Sedetik ini ada cerita tentang riuh gemuruh yang direkam dengan anggukan dan dukungan untuk menggantikan dan mengedepankan. Seminggu berlayar dan menjelmakan sebuah pelabuhan pergantian. Dan aku bergegas saja untuk menyalin kembali dan meletakkan dasar-dasar amanah yang diemban.
Dan semua dihijaukan dengan pandangan sejuk, dan semua dihijaukan dengan langkah pasti untuk menjelaskan langkah yang dipastikan. Maka semuanya kurencanakan dengan sebutan total football, meyakinkan anggota untuk berjalan dan bernyanyi bersama, membersihkan sisi dinding yang masih berdebu menahun.
Sedetik ini menghela nafas sejenak sembari mengabarkan berita untuk semua, bahwa undangan yang telah disebar adalah manifestasi untuk langkah dan harapan. Dan sebisanya disuarakan bahwa tanpa garis tebal, niat tak perlu diulang kata, cukuplah dengan pembuktian bahwa pamrih tidak dibawa serta dalam pelayaran perdana, sekali lagi tidak membawa pamrih.
Oleh karenanya titipan yang hendak dikumandangkan adalah merumuskan cara kelola untuk sebuah tujuan dua lembar yang sudah ditulis dan dibincangkan, semua setuju dan semua berjalan. Dan bawaan pesan yang dihayatkan adalah senandung doa untuk meniti cara pandang yang membawa kebeningan dan keluasan peran, mengendalikan dan mengajak pada sebuah horizon untuk dipandang dengan matahati. Keniscayaan yang dibangun adalah menafsirkan asa pada seikat doa dan upaya untuk mampu membawa dan mengemban. Semoga mampu menembus awan untuk mencapai langit biru.
(Thanks for all untuk kesepakatan mengangkat amanah menjadi sinar benderang, memakmurkan dan memolesnya sebagai tanggung jawab. InsyaAllah menjadi sebuah nilai yang bisa ditandingkan).
****
Thursday, January 17, 2008
Tuesday, January 08, 2008
Untuk Bang Syahrul
Teruslah berjuang Bang Syahrul, apapun warna langitmu karena engkau adalah pelangiku, pelangi kami, pelangi republik Telkom. Tulisan Bang Ferdi yang disiarluaskan via milis itu sudah kubaca dan kuhayati dengan kebeningan hati bahwa sejatinya engkau adalah pahlawan di pelangi merah kuning hijau. Engkau adalah ikon istiqomah dari sebuah kisah perjalan mengawal republik Telkom dari gerusan abrasi dan erosi berlabel kapitalis. Engkau adalah potret sesungguhnya dari perjuangan tak kenal lelah demi menjaga eksistensi dan kebanggaan pada jiwa patriot nasionalisme.
Jangan susutkan sinar matamu yang flamboyan itu manakala ongkos perjuangan yang kau dapatkan hanyalah angin kering di tengah gurun, karena jiwa seorang pejuang sesungguhnya adalah episentrum jihad tanpa harus memproklamasikannya. Aku salut dengan ketegaran yang engkau miliki, sikap dan langkahmu yang maju tak gentar membela yang benar, bukan maju tak gentar membela yang bayar. Engkau mampu memberikan deteksi dini dan cara pandang seluas horizon manakala perspektif dan persepsi dihidangkan di meja serikat untuk dibawa pada argumentasi bernilai berlian.
Kita tak pernah berbicara panjang, kita tak pernah sapu pandang, kita tak pernah jalan bersama dan engkau juga tak dekat denganku, tapi aku selalu mengikuti gerak langkahmu yang tanpa gentar itu untuk merubah cara pandang, untuk ikut mengukir nilai sejarah bisnis perusahaan kita, untuk melawan segala bentuk kezaliman bisnis yang ingin memporakporandakan NKRT (Negara Kesatuan Republik Telkom).
Teruslah berjuang Bang. Seorang pahlawan tidak perlu harus selalu berkorelasi dengan benefit dan kompensasi karena pahala jariyah yang abang lakukan adalah khoirunnasi anfa’uhum linnass. Abang dimataku adalah orang terbaik di korps kita yang mampu memberikan nilai manfaat untuk banyak employee. Perjuangan yang abang lakukan adalah menuliskan prasasti untuk perjuangan cerita bisnis agar republik Telkom tidak menjadi batu nisan.
Aku selalu mendoakan abang, dan Allah Azza wa Jalla selalu memberikan siraman rahman dan rahimNya untuk diselimutkan pada sekeping hati yang selalu diterpa angin kering. Bahwa nilai cum laude di mata Allah adalah kado hati yang paling berlian untuk disematkan pada ketegaran jiwa yang berjuang untuk kepentingan khalayak yang berkebun di ladang ini. Pahalanya, Bang, adalah senyum dan pelukan hangat dari Allah yang penyayang tatkala kita bersujud tahajjud.
Wassalam,-
Jangan susutkan sinar matamu yang flamboyan itu manakala ongkos perjuangan yang kau dapatkan hanyalah angin kering di tengah gurun, karena jiwa seorang pejuang sesungguhnya adalah episentrum jihad tanpa harus memproklamasikannya. Aku salut dengan ketegaran yang engkau miliki, sikap dan langkahmu yang maju tak gentar membela yang benar, bukan maju tak gentar membela yang bayar. Engkau mampu memberikan deteksi dini dan cara pandang seluas horizon manakala perspektif dan persepsi dihidangkan di meja serikat untuk dibawa pada argumentasi bernilai berlian.
Kita tak pernah berbicara panjang, kita tak pernah sapu pandang, kita tak pernah jalan bersama dan engkau juga tak dekat denganku, tapi aku selalu mengikuti gerak langkahmu yang tanpa gentar itu untuk merubah cara pandang, untuk ikut mengukir nilai sejarah bisnis perusahaan kita, untuk melawan segala bentuk kezaliman bisnis yang ingin memporakporandakan NKRT (Negara Kesatuan Republik Telkom).
Teruslah berjuang Bang. Seorang pahlawan tidak perlu harus selalu berkorelasi dengan benefit dan kompensasi karena pahala jariyah yang abang lakukan adalah khoirunnasi anfa’uhum linnass. Abang dimataku adalah orang terbaik di korps kita yang mampu memberikan nilai manfaat untuk banyak employee. Perjuangan yang abang lakukan adalah menuliskan prasasti untuk perjuangan cerita bisnis agar republik Telkom tidak menjadi batu nisan.
Aku selalu mendoakan abang, dan Allah Azza wa Jalla selalu memberikan siraman rahman dan rahimNya untuk diselimutkan pada sekeping hati yang selalu diterpa angin kering. Bahwa nilai cum laude di mata Allah adalah kado hati yang paling berlian untuk disematkan pada ketegaran jiwa yang berjuang untuk kepentingan khalayak yang berkebun di ladang ini. Pahalanya, Bang, adalah senyum dan pelukan hangat dari Allah yang penyayang tatkala kita bersujud tahajjud.
Wassalam,-
Saturday, January 05, 2008
Jenuh
Suguhan referensi sudah banyak menjelaskan namun secara praktisi perlu ada polesan untuk kriteria seorang pimpinan, tepatnya naluri kepemimpinan. Bahwa seorang pemimpin hars mampu membawa, harus mampu mengajak sudah banyak yang menjelaskannya, namun ketika berbicara tentang persamaan dan gaya, itulah yang memberikan warna sesungguhnya tentang kemampuan membawa dan mengajak itu.
Ketegasan perlu diajak dalam beberapa hal yang memerlukan payung itu, setidaknya agar pengelolaan kebersamaan tadi bisa membawa perspektif dalam persuasi. Bahwa yang terjadi kemudian adalah ketidakmampuan menyelesaikan persoalan interaksi, itulah gambaran tentang leadership yang belum matang. Riteme yang dibawa tergantung suasana peserta, tergantung siapa yang banyak omong, dan tidak bisa mencerna tentang asa dan peluang. Yang ada kemudian adalah berusaha untuk tidak terjadi riak dengan bersenandung bahwa laut tetap berwarna biru, padahal tidak jua secerah yang diceritakan dalam sketsa ruang.
Selama rentang waktu itu, semakin jelas permainan peran yang dikedepankan. Tentang anomali orang bermental banci, tentang peran dominan yang hanya jago kandang, tentang gaya preman yang bermental lontong sayur. Tentang pemutarbalikan opini, tentang ego sektoral yang merasa sebagai tokoh protagonis. Itu tidak bisa dikelola oleh gaya amatir yang menjadikan semua sebagai fragmen tanpa adrenalin. Bahwa semakin jelas duduk ceritanya, tentang kedengkian yang menahun, tentang sms (senang melihat orang susah atau susah melihat orng senang), dikompulasi dengan gaya seorang bujang lapuk yang gagah gemulai, merasa sudah menjadi bintang sinetron pendekar tak punya nyali.
Ya, kepemimpinan adalah bagian dari pengaturan itu. Sayangnya tak mampu untuk menjabarkannya apalagi merangkul untuk berjalan bersama, berlari bersama. Maka bagian yang paling mampu diterangkan adalah episode berjabat tangan, membuka senyum, lalu mengisi alinea dengan berbagai disposisi tanpa pernah menjamah solusi permanen. Bedanya hanya, preman lontong tidak lagi mengumbar gaya bicara bermental autis, atau si gagah gemulai yang semakin renta sikap, kaku gaya dan (paling tidak akan menjadi jompo tanpa nilai keluarga dan kasih sayang).
Tapi, hari tidak harus selasa melulu, hari tidak harus gulita melulu. Maka upaya adalah bagian dari pencaharian titik simpang dan mengakomodasikannya dengan transformasi cerita dan peran. Dan upaya itu adalah bagian dari pembebasan itu, dan upaya itu adalah bagin dari up grade itu, dan mengkalkulasi pada sejumlah pilihan, berlari, berjalan, dan berhenti di halte sampai ada bus yang membawa ke tujuan berikutnya.
*****
Ketegasan perlu diajak dalam beberapa hal yang memerlukan payung itu, setidaknya agar pengelolaan kebersamaan tadi bisa membawa perspektif dalam persuasi. Bahwa yang terjadi kemudian adalah ketidakmampuan menyelesaikan persoalan interaksi, itulah gambaran tentang leadership yang belum matang. Riteme yang dibawa tergantung suasana peserta, tergantung siapa yang banyak omong, dan tidak bisa mencerna tentang asa dan peluang. Yang ada kemudian adalah berusaha untuk tidak terjadi riak dengan bersenandung bahwa laut tetap berwarna biru, padahal tidak jua secerah yang diceritakan dalam sketsa ruang.
Selama rentang waktu itu, semakin jelas permainan peran yang dikedepankan. Tentang anomali orang bermental banci, tentang peran dominan yang hanya jago kandang, tentang gaya preman yang bermental lontong sayur. Tentang pemutarbalikan opini, tentang ego sektoral yang merasa sebagai tokoh protagonis. Itu tidak bisa dikelola oleh gaya amatir yang menjadikan semua sebagai fragmen tanpa adrenalin. Bahwa semakin jelas duduk ceritanya, tentang kedengkian yang menahun, tentang sms (senang melihat orang susah atau susah melihat orng senang), dikompulasi dengan gaya seorang bujang lapuk yang gagah gemulai, merasa sudah menjadi bintang sinetron pendekar tak punya nyali.
Ya, kepemimpinan adalah bagian dari pengaturan itu. Sayangnya tak mampu untuk menjabarkannya apalagi merangkul untuk berjalan bersama, berlari bersama. Maka bagian yang paling mampu diterangkan adalah episode berjabat tangan, membuka senyum, lalu mengisi alinea dengan berbagai disposisi tanpa pernah menjamah solusi permanen. Bedanya hanya, preman lontong tidak lagi mengumbar gaya bicara bermental autis, atau si gagah gemulai yang semakin renta sikap, kaku gaya dan (paling tidak akan menjadi jompo tanpa nilai keluarga dan kasih sayang).
Tapi, hari tidak harus selasa melulu, hari tidak harus gulita melulu. Maka upaya adalah bagian dari pencaharian titik simpang dan mengakomodasikannya dengan transformasi cerita dan peran. Dan upaya itu adalah bagian dari pembebasan itu, dan upaya itu adalah bagin dari up grade itu, dan mengkalkulasi pada sejumlah pilihan, berlari, berjalan, dan berhenti di halte sampai ada bus yang membawa ke tujuan berikutnya.
*****
Thursday, January 03, 2008
Kabar
Kabar sesungguhnya adalah gubahan bayu yang dikumandangkan dengan frekuensi kadar telinga based on susunan kalimat yang dicelupkan pada pemahaman isian. Kabarku baik-baik saja, dan sentuhan bunyi itu memastikan bahwa ada yang sudah ditumpahkan dengan lentingan nada dan diterima dengan senyum bergaris lembayung.
Dan kabar yang membawa pada cerita jalan, cerita sepanjang jalan, cerita selama memandang, cerita selama menyapa adalah ukuran yang disematkan pada sejumlah pin dan merekamnya pada perspektif dan persepsi diri. Tak perlu jua memastikan pemahaman orang lain jika cerita hati ingin dilagukan pada senandung harap yang belum tersntuh.
Oleh-oleh dari sejumlah halte yang kusinggahi adalah penyertaan pada pandangan biru muda dan menarikannya dengan irama sentuh. Cerita dari sejumlah ruang yang kusinggahi adalah memastikan bahwa tempat yang telah kupesan adalah keharusan untuk menikmatinya walaupun sesaat dan mencoba mengabarkan pada sekeliling bahwa aku pernah ada, aku pernah datang, aku pernah sapa.
