Menunggu untuk keberangkatan, pada sebuah fokus yang ingin disyahdukan dengan linangan dan menggamitnya menjadi totalitas untuk penyerahan. Aku ingin menjamahnya dengan keseluruhan nadi dan memasukinya dengan putih bathin dan melontarkan sejuta bait tentang kefanaan yang didapatkan. Tentang nilai yang diperoleh, tentang garis yang digoreskan, pada batas ini, pada tepi ini ketika pantai tak menawarkan apapun kecuali debur ombak.
Akan kukatakan pada bayu di ketinggian atas awan, aku berangkat untuk menyampaikan, aku berangkat untuk mengatakan, aku berangkat untuk menceritakan. Bahwa lagu yang kusandingkan dengan kehangatan nadi hati adalah untuk menyatakan, bahwa aku tidak bersemangat melanjutkan. Dan hanya pada sejumlah dialog kusampaikan dengan kesamaan pandang, aku tidak ingin melanjutkan halaman, aku tidak ingin membaca lanjutan cerita, aku tidak ingin melanjutkan langkah.
Halaman buku yang kubaca adalah untuk menggantikan semua corak pandang tentang sebuah warna rutinitas yang menjadikan langkah jalan di depan seperti menanti hujan yang tak kunjung reda. Tetapi itu lebih baik ketimbang menawarkan berita tanpa isi sembari memandang wajah autis yang menari tanpa irama yang jelas. Dan sejumlah bingkisan yang disampaikan adalah untuk memberikan aura bahwa kesepahaman adalah bangunan yang apik untuk disejajarkan dengan kesetaran peran dan kesamaan pandang.
*****
Kuingin pastikan dengan senandung
Kuingin yakinkan dengan dengan lantunan
(Untuk sampai pada jalan searah saja)
Sudah kusampaikan
Sudah kuutarakan
Sudah kuceritakan
Bahwa halte di depan adalah yang terakhir
Bahwa persimpangan di ujung adalah usai
(Untuk sampai pada sehasta dekapan)
Bersiap pada seuntai andaikata
Berlari pada sejumput seandainya
Berdiri pada sebuah sinar lembayung
Bersila pada sebutir asa akhir
Bacaan adalah cerminan
Untuk menggali yang belum tercetus
Untuk menawar yang belum dibeli
Untuk mengais yang belum terbuang
Untuk menampung yang belum tercecer.
*****
Wednesday, April 09, 2008
Wednesday, March 26, 2008
Safari Timur
Cerah hari mengawali langkah bersama menuju timur yang lama tak disapa. Dan sepanjang jalan adalah memainkan irama dengan nyanyian keteduhan sembari terus memacu dan mengejar. Dan usai pula sehari perjalanan ke Sby dengan sambutan hujan deras yang membasahi kota. Akhirnya sampai jua ketika rasa ingin menyapu sejumlah asumsi untuk dicapai dan dijelajah.
Sambutan adalah kesenjangan ketika harus menjaga waktu untuk menanti. Tetapi bukankah tidak harus menepikan warna kebersamaan ketika pada saatnya bersua dengan cerah hati dan cerah ucap. Semua berjabat dan kehangatan adalah menu yang digambar bersama celoteh tak sua sekian halaman. Dan keasyikan berbagi suasana mampu meminjam hasrat yang lama tak ditorehkan. Waktu jua yang mendatangkan nilai persaudaraan dan waktu jua yang menghabiskan jalinan cerita.
Seingat hari, adalah nilai perjalanan yang membuat semangat untuk bertemu dengan sejumlah argumen, membawa kafilah dan menyapa dengan seruputan teh hangat menjelang senja. Dan cerita sesudahnya adalah menceritakan kisah tak sua sekian jilid sampai mata memerah tak lagi mendengarkan.
*****
Adalah kesejukan yang menerpa ketika sampai di taman bunga dan buah pegunungan. Sekedar berjalan sembari menapak tilas Batu, bahwa aku pernah kesini, dan kini menyapa kembali bersama, memandang seluas mata memandang, hijau segar, sejuk rasa, sejuk aroma. Kemudian berjalan lagi dan menghabiskan hari dengan Jatim Park yang memesona. Kubiarkan semua lepas, semua menjajakan gairah, ada tornado, ada kumpulan koleksi, ada gemericik, dan semua yang menyaksikan adalah kesegaran membagi waktu untuk kepuasan bermain, berjalan dan menjelajah.
