadi bagian dari tema yang diceritakan, menjadi bagian dari sebuah judul yang menghantar solusi bagaimana seharusnya. Dan tidak perlu jua aku memberikan respons kembali, cukuplah si penulis merasakan bahwa dia telah mengikutsertakan sudut pandangku tentang sebuah tema, dan tak perlu jua menyatakan bahwa itu adalah bagian dari paragraf yang dicuplik dari sebuah judul tulisanku.

(Menikmati religi Jumat di Masjid kebanggaan, teduh dan sejuk. Mampu memberikan keluasan hakekat dan kedalaman nuansa. Semua kusimak dan memberikan secangkir kenikmatan manakala rimbunan jamaah mengiringi suasana religi. Masjid yang agung, masjid yang akbar, fenomenal dan monumental setidaknya dalam pandanganku, memberikan ruang apresiasi yang meninggi dan melambung).

Thursday, October 04, 2007

Buka Bareng

Nilai silaturrrahmi petang ini adalah membuka tema innamal a'malu binniat dan khoirunnasi anfauhumlinnas, dan semarak nilai religi sembari mendengar tausyiah dan menikmati hidangan berbuka, berbagi dan memberi kabar dengan lapis senyum dan kebersamaan.
Jalan Ramadhan sepuluh hari terakhir adalah menjalin kebersamaan dan memang tepat moment ini diadakan, berkumpul bersama keluarga besar, ada pucuk pimpinan dan kafilah manajemen yang datang, berkunjung, berbagi dan bercerita. Ada yang disantuni, ada yang diberikan, ada yang mendapatkan, ada yang memberikan. Betapa berkah itu membungkus suasana yang berakhir dengan jabat tangan.
Bahwa nilai yang didapat adalah menjalin kebersamaan itu
Bahwa nilai yang dibungkus adalah menjabat erat sambutan itu
Bahwa nilai yang didapat adalah menjelaskan rangkaian dengan jernih
Bahwa nilai yang didapat adalah mengamini semua doa yang dipanjatkan
****

Catatan Rantai

Catatan Tiga, Sepuluh

Menikmati suasana hari dengan isian lantunan, isian kajian, isian tadarus, isian tarawih, isian yang memberikan ketebalan pada keyakinan untuk membawanya pada keputihan rasa, sebagai jalinan yang membungkus cerita hari cerita hari ini.

Ada sujud jamaah
Ada penyelesaian juz
Ada tengadah tangan
Ada doa malam
Ada serambi harap
Ada sejuta pinta
Pada sebuah pintu
Pada sebuah nama
Pada asmaMu
(Dan biarkan dia dengan rintihannya yang menjadikannya sebagai pelajaran sebab akibat yang merajam, toh awalnya adalah dia juga)
****

Catatan Dua, Sepuluh

Permisi dulu, ada yang harus diselesaikan sebagai bagian dari nilai deal, memenuhi kebutuhan untuk persiapan dan sekaligus memenuhi permintaan. Bahwa itu adalah prioritas jelas jadi tujuan utama, apalagi yang menyatakan adalah bunda, sosok yang selalu ingin kurengkuh dengan dekapan hangat. Dan sepanjang siang melangkah dengan beberapa halte yang dituju untuk melengkapi, menyetujui dan membawanya sebagai bekal dan tambahan. Ada yang baru sesuai permintaan ananda agar menjadi lebih ramai teaternya, tidak sekedar ganti channel yang kadang membosankan.

Maka sepanjang siang adalah jalan-jalan yang merengkuh
Maka sepanjang siang adalah jalan-jalan yang merambah
Maka sepanjang siang adalah jalan-jalan yang menambah
Maka sepanjang siang adalah jalan-jalan yang menyelesaikan
****

Catatan Satu Sepuluh

Kusampaikan pesan bahwa nilai langkah hari ini adalah keteguhan
Kusampaikan pesan bahwa nilai jalan hari ini adalah ketegaran
Kusampaikan pesan bahwa nilai tangga hari ini adalah ketegasan
Kusampaikan pesan bahwa nilai tandang hari ini adalah kegigihan

Apa yang kau perbuat selama ini adalah catatan yang mampu mendobrak keyakinan bahwa engkau adalah pusat keangkuhan yang mampu memakai baju penggiringan opini. Kau campakkan nilai yang kau ucapkan sendiri dan kau jadikan sebagai pembusukan yang harus dibelatungkan. Betapa engkau adalah persepsi yang memberikan nilai kekerdilan jiwa dengan selalu mengatasnamakan kepintaran yang engkau miliki, padahal hanya sebatas itu. Diluar koridor itu engkau sejatinya adalah kekerdilan jiwa yang mengembara sebagai pelatih pencitraan., Sayangnya pencitraan yang berwarna kelabu dan hanyut dalam ego diri yang merasa sebagai pionir, padahal hanya sebatas pecundang.