Oleh-oleh dan cerita itu sudah kukemas dan kubacakan pada sebuah prasasti bahwa setiap langkah yang kudapatkan adalah menyertakan kabar pada sejumlah jendela pandang, dan melepaskan rindu hati dengan nyanyian tanpa syair. Dan kabar yang dilepaskan adalah mengurai kata hati dengan segelas minuman dingin, mereguknya dan mengulanginya lagi sembari menjelaskan pada billboard bahwa aku pernah cerita, aku pernah kabarkan ke khasanah luas.
Lama tak berkabar
Karena musim ingin bercerita
Lama tak bercerita
Karena musim ingin menyapa
Lama tak menyapa
Karena musim ingin memandang
Bukankah tidak harus selalu pada dialektika
Ketika genggaman mampu menjamah alunan
Bukankah tidak harus selalu pada jendela
Ketika angin bertiup menyampaikan dingin
*****
Dan kabar yang membawa pada cerita jalan, cerita sepanjang jalan, cerita selama memandang, cerita selama menyapa adalah ukuran yang disematkan pada sejumlah pin dan merekamnya pada perspektif dan persepsi diri. Tak perlu jua memastikan pemahaman orang lain jika cerita hati ingin dilagukan pada senandung harap yang belum tersntuh.
Oleh-oleh dari sejumlah halte yang kusinggahi adalah penyertaan pada pandangan biru muda dan menarikannya dengan irama sentuh. Cerita dari sejumlah ruang yang kusinggahi adalah memastikan bahwa tempat yang telah kupesan adalah keharusan untuk menikmatinya walaupun sesaat dan mencoba mengabarkan pada sekeliling bahwa aku pernah ada, aku pernah datang, aku pernah sapa.
Oleh-oleh dan cerita itu sudah kukemas dan kubacakan pada sebuah prasasti bahwa setiap langkah yang kudapatkan adalah menyertakan kabar pada sejumlah jendela pandang, dan melepaskan rindu hati dengan nyanyian tanpa syair. Dan kabar yang dilepaskan adalah mengurai kata hati dengan segelas minuman dingin, mereguknya dan mengulanginya lagi sembari menjelaskan pada billboard bahwa aku pernah cerita, aku pernah kabarkan ke khasanah luas.
Lama tak berkabar
Karena musim ingin bercerita
Lama tak bercerita
Karena musim ingin menyapa
Lama tak menyapa
Karena musim ingin memandang
Bukankah tidak harus selalu pada dialektika
Ketika genggaman mampu menjamah alunan
Bukankah tidak harus selalu pada jendela
Ketika angin bertiup menyampaikan dingin
*****
Wednesday, December 26, 2007
Makin Jelas
Terbukti dan makin jelas bentuk dan lekuk yang kau kumandangkan setiap depa yang kau bisikkan pada sejumlah boneka. Dan harus kujelaskan pada sisi kebersamaan manakala ada sebuah tanya untuk menyimpulkan. Dan sesungguhnya laku sikap yang kau bentangkan pada sejumlah risalah adalah memastikan titik iri pada koridor ruang yang tak mampu dilepas dari ikatan lagu dengki. Dengki seumur perjumpaan yang dijelaskan melalui bahasa tubuh adalah kepastian yang mengizinkan aku menyatakan bahwa engkau adalah testimoni yang tak ingin disapu awan.
Engkau adalah bayu yang tak mampu menyapu seraut wajah untuk berpose pada highlight memutihkan pohon. Bahwa naluri yang engkau paku pada sejumlah judul adalah ketidakmampuan mengejawantahkan argumentasi berbasis kolektivitas. Engkau pikir engkaulah yang paling bersuara padahal semakin engkau bersuara semakin jelas kesimpulan berbaris kata yang dapat dituliskan. Tidak hanya aku, pada sejumlah boneka pun engkau jahit kemunafikan yang dibungkus dengan lagu hymne, seakan judul yang dinyanyikan adalah pusat kebenaran.
Engkau adalah pencetus opini naluri liar yang tak mampu membendung rangkaian kalimat dengan senandung melodi. Engkau adalah kekasih autis dan tak mampu menyuarakan kemerdekan peran pada ruang sekitar. Dengkimu adalah catatan kemunafikan yang mematrikan kolokasi antara egosentris dan arogansi. Bumbunya adalah racikan akumulasi berwarna comberan hitam. Dan sajiannya adalah secangkir aroma pahit yang tak lagi dirasa sebagai satu rasa. Sayangnya engkau tak mampu mengajak berteriak bersama karena mentalmu ternyata hanya nyanyian ayam sayur tanpa sayur lodeh.
Makin jelas ketika sebuah nilai dikumandangkan, engkau sekali lagi tak mampu membawa kebebasan hatimu pada skenario persepsi dan pespektif. Yang ada hanyalah tumpukan catatan yang telah menjadi bukti kepiawaianmu memainkan halaman bertuliskan pertanggungan moral yang sesungguhnya tak mampu engkau samadengankan karena pertanggungan akhir tahun sudah selesai. Dan yang tertinggal pada lacimu adalah tumpukan bukti yang menjelaskan definisi tentang kemunafikan. Yang tinggal pada lacimu hanyalah tumpukan berlabel operasional yang engkau anggap sebagai plat hitam. Serombongan semut hitam menitip salam : arogansi itu adalah saudara tiri ego dan masih sepupu dengan naluri iri.
****
Engkau adalah bayu yang tak mampu menyapu seraut wajah untuk berpose pada highlight memutihkan pohon. Bahwa naluri yang engkau paku pada sejumlah judul adalah ketidakmampuan mengejawantahkan argumentasi berbasis kolektivitas. Engkau pikir engkaulah yang paling bersuara padahal semakin engkau bersuara semakin jelas kesimpulan berbaris kata yang dapat dituliskan. Tidak hanya aku, pada sejumlah boneka pun engkau jahit kemunafikan yang dibungkus dengan lagu hymne, seakan judul yang dinyanyikan adalah pusat kebenaran.
Engkau adalah pencetus opini naluri liar yang tak mampu membendung rangkaian kalimat dengan senandung melodi. Engkau adalah kekasih autis dan tak mampu menyuarakan kemerdekan peran pada ruang sekitar. Dengkimu adalah catatan kemunafikan yang mematrikan kolokasi antara egosentris dan arogansi. Bumbunya adalah racikan akumulasi berwarna comberan hitam. Dan sajiannya adalah secangkir aroma pahit yang tak lagi dirasa sebagai satu rasa. Sayangnya engkau tak mampu mengajak berteriak bersama karena mentalmu ternyata hanya nyanyian ayam sayur tanpa sayur lodeh.
Makin jelas ketika sebuah nilai dikumandangkan, engkau sekali lagi tak mampu membawa kebebasan hatimu pada skenario persepsi dan pespektif. Yang ada hanyalah tumpukan catatan yang telah menjadi bukti kepiawaianmu memainkan halaman bertuliskan pertanggungan moral yang sesungguhnya tak mampu engkau samadengankan karena pertanggungan akhir tahun sudah selesai. Dan yang tertinggal pada lacimu adalah tumpukan bukti yang menjelaskan definisi tentang kemunafikan. Yang tinggal pada lacimu hanyalah tumpukan berlabel operasional yang engkau anggap sebagai plat hitam. Serombongan semut hitam menitip salam : arogansi itu adalah saudara tiri ego dan masih sepupu dengan naluri iri.
****
Tuesday, December 18, 2007
Jadi Tetaplah....
Ulangtahun adalah sebuah catatan ketika kita telah mencapai putaran tanpa pernah tahu sampai dimana batasnya. Dan dengan itu jua kita bisa menyatakan pada khalayak bahwa kisah perjalanan tidak sebatas merayakan seremoni tetapi yang lebih pelangi adalah mencoba memaknainya dengan kecerdasan rasio dengan perban rasa. Bingkai tulisannya adalah : kaligrafi perwujudan syukur tanpa harus berproklamasi.
Bahwa titik raya yang menjadi ungkapan untuk menyatakan tidaklah jua harus berada pada palka yang bernama hari yang sama. Sebab nun jauh di ruang lapang yang lain telah pula dinyanyikan sambutan yang mengiramakan rasa ikut bersenang hati menyanyikannya di sendiri hati. Jadi tetaplah berlangsung walau tak harus sua, dan tetaplah senyum walau tak harus sapa karena langit telah menyampaikan pesan bahwa saatnya tidak untuk bersulang untuk sebuah hari.
Bahwa titik raya yang menjadi ungkapan untuk menyatakan tidaklah jua harus berada pada palka yang bernama hari yang sama. Sebab nun jauh di ruang lapang yang lain telah pula dinyanyikan sambutan yang mengiramakan rasa ikut bersenang hati menyanyikannya di sendiri hati. Jadi tetaplah berlangsung walau tak harus sua, dan tetaplah senyum walau tak harus sapa karena langit telah menyampaikan pesan bahwa saatnya tidak untuk bersulang untuk sebuah hari.
Jadi, tetaplah menyapa hari dengan santun diri tanpa harus menyobek kertas yang tak ditulis apa-apa. Dan tetaplah menjadi sebuah cahaya yang mampu menyemburatkan cahaya kunang-kunang yang menghias langit malam. Selamat ulang tahun, semoga ridhoNya senantiasa disapukan dan diusapkan pada sebuah hati yang selalu bening.
****
Monday, December 17, 2007
Pelangi Mimpi
Kucoba, dan tiba-tiba saja mengalir dan menjelaskan kearah mana perspektif yang hendak dijelajah. Kutulis dan kuimpikan saja sembari menyatakan garis seandainya menjadi landai. Seandainya pantai menjadi landai dan ramah menyambutku. Kuimpikan jua selagi masih bisa menyambungnya dengan rajutan yang belum tergapai dan selesai apalagi sampai. Dan pencarian tidaklah harus serumit meruntun baris kata karena sudah tersedia di kotak pipih yang berwarna hitam legam. Dan kucentang saja pada setiap selang mimpi yang kusulam menjadi sebuah judul : menaruh perahu di pasir putih sembari mengharap ombak datang menjemput dengan riak keramahan.
Mendung di luar tidaklah menjadi soal sebab aku masih ada di ruang kehangatan dan masih menjalani kisah cerita yang kurajut sendiri. Sekiranya jemputan menjelang dan mengabarkan, apa pun itu isi kabarnya tetaplah aku ingin sampaikan pada segumpal awan bahwa setidaknya mimpiku yang sebenarnya adalah pencarian pada tersibaknya ruang celah untuk kembali menyapa dan menata, dan menerbitkan cerita fajar pada sejumlah burung yang bernyanyi di sinar pagi.
Sejumlah arah kusimak dan kusibak, dan menyatakan pada rangkuman isi bahwa halte yang diisi gerimis sepanjang hari adalah mencoba mengambil peran pada sisi yang menjadi pijakan alinea. Agar aku tidak ketinggalan alinea, agar aku tidak ketinggalan kereta, agar aku tidak ketinggalan suasana. Dan sejumlah asumsi memberikan gerakan bathin bahwa bisa saja kelokan menjadi batas yang kutemui pada sejam sehari waktu ke depan, setidaknya ketika menggoreskannya pada sejumlah arah.
Dan kugaris
Dan kulipat
Dan kusimpan
Dan kulumat
Dan kusampaikan
Pada sejumlah sinar yang mampu menghangatkan
Pada sejumlah kehangatan yang mampu menyapu
Untuk catatan berikutnya
Untuk alinea selanjutnya
Untuk memetik catatan pelangi mimpi
****
Sunday, December 16, 2007
Ruang, Jalan
Jalan-Jalan Sepanjang Pekan
Jalan-jalan melingkari hari dan menuntaskan catatan yang ingin disamadengankan. Maka jalanlah aku selama sepekan menyambut matahari di timur, barat dan selatan. Menikmati suasana yang memang menjadi pinanganku selama ini. Menikmati aroma kehijauan yang memang menjadi auraku selama ini. Berjalan, menatap, meluaskan siar pandang seluas yang diperoleh, dan mendengarkan bahasa alam dengan catatan hati yang tanpa mengedip.
Ya tanpa mengedip walau tak harus berkata, walau tak harus berucap. Dan sebaris ruang pandang yang kulirik seperti menyambutku dengan kesegaran nuansa dan mempersilakan untuk melanjutkan perjalanan. Dan aku terus berjalan, menelusuri, menjelajah dan menyatukan dengan segenap keindahan yang kuselipkan. Dan jadilah pekan berwarna warni, dan hijau kesegaran adalah naluri yang mampu menciptakan kehalusan etika ketika kejenuhan menjadi headline yang tak tersingkap.
Betapa keindahan itu adalah catatan yang tak berkesudahan dan mampu mendudukkan dan menundukkan tema cerita yang hendak ditulis. Betapa kehijauan itu adalah anugerah yang tak dapat dinilai dengan kurs apapun kecuali kesediaan hati untuk bercengkerama dengannya. Dan jalan-jalan sepanjang pekan ini adalah pendapatan kesegaran yang kutabung pada setiap sendi nadi dan kelak menjadi analogi pada sejumlah catatan dan paragraf yang masih belum selesai.
Bahwa aku merasa dihadapan
Bahwa aku merasa dikedepankan
Bahwa aku merasa didepan kehijauan
Dan kesegaran ruang pandang adalah palung cerita untuk diendapkan pada ruang hati dan menjadi menu tambahan yang memperindah sejumlah alinea, sejumlah baris kalimat.
*****
Sebuah Nilai
Sebuah nilai, dan sejauh itu perolehan yang didapat adalah penjelasan tentang soal yang tak seirama dengan peran selama ini. Dan sejauh itu jua ketika berhadapan dengan perjumpaan yang apresiasinya adalah tidak pernah menjaga rasa apalagi menjunjung kesetaraan. Perubahan, dan bentuk singgungan nilai yang diumumkan adalah memastikan bahwa sejauh perjalanan itu, adalah keniscayaan yang tak beroleh tempat, dan selalu dicontohkan dengan peran yang meminggirkan jurusan.