Menikmati hidangan menjelang terbenam matahari, mengganti rasa lelah dengan menyantap hidangan ikan bakar di ruang yang ramai dan menyenangkan. Sebuah sajian yang cepat dan lezat menuntaskan rasa lapar dan menggantinya dengan kecupan rasa yang bernilai sembilan, cepat dan nikmat. Semua tertawa, semua puas, dan kembali dengan kecepatan penuh. Tak lupa menyisir pinggiran lumpur fenomenal, luar biasa, dan merasakan suasana yang mencekam, melewati barisan rumah tak berpenghuni, tak beratap, menyisakan kepedihan karena aliran lumpur panas itu.
Malam dibentang dengan lanjutan perjalanan, kali ini melewati utara dengan asumsi lebih cepat. Dan rute perjalanan tak sengaja melewati WBL, yang jadi omongan itu, besar, megah dan menjanjikan keinginan untuk datang. Ya ada waktu khusus untuk datang pada saatnya, setidaknya rute yang dilewati sudah bisa diukur, tinggal membagi waktunya saja. Dan pagi menjelang, purnalah rangkaian perjalanan lengkap yang menyenangkan.
****
Sambutan adalah kesenjangan ketika harus menjaga waktu untuk menanti. Tetapi bukankah tidak harus menepikan warna kebersamaan ketika pada saatnya bersua dengan cerah hati dan cerah ucap. Semua berjabat dan kehangatan adalah menu yang digambar bersama celoteh tak sua sekian halaman. Dan keasyikan berbagi suasana mampu meminjam hasrat yang lama tak ditorehkan. Waktu jua yang mendatangkan nilai persaudaraan dan waktu jua yang menghabiskan jalinan cerita.
Seingat hari, adalah nilai perjalanan yang membuat semangat untuk bertemu dengan sejumlah argumen, membawa kafilah dan menyapa dengan seruputan teh hangat menjelang senja. Dan cerita sesudahnya adalah menceritakan kisah tak sua sekian jilid sampai mata memerah tak lagi mendengarkan.
*****
Adalah kesejukan yang menerpa ketika sampai di taman bunga dan buah pegunungan. Sekedar berjalan sembari menapak tilas Batu, bahwa aku pernah kesini, dan kini menyapa kembali bersama, memandang seluas mata memandang, hijau segar, sejuk rasa, sejuk aroma. Kemudian berjalan lagi dan menghabiskan hari dengan Jatim Park yang memesona. Kubiarkan semua lepas, semua menjajakan gairah, ada tornado, ada kumpulan koleksi, ada gemericik, dan semua yang menyaksikan adalah kesegaran membagi waktu untuk kepuasan bermain, berjalan dan menjelajah.
Menikmati hidangan menjelang terbenam matahari, mengganti rasa lelah dengan menyantap hidangan ikan bakar di ruang yang ramai dan menyenangkan. Sebuah sajian yang cepat dan lezat menuntaskan rasa lapar dan menggantinya dengan kecupan rasa yang bernilai sembilan, cepat dan nikmat. Semua tertawa, semua puas, dan kembali dengan kecepatan penuh. Tak lupa menyisir pinggiran lumpur fenomenal, luar biasa, dan merasakan suasana yang mencekam, melewati barisan rumah tak berpenghuni, tak beratap, menyisakan kepedihan karena aliran lumpur panas itu.
Malam dibentang dengan lanjutan perjalanan, kali ini melewati utara dengan asumsi lebih cepat. Dan rute perjalanan tak sengaja melewati WBL, yang jadi omongan itu, besar, megah dan menjanjikan keinginan untuk datang. Ya ada waktu khusus untuk datang pada saatnya, setidaknya rute yang dilewati sudah bisa diukur, tinggal membagi waktunya saja. Dan pagi menjelang, purnalah rangkaian perjalanan lengkap yang menyenangkan.