Pertanyaan yang selalu menggema adalah apakah aku merugikanmu. Apakah aku mengusik jalan-jalan keseharianmu. Apakah aku menjadi obyek pelampiasan hasrat egomu yang luar biasa kerdil itu. Sejauh yang kutanya pada sepotong hati, ketika dinihari menyentuh selimut dingin, ketika membasuh wajah dengan dinginnya air, dan bersujud, dan bertafakkur, tidaklah kudapatkan sesuatu yang menjadikan aku sebagai awal dari cerita, awal dari fragmen. Aku selalu bawakan diriku apa adanya dengan segala hal yang kumiliki. Dan jalan yang menjadi asaku di setiap hari adalah keyakinan pada sebuah goal bahwa semua yang kulakukan adalah menggali potensi sekaligus menjalankan kewajiban yang menjadi langkahku. Lantas mengapa engkau berbusuk hati. Dalil hati yang selalu menjadi referensi adalah iringan iri dan khasad yang engkau dapatkan manakala jalan kita bersinggungan dengan asumsi bahwa engkau merasa sebagai pengendali opini.

Kusampaikan pesan bahwa aku adalah langkahku
Kusampaikan pesan bahwa aku adalah ragaku
Kusampaikan pesan bahwa aku adalah caraku
Kusampaikan pesan bahwa aku adalah nilaiku

Dan engkau adalah pusat studi tentang kelancangan argumen
Dan engkau adalah pusat pribadi tentang egosentris berlabel angkuh
Dan engkau adalah pusat iri yang mengeksploitasi opini
Dan engkau adalah pusat dengki yang bermain di perelingkuhan omongan
****

Catatan Tigapuluh, Sembilan

Letih menyergap ketika matahari baru menampakkan sinarnya setelah sepanjang malam merayapi jalan-jalan sepanjang tujuan pulang. Ada yang harus dilepas untuk memulihkannya maka sepanjang tengah hari menyelesaikan jatah istirahat dengan lelap lena. Dan kesegaran pun mengalir kembali sembari membasuh diri, membersihkan dan merapikan kembali. Dan selanjutnya adalah tatacara menyelesaikan hari dengan catatan-catatan yang berbaris datar dan wajar.
Bahwa sebuah tujuan sudah diselesaikan dan bunda pun tersenyum ketika kujanjikan untuk melakukan perjalanan suci mendatang bersama keluarga. Semoga perjalanan itu menjadi catatan indah yang mampu dilepaskan ketika matahari dan matahati memberikan pencerahan dan kecerahan pada nilai istiqomah, semoga memberikan semangat pada rangkaian perjalanan sebatas yang kudapatkan.
****

Catatan Duapuluh Sembilan, Sembilan

Selamat pagi kota kembang, aku datang menjemput, aku datang menyapa, aku datang bertandang, aku datang berkunjung, aku datang melepas rindu dan menghampiri catatan-catatan yang mengalir sepanjang cerita. Dan kunikmati pesonamu dengan senyum dan dekapan, pada senyum ananda, pada senyum semuanya, pada kebahagian catatan perjalanan. Dan sepanjang matahari , berupaya memberikan nilai kasih sayang pada keinginan dan kesenangan kedua ananda, mengabulkan apa yang diinginkan dan mengisinya dengan sejumlah bungkusan sebagai penjemput yang melepas dahaga.

Sepanjang hari berjalan
Sepanjang hari menelusuri
Sepanjang hari menyimak kesibukan
Sepanjang hari menyentuh keinginan
Sepanjang hari menyampaikan salam pada kehangatan

Ananda tersenyum
Ananda terkesima
Ananda memeluk manja
Ananda menyatakan
My wife membungakan senyum
Bundapun menjelang
Menyambut buka puasa dengan kehangatan
Dan melanjutkan kisah cerita sepanjang malam
Sembari menelusuri jalur sepanjang utara
Jalan-jalan menuntaskan niat
Dan membawanya sebagai nilai harkat.
****

Catatan Duapuluh Delapan, Sembilan

Dia adalah cermin tiga dimensi
Dan memberikan catatan pada sebongkah hati
Bahwa dia adalah sebatas itu
Seperti pepatah
Menepuk air didulang tepercik muka sendiri
Dikira panas sampai petang ternyata hujan tengah hari