Bukti adalah perubahan nilai itu, dan bukti waktu adalah keidaksamaan yang diperoleh sebagai catatan yang mengurai pada seumlah sudut pandang, dan seakan tidak punya celah untuk menyalip kesetaraan dan kebersamaan. Lantas tak perlu jua untuk dijabarkan kecuali menyatakan penghapusan pada sub tema yang menjadi judul sepanjang jalan.
Bahwa sejumlah argumen menjadi patah, ada benarnya untuk ditanam dalam, dan menguburnya dengan keyakinan diri bahwa keniscayaan pada nilai itu adalah hakekat yang ingin digenggam tanpa harus mengumbarnya pada setumpuk baris kata di depan trotoar.
Ya sudah,
Toh catatan yang tergaris adalah menafikan segenggam arus kalimat yang tak terbendung pada musim yang tak terdeteksi. Dan nilai perjalanan itu adalah paradigma yang dapat menjelaskan duduk cerita di hadapan keagungan, bahwa ketulusan adalah bening kaca yang mampu mengantarkan hidangan penyegar raga, dan menyemaikannya pada dada keheningan pada sujud dinihari. Betapa Engkau mendengarkan dan mencatatnya selama ini, wahai Zat yang memutlakkan definisi.
*****
Jalan-jalan melingkari hari dan menuntaskan catatan yang ingin disamadengankan. Maka jalanlah aku selama sepekan menyambut matahari di timur, barat dan selatan. Menikmati suasana yang memang menjadi pinanganku selama ini. Menikmati aroma kehijauan yang memang menjadi auraku selama ini. Berjalan, menatap, meluaskan siar pandang seluas yang diperoleh, dan mendengarkan bahasa alam dengan catatan hati yang tanpa mengedip.
Ya tanpa mengedip walau tak harus berkata, walau tak harus berucap. Dan sebaris ruang pandang yang kulirik seperti menyambutku dengan kesegaran nuansa dan mempersilakan untuk melanjutkan perjalanan. Dan aku terus berjalan, menelusuri, menjelajah dan menyatukan dengan segenap keindahan yang kuselipkan. Dan jadilah pekan berwarna warni, dan hijau kesegaran adalah naluri yang mampu menciptakan kehalusan etika ketika kejenuhan menjadi headline yang tak tersingkap.
Betapa keindahan itu adalah catatan yang tak berkesudahan dan mampu mendudukkan dan menundukkan tema cerita yang hendak ditulis. Betapa kehijauan itu adalah anugerah yang tak dapat dinilai dengan kurs apapun kecuali kesediaan hati untuk bercengkerama dengannya. Dan jalan-jalan sepanjang pekan ini adalah pendapatan kesegaran yang kutabung pada setiap sendi nadi dan kelak menjadi analogi pada sejumlah catatan dan paragraf yang masih belum selesai.
Bahwa aku merasa dihadapan
Bahwa aku merasa dikedepankan
Bahwa aku merasa didepan kehijauan
Dan kesegaran ruang pandang adalah palung cerita untuk diendapkan pada ruang hati dan menjadi menu tambahan yang memperindah sejumlah alinea, sejumlah baris kalimat.
*****
Sebuah Nilai
Sebuah nilai, dan sejauh itu perolehan yang didapat adalah penjelasan tentang soal yang tak seirama dengan peran selama ini. Dan sejauh itu jua ketika berhadapan dengan perjumpaan yang apresiasinya adalah tidak pernah menjaga rasa apalagi menjunjung kesetaraan. Perubahan, dan bentuk singgungan nilai yang diumumkan adalah memastikan bahwa sejauh perjalanan itu, adalah keniscayaan yang tak beroleh tempat, dan selalu dicontohkan dengan peran yang meminggirkan jurusan.
Bukti adalah perubahan nilai itu, dan bukti waktu adalah keidaksamaan yang diperoleh sebagai catatan yang mengurai pada seumlah sudut pandang, dan seakan tidak punya celah untuk menyalip kesetaraan dan kebersamaan. Lantas tak perlu jua untuk dijabarkan kecuali menyatakan penghapusan pada sub tema yang menjadi judul sepanjang jalan.
Bahwa sejumlah argumen menjadi patah, ada benarnya untuk ditanam dalam, dan menguburnya dengan keyakinan diri bahwa keniscayaan pada nilai itu adalah hakekat yang ingin digenggam tanpa harus mengumbarnya pada setumpuk baris kata di depan trotoar.
Ya sudah,
Toh catatan yang tergaris adalah menafikan segenggam arus kalimat yang tak terbendung pada musim yang tak terdeteksi. Dan nilai perjalanan itu adalah paradigma yang dapat menjelaskan duduk cerita di hadapan keagungan, bahwa ketulusan adalah bening kaca yang mampu mengantarkan hidangan penyegar raga, dan menyemaikannya pada dada keheningan pada sujud dinihari. Betapa Engkau mendengarkan dan mencatatnya selama ini, wahai Zat yang memutlakkan definisi.
*****
Thursday, December 06, 2007
Betapa
Ananda,
Sejumlah catatan untuk mengisi hari adalah upaya untuk menebalkan keyakinan, pada lingkaran pengisian pola, pengisian ruang, pengisian cara. Dan semua adalah untuk memastikan betapa luasnya panorama yang engkau hadapi dan akan engkau jalani, bukan hanya sekedar rumah dan sekolah, atau bacaan novel sebagaimana isian waktu yang memenuhi segelas harimu.
Dan betapapun berat rasa untuk melepas barang beberapa waktu terbit matahari, adalah itu jua yang sejatinya akan menjelaskan padamu bahwa kemandirian dengan guru alam di ketinggian yang menyejukkan, yang engkau nikmati bersama, engkau hadapi bersama. Adalah itu untuk mendidik bahasa bathinmu, mendidik rasa rasiomu, mendidik matahatimu bahwa sesungguhnya isian manfaat yang selalu ayahanda inginkan adalah, melatih keluasan cara pandang, mengadoni cakrawala aneka warna, menanamkan ketegaran, mengasah aroma keindahan sejauh mata memandang dan memetiknya sebagai pelajaran kebesaran pemilik kesemestaan.
Ini adalah perjalanan yang kesekian, artinya engkau sudah terbiasa menghadapi cara, engkau sudah terbiasa menjalani dan menikmati bersama kelompok setia kawanmu. Dan itulah yang meringankan langkah, itulah yang memastikan arah bahwa tujuan adalah merangkum kesetiaan berbagi bersama, menawar bersama, menjalani bersama untuk kemudian diaduk menjadi olahan dan olesan yang mengaliri diri.
Dan jalankan itu dengan semangat ketegaran
Dan jalankan itu dengan sejuta nikmat membagi alam
Dan jalankan itu dengan keyakinan pasti
Bahwa ayahanda dan ibunda selalu mengalirimu dengan doa
Bahwa ayahanda dan ibunda selalu mengantarmu dengan senyum
Bukankah alam selalu menafsirkan kedekatan manakala kita mampu mendekatinya, menyalaminya dan mendekapnya dengan selimut malam berlapis embun bening. Bukankah itu sebuah definisi tentang keinginanmu yang ingin menyapa dedaunan di ketinggian jelajah. Bukalah matahatimu, agar engkau mampu menjalaninya dengan kepastian peran, keyakinan langkah dan memakunya dengan pijakan yang kukuh, istiqomah dan sirothol mustaqim.
Jalankan itu dengan senyum, ananda
Nikmati itu dengan doa, ananda
Semoga semakin menegaskan pada citra dirimu
Bahwa perjalanan adalah mengisi gelas air
Untuk membeningkannya pada ruang dada
(Betapa ayahanda sangat menyayangimu)
****
Sejumlah catatan untuk mengisi hari adalah upaya untuk menebalkan keyakinan, pada lingkaran pengisian pola, pengisian ruang, pengisian cara. Dan semua adalah untuk memastikan betapa luasnya panorama yang engkau hadapi dan akan engkau jalani, bukan hanya sekedar rumah dan sekolah, atau bacaan novel sebagaimana isian waktu yang memenuhi segelas harimu.
Dan betapapun berat rasa untuk melepas barang beberapa waktu terbit matahari, adalah itu jua yang sejatinya akan menjelaskan padamu bahwa kemandirian dengan guru alam di ketinggian yang menyejukkan, yang engkau nikmati bersama, engkau hadapi bersama. Adalah itu untuk mendidik bahasa bathinmu, mendidik rasa rasiomu, mendidik matahatimu bahwa sesungguhnya isian manfaat yang selalu ayahanda inginkan adalah, melatih keluasan cara pandang, mengadoni cakrawala aneka warna, menanamkan ketegaran, mengasah aroma keindahan sejauh mata memandang dan memetiknya sebagai pelajaran kebesaran pemilik kesemestaan.
Ini adalah perjalanan yang kesekian, artinya engkau sudah terbiasa menghadapi cara, engkau sudah terbiasa menjalani dan menikmati bersama kelompok setia kawanmu. Dan itulah yang meringankan langkah, itulah yang memastikan arah bahwa tujuan adalah merangkum kesetiaan berbagi bersama, menawar bersama, menjalani bersama untuk kemudian diaduk menjadi olahan dan olesan yang mengaliri diri.
Dan jalankan itu dengan semangat ketegaran
Dan jalankan itu dengan sejuta nikmat membagi alam
Dan jalankan itu dengan keyakinan pasti
Bahwa ayahanda dan ibunda selalu mengalirimu dengan doa
Bahwa ayahanda dan ibunda selalu mengantarmu dengan senyum
Bukankah alam selalu menafsirkan kedekatan manakala kita mampu mendekatinya, menyalaminya dan mendekapnya dengan selimut malam berlapis embun bening. Bukankah itu sebuah definisi tentang keinginanmu yang ingin menyapa dedaunan di ketinggian jelajah. Bukalah matahatimu, agar engkau mampu menjalaninya dengan kepastian peran, keyakinan langkah dan memakunya dengan pijakan yang kukuh, istiqomah dan sirothol mustaqim.
Jalankan itu dengan senyum, ananda
Nikmati itu dengan doa, ananda
Semoga semakin menegaskan pada citra dirimu
Bahwa perjalanan adalah mengisi gelas air
Untuk membeningkannya pada ruang dada
(Betapa ayahanda sangat menyayangimu)
****
Sunday, December 02, 2007
Ritme, Oles
Hanya seremoni
Ritme seremoni perpisahan yang menjadi ungkapan bibir manis kira-kira berbunyi begini : Mohon maaf jika selama interaksi ada sikap yang kurang berkenan, hanya sebatas canda dan tidak bermaksud untuk menyakiti. Ungkapan yang klise dan cenderung tanpa makna karena sedikitpun tidak merasa datang dari ruang hati, ruang rasa. Hanya ungkapan lengkung bibir sebagai rukun acara formal untuk melepas. Sekedar ngomong untuk menggugurkan kewajiban.
Seringan itukah yang terungkap, itulah jika tak pandai memandang interaksi sebagai kesetaraan dan merasa hanya berada pada sudut pandang inner, merasa hanya berada pada planet homogen, hanya pandai mengumbar omong sekedar untuk menutupi belang pada dosa masa lalu, dan menikmati karma pada kunjungan rutinitas tanpa pernah selesai. Itulah sebutir kerikil yang ditendang menuju timur mata angin.
Tidak ada makna yang didapat ketika seremoni hanya dijadikan alat untuk pembenaran bahwa atas nama salah, atas nama khilaf, atas nama canda lantas ingin dikubur dengan ungkapan berbahasa seremoni. Lalu dimana tempatnya harkat dan martabat, apakah lantas ditinggalkan saja di terminal atau stasiun karena hanya sebatas canda, hanya sebatas ungkap. Padahal keseharian adalah catatan, keseharian adalah goresan, keseharian adalah baris kalimat, keseharian adalah mematahkan harkat dan menjual obral pada diskon swalayan cerita dan sikap.
Jalan adalah rangkaian kalimat dan jalan yang dituju adalah menuju gaya bahasa pasaran yang tak bernuansa intelektual. Hanya mampu membesarkan volume tanpa memikirkan equalizer kesetaraan rasa dengar, rasa empati dan rasa riang pada gendang telinga. Dan seremoni hanyalah titik sentuh sebuah fragmen, dan bukan menjadi bagian cerita yang hendak dituntaskan karena lapis sikap dan etika itu bukanlah untuk dicandakan jika sudah berada di wilayah konspirasi. Karma akan memberi jawaban dan sudah pula terlihat pada kunjungan rutinitas yang tanpa pernah selesai itu.
******
Senyum didulang
Syukur itu adalah memberitahu, syukur itu adalah memberi, syukur itu adalah menghidangkan, dan kebersamaan yang dibagi adalah menghidangkan silaturrahmi sembari mencicipi dan menghangatkan dengan omongan ringan, obrolan keakraban dan membawanya pada sosok kedekatan dan mendekatkan .
Bahwa cerita Jumat siang menjadi sesuatu yang membahagiakan, adalah itu yang menjadi tema ketika para sobat setia sengaja datang untuk melunaskan undangan, untuk membagi, untuk menikmati dan menceritakannya kembali pada ruang diri masing-masing. Bagiku juga sebuah kesegaran rasa ketika semua yang kuundang ternyata ada membawa diri dan hati untuk menyapa, ada dan merasa, bahwa kita adalah bagian cerita panjang yang memanjang sepanjang jalan cerita. Kita adalah kedekatan yang menjadi sebuah kisah tanpa pernah selesai karena kita mengariskan pada sebuah pernyataan : silaturrahmi adalah pepanjangan aktivitas dan membagi cerita dengan senyum didulang.