****
Sunday, March 16, 2008
Perjumpaan Tidak Harus
Ada perjumpaan yang mengharukan menjelang Subuh ketika pelukan hangat dari seraut wajah tua nan letih menyambut di pintu kehangatan. Rindu bunda untuk menatap, rindu rasa untuk mengadu, rindu kata untuk diucap. Disongsong dan diceritakan tentang suasana dan keseksamaan. Ya itulah kesederhanaan ketika kucoba meyakinkan untuk berangkat bersama, tidak jua harus ada persetujuan dengan mempertimbangkan renta dan kesudahan.
Mengalir cerita tentang titik simpang, tentang penyudahan pada simpul yang dirajut tanpa benang, tanpa sulam. Mengalir cerita tentang penyelesaian tanpa harus terikat lagi karena memang tak ada hirarki yang harus dituju. Dan Bunda mengerti, memahami dan menyapa dengan kelembutan hati. Berangkatlah dengan kesendirian itu dan mohonlah segala tumpahan untuk diceritakan pada rumah suci keakbaran.
Perjumpaan tidak harus pada sebuah argumentasi. Walaupun keinginan untuk berjalan beriringan menjelajah pusat keharibaan yang senantiasa dirindukan adalah jalinan mimpi yang tertayang pada saat menerawang. Tapi itulah bunda, tak harus jua dengan persetujuan karena renta adalah keinginan yang menjadi tak ingin untuk harus, cukuplah dengan tafakkur dan sujid tahajjud dinihari. Duh betapa beningnya suara bunda menyapa dan memeluk hangat diriku dan menjalinkan kalimat untuk dicerna pada kamar hati. Betapa argumen itu memberikan ketulusan pada sikap untuk tidak harus karena matahari sudah mendekati horizon. Doa bunda selalu menyertaimu, kalimat yang mampu menjalankan semangatku untuk kembali dengan senyum. Duhai bunda.
Aku pulang sendirian
Aku berangkat sendirian
Aku menjelajah sendirian
(wajah istri pun berbinar untuk mengantar dan menghampiri)
*****
Mengalir cerita tentang titik simpang, tentang penyudahan pada simpul yang dirajut tanpa benang, tanpa sulam. Mengalir cerita tentang penyelesaian tanpa harus terikat lagi karena memang tak ada hirarki yang harus dituju. Dan Bunda mengerti, memahami dan menyapa dengan kelembutan hati. Berangkatlah dengan kesendirian itu dan mohonlah segala tumpahan untuk diceritakan pada rumah suci keakbaran.
Perjumpaan tidak harus pada sebuah argumentasi. Walaupun keinginan untuk berjalan beriringan menjelajah pusat keharibaan yang senantiasa dirindukan adalah jalinan mimpi yang tertayang pada saat menerawang. Tapi itulah bunda, tak harus jua dengan persetujuan karena renta adalah keinginan yang menjadi tak ingin untuk harus, cukuplah dengan tafakkur dan sujid tahajjud dinihari. Duh betapa beningnya suara bunda menyapa dan memeluk hangat diriku dan menjalinkan kalimat untuk dicerna pada kamar hati. Betapa argumen itu memberikan ketulusan pada sikap untuk tidak harus karena matahari sudah mendekati horizon. Doa bunda selalu menyertaimu, kalimat yang mampu menjalankan semangatku untuk kembali dengan senyum. Duhai bunda.
Aku pulang sendirian
Aku berangkat sendirian
Aku menjelajah sendirian
(wajah istri pun berbinar untuk mengantar dan menghampiri)
*****
Friday, February 29, 2008
Jadi Headline
Kadang kita tak meminta tetapi justru dibutuhkan. Sepanjang pekan ini aku bisa menyelesaikan beberapa tulisan serial yang menjadi highlight, setidaknya dengan asumsi dan opiniku. Dan ketika dipublikasikan terbatas ternyata salah satunya diminta menjadi headline media internal. Beberapa tulisan yang lain juga sudah dipublikasikan dan tentu memberikan nilai kepuasan ketika aku bisa menjelaskan tanpa harus berdiri. Biarkan semua mengalir seperti apa adanya, memberikan argumen selengkap mungkin.