Batas yang dihinggapi dengan bingkai catatan hari ini
Adalah mendefinsiskankembali aroma yang dikeluarkannya
Adalah mencatan kembali sejumlah dengki yang bersemayam
Padanya
Pada sosok berlapis autis
Pada sosok berlapis ego

Catatannya adalah
Hanya sampai di permukaan
Ketika ternyata hanya sebatas argumen
Yang memberikan keyakinan pada cerita hati
Bahwa dia ternyata hanya sebatas itu
Tidak lebih

(Dan sudah kusampaikan pada semua, dan mereka ada dibelakangku menyambut setiap kemungkinan yang menjadi catatan bergaris tebal, bagian dari kisah untuk sebuah judul yang tercipta : bersiap !)
****

Thursday, September 27, 2007

Hanya Segitu

Sesungguhnya hanya sampai di titik itu
Manakala pandangannya yang kuyu mengejawantah
Manakala sinar redupnya dikalahkan mentari pagi
Dan tidaklah menjadi ruang kedengkian
Seperti dia
Seperti rupanya
Seperti gayanya

Tetapi sesungguhnya perjanjian itu
Adalah membagi nilai maksimal yang dibentuk
Dan pesan akhirnya adalah
Hanya sampai di batas itu
Karena dia tak mampu meneruskan kejantanannya
***

Tuesday, September 25, 2007

Ayam Sayur

Ayam sayur layu sebelum disiram air
Dikira sudah cukup kuat melakukan kukuruyuk
Ternyata hanya segitu saja
Dan wajahnya pucat pasi meminta belas kasih
Dan mulutnya terkatup tanpa omong
Tajinya yang selama ini dipamerkan jadi tulang rawan
Tak bergigi
Tak bergizi

Jadilah gelarnya lengkap ayam sayur bermental banci
Jadilah harinya seperti basah kuyup ditimpa hujan tak berawan
****

Sketsa Jalan

Memacu rangkaian hari, melihat catatan dan bacaan yang harus dituntaskan hari ini, menyelesaikan satu juz lebih untuk memberikan nilai pada sebuah hari dan berupaya mengejar penyelesaiannya agar bisa dipetik menjelang akhir ramadhan. Tambahannya adalah kajian mingguan bersama pada Senin pagi yang telah direncanakan. Sebuah kebiasaan, dan menjadi hal yang biasa dan tambahannya adalah mencoba memaknainya, mengartikannya dan mejalaninya dengan bimbingan, sehingga semakin meyakinkan tatabahasa yang harus ditaati.

Nilainya adalah sesuai yang menjadi target hari, sehingga menjadi langkah penting yang akan menyelesaikan cerita indahnya ramadhan. Dan nilai hari ini adalah memandang ketidakadilan yang difragmenkan ketika atas nama tanggung jawab bisa membalikkan kalimat, begitu saja dengan berbaju argumen. Biasalah karena nilainya adalah mengais dan mengais, kalau tidak akan mengurangi kadar niatnya. Dan itulah sekelumit pesta yang selalu dipentaskan bersama nilai rautnya. Sebuah argumen berlapis pembenaran, padahal yang ada adalah rekayasa.
****

Ahad ini terasa benar nilainya shaum itu dengan keletihan fisik, semalaman tidak tidur karena harus menghadirkan diri bergabung dengan warga lain untuk bertaziah sampai menjelang sahur, dilanjut dengan tahajud di Masjid kebanggaan. Dan pagi ini kembali harus menyelesaikan fardu kifayah itu, memberikan sepatah dua kata untuk disampaikan sebagai kewajiban ngomong, melakukan sholat janazah dan lantas mengantar ke peristirahatan terakhir. After itu, kembali harus menyelesaikan revisi dan mengantarkannya. Dan ini adalah langkah berkah karena semuanya ahirnya dapat kutuntaskan, seperti diberi kemudahan, dan memang aku menikmatinya dengan kemudahan dan lapang jalan. Nah paling tidak siang ini pengennya ingin menuntaskan istirahat siang sebagai bayaran gak tidur semalaman, namun baru menginjakkan langkah di depan ada lagi kabar duka yang harus dijalani lagi, mengunjungi on the spot insiden lalapan si jago merah di rumah saudara, bergegas kesana dan menyaksikan ganasnya api yang membakar. Dan semua dapat dituntaskan dengan 3 mobil pemadam kebakaran. Ya, musibah datang tak terduga ketika sedang menikmati ramadhan yang terik ini. Dan ini adalah rangkaian perjalanan yangtidak pernah disekenariokan, dan harus dinikmati dan dijalani.