Maka, jalan cerita siang ini adalah olesan yang menjelaskan tanpa harus mengumumkannya pada sejumlah hari. Dan cerita siang ini adalah bagian dari menikmati kebersamaan yang selalu kita gariskan pada setiap langkah bermakna. Langkahku yang bermakna dan telah menyelesaikan itu adalah pernyataan sikap pada sebuah judul syukur yang hendak kukumandangkan. Da kehadiran mereka adalah bukti kesetiakawanan ketika ruang diri menyatakan bahwa pertemanan adalah sepanjang usia kerja dan menuliskannya pada prasasti untuk kelestariannya.
*****
Ritme seremoni perpisahan yang menjadi ungkapan bibir manis kira-kira berbunyi begini : Mohon maaf jika selama interaksi ada sikap yang kurang berkenan, hanya sebatas canda dan tidak bermaksud untuk menyakiti. Ungkapan yang klise dan cenderung tanpa makna karena sedikitpun tidak merasa datang dari ruang hati, ruang rasa. Hanya ungkapan lengkung bibir sebagai rukun acara formal untuk melepas. Sekedar ngomong untuk menggugurkan kewajiban.
Seringan itukah yang terungkap, itulah jika tak pandai memandang interaksi sebagai kesetaraan dan merasa hanya berada pada sudut pandang inner, merasa hanya berada pada planet homogen, hanya pandai mengumbar omong sekedar untuk menutupi belang pada dosa masa lalu, dan menikmati karma pada kunjungan rutinitas tanpa pernah selesai. Itulah sebutir kerikil yang ditendang menuju timur mata angin.
Tidak ada makna yang didapat ketika seremoni hanya dijadikan alat untuk pembenaran bahwa atas nama salah, atas nama khilaf, atas nama canda lantas ingin dikubur dengan ungkapan berbahasa seremoni. Lalu dimana tempatnya harkat dan martabat, apakah lantas ditinggalkan saja di terminal atau stasiun karena hanya sebatas canda, hanya sebatas ungkap. Padahal keseharian adalah catatan, keseharian adalah goresan, keseharian adalah baris kalimat, keseharian adalah mematahkan harkat dan menjual obral pada diskon swalayan cerita dan sikap.
Jalan adalah rangkaian kalimat dan jalan yang dituju adalah menuju gaya bahasa pasaran yang tak bernuansa intelektual. Hanya mampu membesarkan volume tanpa memikirkan equalizer kesetaraan rasa dengar, rasa empati dan rasa riang pada gendang telinga. Dan seremoni hanyalah titik sentuh sebuah fragmen, dan bukan menjadi bagian cerita yang hendak dituntaskan karena lapis sikap dan etika itu bukanlah untuk dicandakan jika sudah berada di wilayah konspirasi. Karma akan memberi jawaban dan sudah pula terlihat pada kunjungan rutinitas yang tanpa pernah selesai itu.
******
Senyum didulang
Syukur itu adalah memberitahu, syukur itu adalah memberi, syukur itu adalah menghidangkan, dan kebersamaan yang dibagi adalah menghidangkan silaturrahmi sembari mencicipi dan menghangatkan dengan omongan ringan, obrolan keakraban dan membawanya pada sosok kedekatan dan mendekatkan .
Bahwa cerita Jumat siang menjadi sesuatu yang membahagiakan, adalah itu yang menjadi tema ketika para sobat setia sengaja datang untuk melunaskan undangan, untuk membagi, untuk menikmati dan menceritakannya kembali pada ruang diri masing-masing. Bagiku juga sebuah kesegaran rasa ketika semua yang kuundang ternyata ada membawa diri dan hati untuk menyapa, ada dan merasa, bahwa kita adalah bagian cerita panjang yang memanjang sepanjang jalan cerita. Kita adalah kedekatan yang menjadi sebuah kisah tanpa pernah selesai karena kita mengariskan pada sebuah pernyataan : silaturrahmi adalah pepanjangan aktivitas dan membagi cerita dengan senyum didulang.
Maka, jalan cerita siang ini adalah olesan yang menjelaskan tanpa harus mengumumkannya pada sejumlah hari. Dan cerita siang ini adalah bagian dari menikmati kebersamaan yang selalu kita gariskan pada setiap langkah bermakna. Langkahku yang bermakna dan telah menyelesaikan itu adalah pernyataan sikap pada sebuah judul syukur yang hendak kukumandangkan. Da kehadiran mereka adalah bukti kesetiakawanan ketika ruang diri menyatakan bahwa pertemanan adalah sepanjang usia kerja dan menuliskannya pada prasasti untuk kelestariannya.
*****
Thursday, November 29, 2007
Titik
Bukankah titik adalah akhir, bukankah titik adalah usai tanpa jeda, bukankah titik adalah closing dan sekaligus menyudahi. Dan gumpalan yang dibawa bersamanya adalah menghempas cakram dan menghunjamkannya pada kedalaman ruang gelap. Dan jangan coba untuk mengolesnya dengan parfum atau bumbu penyedap, atau barangkali mencoba mengangkatnya kembali.
Dan hari yang engkau lalui adalah semesta yang tak mampu mengusir awan apalagi menyentuh dinding kebersamaan, betapapun engkau berupaya untuk memutihkannya. Karena ukiran tentang sosok dirimu adalah perlambang, adalah ikon yang telah mengoyak dinding yang lain selama unjuk sapa dan persentuhan ketidaksetaraan. Engkau adalah kedurjanaan yang mampu menjadi iringan doa, karena engkau adalah kezaliman itu sendiri. Engkau adalah pembawa titik yang tak dapat diteruskan dengan rayuan berwajah sendu seperti yang kau perlihatkan sebelumnya.
Engkau adalah simbol yang telah mencabik. Engkau adalah episode pertunjukan tiga tahun tanpa rehat dengan peran matador tanpa stadion. Yang engkau tunjukkan adalah kehebatan subyektivitas yang sesungguhnya adalah proklamasi keangkuhan tanpa fundamen etika. Etika itu yang telah kau sedot pada sekujur pengulitan diri tanpa merasa telah melakukan transfer pengkerdilan predikat. Dan predikat yang pantas digandeng di sekujur nadi hatimu adalah keangkuhan dengan bumbu penyedap yang bernama kerdil bathin karena engkau telah mengilhami tidak mampunya mengendalikan tata suara.
Dan titiknya adalah jelajah tanpa perlu menyinarkan jingga. Dan titiknya adalah eksplorasi tanpa kepesertaan naluri tenggang rasa. Biar semua tahu bahwa sikap adalah pengumuman pada sejumlah mata angin yang masih mampu menebarkan senyum, dan sekaligus mengirim salam usai tanpa jeda pada sebongkah hati yang tak memiliki nurani. Itulah engkau.
Dan hari yang engkau lalui adalah semesta yang tak mampu mengusir awan apalagi menyentuh dinding kebersamaan, betapapun engkau berupaya untuk memutihkannya. Karena ukiran tentang sosok dirimu adalah perlambang, adalah ikon yang telah mengoyak dinding yang lain selama unjuk sapa dan persentuhan ketidaksetaraan. Engkau adalah kedurjanaan yang mampu menjadi iringan doa, karena engkau adalah kezaliman itu sendiri. Engkau adalah pembawa titik yang tak dapat diteruskan dengan rayuan berwajah sendu seperti yang kau perlihatkan sebelumnya.
Engkau adalah simbol yang telah mencabik. Engkau adalah episode pertunjukan tiga tahun tanpa rehat dengan peran matador tanpa stadion. Yang engkau tunjukkan adalah kehebatan subyektivitas yang sesungguhnya adalah proklamasi keangkuhan tanpa fundamen etika. Etika itu yang telah kau sedot pada sekujur pengulitan diri tanpa merasa telah melakukan transfer pengkerdilan predikat. Dan predikat yang pantas digandeng di sekujur nadi hatimu adalah keangkuhan dengan bumbu penyedap yang bernama kerdil bathin karena engkau telah mengilhami tidak mampunya mengendalikan tata suara.
Dan titiknya adalah jelajah tanpa perlu menyinarkan jingga. Dan titiknya adalah eksplorasi tanpa kepesertaan naluri tenggang rasa. Biar semua tahu bahwa sikap adalah pengumuman pada sejumlah mata angin yang masih mampu menebarkan senyum, dan sekaligus mengirim salam usai tanpa jeda pada sebongkah hati yang tak memiliki nurani. Itulah engkau.
****
Monday, November 26, 2007
Keniscayaan
Engkau Adalah
Dataran tinggi yang disapa adalah menjelaskan suasana dialog dengan keramahan yang dijunjung sembari menghirup udara segar yang menebarkan keakraban nilai perjalanan. Ya, seperti untuk menyelesaikan janji, seperti untuk mengamini permintaan dan sekaligus menjawab ulangan pertanyaan, maka sambutan yang digelar sepanjang jalan adalah menilai kualitas janji dan mencoba menaruhnya kembali pada keranjang persepsi. Dan seperti biasa ketika menyapa dan disapa, adalah kesederhanaan yang bernilai silaturrahmi elegan yang engkau pertontonkan dihadapan, menyambut dengan senyum sembari bertutur kata yang menyejukkan.
Engkau memang kesimpulan itu
Engkau adalah kesederhanaan itu
Engkau bernilai kejernihan itu
Engkau mampu menjaga nilai perekat itu
Engkau persepsi substansi berlapis legit
*****
Logika yang hendak kau jawab
Logika yang hendak kau jawab adalah mendefinisikan kembali rantai yang belum lepas dari geriginya. Dan perjumpaan yang diinginkan adalah merajut tepian tanpa benang penyambung. Bagaimana sih logikanya, jelas menjadi sesuatu yang abstrak karena tidak ada yang mampu dipercikkan pada kanvas untuk menjadi lukisan. Tidak jua yang memaknai alinea, manakala hanya sebuah pertanyaan berbasis pernayataan yang tak perlu dijawab.
Oleh itu tidaklah ada sesiapa yang mampu untuk menjawab ruang tanya yang disiapkan sampai tiba saatnya ketika matahari harus pamit di batas cakrawalanya sembari titip pesan : toh aku akan tetap hadir di subuh esok menyambut kukuruyuk ayam jantan sekaligus mendefinisi ulang makna yang belum selesai.
Ya itu saja jawaban tanpa harus mengatakan. Toh sebuah janji tidak pernah melewati batas kesetiaan sebuah matahari yang selalu menjaga estetika kehadirannya. Dan perjanjian yang disepakati bukanlah untuk sekedar menandatangani, namun lebih dari itu, bahwa pagarnya adalah kemampuan untuk menjaga kesepakatan dan bermain di koridor itu. Dan logika definisi yang dikumandangkan tidak jua memastikan untuk merajut benang penyambung.
Maka jangan ada pemaksaaan untuk menyatakan definisi.
*****
Segumpal Kepal
Ada persamaan yang dikumpulkan manakala cerita pagi empat mata dibungkus dengan bahasa kesamaan pandang, apalagi kalau bukan tentang tema pergulatan lini tengah yang menjadi terpaan angin sepanjang musim. Semakin jelas saja jalan ceritanya, semakin luas saja rangkuman kisahnya, tapi aku tak perlu untuk menggoreskannya lagi, tak perlu untuk merambah wilayah hegemoninya karena toh sudah banyak yang tahu tentang jalan ceritanya. Bahwa dia adalah segumpal kepal, bahwa dia adalah seonggok tinju yang melunglaikan mental gabusnya. Dan dia memang gabus.
Bahwa kemudian ada persepsi yang sama adalah sebuah sama dengan. Bahwa kemudian ada jalinan yang dirangkum menjadi cerita searah tidak lagi menjadi jalinan titik bergaris tebal, karena semua yang dijelaskan itu, semua yang di curhatkan itu adalah persamaan linier yang menghasilkan kesimpulan idem. Maka cerita pagi empat mata itu adalah merangkum semua definisi dan menyimpannya dalam flashdisk kamar hati untuk diceritakan kembali kepada sanak saudara yang bermukim di hati. Agar mereka tahu tentang tema yang sudah menahun, agar mereka tahu tentang arogansi peran, agar mereka tahun tentang mental telunjuk lurus kelingking berkait. Agar mereka tahu tentang mental gabus yang dimilikinya. Hanya segitu saja.
*****
Titian hati
Pasanglah rindu di trotoar coklat sepanjang pagi
Niscaya sambutan akan mampu menepikan riak
Pasanglah sendu di seberang titian hati
Niscaya sambutan akan mampu menjanjikan teriak
(Pada sebuah argumen, pernyataan sikap yang menghidupkan suasana adalah sampling yang menyatakan prediksi berbasis hipotesis. Bahwa catatan rindu bukanlah untuk menyampaikan hasrat bukan pula untuk menyatakan aroma. Hanyalah dia yang mampu mengutus sekaligus memutus untuk disimpan kembali, untuk dibungkus lagi dan mengedarkannya sebatas ruang pandang).
(Pada sebuah halaman, tanaman hias yang diperbincangkan adalah mengupas judul keindahan, padahal nilai pandangnya hanyalah barisan dengan catatan : hanya itu saja auramu. Dan bincang angan yang terungkap adalah melepas kerinduan pada sebuah nama).
****
Semakin Jelas
Semakin jelas dan menampakkan kehampaan cara dan sikap. Dan dia telah menjadi catatan pinggir, pinggir comberan yang menghitam, kehilangan hakekat dan makna. Cara pandangnya hanyalah pusaran yang tak mampu mengoyak dedaunan, kecuali membuat deru. Cara pandangnya adalah memonopoli argumen tetapi dia tak pernah mampu memblokir kesiapan uji tanding. Dia tak mampu menjembatani logika kebersamaan dengan dukungan kesetaraan. Dia hanya mampu mendribel dan merasa menjadi pemain dominan. Adalah dia yang selalu mampu menghidupkan teori konspirasi bermental kekanak-kanakan dan menyiraminya dengan cairan berlabel : bahan tanpa etika.