Begitulah, semampuku ingin kusampakan pesan bahwa nilai tidak harus dikumandangkan pada penampilan, tidak jua harus dijadikan episentrum kebisaan. Biasa saja dan semua orang punya nilai setidaknya dimata dirinya dan keluarganya. Sifat egois itu lahir dari penyanjungan pada kehebatan diri yang sudah merasa tahu akan semuanya. Padahal hanya secuil dan setitik air yang cepat menguap.
Kadang aku saksikan celotehan orang yang bermental autis dan egois, merasa sudah paling pintar, padahal hanya pintar membolak balik kalimat. Lucunya lagi kalau ada orang lain yang memiliki argumen beda lantas dia mencak-mencak seperti ya itu orang autis. Sebenarnya tipe orang seperti itu hanya sebatas memproklamirkan keangkuhannya, tapi dia lupa bahwa ilmunya hanya sebatas itu. Padahal padi semakin berisi semakin runduk. Ya namanya saja orang yang tak mampu mengembangkan kearifan peran. Kelihatan dari kedengkian sikap dan perilaku yang merasa sudah menjadi setengah dewa padahal hanya sebongkah reco buntung.
Begitulah, semampuku ingin kusampakan pesan bahwa nilai tidak harus dikumandangkan pada penampilan, tidak jua harus dijadikan episentrum kebisaan. Biasa saja dan semua orang punya nilai setidaknya dimata dirinya dan keluarganya. Sifat egois itu lahir dari penyanjungan pada kehebatan diri yang sudah merasa tahu akan semuanya. Padahal hanya secuil dan setitik air yang cepat menguap.
Kadang aku saksikan celotehan orang yang bermental autis dan egois, merasa sudah paling pintar, padahal hanya pintar membolak balik kalimat. Lucunya lagi kalau ada orang lain yang memiliki argumen beda lantas dia mencak-mencak seperti ya itu orang autis. Sebenarnya tipe orang seperti itu hanya sebatas memproklamirkan keangkuhannya, tapi dia lupa bahwa ilmunya hanya sebatas itu. Padahal padi semakin berisi semakin runduk. Ya namanya saja orang yang tak mampu mengembangkan kearifan peran. Kelihatan dari kedengkian sikap dan perilaku yang merasa sudah menjadi setengah dewa padahal hanya sebongkah reco buntung.
Monday, February 18, 2008
Kerinduan untuk dijelajah ulang
Makin kudekap saja kerinduan itu untuk dijelajah ulang. Dan semakin kunapaktilasi dalam setiap perenungan, makin terang pula kisah-kisah yang menjahit hari sampai empat puluh halaman, ketika itu. Dan jelajah hati untuk kembali menyentuhnya memberi semangat putih untuk bisa menyapanya beberapa kalender mendatang.
Meskipun begitu, kupersiapkan jua agar semuanya dapat memberikan kesyahduan. Dan itu adalah bagian dari membasuh dan mencuci dengan seikat kembang pewangi dan kusampaikan pada sekujur diri. Bersihkanlah, beningkanlah sampai ke pusat nadi, sampai ke pusat hati dan kabarkan pada segenap bahwa persiapan memerlukan sinar matahari sekian edar untuk memastikan kesegaran dan kesiapan menjalani hari-hari pelukan dan dekapan.
Ya, rangkuman yang ingin kulepaskan adalah menceritakan tentang kehebatan samudera biru.
Ya, cerita yang ingin kusampaikan adalah mengadukan pasang hati pada pemilik keniscayaan.
Ya, sketsa yang ingin kugambar adalah melukiskan kembali cakrawala horizon yang jingga.
Ya, tulisan yang ingin kugelar adalah menyampaikan bingkisan nada untuk dilantunkan.
Pada perjalanan delapan hari, pada halaman delapan lembar, pada sejumlah disposisi yang sudah digenggam dan dihanyutkan dengan seluruh riak. Pada semua yang menjadi gurat dan garis, pada semua yang menjadi pekat nuansa, adalah sebungkus kado yang ingin kusampaikan ketika membuka pintu, dan memeluk keagungan.