Sesuai janji, maka buka puasa kali ini adalah menikmatinya di Pizza bersama keluarga, menikmati keletihan yang terasa itu dan menghirup segelas air manis sebagai pembuka. Alhamdulillah, terasa benar nikmatnya, terasa benar suasananya dan memberikan cahaya pandang yang berwarna ketika rasa nyaman mengaliri sekujur tubuh bersama jalannya energi dan kalori menuju dan merata. Ketika jalan-jalan hari memberikan keletihan seharian, maka nilai buka itu memberikan nilai lebih yang mampu membebaskan dahaga yang sedang memuncak. Dan ketika jam menunjuk angka sembilan, bergegas aku menuju pembaringan untuk melunaskan semua yang menjadi pusat letih serba ada untuk hari ini.
****

Plong rasa, plong rupa, plong langkah, plong angan, plong suasana
Ketika semua menjadi penutup hidangan yang dipandang berlama-lama
Ketika semua menjadi penyibuk waktu yang bersafari
Ketika semua menjadi pengganti cerita sepanjang hari
Dan selesailah sudah
Dan berakhirlah sudah
Sebuah rangkaian, setumpuk modul dan sebuku tulisan
Dapat diakhiri dengan kalimat yang menyenangkan, selesai dengan nilai
Selesai dengan jabat tangan
Selesai dengan senyum dikulum
Dan langkah Sabtu adalah menyelesaikan yang diminta
Sembari memastikan bahwa dapat menjadi catatan selesai
Dan setidaknya sudah menjelang
(Ada yang berduka, maka sepanjang malam berkumpullah, menyumbang dan membesarkan hati untuk tabah. Sebuah kecelakaan yang mengenaskan, dan itu adalah bagian takdir yang membawa catatan pada setiap cerita hari. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun)
****

Sunday, September 23, 2007

Setangkai Nilai

Jumat akhir yang menjawabnya
Ketika semua dapat kulewati dengan semangat yakin
Dan memastikan semua dapat kugenggam dengan keyakinan
Dan memang aku dapat menjalaninya dengan spirit mampu
Sembari menjabat ketiganya yang menyatakan selesai
Sembari menyambut ketiganya dengan senyum full hati
Sembari menyatakan pada ketiganya terimakasih sejati

Dan pulanglah aku menuju lega jalan
Dan memberikan kabar segera yang mengabarkan
Dan menyatakan suara pada sejumlah pernyataan
Ananda menyambut
Ananda tersenyum
Ananda memeluk
Menyatakan bening ramadhan dengan sejuta rasa
Menyatakan malam dengan dialog menyejukkan
Terimaksih pada semuanya
Terimakasih pada kesungguhan
Terimakasih pada keuletan yang dibangun
Terimakasih pada dukungan yang diungkapkan
Bahwa malam ini adalah sebuah langkah
Yang mampu diselesaikan dengan setangkai nilai
*****

Thursday, September 20, 2007

Mendulang Galian


RAMADHAN, MENDULANG GALIAN IBADAH

Oleh : H. Jagarin S.E.

Datang lagi penantian dari sebelas bulan sebelumnya, sebuah bulan purnama bulat bundar berdurasi bilangan qomariyah yang mengantarkan sejuta keindahan dan keteduhan nuraini berwajah bening. Sekuntum bunga cinta dan seikat kembang kasih sayang terbuka dan dibuka kembali oleh Allah dengan password untuk orang-orang yang beriman, melaksanakan interaksi kompleksitas ibadah di kelas utama yang bergaransi penuh. Jaminan terhadap tersenyumnya rahmat, berkat dan maghfiroh dipersembahkan kepada wajah-wajah pecinta sejati Al Quran dan Sunnah Rasul.

Adalah bukti kasih sayangMu yang memberikan sekali lagi kesempatan untuk ummat yang istiqomah melantunkan dan menayangkan pembuktian rasa tahu diri sebagai makhluk yang memiliki kecerdasan spritual. Itulah sebabnya Engkau selalu memulainya dengan Yaa Ayyuhallaziinaamanu, sebagai pembatas dan kelas akselerasi yang Engkau sekolahkan dalam semester keimanan yang terakreditasi mutlak dalam ijazah ketaqwaan bergaransi jannah. Engkau tidak memilihnya dari kelas Yaa Ayyuhannaass karena Engkau memberikan nilai performansi hanya kepada orang-orang yang tahu diri dan bisa mengaca diri berkat taufik dan hidayahMu.