Dengan sekutunya dia hanya mampu berceloteh karena perjumpaan di lingkaran, telah memberikan angka minus untuk seluruh keranjang yang disemayamkan di sisi diri. Dia hanya bisa bermain di episentrumnya dan tak mampu menggetarkan lingkungannya dengan getaran skala richter sekalipun, karena dia adalah pusat organ yang tak mampu menyelesaikan renang lintas pertarungan. Dia telah tercerabut dari akar dirinya sendiri. Dia telah menghunjamkan sebongkah noktah yang menjadikan dia seperti pelari yang tak mewakili siapapun. Tidak jua dengan dirinya. Semakin jelas sudah.
****
Dataran tinggi yang disapa adalah menjelaskan suasana dialog dengan keramahan yang dijunjung sembari menghirup udara segar yang menebarkan keakraban nilai perjalanan. Ya, seperti untuk menyelesaikan janji, seperti untuk mengamini permintaan dan sekaligus menjawab ulangan pertanyaan, maka sambutan yang digelar sepanjang jalan adalah menilai kualitas janji dan mencoba menaruhnya kembali pada keranjang persepsi. Dan seperti biasa ketika menyapa dan disapa, adalah kesederhanaan yang bernilai silaturrahmi elegan yang engkau pertontonkan dihadapan, menyambut dengan senyum sembari bertutur kata yang menyejukkan.
Engkau memang kesimpulan itu
Engkau adalah kesederhanaan itu
Engkau bernilai kejernihan itu
Engkau mampu menjaga nilai perekat itu
Engkau persepsi substansi berlapis legit
*****
Logika yang hendak kau jawab
Logika yang hendak kau jawab adalah mendefinisikan kembali rantai yang belum lepas dari geriginya. Dan perjumpaan yang diinginkan adalah merajut tepian tanpa benang penyambung. Bagaimana sih logikanya, jelas menjadi sesuatu yang abstrak karena tidak ada yang mampu dipercikkan pada kanvas untuk menjadi lukisan. Tidak jua yang memaknai alinea, manakala hanya sebuah pertanyaan berbasis pernayataan yang tak perlu dijawab.
Oleh itu tidaklah ada sesiapa yang mampu untuk menjawab ruang tanya yang disiapkan sampai tiba saatnya ketika matahari harus pamit di batas cakrawalanya sembari titip pesan : toh aku akan tetap hadir di subuh esok menyambut kukuruyuk ayam jantan sekaligus mendefinisi ulang makna yang belum selesai.
Ya itu saja jawaban tanpa harus mengatakan. Toh sebuah janji tidak pernah melewati batas kesetiaan sebuah matahari yang selalu menjaga estetika kehadirannya. Dan perjanjian yang disepakati bukanlah untuk sekedar menandatangani, namun lebih dari itu, bahwa pagarnya adalah kemampuan untuk menjaga kesepakatan dan bermain di koridor itu. Dan logika definisi yang dikumandangkan tidak jua memastikan untuk merajut benang penyambung.
Maka jangan ada pemaksaaan untuk menyatakan definisi.
*****
Segumpal Kepal
Ada persamaan yang dikumpulkan manakala cerita pagi empat mata dibungkus dengan bahasa kesamaan pandang, apalagi kalau bukan tentang tema pergulatan lini tengah yang menjadi terpaan angin sepanjang musim. Semakin jelas saja jalan ceritanya, semakin luas saja rangkuman kisahnya, tapi aku tak perlu untuk menggoreskannya lagi, tak perlu untuk merambah wilayah hegemoninya karena toh sudah banyak yang tahu tentang jalan ceritanya. Bahwa dia adalah segumpal kepal, bahwa dia adalah seonggok tinju yang melunglaikan mental gabusnya. Dan dia memang gabus.
Bahwa kemudian ada persepsi yang sama adalah sebuah sama dengan. Bahwa kemudian ada jalinan yang dirangkum menjadi cerita searah tidak lagi menjadi jalinan titik bergaris tebal, karena semua yang dijelaskan itu, semua yang di curhatkan itu adalah persamaan linier yang menghasilkan kesimpulan idem. Maka cerita pagi empat mata itu adalah merangkum semua definisi dan menyimpannya dalam flashdisk kamar hati untuk diceritakan kembali kepada sanak saudara yang bermukim di hati. Agar mereka tahu tentang tema yang sudah menahun, agar mereka tahu tentang arogansi peran, agar mereka tahun tentang mental telunjuk lurus kelingking berkait. Agar mereka tahu tentang mental gabus yang dimilikinya. Hanya segitu saja.
*****
Titian hati
Pasanglah rindu di trotoar coklat sepanjang pagi
Niscaya sambutan akan mampu menepikan riak
Pasanglah sendu di seberang titian hati
Niscaya sambutan akan mampu menjanjikan teriak
(Pada sebuah argumen, pernyataan sikap yang menghidupkan suasana adalah sampling yang menyatakan prediksi berbasis hipotesis. Bahwa catatan rindu bukanlah untuk menyampaikan hasrat bukan pula untuk menyatakan aroma. Hanyalah dia yang mampu mengutus sekaligus memutus untuk disimpan kembali, untuk dibungkus lagi dan mengedarkannya sebatas ruang pandang).
(Pada sebuah halaman, tanaman hias yang diperbincangkan adalah mengupas judul keindahan, padahal nilai pandangnya hanyalah barisan dengan catatan : hanya itu saja auramu. Dan bincang angan yang terungkap adalah melepas kerinduan pada sebuah nama).
****
Semakin Jelas
Semakin jelas dan menampakkan kehampaan cara dan sikap. Dan dia telah menjadi catatan pinggir, pinggir comberan yang menghitam, kehilangan hakekat dan makna. Cara pandangnya hanyalah pusaran yang tak mampu mengoyak dedaunan, kecuali membuat deru. Cara pandangnya adalah memonopoli argumen tetapi dia tak pernah mampu memblokir kesiapan uji tanding. Dia tak mampu menjembatani logika kebersamaan dengan dukungan kesetaraan. Dia hanya mampu mendribel dan merasa menjadi pemain dominan. Adalah dia yang selalu mampu menghidupkan teori konspirasi bermental kekanak-kanakan dan menyiraminya dengan cairan berlabel : bahan tanpa etika.
Dengan sekutunya dia hanya mampu berceloteh karena perjumpaan di lingkaran, telah memberikan angka minus untuk seluruh keranjang yang disemayamkan di sisi diri. Dia hanya bisa bermain di episentrumnya dan tak mampu menggetarkan lingkungannya dengan getaran skala richter sekalipun, karena dia adalah pusat organ yang tak mampu menyelesaikan renang lintas pertarungan. Dia telah tercerabut dari akar dirinya sendiri. Dia telah menghunjamkan sebongkah noktah yang menjadikan dia seperti pelari yang tak mewakili siapapun. Tidak jua dengan dirinya. Semakin jelas sudah.
****
Monday, November 19, 2007
Sepanjang Koridor
Pantai Selatan
Ya, sebuah ruang pandang siang terik yang memberikan kesan kedigdayaan dalam sepi, keteguhan dalam sunyi dan ketegaran dalam rutinitas. Betapa, deburan dan buih bergulung menjadi rutinitas tanpa ada yang membayar apalagi memerintahkan. Betapa kedigdayaan menjadi daya dorong untuk mengungguli rentang kendali pikir dan tanpa harus merasa lelah. Maka sinar pandang ketika berhenti sesaat untuk menyaksikan adalah memadukan analogi yang bermain di ruang diri untuk menggariskan sekali lagi tentang rutinitas dan merapikan peran.
Peran gelombang yang selalu setia menghampiri
Peran gelombang yang selalu setia menyapa
Peran gelombang yang selalu bercerita
Peran gelombang yang selalu menyatakan
Bahwa aku adalah kisah perjalanan itu
Bahwa aku adalah testimoni itu
Bahwa aku adalah kesetiaan itu
Bahwa aku adalah perjalanan itu
Bahwa aku adalah kesunyian itu
Bahwa aku adalah keteguhan itu
Bahwa aku adalah perjumpaan itu
Bahwa aku adalah glagah itu
(Ahad siang terik menyapu sekujur diri)
*****
Ketika Datang
Kehadiran bukanlah sekedar menghadirkan namun boleh jadi sebuah persetujuan ketika undangan menyatakan pergelaran yang dirancang apik. Maka bergegaslah menyongsong pagi Ahad dengan berbenah, merapikan jua sebagaimana biasa dan berangkatlah menuju ke ruang kehadiran yang dituju. Maka sambutan pun penuh senyum ketika warna perjalanan mencapai titik temu, dan sekali lagi kehadiran bukanlah sekedar menghadirkan namun lebih dari itu.
Kehadiran adalah jawaban tentang kebersamaan membagi, kehadiran adalah menyatakan silaturahmi pada senyum, kehadiran adalah menegaskan argumen tentang kedekatan. Dan itulah yang tercatat dalam buku hati dan menjadi kesempurnaan ketika hari menjadi catatan yang menegaskan tentang perayaan untuk sebuah mahligai. Dan ucapan yang mengalir adalah menjelaskan seluruh isi senyum yang telah dikumandangkan. Dan ungkapan yang melantun adalah menceritakan seluruh nilai perjalanan tiga jam menuju titik tujuan. Kesimpulannya adalah membagi warna baju untuk menyatakan kebahagiaan dalam kebersamaan dan menyanyikan rangkuman perjalanan dengan syair keindahan memandang aura.
*****
Menjaja Niat
Kebersamaan menjajakan niat
Memastikan catatan untuk hakekat
Dan meragikannya pada sejumlah filsafat
Untuk kesaksian perisai lidah bersilat
Yang terjadi adalah keikutsertaan pada diam
Yang terjadi adalah pilihan pada ruang memendam
Dan dia tak mampu bercerita gurindam
Dan dia tak mampu bersilat dendam
Dan dia tak mampu mengembalikan denda dam
Dan dia tak lagi menjajakan ego terpendam
Ongkos tentang argumen adalah merekatkan kendali
Ongkos tentang argumen adalah memastikan nilai
Ongkos tentang argumen adalah perjuangan diri
Ongkos tentang argumen adalah catatan buku nadi
Dia adalah ego yang terbengkalai
Dia adalah jatidiri yang tergadai
Dia adalah ketidakmampuan menggali
Dia adalah cerita yang tak pernah selesai
****
Tergantung
Ketidakmampuan dalam menganyam, ketidakmampuan dalam merajut adalah benang yang semakin menampakkan warna bahwa dia adalah ketidakmampuan itu. Ketidakmampuan untuk memberikan solusi dan layout memberikan keyakinan bahwa jalan cerita menjadi baku pada definisi ini : tergantung siapa yang banyak omong, banyak kamuflase dan banyak kalimat.
Jadi lucu kalau dilihat dalam konteks rutinitas, tak ada pola, cenderung abstrak dan moderat padahal diperlukan gebrakan percepatan dan keberanian. Ya itu keberanian untuk menyatakan tidak walaupun tidak populer tetapi karena menyangkut keputusan sah-sah saja untuk mengggiring gembala pada makanan rumput yang pas di lapangan.
Ini yang tidak ada, maka jadi seperti gerilya tanpa komando, masing-masing bermain dengan peran seadanya, yang pakai fasilitas deodoran semakin wangi saja tanpa merasa malu untuk memamerkannya. Lantas dimana kendali internalnya, jawabannya ada di pasir pantai, ditulis kemudian terhapus, ditulis lagi terhapus lagi dan begitu seterusnya karena tidak ada tiang pancang yang mampu mengobarkan semangat untuk berbenah dan berlari. Yang ada adalah mengisi matahari dengan lukisan tanpa gambar.
*****
Tidaklah Penting
Tidaklah penting apakah ini celah atau titik cahaya, tapi setidaknya adalah sudut yang diupayakan sebagai titik awal perubahan. Dan jendela yang kubuka dengan dua kunci celah itu moga-moga dapat menjadi titik pemberangkatan yang akan membawa pada kesempatan untuk memperbaharui, mengidentifikasi ukur diri dan valuenya.
Masih banyak anak tangga yang harus dilewati untuk bisa sampai pada ruang tunggu menyamakan argumen. Dan sebuah harapan tentu harus selalu dikumandangkan sembari tetap mempersiapkan diri untuk maju dan membawa diri pada tataran yang beda dengan rutinitas. Cerita tidaklah harus selalu di langkah yang sama, berjalan bersama, menyelesaikan bersama seperti sebuah layout.
Bukankah masih banyak unjuk performansi yang bisa disejajarkan dengan aktualisasi. Tidak harus disini, di beberapa titik masih ada cahaya binar yang mampu membawa penjelasan tanpa harus menukar kelambu. Masih ada ruang yang membawa argumen pada kesiapan menghadapi segala cuaca, mendung sekalipun. Masih banyak kehangatan yang mampu mengasah diri, masih banyak perjumpaan yang mampu membenahi kacamata plus, masih banyak senyum yang tak harus dipagari jarak. Masih banyak dan tidak disini.
*****
Bahwa Aku
Duhai kekasih
Apakah matahari ingin selalu sejajar denganku
Apakah pohon kaktus tidak mampu mencubitku
Apakah kebersamaan adalah langkah genggam hayatku
Duhai bunga
Isian baki adalah menuangkan hasrat pada sebutir nilai
Isian hati adalah menjelaskan ruang pada cahaya nada
Isian hari adalah menafsirkan rembulan di puncak kelud
Duhai kekasih
Duhai bunga
Ceritakan pada seisi taman
Ceritakan pada seisi kebun
Ceritakan pada seisi ruang
Bahwa aku adalah matahari jam sepuluh
Bahwa aku adalah rembulan menjelang purnama
Bahwa aku adalah detak dengan detik melangkah
Bahwa aku adalah cerita yang belum selesai
*****
Karena Aku
Sepanjang jalan itu dan sesudahnya, beberapa saat dan beberapa hari kemudian, penjelajahan dari sekian link yang belum diolesi adalah kembali memastikan bahwa bawaan yang dikemas adalah bagian dari serpihan yang disatukan dengan ikatan, di gelang lembah yang menyamakan nilai. Bahwa mereka adalah kemuliaan dan kejayaan itu dan jelajah napaktilas memberikan bukti akan keemasan yang digenggam dua generasi sebelumku.