Semoga menjadi putih
Semoga menjadi bening
Semoga menjadi sinar
Semoga menjadi layar
(Makin kudekap saja kerinduan itu untuk dijelajah ulang)
Meskipun begitu, kupersiapkan jua agar semuanya dapat memberikan kesyahduan. Dan itu adalah bagian dari membasuh dan mencuci dengan seikat kembang pewangi dan kusampaikan pada sekujur diri. Bersihkanlah, beningkanlah sampai ke pusat nadi, sampai ke pusat hati dan kabarkan pada segenap bahwa persiapan memerlukan sinar matahari sekian edar untuk memastikan kesegaran dan kesiapan menjalani hari-hari pelukan dan dekapan.
Ya, rangkuman yang ingin kulepaskan adalah menceritakan tentang kehebatan samudera biru.
Ya, cerita yang ingin kusampaikan adalah mengadukan pasang hati pada pemilik keniscayaan.
Ya, sketsa yang ingin kugambar adalah melukiskan kembali cakrawala horizon yang jingga.
Ya, tulisan yang ingin kugelar adalah menyampaikan bingkisan nada untuk dilantunkan.
Pada perjalanan delapan hari, pada halaman delapan lembar, pada sejumlah disposisi yang sudah digenggam dan dihanyutkan dengan seluruh riak. Pada semua yang menjadi gurat dan garis, pada semua yang menjadi pekat nuansa, adalah sebungkus kado yang ingin kusampaikan ketika membuka pintu, dan memeluk keagungan.
Semoga menjadi putih
Semoga menjadi bening
Semoga menjadi sinar
Semoga menjadi layar
(Makin kudekap saja kerinduan itu untuk dijelajah ulang)
Monday, February 11, 2008
Persamaannya
Persamaan tentang cerita yang kau sampaikan adalah deru bayu yang menggantikan baju peran ketika engkau pun tahu jalan cerita sesungguhnya. Dan engkau juga banyak bercerita tentang berbagai sketsa di pembaringan hati. Dan dengan kata hati itu jua aku menyimak cara tutur yang apresiatif manakala sejumlah kalimat bertema kemiripan judul disenandungkan dengan keyakinan bathin.
Bahwa bagian paragraf menjadi sampiran yang menandakan kebersamaan rasa, adalah itu yang mampu membangunkan curahan rasa untuk diaduk bersama. Bahwa ada saat untuk melengkingkan nada, ada saat untuk menjaga irama. Manifestonya adalah tak lagi membuka peluang karena segala cara sudah dirumuskan dan ditandatangani, namun tetap saja bermain di seputar ranah merah hati menggumpal.
Biar saja mahkamah pengadil yang memberikan simpulan argumentasi karena sudut pandang adalah bagian dari penjelasan rasa. Dan bolak balik perjalanan hati sembari menyapa rambu kebolehan dan ketidakbolehan tetap saja memberikan simpulan bahwa memang dengki yang bersemayam di sudut sosok adalah definisi yang mampu diceritakan lewat raut wajah tanpa wudhu. Karena hatinya adalah pusat ego serba ada yang disebar melalui fitnah dan olah kalimat tanpa jeda. Itulah persamaan ceritanya, sahabatku.
Bahwa bagian paragraf menjadi sampiran yang menandakan kebersamaan rasa, adalah itu yang mampu membangunkan curahan rasa untuk diaduk bersama. Bahwa ada saat untuk melengkingkan nada, ada saat untuk menjaga irama. Manifestonya adalah tak lagi membuka peluang karena segala cara sudah dirumuskan dan ditandatangani, namun tetap saja bermain di seputar ranah merah hati menggumpal.
Biar saja mahkamah pengadil yang memberikan simpulan argumentasi karena sudut pandang adalah bagian dari penjelasan rasa. Dan bolak balik perjalanan hati sembari menyapa rambu kebolehan dan ketidakbolehan tetap saja memberikan simpulan bahwa memang dengki yang bersemayam di sudut sosok adalah definisi yang mampu diceritakan lewat raut wajah tanpa wudhu. Karena hatinya adalah pusat ego serba ada yang disebar melalui fitnah dan olah kalimat tanpa jeda. Itulah persamaan ceritanya, sahabatku.