Adalah bukti kasih sayangMu jua yang tetap setia memberikan kesempatan pintu taubat terbuka setiap saat kepada seluruh sosok berlabel khalifah fil ardhi untuk kembali pada fithrah membersihkan semua daki khilaf, lalai dan dosa dengan deterjen pensucian tanpa harus membayarnya dengan kurs dosa yang telah menggejolakkan dan menghancurkan nilai-nilai istiqomah. Adalah Allah pula yang selalu membuka mata hatiNya untuk menerima pengampunan dalam cucuran air mata dan penyesalan nashuha yang mendalam. Bukankah ini karena rahman dan rahimNya kepada makhluk tercintaNya yang bernama manusia.

Ramadhan, begitu meriahnya sambutan yang dipestakan untuk mempertontonkan kesiapan mempersandingkan rangkaian ibadah dan pembersihan noda cela yang tercarut marut dalam perjalanan kelalaian lakon, ketidaksengajaan peran yang menyentuh titik singgung kewajiban hablumminallah dan hablumminannas. Ruang yang dipersiapkanNya membuktikan masih adanya rentang waktu untuk memutihkan pusat rohani yang terbungkus dalam bilik kamar hati dan mengadoninya dengan bahan-bahan baku rangkaian ibadah wajib dan sunnah.

Mendulang galian terbuka dengan kesempatan ibadah yang dipergelarkan dalam Tournament of Ibadah oleh Sang Khalik dengan Grand Slam Ramadhan Open, adalah karunia termegah yang dilaunching secara spektakuler melalui proklamasi wahyu yang dikumandangkan dengan kebenaran firmanMu pada qalam di surat nomor 2 ayat 183. Hanya tinggal mendulang wahai orang-orang yang beriman, tidak perlu lagi menambang dengan galian bawah tanah atau bawah laut. Sudah terbentang dalam lahan sejuta hektar yang dibentangkan dengan anugerah asma Allah diperdengarkan dan dikumandangkan pada kesyahduan dan kekhusyukan ibadah dan i’tikaf.

Bukankah itu sepenggal fragmen yang digratiskan Allah dari berjuta nikmat dan karunia yang dipancarkan tanpa harus membayar dari persewaan hidup yang diperuntukkan bagi hambaNya yang memikirkan nilai-nilai eksistensial keMahaanMu. Tidak ada nilai lain yang dapat disetarakan atau bahkan didaftarkan untuk membungkus rasa syukur menghitung kalkulasi esensial limpahan rahmatMu dalam kesempatan meraih prestasi Ramadhan yang bergelimang medali ibadah.

Lantas, ego apalagi yang akan kau jadikan sebagai alasan (wahai manusia) untuk tidak meminang Ramadhan yang Allah siapkan untuk mencuci bersih kekotoran mesin-mesin hati yang harus ganti oli. Sindiran Allah tersurat nyata dalam Ar Rahman : Fabiayyi aalaaa irobbikuma tukazzibaan, berulang kali disuarakan dalam surat cinta Allah Azza wa Jalla. Hanya orang yang berhati batu dan yang tertutup ruang hatinyalah yang akan memalingkan wajahnya dari keindahan bulan suci penuh ampunan ini.

Keangkuhan kita sebagai manusia adalah selalu melihat materialitas keduniaan sebagai target pengukur gengsi keberhasilan mengumpulkan barang titipan. Yang bernama kekayaan, jabatan dan kekuasaan. Padahal disamping sebagai barang pinjaman yang dihibahkan Allah sementara, dia juga adalah amanah yang akan dan harus dipertanggungjawabkan pada hari akumulasi perhitungan.

Keangkuhan dengan label kekayaan, jabatan dan kekuasaan sering menjadikan orang berkacamata kuda dan melihat nilai disekelilingnya hanya berukuran satu dimensi. Padahal hanya dengan ketinggian jangkauan pesawat terbang misalnya, dari jendela kabin kita dapat melihat keperkasaan yang sesungguhnya, alam yang membentang hijau dan biru dengan selimut awan yang melukis kebesaran ciptaanMu. Dimanakah bersemayamnya keangkuhan keperkasaan nisbi seorang anak manusia sehingga buta dan tuli terhadap tanggung jawabnya sebagai khalifah. Hanya ada pada sepotong hati yang merah hati, kalau dia rusak maka rusak pula instrumen kendali diri. Summa rodadnahu asfalasafiliin.