Betapa sepenting itu tak jua menyatakan sisa, dan cerita yang dijelaskan adalah menelusuri ruang dokumentasi yang mampu menjadi persaksian gerusan jaman. Adalah itu yang ingin ditegaskan termasuk ketika menatap wajah kekuatan semangat, wajah kedekatan derma dan wajah kearifan peran. Mereka memiliki segalanya termasuk sikap dan harkat, tentang kejayaan, tentang kedermaan, tentang keterkenalan, tentang kekayaan dan situs yang dijelajahi sepanjang hari itu adalah mereka ulang rekam jejak yang ditinggalkan.
Dan aku perlu mendapatkannya
Dan aku perlu memastikannya
Dan aku perlu menghargainya
Dan aku perlu menggenggamnya
Karena aku adalah garis lurus itu
Karena aku adalah pewaris itu
Karena aku adalah penerus lanjutan
Karena aku adalah persepsi itu
(Catatan sisa perjalanan)
*****
Ya, sebuah ruang pandang siang terik yang memberikan kesan kedigdayaan dalam sepi, keteguhan dalam sunyi dan ketegaran dalam rutinitas. Betapa, deburan dan buih bergulung menjadi rutinitas tanpa ada yang membayar apalagi memerintahkan. Betapa kedigdayaan menjadi daya dorong untuk mengungguli rentang kendali pikir dan tanpa harus merasa lelah. Maka sinar pandang ketika berhenti sesaat untuk menyaksikan adalah memadukan analogi yang bermain di ruang diri untuk menggariskan sekali lagi tentang rutinitas dan merapikan peran.
Peran gelombang yang selalu setia menghampiri
Peran gelombang yang selalu setia menyapa
Peran gelombang yang selalu bercerita
Peran gelombang yang selalu menyatakan
Bahwa aku adalah kisah perjalanan itu
Bahwa aku adalah testimoni itu
Bahwa aku adalah kesetiaan itu
Bahwa aku adalah perjalanan itu
Bahwa aku adalah kesunyian itu
Bahwa aku adalah keteguhan itu
Bahwa aku adalah perjumpaan itu
Bahwa aku adalah glagah itu
(Ahad siang terik menyapu sekujur diri)
*****
Ketika Datang
Kehadiran bukanlah sekedar menghadirkan namun boleh jadi sebuah persetujuan ketika undangan menyatakan pergelaran yang dirancang apik. Maka bergegaslah menyongsong pagi Ahad dengan berbenah, merapikan jua sebagaimana biasa dan berangkatlah menuju ke ruang kehadiran yang dituju. Maka sambutan pun penuh senyum ketika warna perjalanan mencapai titik temu, dan sekali lagi kehadiran bukanlah sekedar menghadirkan namun lebih dari itu.
Kehadiran adalah jawaban tentang kebersamaan membagi, kehadiran adalah menyatakan silaturahmi pada senyum, kehadiran adalah menegaskan argumen tentang kedekatan. Dan itulah yang tercatat dalam buku hati dan menjadi kesempurnaan ketika hari menjadi catatan yang menegaskan tentang perayaan untuk sebuah mahligai. Dan ucapan yang mengalir adalah menjelaskan seluruh isi senyum yang telah dikumandangkan. Dan ungkapan yang melantun adalah menceritakan seluruh nilai perjalanan tiga jam menuju titik tujuan. Kesimpulannya adalah membagi warna baju untuk menyatakan kebahagiaan dalam kebersamaan dan menyanyikan rangkuman perjalanan dengan syair keindahan memandang aura.
*****
Menjaja Niat
Kebersamaan menjajakan niat
Memastikan catatan untuk hakekat
Dan meragikannya pada sejumlah filsafat
Untuk kesaksian perisai lidah bersilat
Yang terjadi adalah keikutsertaan pada diam
Yang terjadi adalah pilihan pada ruang memendam
Dan dia tak mampu bercerita gurindam
Dan dia tak mampu bersilat dendam
Dan dia tak mampu mengembalikan denda dam
Dan dia tak lagi menjajakan ego terpendam
Ongkos tentang argumen adalah merekatkan kendali
Ongkos tentang argumen adalah memastikan nilai
Ongkos tentang argumen adalah perjuangan diri
Ongkos tentang argumen adalah catatan buku nadi
Dia adalah ego yang terbengkalai
Dia adalah jatidiri yang tergadai
Dia adalah ketidakmampuan menggali
Dia adalah cerita yang tak pernah selesai
****
Tergantung
Ketidakmampuan dalam menganyam, ketidakmampuan dalam merajut adalah benang yang semakin menampakkan warna bahwa dia adalah ketidakmampuan itu. Ketidakmampuan untuk memberikan solusi dan layout memberikan keyakinan bahwa jalan cerita menjadi baku pada definisi ini : tergantung siapa yang banyak omong, banyak kamuflase dan banyak kalimat.
Jadi lucu kalau dilihat dalam konteks rutinitas, tak ada pola, cenderung abstrak dan moderat padahal diperlukan gebrakan percepatan dan keberanian. Ya itu keberanian untuk menyatakan tidak walaupun tidak populer tetapi karena menyangkut keputusan sah-sah saja untuk mengggiring gembala pada makanan rumput yang pas di lapangan.
Ini yang tidak ada, maka jadi seperti gerilya tanpa komando, masing-masing bermain dengan peran seadanya, yang pakai fasilitas deodoran semakin wangi saja tanpa merasa malu untuk memamerkannya. Lantas dimana kendali internalnya, jawabannya ada di pasir pantai, ditulis kemudian terhapus, ditulis lagi terhapus lagi dan begitu seterusnya karena tidak ada tiang pancang yang mampu mengobarkan semangat untuk berbenah dan berlari. Yang ada adalah mengisi matahari dengan lukisan tanpa gambar.
*****
Tidaklah Penting
Tidaklah penting apakah ini celah atau titik cahaya, tapi setidaknya adalah sudut yang diupayakan sebagai titik awal perubahan. Dan jendela yang kubuka dengan dua kunci celah itu moga-moga dapat menjadi titik pemberangkatan yang akan membawa pada kesempatan untuk memperbaharui, mengidentifikasi ukur diri dan valuenya.
Masih banyak anak tangga yang harus dilewati untuk bisa sampai pada ruang tunggu menyamakan argumen. Dan sebuah harapan tentu harus selalu dikumandangkan sembari tetap mempersiapkan diri untuk maju dan membawa diri pada tataran yang beda dengan rutinitas. Cerita tidaklah harus selalu di langkah yang sama, berjalan bersama, menyelesaikan bersama seperti sebuah layout.
Bukankah masih banyak unjuk performansi yang bisa disejajarkan dengan aktualisasi. Tidak harus disini, di beberapa titik masih ada cahaya binar yang mampu membawa penjelasan tanpa harus menukar kelambu. Masih ada ruang yang membawa argumen pada kesiapan menghadapi segala cuaca, mendung sekalipun. Masih banyak kehangatan yang mampu mengasah diri, masih banyak perjumpaan yang mampu membenahi kacamata plus, masih banyak senyum yang tak harus dipagari jarak. Masih banyak dan tidak disini.
*****
Bahwa Aku
Duhai kekasih
Apakah matahari ingin selalu sejajar denganku
Apakah pohon kaktus tidak mampu mencubitku
Apakah kebersamaan adalah langkah genggam hayatku
Duhai bunga
Isian baki adalah menuangkan hasrat pada sebutir nilai
Isian hati adalah menjelaskan ruang pada cahaya nada
Isian hari adalah menafsirkan rembulan di puncak kelud
Duhai kekasih
Duhai bunga
Ceritakan pada seisi taman
Ceritakan pada seisi kebun
Ceritakan pada seisi ruang
Bahwa aku adalah matahari jam sepuluh
Bahwa aku adalah rembulan menjelang purnama
Bahwa aku adalah detak dengan detik melangkah
Bahwa aku adalah cerita yang belum selesai
*****
Karena Aku
Sepanjang jalan itu dan sesudahnya, beberapa saat dan beberapa hari kemudian, penjelajahan dari sekian link yang belum diolesi adalah kembali memastikan bahwa bawaan yang dikemas adalah bagian dari serpihan yang disatukan dengan ikatan, di gelang lembah yang menyamakan nilai. Bahwa mereka adalah kemuliaan dan kejayaan itu dan jelajah napaktilas memberikan bukti akan keemasan yang digenggam dua generasi sebelumku.
Betapa sepenting itu tak jua menyatakan sisa, dan cerita yang dijelaskan adalah menelusuri ruang dokumentasi yang mampu menjadi persaksian gerusan jaman. Adalah itu yang ingin ditegaskan termasuk ketika menatap wajah kekuatan semangat, wajah kedekatan derma dan wajah kearifan peran. Mereka memiliki segalanya termasuk sikap dan harkat, tentang kejayaan, tentang kedermaan, tentang keterkenalan, tentang kekayaan dan situs yang dijelajahi sepanjang hari itu adalah mereka ulang rekam jejak yang ditinggalkan.
Dan aku perlu mendapatkannya
Dan aku perlu memastikannya
Dan aku perlu menghargainya
Dan aku perlu menggenggamnya
Karena aku adalah garis lurus itu
Karena aku adalah pewaris itu
Karena aku adalah penerus lanjutan
Karena aku adalah persepsi itu
(Catatan sisa perjalanan)
*****
Tuesday, November 13, 2007
Catatan Ruang
Cum Laude
Sebuah rantai prosesi, semua mempersiapkan dengan segala unjuk penampilan yang ada, untuk menyemarakkan, untuk menyetarakan, untuk menseremonikan, untuk menyaksikan dan menyambut pesan dengan sebutan: telah selesai, telah purna. Dan mata rantai waktu yang diperlukan untuk itu meraup tiga setengah jam pada sebuah Senin episode kedua, undangan biru, sebuah cerita seremoni yang menyenangkan, membanggakan sekaligus melelahkan.
Namun testimoni yang menjadi ukuran nilainya adalah keikutsertaan seluruh orang rumah menyaksikan dan menyambut titik purna yang sudah diakhiri dengan dukungan yang diberikan selama ini. Dan ucapan selamat, jabat tangan erat adalah souvenir yang menghiasi bagian inti ruang hati, ruang mata dan ruang binar yang berbunga, bahwa pada akhirnya usailah sebuah tahapan, selesailah sudah sebuah paket modul yang dikemas mengisi waktu akhir pekan selama satu setengah tahun berselang.
Dan bagian yang menjadi perlambang adalah kiasan pada sebait kata untuk disaksikan dan semoga menjadi daya pikat untuk kedua buah hati yang ikut serta bahwa nilai yang dikedepankan adalah melantunkan sebutan cum laude untuk persepsi dan perspektif pada kekuatan semangat untuk menggapainya. Bukankah itu adalah definisi yang akan memacu sekaligus bercermin pada hakekat mencapai dan menggapai, sesuatu yang mampu diraih dengan kekuatan semangat diri dan keyakinan full orientasi. Bukankah begitu ananda ?
*****
Genggam Kalimat
Kebersamaan untuk menyongsong akhir cerita, kebersamaan untuk menuju ruang masing-masing seperti sediakala ketika kita dipertemukan oleh alur akademik yang menyapa kebersamaan. Dan kebersamaan itu Ahad malam ini diseremonikan sebagai bagian dari ritual dan prosesi yang telah menjadi adat istiadat dan tradisi. Dan malam ini diperdengarkan kembali sepatah dua kata, kesan pesan, rangkaian ucap dan genggaman kalimat sebagai titik akhir jalan cerita. Tentu dengan sejumlah nilai yang dibungkus dan dirapikan melalui secarik kertas tebal formal yang sudah disepakati bahwa satu akhir cerita harus diselesaikan dengan catatan sebutan dalam secarik kertas itu, cum laude.
Dan aku menerimanya dengan sukacita, dan aku menjalaninya dengan ruang nada yang hangat, dan aku menjabatnya dengan senyum rasa anugerah sembari meyakinkan diri bahwa ini adalah sebuah catatan yang diseremonikan dan tentu pula membaginya dengan senyum di sulung yang begitu apresiatif atau si ragil yang senang mendokumentasikannya, atau my wife yang begitu tekun menyaksikannya. Ya ini adalah bagian dari penyelesaian itu, dan ruang yang megah dengan tata acara yang teratur dan penuh keakraban adalah sisi yang menjelaskan cerita sepanjang ruang, sepanjang rasa, sepanjang alur untuk dijelaskan dengan binar mata dan binar hati.
Terimakasih pada jalan cerita
Terimakasih pada sebuah seremoni penutup
Terimakasih pada ruang spirit yang menghangatkan
Terimakasih pada my wife (khumairoh, si merah delima), si sulung dan si ragil yang selalu membanggakan
Terimakasih pada rangkaian yang telah dipergelarkan
Terimakasih for all
*****
Selimut Aqidah
Memahami lantunan kalimat yang disiarkan oleh seorang ustad berkaliber rasanya mampu mengosongkan ruang cerita yang lain, kegiatan yang lain, dan kunikmati rangkaian bahasa dakwah yang ringan, sesekali menggigit dan gaya khas yogya yang dimilikinya. Ustad Wij yang selalu tampil apa adanya, to the point dan banyak mengasah ruang hati yang kadang butek dan memandang pada versi persepsi subyektifitas yang lebih sering kelirunya. Maka ruang lantai satu yang juga berfungsi sebagai masjid itu menjadi ramai rasanya, semarak aromanya dan mampu mengajak audiens untuk betah berlama-lama, tak terasa hampir 2 jam hanya untuk sesi itu.