Wednesday, February 06, 2008
Sinema Itu
Sinema yang diperlihatkan adalah ketidakjelasan apa sebenarnya yang ingin dijalankan. Ketegasan protagonis tak jua tampak selain hanya mencoba memberikan sebutir senyum sebagai tanda tak ada dinamika, seakan seperti itu. Padahal sejumlah catatan pantas dikedepankan, tak mampu mengeliminir, hanya bisa menyampaikan pesan di belakang pintu. Tak jelas apa warna decision yang ditayangkan dan membawa sebungkus jampi untuk dijampi-jampi.
Bagiku, kriteria itu adalah perlambang ketidakmampuan untuk membawa, ketidakmampuan untuk mengarahkan dan kegagalan untuk mengajak serta. Yang terjadi adalah rutinitas layout. Terus kalau ada yang membantah, lantas gelagapan, berputar-putar tak mampu mencari solusi dan dibiarkan mengambang. Lantas esoknya ada cerita yang sudah bisa dijelaskan, bahwa akhirnya djalankan sendiri tanpa mufakat lagi.
Begitulah, dan kebosanan melanda hampir semua penumpang. Tema cerita adalah tentang sebuah style yang tak jelas urutan warnanya. Mau hitam putih tak jua kelihatan, mau dibikin warna warni sudah pula orang melihat sebagai kejenuhan tanpa seluk beluk. Dan tidak ada yang perlu disambung kecuali sekedar menggugurkan kewajiban, mengisi kebosanan dengan peribahasa.
Ketidakmampuannya boleh jadi sudah mendekati kriteria menzalimi karena tak mampu membuka peta peran, tak mampu mengajak diskusi apalagi kalau sudah sampai sepakat untuk tak sepakat. Ketika dulu menghadapi situasi yang sama, jalan cerita tak lagi menjadi titik pijak untuk dipersamakan, minimal mengajak suara hati untuk beriringan. Itu saja tak bisa apalagi mengajak sosok, berat nian yang dibawa dengan tanjakan didepan.
****
Bagiku, kriteria itu adalah perlambang ketidakmampuan untuk membawa, ketidakmampuan untuk mengarahkan dan kegagalan untuk mengajak serta. Yang terjadi adalah rutinitas layout. Terus kalau ada yang membantah, lantas gelagapan, berputar-putar tak mampu mencari solusi dan dibiarkan mengambang. Lantas esoknya ada cerita yang sudah bisa dijelaskan, bahwa akhirnya djalankan sendiri tanpa mufakat lagi.
Begitulah, dan kebosanan melanda hampir semua penumpang. Tema cerita adalah tentang sebuah style yang tak jelas urutan warnanya. Mau hitam putih tak jua kelihatan, mau dibikin warna warni sudah pula orang melihat sebagai kejenuhan tanpa seluk beluk. Dan tidak ada yang perlu disambung kecuali sekedar menggugurkan kewajiban, mengisi kebosanan dengan peribahasa.
Ketidakmampuannya boleh jadi sudah mendekati kriteria menzalimi karena tak mampu membuka peta peran, tak mampu mengajak diskusi apalagi kalau sudah sampai sepakat untuk tak sepakat. Ketika dulu menghadapi situasi yang sama, jalan cerita tak lagi menjadi titik pijak untuk dipersamakan, minimal mengajak suara hati untuk beriringan. Itu saja tak bisa apalagi mengajak sosok, berat nian yang dibawa dengan tanjakan didepan.
****
Tuesday, February 05, 2008
Bahwa
Bukannya untuk mempertentangkannya tapi sekedar berbagi gambar, berbagi cerita, sekian bilangan tahun. Apa yang didapat selain dari datarnya jalan dan tak jua mencapai pasir pantai landai. Maka tidak salah jua kalau dipertanyakan sudah sejauh mana visi yang disiarluaskan dari sudut ruang.
Tidak ada terdengar bunyi, hanya desir suara AC yang kewalahan menampung sinar panas dan mencoba menjinakkannya. Tidak ada kabar apapun selain tetap saja bermain dengan kalender. Bahwa banyak yang menjadi catatan sudah pula yang diceritakan. Tentang ketidaksamaan, tentang jalan pikirnya, tentang gaya dan senandung keseharian yang tak jua menyimpulkan sama dengan, kecuali titik-titik tanpa koma.