Perjalanan hidup tidaklah sekedar mencermati instink dan naluri biologis, namun lebih mutlak mengapresiasikan air hina yang dipancarkan sebagai sumber eksistensi kehadiran seorang anak manusia yang fithrah di bumi pertanggungjawaban. Untuk kemudian memberi kesaksian ibadah vertikal dan horozontal pada buku dunia yang menjadi batas waktu kehidupannya.

Perjalanan yang kita lalui sampai di batas ini dan bertemu kembali dengan bintangnya bulan (Ramadhan) merupakan saat yang tepat melakukan jurnal eliminasi dan closing terhadap setiap transaksi historis dosa dan kemaksiatan yang tidak sesuai dengan accounting treatment aqidah istiqomah. Bersamaan dengan itu marilah kita menjangkau beningnya fithrah dalam meraih kesempurnaan ibadah Ramadhan untuk membuka buku baru yang berjudul Al Fatah (kemenangan).

Selamat datang Ramadhan. Keniscayaan yang Kau hadirkan dalam berkah Lailatul Qadar adalah insentif bonus yang kadar kepekatan nilanya ada dalam genggamanMu. Kami berupaya untuk mencari dan menemukannya, namun bukan untuk menghitung profit margin yang ada didalamnya, karena nilai itu adalah rahasiaMu.

Pencarian kami adalah menjelajah menembus dinding ornamen Ramadhan, menyentuh keperkasaan asmaMu, melantunkan firmanMu, membisikkan doa, menahan beragam keinginan dunia yang tak pernah putus dan tak pernah puas. Penjelajahan kami adalah mencari ridhoMu, mensyukuri rahmat dan karuniaMu, mohon ampun atas segala dosa dan salah. Bukankah dari ridhoMu pula terbukanya semua pintu kerelaan, pintu rahmat dan keselamatan, wahai Allah.

Marhaban ya Ramadhan, wellcome beautiful month. Marilah kita masuki dan nikmati assesment center aqidah ini dengan kebeningan hati untuk memberikan nilai pencerahan iman dan istiqomah. Subhanallah.-
Semarang, 25 Sya’ban.
*****

Wednesday, September 19, 2007

Senang Rasa

Senang rasa mendengar ajakan itu, untuk kembali menapaktilasi jalan-jalan religi dan membawa sejumlah curahan hati untuk diceritakan. Tentu aku mengamininya sekaligus mempersiapkannya sebagai bagian rancangan perjalanan yang akan sangat menyentuh dan membunyikan suara-suara keteduhan. Semoga aja bisa dilaksanakan dalam waktu yang berselang ini, setidaknya mulai mempersiapkan kembali bekalnya, mempersiapkan kembali langkah-langkahnya, mempersiapkan kembali rangkaiannya. Dan Bunda pasti akan bersenang hati manakala diberitahu rangkaian langkah di hadapan ini dengan keikutsertaannya. Semoga Allah meridhoinya sebagai bagian dari pengerukan daki dan penjernihan mata air hati.
Sementara aku juga sudah menjelang selesai. Dan akhir pekan ini akan mempertahankannya sebagai bagian dari persyaratan yang diharuskan. Aku sudah siap dan tentu saja tetap ada nuansa sedikit "ganti cuaca", namanya juga akan mempertahankan, tentu harus mempersiapkan secara jelas dan mantap. Semoga berjalan sukses, semoga aku mampu memberikannya dengan segenap kemampuanku.

Tuesday, September 18, 2007

Cerita Seminggu

Cerita seminggu ramadhan adalah mengisi ruang dan kamar yang lama tak disinggahi dan kembali berupaya menjahitnya dengan untaian benang berjuntai. Ya untaian yang memerlukan jahitan untuk diukir kembali, disulam sebagai bagian dari perkuatan rasa yang berada di koridor keyakinan kebenaran.
Bahwa isian ruang dan kamar memerlukan kejernihan, untuk kemudian berupaya membersihkan kembali debu yang melekat dan tak sempat disapu selama ini. Betapa ada kesempatan yang disilakan untuk dinikmati, betapa masih ada celah untuk memastikan kejernihan adalah keyakinan untuk menggapai dengan kebeningan.
****
(Thanks untuk all fren yang memastikan dukungannya untuk keberhasilan langkah terakhirku)
(Thanks to sahabat yang memberikan sentuhan nilai ramadhan yang indah ini, semoga memberikan cakrawala pandang yang lebih luas atas semua yang bernilai jariah ini)
(Thanks atas imel yang memastikan kedekatan pertemanan grup kita. Bahwa mengingatkan itu adalah bagian dari nilai persahabatan yang telah kita jalin selama ini)
****