Alhamdulillah, ada nilai tebalnya, ada nilai halamannya, ada nilai silaturrahminya, ada nilai bait kalimatnya, setidaknya mengajak komponen diri untuk menyapu sekujur diri menyatakan koridor yang menjadi jalan ihdinas sirotol mustaqimnya. Bahwa pembinaan itu perlu, seperti suasana ini, mengingatkan, mempertebal dan meyaksikannya sebagai sebuah genggaman diri. Dan pelukan aqidah untuk diselimuti terus, untuk dipakaikan terus, untuk dinyatakan terus, sampai menjadi bagian dari bungkusan bekal yang membawa hakekat diri.
*****
Nyanyian Kebersamaan
Incognito yang diperdengarkan adalah mencuci pandang rasa dan pandang ruang untuk disematkan pada kisah yang diresumekan malam ini, Jumat malam yang berlapis hujan. Banyak hal yang tercakup ketika obrolan informal, mendekatkan jarak yang mengisi cerita selama ini. Ya di ruang yang dipersiapkan untuk dinner kebersamaan ini bercerita tentang coverage selama bersentuhan modul adalah menggelar kembali bagian-bagian yang mesti dan layak untuk disampaikan ulang, setidaknya sebagai bagian dari kedekatan antara pengajar dan yang diajar untuk nilai silaturrahmi yang dikemas rancak.
Bahwa ada souvenir tentulah itu bagian dari kesepakatan untuk sebuah tanda mata dan sebagai ikatan kedekatan yang telah dibangun selama ini. Maka nyanyian kebersamaan adalah penyejuk yang mampu mengedepankan kedekatan tanpa jarak. Maka sambutan yang diperdengarkan adalah souvenir yang berbungkus kisah untuk disambung terus. Dan itu semua memberikan cakupan bingkai bahwa selesai dalam suatu hal bukanlah sketsa perpisahan yang dicantumkan melainkan sekedar melakukan closing pada sebuah program.
Malam lepas dan basah adalah sambutan yang digelar agar kita tidak menjadi kering dalam persahabatan dan pergantian peran. Semua yang dilakukan adalah menyepakati peran dan lakon, untuk kemudian dijadikan perekat interaksi antar personal. Lapisannya adalah membagi kebersamaan dan memperluas cakrawala nilai diri.
*****
Sebuah rantai prosesi, semua mempersiapkan dengan segala unjuk penampilan yang ada, untuk menyemarakkan, untuk menyetarakan, untuk menseremonikan, untuk menyaksikan dan menyambut pesan dengan sebutan: telah selesai, telah purna. Dan mata rantai waktu yang diperlukan untuk itu meraup tiga setengah jam pada sebuah Senin episode kedua, undangan biru, sebuah cerita seremoni yang menyenangkan, membanggakan sekaligus melelahkan.
Namun testimoni yang menjadi ukuran nilainya adalah keikutsertaan seluruh orang rumah menyaksikan dan menyambut titik purna yang sudah diakhiri dengan dukungan yang diberikan selama ini. Dan ucapan selamat, jabat tangan erat adalah souvenir yang menghiasi bagian inti ruang hati, ruang mata dan ruang binar yang berbunga, bahwa pada akhirnya usailah sebuah tahapan, selesailah sudah sebuah paket modul yang dikemas mengisi waktu akhir pekan selama satu setengah tahun berselang.
Dan bagian yang menjadi perlambang adalah kiasan pada sebait kata untuk disaksikan dan semoga menjadi daya pikat untuk kedua buah hati yang ikut serta bahwa nilai yang dikedepankan adalah melantunkan sebutan cum laude untuk persepsi dan perspektif pada kekuatan semangat untuk menggapainya. Bukankah itu adalah definisi yang akan memacu sekaligus bercermin pada hakekat mencapai dan menggapai, sesuatu yang mampu diraih dengan kekuatan semangat diri dan keyakinan full orientasi. Bukankah begitu ananda ?
*****
Genggam Kalimat
Kebersamaan untuk menyongsong akhir cerita, kebersamaan untuk menuju ruang masing-masing seperti sediakala ketika kita dipertemukan oleh alur akademik yang menyapa kebersamaan. Dan kebersamaan itu Ahad malam ini diseremonikan sebagai bagian dari ritual dan prosesi yang telah menjadi adat istiadat dan tradisi. Dan malam ini diperdengarkan kembali sepatah dua kata, kesan pesan, rangkaian ucap dan genggaman kalimat sebagai titik akhir jalan cerita. Tentu dengan sejumlah nilai yang dibungkus dan dirapikan melalui secarik kertas tebal formal yang sudah disepakati bahwa satu akhir cerita harus diselesaikan dengan catatan sebutan dalam secarik kertas itu, cum laude.
Dan aku menerimanya dengan sukacita, dan aku menjalaninya dengan ruang nada yang hangat, dan aku menjabatnya dengan senyum rasa anugerah sembari meyakinkan diri bahwa ini adalah sebuah catatan yang diseremonikan dan tentu pula membaginya dengan senyum di sulung yang begitu apresiatif atau si ragil yang senang mendokumentasikannya, atau my wife yang begitu tekun menyaksikannya. Ya ini adalah bagian dari penyelesaian itu, dan ruang yang megah dengan tata acara yang teratur dan penuh keakraban adalah sisi yang menjelaskan cerita sepanjang ruang, sepanjang rasa, sepanjang alur untuk dijelaskan dengan binar mata dan binar hati.
Terimakasih pada jalan cerita
Terimakasih pada sebuah seremoni penutup
Terimakasih pada ruang spirit yang menghangatkan
Terimakasih pada my wife (khumairoh, si merah delima), si sulung dan si ragil yang selalu membanggakan
Terimakasih pada rangkaian yang telah dipergelarkan
Terimakasih for all
*****
Selimut Aqidah
Memahami lantunan kalimat yang disiarkan oleh seorang ustad berkaliber rasanya mampu mengosongkan ruang cerita yang lain, kegiatan yang lain, dan kunikmati rangkaian bahasa dakwah yang ringan, sesekali menggigit dan gaya khas yogya yang dimilikinya. Ustad Wij yang selalu tampil apa adanya, to the point dan banyak mengasah ruang hati yang kadang butek dan memandang pada versi persepsi subyektifitas yang lebih sering kelirunya. Maka ruang lantai satu yang juga berfungsi sebagai masjid itu menjadi ramai rasanya, semarak aromanya dan mampu mengajak audiens untuk betah berlama-lama, tak terasa hampir 2 jam hanya untuk sesi itu.
Alhamdulillah, ada nilai tebalnya, ada nilai halamannya, ada nilai silaturrahminya, ada nilai bait kalimatnya, setidaknya mengajak komponen diri untuk menyapu sekujur diri menyatakan koridor yang menjadi jalan ihdinas sirotol mustaqimnya. Bahwa pembinaan itu perlu, seperti suasana ini, mengingatkan, mempertebal dan meyaksikannya sebagai sebuah genggaman diri. Dan pelukan aqidah untuk diselimuti terus, untuk dipakaikan terus, untuk dinyatakan terus, sampai menjadi bagian dari bungkusan bekal yang membawa hakekat diri.
*****
Nyanyian Kebersamaan
Incognito yang diperdengarkan adalah mencuci pandang rasa dan pandang ruang untuk disematkan pada kisah yang diresumekan malam ini, Jumat malam yang berlapis hujan. Banyak hal yang tercakup ketika obrolan informal, mendekatkan jarak yang mengisi cerita selama ini. Ya di ruang yang dipersiapkan untuk dinner kebersamaan ini bercerita tentang coverage selama bersentuhan modul adalah menggelar kembali bagian-bagian yang mesti dan layak untuk disampaikan ulang, setidaknya sebagai bagian dari kedekatan antara pengajar dan yang diajar untuk nilai silaturrahmi yang dikemas rancak.
Bahwa ada souvenir tentulah itu bagian dari kesepakatan untuk sebuah tanda mata dan sebagai ikatan kedekatan yang telah dibangun selama ini. Maka nyanyian kebersamaan adalah penyejuk yang mampu mengedepankan kedekatan tanpa jarak. Maka sambutan yang diperdengarkan adalah souvenir yang berbungkus kisah untuk disambung terus. Dan itu semua memberikan cakupan bingkai bahwa selesai dalam suatu hal bukanlah sketsa perpisahan yang dicantumkan melainkan sekedar melakukan closing pada sebuah program.
Malam lepas dan basah adalah sambutan yang digelar agar kita tidak menjadi kering dalam persahabatan dan pergantian peran. Semua yang dilakukan adalah menyepakati peran dan lakon, untuk kemudian dijadikan perekat interaksi antar personal. Lapisannya adalah membagi kebersamaan dan memperluas cakrawala nilai diri.
*****
Wednesday, November 07, 2007
Titik Persimpangan Ini
Jalan tidaklah tanpa simpang terus menerus, ada walau sesaat sebuah simpang, apakah simpang tiga atau simpang empat memberikan sinyal sudah sejauh mana rangkaian cerita diri yang diperoleh. Dan satu simpang sudah kulalui dengan ketekunan dan keyakinan bahwa aku dapat mencapainya, maka sebuah tiang menyapaku di sudut itu sembari membentang spanduk : what next for you.
Tentu saja aku tetap meneruskan langkah, dan sebuah simpang tadi adalah bukti pencapaian yang kudapat setelah satu setengah tahun menjalaninya, menggelutinya dan menitinya dengan semangat potensi diri yang kupunya. Dan awal minggu depan purnalah melalui sebuah seremoni yang tentu saja menjadi tradisi untuk dilalui. Setidaknya ada tiga langkah "perpisahan" yang akan kulewati, akhir pekan ini menghiasnya dengan dinner together, dan awal minggu depan formalitas yang menjadi penanda akhir persimpangan itu akan kujalani jua.
Dan jalanku tetap kutempuh untuk mencapai persimpangan lain yang memberikan sinar pencerahan dan pengayaan autentik bagi nilai manfaat dan referensi. Selayaknya untuk persimpangan yang satu ini ada selebrasi dan seremoni yang dipergelarkan. Selayaknyalah.
*****
Tuesday, November 06, 2007
Rindu yang dituntaskan
Rindu yang dikupaskan
Rindu yang dipuaskan
Rindu yang dituntaskan
Rindu yang dihabiskan
Rindu yang dipuaskan
Rindu yang dituntaskan
Rindu yang dihabiskan
Adalah cerita yang mampu menjulangkan angan dan sekaligus menuangkannya pada sejumlah kata, kalimat dan paragraf. Ketika menjumpaimu pada sebuah hari, yang berkelok, yang menikung, yang menanjak, yang memanggil, yang menyapa. Dan jabat erat tanganmu adalah sambutan pada dinginnya larut malam dan pelukanmu adalah cerita berbait yang kukunyah, kuresapi dan kuhayati selayaknya mematut-matut diri pada kaca tanpa berkata. Dan engkau adalah catatan yang memberikan nilai kepuasan manakala seharian menelusuri lekuk dirimu, pinggang lereng gunung yang mengitarimu.
Dirimu adalah ceritaku, yang ingin kucerminkan sampai di mana keyakinanku pada apa yang disebut silsilah untuk menyimak, silsilah untuk mengadopsi dan menularkannya pada lanjutan langkah yang kudapatkan sampai sejauh ini. Dirimu adalah bagian dari perjumpaan yang tak sering. Itu sebabnya perjalanan ini adalah membenam rasa rindu yang menggelembung dan memastikan sebuah sapaan pada lambaian yang selalu seperti itu sejak dulu. Ya sejak dulu dan selalu begitu.
****
Saturday, November 03, 2007
Catatan Perjalanan
Tirta Hati
Gunung kebanggaan itu kutatap lama sekali sembari ingin segera memeluknya didinginnya pagi. Sesekali kuambil dan kurekam jejak tingkahnya dan orang-orang disekitarnya yang masih tetap saja seperti dahulu, tradisionil dan menjaga eksitensi istiadat yang kurindu itu. Hari ini kunikmati pandang hati itu dengan tirta hati dan sembari duduk di teras sebuah toko, kusimak tingkah polah itu dan memberikan apresiasi pada keseharian yang menjadi catatan kesibukan itu.
Kota kecil ini adalah pusat sebuah marga, pusat pertemuan dua religi besar, pusat pertemuan kehangatan adat dan agama yang harmoni. Dan semuanya sudah berlangsung turun temurun, berlangsung apa adanya dan begitulah adanya. Penjagaan terhadap tradisi yang menjadi catatan tanpa koma itu adalah kesaksian yang memberikan nilai kekerabatan yang begitu akbar senilai dengan kebesaran gunung yang mengawalnya dibelakang kota. Sebuah testimoni yang ingin kujadikan sebagai pelangkap paragraf cerita diri.