Wajar saja kalau kemudian menjadi tak layak pantas, karena nilai menjadi absurd dan berlandas teori kepentingan. Dan suasana yang disantap adalah menceritakan kembali sembari memamah biak tentang cara pandang dan argumen ketidak jelasan. Dan itulah menu yang mulai dicernakan tanpa pergantian. Ternyata hanya untuk kepentingan sendiri, untuk menyelamatkan diri sendiri, berbungkus senyum tetapi tak pernah mampu memberikan solusi.
Tidak ada terdengar bunyi, hanya desir suara AC yang kewalahan menampung sinar panas dan mencoba menjinakkannya. Tidak ada kabar apapun selain tetap saja bermain dengan kalender. Bahwa banyak yang menjadi catatan sudah pula yang diceritakan. Tentang ketidaksamaan, tentang jalan pikirnya, tentang gaya dan senandung keseharian yang tak jua menyimpulkan sama dengan, kecuali titik-titik tanpa koma.
Wajar saja kalau kemudian menjadi tak layak pantas, karena nilai menjadi absurd dan berlandas teori kepentingan. Dan suasana yang disantap adalah menceritakan kembali sembari memamah biak tentang cara pandang dan argumen ketidak jelasan. Dan itulah menu yang mulai dicernakan tanpa pergantian. Ternyata hanya untuk kepentingan sendiri, untuk menyelamatkan diri sendiri, berbungkus senyum tetapi tak pernah mampu memberikan solusi.
Thursday, January 17, 2008
Sedetik ini
Sedetik ini ada cerita tentang riuh gemuruh yang direkam dengan anggukan dan dukungan untuk menggantikan dan mengedepankan. Seminggu berlayar dan menjelmakan sebuah pelabuhan pergantian. Dan aku bergegas saja untuk menyalin kembali dan meletakkan dasar-dasar amanah yang diemban.
Dan semua dihijaukan dengan pandangan sejuk, dan semua dihijaukan dengan langkah pasti untuk menjelaskan langkah yang dipastikan. Maka semuanya kurencanakan dengan sebutan total football, meyakinkan anggota untuk berjalan dan bernyanyi bersama, membersihkan sisi dinding yang masih berdebu menahun.
Sedetik ini menghela nafas sejenak sembari mengabarkan berita untuk semua, bahwa undangan yang telah disebar adalah manifestasi untuk langkah dan harapan. Dan sebisanya disuarakan bahwa tanpa garis tebal, niat tak perlu diulang kata, cukuplah dengan pembuktian bahwa pamrih tidak dibawa serta dalam pelayaran perdana, sekali lagi tidak membawa pamrih.
Oleh karenanya titipan yang hendak dikumandangkan adalah merumuskan cara kelola untuk sebuah tujuan dua lembar yang sudah ditulis dan dibincangkan, semua setuju dan semua berjalan. Dan bawaan pesan yang dihayatkan adalah senandung doa untuk meniti cara pandang yang membawa kebeningan dan keluasan peran, mengendalikan dan mengajak pada sebuah horizon untuk dipandang dengan matahati. Keniscayaan yang dibangun adalah menafsirkan asa pada seikat doa dan upaya untuk mampu membawa dan mengemban. Semoga mampu menembus awan untuk mencapai langit biru.
(Thanks for all untuk kesepakatan mengangkat amanah menjadi sinar benderang, memakmurkan dan memolesnya sebagai tanggung jawab. InsyaAllah menjadi sebuah nilai yang bisa ditandingkan).
****
Dan semua dihijaukan dengan pandangan sejuk, dan semua dihijaukan dengan langkah pasti untuk menjelaskan langkah yang dipastikan. Maka semuanya kurencanakan dengan sebutan total football, meyakinkan anggota untuk berjalan dan bernyanyi bersama, membersihkan sisi dinding yang masih berdebu menahun.
Sedetik ini menghela nafas sejenak sembari mengabarkan berita untuk semua, bahwa undangan yang telah disebar adalah manifestasi untuk langkah dan harapan. Dan sebisanya disuarakan bahwa tanpa garis tebal, niat tak perlu diulang kata, cukuplah dengan pembuktian bahwa pamrih tidak dibawa serta dalam pelayaran perdana, sekali lagi tidak membawa pamrih.