Thursday, September 13, 2007

Ketika Berucap

Ramadhan adalah perjumpaan tentang kesetiaan
Ketika kita kembali menyaksikan kesetiaan pintu hati istiqomah
Dan memasukinya dengan segumpal cerita berbalut perban luka
Ya perban luka
Luka pada catatan tahun
Luka pada catatan hati
Luka pada sejumlah omongan
Luka pada segumpal laku sikap
Luka pada segenggam asa di angan
Dia selalu menyambut dan membersihkan luka itu
Dan memeluk nadi hati dengan senyum kasih sayang
Dan membelai lembut sembari membersihkan luka-luka itu
Selamat datang Ramadhan
Mohon maaf atas segala daki khilaf
Mohon maaf atas segala debu dosa
Wassalam
Jagarin & Keluarga

Jawabnya :

Mata kadang salah melihat.... Mulut kadang salah berucap.... Hati kadang salah menduga.....

Ramadhan ‘kan tiba , mari kita sambut dengan suka cita.
Mohon maaf segala kekhilafan yang pasti ada,
"Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan."
Wasswrwb
*****
Kok jadi pinter2 bikin puisi seh...?heheheheeee...(Arum...lebaran pulang kampung gak)......

WALAU JEMARI TAK KUASA BERJABAT...
SETIDAKNYA...KATA MASIH DAPAT TERUNGKAP...
TULUS MEMOHON DIBUKAKAN PINTU MA'AF...
SERTA DO'A YG SENANTIASA KAMI DAMBAKAN...
DLM MENYONGSONG RAMADHAN MUBAROK DIPERTENGAHAN SYA'BAN MUKAROM...
KAMI MOHON MA'AF LAHIR DAN BATHIN ATAS KETIDAKSEMPURNAAN & SEGALA KEKURANGAN...
SEMOGA IBADAHPUASA KITA...DITERIMA ALLAH SWT...AMIN.
*****
Ih...., gile bener ching......Huebat-huebat...puisinya bikin orang mabuk judi eh...mabuk udara alias ngliyeng..hik2...,
Teruntuk kekasih bayanganku......,
Sebenarnya diri ini mendambakan segaris kata,
kata yang keluar dari wicara tulus hatimu yang paling dalam,
Adalah nasihat yang terurai dari katamu , itulah yang aku dambakan...
namun sayang...karena gengsi lebih kuat dari hati ....so... yach...bingung dech...
hik2..opo iku.., aku coba2 buat koq...
*****
Assallamualikum. Wr. Wb.
Saat tiba bulan Suci Ramadhan kita optimalkan upaya, memotivasi diri untuk melakukan banyak amalan-amalan yang penuh dengan kebaikan.
Saat tiba bulan Suci Ramadhan yang penuh berkah dan rahmat, kita ingin berada dalam keadaan hati yang jernih, ikhlas, lapang dan tenang. Semoga kita menyambut Bulan Suci Ramadhan dengan kesiapan fisik yang kuat dan hati yang ikhlas, dan mendapatkan malam Lailatur Qadar, Amiin.
Jika selama ini saya melakukan kesalahan, baik yang disengaja maupun yang tak disengaja, baik yg kecil maupun yg besar, Saya beserta keluarga mohon maaf lahir dan bathin.
Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankannya.
Semoga Allah SWT mencurahkan rahmat dan ampunanNYA bagi kita semua di bulan penuh berkah ini. Amin
Wassalamualaikum Wr. Wb
****
Aku arep balik mudik ngendi, wong Ibu-Ibuku ning Solo kabeh, wis ora duwe tempat mudik saiki, dadi ngirit gichu

Selamat Buat temen-temenku semua dalam menunaikan Ibadah Puasa ini, semoga di bulan Ramadhon ini membawa berkah bagi Kita semua beserta Keluarga semua
****
Ramadhan adalah bulan yang suci.....
bulan yang penuh rachmad, penuh berkah dan penuh Maghfirah ....
Saat Ramadhan....
Insan yang bertaqwa kepada Allah..
bukan saja wajib berpuasa..
menahan lapar, nafsu dan amarah...,
tapi juga meningkatkan amalan ...
untuk menjadi insan yang lebih bertaqwa...
Amien..