****
Bingkai itu
Bukankah mereka adalah bingkai kebanggaan itu
Sembari mendoakan kelapangan perjalanan panjangnya
Bahwa itulah silsilah yang menerbitkan kekaguman
Bawa itulah tarombo yang menyenandungkan kebanggaan
Ya, sampai disini aku harus mengangguk
Ya, sampai disini aku harus mengamini
Ya, sampai disini aku harus mengakui
Bahwa mereka adalah catatan yang bernilai emas
Bahwa mereka adalah catatan yang bernilai intan
Maka kunjungan yang kuhampiri adalah membaca temanya
Maka kunjungan yang kusentuh adalah mencatat lukisannya
Maka kunjungan yang kusapa adalah menyatakan garis tebalnya
Dan membawanya pada catatan hati :
Aku telah datang membawa sekuntum hati
****
Tujuan itu
Telusur ulang untuk menceritakan
Dan mengambilnya sebagai penyeimbang catatan
Dan menyentuhnya sebagai penyangga identitas
Dan menyapanya sebagai pesinden matahati
Seperti biasa
Engkau adalah subyektivitas yang tak pernah berubah
Engkau adalah naluri yang melirik jalan-jalan pagiku
Engkau adalah cerita yang tak mampu diselesaikan sehari
Engkau adalah saksi yang menjelaskan hitam putihnya gambar
Seperti pagi ini
Jalan-jalan yang menuju pancuran air tidak pernah berubah
Jalan-jalan yang menuju titik akhir sama saja jalinannya
Jalan-jalan seputar halaman adalah irama yang tak berganti
Jalan-jalan menuju cerita tidak ada yang berkelir lain
****
Lintas, Lantas
Membuka hari dengan catatan penuh bahwa seharian ada di lintasan menuju sebuah perjumpaan identitas historis. Bahwa kemudian seharian jua ada di catatan yang membukukan ruang kelapangan agregat, adalah itu yang memberikan suntikan mengapa aku harus ada di sebuah arung yang bernama lintasan menepikan semua agenda. Karena kumpulan cerita yang hendak dimuntahkan adalah bagian dari aneka telusur untuk meyakinkan sebuah alinea yang menyatakan bahwa hati adalah bagian ari gregat yang hendak dijelajah ulang.
Lantas cerita semalam suntuk adalah penabuh yang memang hendak kudengarkan, sembari menahan penat setelah seharian memegang kemudi melintas batas dua provinsi yang menyapu ruang jalan. Kampung halaman adalah bungkusan yang meyambut dengan dinginnya malam menjelang puncak. Dan seruput secangkir kopi yang disuguhkan memberikan adrenalin tambahan untuk mendengar rajutan cerita yang disetarakan dengan mengambil makna untuk agenda yang menampilkan judul : Menjelajah Jahitan Diri.
Betapa kemudian kurasakan urang pandang yang menerawang melewati batas yang ada dalam bentang diri sejauh yang didapatkan. Bahwa ada yang menjadi kebanggaan ketika jahitan itu adalah manifestasi dari episentrum yang menyajikan halaman-halaman kekuatan nilai kekerabatan dan menyentuhknya dengan lagu cerita yang hidup di sisi telinga. Betapa aku merasakan bahwa kebanggaan adalah sebuah urutan yang mesti menjadi nomor utama dan dibingkaikan dengan sulaman yang menampilkan sosok diri untuk dikemaskan dalam kalimat tak bertanya : Oh jadi begitu jalan ceritanya ?.
Dan lintas tengah yang dijelajah dengan rute panjang Pbr-Bkn-Pspngr-Sbh, GnT, Spr sampai di sudut lembah yang ”begitu terus sepanjang penglihatan” adalah sajian yang memberikan nilai inspirasi baru bahwa jelajah adalah mengapai sebuah gengaman yang kembali dirajut, dijahit dengan benang simpul dan berupaya untuk membungkusnya dengan kalimat : Betapa kehormatan adalah seremoni yang terus dipergelarkan dan menjadi bukti kehormatan keluarga besar. Duhai betapa aku ingin menjadikannya sebuah buku cerita.
****
Ketika Harus Terlantar
Ketika harus terlantar di sebuah bandara nomor wahid di negeri ini, ketika harus menggapai informasi untuk mengapa dan mengapa, ketika sentuhan pelayanan dan kumuhnya sebuah airport ibukota menjadi titik singgung yang dikunyah. Maka apalagi yang bisa menjadikan nilai bangga pada definisi pelayanan selain etika kesemrawutan yang dikedepankan. Dan jarak pandang yang terakumulasi adalah betapa buruknya kalimat yang harus dibawa sebagai kesan ketika menyaksikan bunda harus bersila di lantai untuk menunggu lanjutan yang harus ditempuh sekali jalan. Bukankah keterlambatan ini karena jangkauan yang tidak mampu digenggam sepenuhnya manakala sebuah keberangkatan harus delay terlalu lama. Dan dampaknya tidak pernah dijelaskan selain meyampaikan permohonan maaf. Dan sesungguhnya pencitraan itu dibangun oleh mekanisme sistem yang mestinya dinyatakan sebagai penyangga utama untuk nilai pelayanan. Tetapi begitulah, sampai akhirnya harus berganti maskapai tetap saja ada rasa yang belum pas untuk dituntaskan. Bahwa kita memang masih amatiran.
****
Gunung kebanggaan itu kutatap lama sekali sembari ingin segera memeluknya didinginnya pagi. Sesekali kuambil dan kurekam jejak tingkahnya dan orang-orang disekitarnya yang masih tetap saja seperti dahulu, tradisionil dan menjaga eksitensi istiadat yang kurindu itu. Hari ini kunikmati pandang hati itu dengan tirta hati dan sembari duduk di teras sebuah toko, kusimak tingkah polah itu dan memberikan apresiasi pada keseharian yang menjadi catatan kesibukan itu.
Kota kecil ini adalah pusat sebuah marga, pusat pertemuan dua religi besar, pusat pertemuan kehangatan adat dan agama yang harmoni. Dan semuanya sudah berlangsung turun temurun, berlangsung apa adanya dan begitulah adanya. Penjagaan terhadap tradisi yang menjadi catatan tanpa koma itu adalah kesaksian yang memberikan nilai kekerabatan yang begitu akbar senilai dengan kebesaran gunung yang mengawalnya dibelakang kota. Sebuah testimoni yang ingin kujadikan sebagai pelangkap paragraf cerita diri.
****
Bingkai itu
Bukankah mereka adalah bingkai kebanggaan itu
Sembari mendoakan kelapangan perjalanan panjangnya
Bahwa itulah silsilah yang menerbitkan kekaguman
Bawa itulah tarombo yang menyenandungkan kebanggaan
Ya, sampai disini aku harus mengangguk
Ya, sampai disini aku harus mengamini
Ya, sampai disini aku harus mengakui
Bahwa mereka adalah catatan yang bernilai emas
Bahwa mereka adalah catatan yang bernilai intan
Maka kunjungan yang kuhampiri adalah membaca temanya
Maka kunjungan yang kusentuh adalah mencatat lukisannya
Maka kunjungan yang kusapa adalah menyatakan garis tebalnya
Dan membawanya pada catatan hati :
Aku telah datang membawa sekuntum hati
****
Tujuan itu
Telusur ulang untuk menceritakan
Dan mengambilnya sebagai penyeimbang catatan
Dan menyentuhnya sebagai penyangga identitas
Dan menyapanya sebagai pesinden matahati
Seperti biasa
Engkau adalah subyektivitas yang tak pernah berubah
Engkau adalah naluri yang melirik jalan-jalan pagiku
Engkau adalah cerita yang tak mampu diselesaikan sehari
Engkau adalah saksi yang menjelaskan hitam putihnya gambar
Seperti pagi ini
Jalan-jalan yang menuju pancuran air tidak pernah berubah
Jalan-jalan yang menuju titik akhir sama saja jalinannya
Jalan-jalan seputar halaman adalah irama yang tak berganti
Jalan-jalan menuju cerita tidak ada yang berkelir lain
****
Lintas, Lantas
Membuka hari dengan catatan penuh bahwa seharian ada di lintasan menuju sebuah perjumpaan identitas historis. Bahwa kemudian seharian jua ada di catatan yang membukukan ruang kelapangan agregat, adalah itu yang memberikan suntikan mengapa aku harus ada di sebuah arung yang bernama lintasan menepikan semua agenda. Karena kumpulan cerita yang hendak dimuntahkan adalah bagian dari aneka telusur untuk meyakinkan sebuah alinea yang menyatakan bahwa hati adalah bagian ari gregat yang hendak dijelajah ulang.
Lantas cerita semalam suntuk adalah penabuh yang memang hendak kudengarkan, sembari menahan penat setelah seharian memegang kemudi melintas batas dua provinsi yang menyapu ruang jalan. Kampung halaman adalah bungkusan yang meyambut dengan dinginnya malam menjelang puncak. Dan seruput secangkir kopi yang disuguhkan memberikan adrenalin tambahan untuk mendengar rajutan cerita yang disetarakan dengan mengambil makna untuk agenda yang menampilkan judul : Menjelajah Jahitan Diri.
Betapa kemudian kurasakan urang pandang yang menerawang melewati batas yang ada dalam bentang diri sejauh yang didapatkan. Bahwa ada yang menjadi kebanggaan ketika jahitan itu adalah manifestasi dari episentrum yang menyajikan halaman-halaman kekuatan nilai kekerabatan dan menyentuhknya dengan lagu cerita yang hidup di sisi telinga. Betapa aku merasakan bahwa kebanggaan adalah sebuah urutan yang mesti menjadi nomor utama dan dibingkaikan dengan sulaman yang menampilkan sosok diri untuk dikemaskan dalam kalimat tak bertanya : Oh jadi begitu jalan ceritanya ?.
Dan lintas tengah yang dijelajah dengan rute panjang Pbr-Bkn-Pspngr-Sbh, GnT, Spr sampai di sudut lembah yang ”begitu terus sepanjang penglihatan” adalah sajian yang memberikan nilai inspirasi baru bahwa jelajah adalah mengapai sebuah gengaman yang kembali dirajut, dijahit dengan benang simpul dan berupaya untuk membungkusnya dengan kalimat : Betapa kehormatan adalah seremoni yang terus dipergelarkan dan menjadi bukti kehormatan keluarga besar. Duhai betapa aku ingin menjadikannya sebuah buku cerita.
****
Ketika Harus Terlantar
Ketika harus terlantar di sebuah bandara nomor wahid di negeri ini, ketika harus menggapai informasi untuk mengapa dan mengapa, ketika sentuhan pelayanan dan kumuhnya sebuah airport ibukota menjadi titik singgung yang dikunyah. Maka apalagi yang bisa menjadikan nilai bangga pada definisi pelayanan selain etika kesemrawutan yang dikedepankan. Dan jarak pandang yang terakumulasi adalah betapa buruknya kalimat yang harus dibawa sebagai kesan ketika menyaksikan bunda harus bersila di lantai untuk menunggu lanjutan yang harus ditempuh sekali jalan. Bukankah keterlambatan ini karena jangkauan yang tidak mampu digenggam sepenuhnya manakala sebuah keberangkatan harus delay terlalu lama. Dan dampaknya tidak pernah dijelaskan selain meyampaikan permohonan maaf. Dan sesungguhnya pencitraan itu dibangun oleh mekanisme sistem yang mestinya dinyatakan sebagai penyangga utama untuk nilai pelayanan. Tetapi begitulah, sampai akhirnya harus berganti maskapai tetap saja ada rasa yang belum pas untuk dituntaskan. Bahwa kita memang masih amatiran.
****
Thursday, October 25, 2007
Ruang Siar
Ruang pandang adalah terminal yang mampu mengedepankan hiruk pikuk dan kesibukan ketika perspesi yang dibangun adalah menyaksikan pertunjukan peran. Ruang pandang yang disiarkan adalah stasiun yang mampu menyiarkan artikulasi diskusi ketika penafsiran menjadikan titik bernama garis. Dan itulah ruang yang dapat dipancarulangkan manakala sejumlah adegan mempertontonkan laku lajak yang disemayamkan pada sejumlah pin bernama lakon.
Hari ini ruang yang diperdengarkan dan disiarkan adalah menyaksikan lakon sektoral yang memainkan episode rutinitas bernama sisi argumen tanpa mampu mencairkan kesetaraan. Begitu, dan ketidaksetaraan yang disebarkan adalah menyanyikan lagu yang tidak dapat dijelaskan dengan interpretasi apapun. Itulah, dan sesungguhnya kompleksitas yang dikedepankan adalah mencoba mengajak ulang dan melangkah ulang, yang sudah dilakukan berulang tetapi sayangnya tidak jua merubah paradigma, seperti biasa, telunjuk lurus kelingking berkait.
***
(Met ultah ananda, dirayakan, semarak, ikut serta, bersenandung dan menyatakan rasa sayang yang menyejukkan, makasih ya Pa, katamu)
***
Wednesday, October 24, 2007
Cerita Batas
Ketika batas menjadi iringan langkah, apakah kemudian semua akan memberikan titik kulminasi di sisi ini, adakah yang mampu memberikan ruang pandang bagi sejumlah asa yang telah diseberangkan lebih dulu. Sejumlah asumsi dibungkus dan diceritakan melalui hipotesa dan sejajar dengannya, dikumandangkan pada sebuah pagi, pada sebuah siang dan menutup reffnya dengan lagu hati yang bercampur aduk.
Ketika cerita batas dikemukakan, adalah dia yang menjadikan sejumlah siar menjadi kumpulan titik yang bernilai noktah. Dan ketika batas itu menjadi catatan yang harus dilalui, apakah kemudian persepsi yang dibangun menjadi setali tiga uang pada sebutan yang mengemuka : tutup saja dengan sebuah pintu.
Tidaklah dia mampu memberikan sekuntum senyum manakala matahari apalagi matahati tak jua memberikan kesegaran taman bunga. Dan oleh itu ada sebungkus tulisan yang selalu dinafikan bahwa perjumpaan yang memberikan sorot pijar hangat menjadikan nilai meleleh sampai di aspal nadi. Dan lewatlah sebuah kesempatan, dan lewatlah sebuah batas yang hendak diceritakan.
(Mempersiapkan perjalanan panjang, mengiringi jalinan yang diasah ulang, semoga menjadi asa baru yang menyetarakannya dengan kedamaian bunda).
(Thanks for As yang selalu concern dengan hari-hari penting, dan menjadi catatan yang bernilai souvenir).
****
****
Tuesday, October 23, 2007
Subscribe to:
Posts (Atom)