Maafkan segala salah dan khilaf
yang kami sengaja maupun tidak.
****
Tak terasa... hari-hari menjelang Ramadhan segera hadir
Sebuncah syukur pada-Nya yang berkenan mempertemukan kita dengan Ramadhan tahun ini
Semoga Ramadhan di episode ini membuat kita menjadi insan yang lebih mulia dan sesudahkan kita kembali fitri

Mari kita sambut Ramadhan dengan syukur dan Maaf
Maaf untuk semua salah dan khilaf yang telah tertutur dan terlaku

MOHON MAAF kepada semuanya
Semoga Alloh senantiasa memberikan hidayah kepada kita.
****

Monday, September 10, 2007

Aliri Saja

Aliri saja
Seperti memberikan anugerah pada kesunyian yang sejuk
Jalani saja
Seperti memantapkan peran dengan memainkan jemari jangkar hati
Dan
Kesetaraan yang menjadi tema adalah menghapus titik embun di matahati
Kesesuaian yang menjadi judul adalah menganulir garisan yang menjadi batas diri

Ketika harus melangkah
Adalah keinginan pada sejumlah titik simpang
Untuk memberikan bunga pada kemanjaan dua buah hati
Dan menyatakan sejumlah bait adalah untuk dinikmati
Dan menyatakan sejumlah hari adalah untuk hati
Dan menyatakan sejumlah keteduhan untuk menyejukkan hati
Katakanlah
Alirkanlah
Jalankanlah

Thursday, September 06, 2007

Sketsa

Mohon maaf belum dapat merealisasikan pesanan itu, kucoba kirim imel pada redaksinya karena sesungguhnya pilihan konsentrasiku seminggu ini adalah menyelesaikan bab empat dan lima yang sepertinya maju mundur dan penuh coretan. Dan upaya yang kulakukan adalah mencoba mencari lagi referensi yang menjadi landasan untuk tampil nanti, kan gak lucu jika ditanya argumennya aku gak bisa memberikan justifikasi yang memuaskan. Kukatakan saja biarkan agak lambat karena aku ingin menikmatinya dulu, menikmati jalinan bab demi bab itu menghubungkannya, mengilhaminya sembari memaknainya lebih dalam lagi. Silakan untuk yang mau menyalip, toh kadarnya sudah kuketahui seperti apa. Lagian gak ngaruh juga loh, paling cuma duluan menarik nafas panjang.

(Thanks to Dm yang selalu memberikan masukan untuk kesempurnaannya, semakin jelas kadar intelektualitas kamu, dan semakin jelas pula kadar pertemanan yang dibangun dengan semangat kerjasama. Yang lain sepertinya mirip upacara bendera, setelah hormat lalu bubar gak jelas kemana).
*****
Ada persamaannya, kataku via phone ketika sobat dekat Rabu siang ini sedikit curhat.
Hampir mirip, selaku, ketika dia mulai cerita satu alinea.
Apa yang diomongkan sesorang itu adalah cerminan ruang hatinya, kalimat itu adalah ungkapan, jadi kalau ada orang yang hobbynya gembar-gembor apalagi laki-laki pasti mulutnya ember dan hatinya penuh dengan lumpur kedengkian. Ada juga yang senangnya grusa-grusu, kalau mulutnya diam malah seperti ada yang hilang, tapi biasanya cuma bisa ngomong sama lingkaran dalamnya, keluar mirip bagong banci, persis deh.
Trus, biasanya jika diteliti selalu ada yang salah sekrup, misalnya terlalu sering engsel diputar tapi lupa mengolesinya dengan oli, jadilah dia mirip orang yang terserang penyakit autis cangkem, tidak dapat kontrol kalimat dan cenderung jago omong tapi miskin makna.
Ada juga yang hobbynya kalau ketemu atau bersua selalu jabat tangan, merasa akrab padahal sesungguhnya obral dengki dengan menjual cerita dan menyebar riak. Dikira dia sudah merasa paling bersih tapi sekali waktu ada saja yang bilang ternyata luarnya saja yang gemuruh padahal didalamnya penuh dengan bopeng dan kadas. Coba lihat saja, katanya.
Ada persamaannya dan mirip loh dengan barisan yang bercerita itu, kataku.
Oh,ya, kata sobat ini, sempat terperanjat diujung telepon sana. So, kataku, itu yang disebut autis hati, autis mulut, autis sikap dan itu melebihi dari definisi autis itu sendiri, soalnya orang yang kena penyakit autis bathin bisanya merasa paling hebat, cuma ngomong doang dan hanya itu bisanya. Maka ceritamu itu kukunyah saja fren, soalnya disekitar yang bernama taman rutinitas itu selalu ada belalang yang memakan daun, kutu loncat, tapi sesungguhnya hanya mampu mengikis makna. Aku salut dengan sikapmu dan sejak dulu aku tahu konsistensimu itu, kataku mengakhiri.
*****