Oleh karenanya titipan yang hendak dikumandangkan adalah merumuskan cara kelola untuk sebuah tujuan dua lembar yang sudah ditulis dan dibincangkan, semua setuju dan semua berjalan. Dan bawaan pesan yang dihayatkan adalah senandung doa untuk meniti cara pandang yang membawa kebeningan dan keluasan peran, mengendalikan dan mengajak pada sebuah horizon untuk dipandang dengan matahati. Keniscayaan yang dibangun adalah menafsirkan asa pada seikat doa dan upaya untuk mampu membawa dan mengemban. Semoga mampu menembus awan untuk mencapai langit biru.
(Thanks for all untuk kesepakatan mengangkat amanah menjadi sinar benderang, memakmurkan dan memolesnya sebagai tanggung jawab. InsyaAllah menjadi sebuah nilai yang bisa ditandingkan).
****
Tuesday, January 08, 2008
Untuk Bang Syahrul
Teruslah berjuang Bang Syahrul, apapun warna langitmu karena engkau adalah pelangiku, pelangi kami, pelangi republik Telkom. Tulisan Bang Ferdi yang disiarluaskan via milis itu sudah kubaca dan kuhayati dengan kebeningan hati bahwa sejatinya engkau adalah pahlawan di pelangi merah kuning hijau. Engkau adalah ikon istiqomah dari sebuah kisah perjalan mengawal republik Telkom dari gerusan abrasi dan erosi berlabel kapitalis. Engkau adalah potret sesungguhnya dari perjuangan tak kenal lelah demi menjaga eksistensi dan kebanggaan pada jiwa patriot nasionalisme.
Jangan susutkan sinar matamu yang flamboyan itu manakala ongkos perjuangan yang kau dapatkan hanyalah angin kering di tengah gurun, karena jiwa seorang pejuang sesungguhnya adalah episentrum jihad tanpa harus memproklamasikannya. Aku salut dengan ketegaran yang engkau miliki, sikap dan langkahmu yang maju tak gentar membela yang benar, bukan maju tak gentar membela yang bayar. Engkau mampu memberikan deteksi dini dan cara pandang seluas horizon manakala perspektif dan persepsi dihidangkan di meja serikat untuk dibawa pada argumentasi bernilai berlian.
Kita tak pernah berbicara panjang, kita tak pernah sapu pandang, kita tak pernah jalan bersama dan engkau juga tak dekat denganku, tapi aku selalu mengikuti gerak langkahmu yang tanpa gentar itu untuk merubah cara pandang, untuk ikut mengukir nilai sejarah bisnis perusahaan kita, untuk melawan segala bentuk kezaliman bisnis yang ingin memporakporandakan NKRT (Negara Kesatuan Republik Telkom).
Teruslah berjuang Bang. Seorang pahlawan tidak perlu harus selalu berkorelasi dengan benefit dan kompensasi karena pahala jariyah yang abang lakukan adalah khoirunnasi anfa’uhum linnass. Abang dimataku adalah orang terbaik di korps kita yang mampu memberikan nilai manfaat untuk banyak employee. Perjuangan yang abang lakukan adalah menuliskan prasasti untuk perjuangan cerita bisnis agar republik Telkom tidak menjadi batu nisan.
Aku selalu mendoakan abang, dan Allah Azza wa Jalla selalu memberikan siraman rahman dan rahimNya untuk diselimutkan pada sekeping hati yang selalu diterpa angin kering. Bahwa nilai cum laude di mata Allah adalah kado hati yang paling berlian untuk disematkan pada ketegaran jiwa yang berjuang untuk kepentingan khalayak yang berkebun di ladang ini. Pahalanya, Bang, adalah senyum dan pelukan hangat dari Allah yang penyayang tatkala kita bersujud tahajjud.
Wassalam,-
Jangan susutkan sinar matamu yang flamboyan itu manakala ongkos perjuangan yang kau dapatkan hanyalah angin kering di tengah gurun, karena jiwa seorang pejuang sesungguhnya adalah episentrum jihad tanpa harus memproklamasikannya. Aku salut dengan ketegaran yang engkau miliki, sikap dan langkahmu yang maju tak gentar membela yang benar, bukan maju tak gentar membela yang bayar. Engkau mampu memberikan deteksi dini dan cara pandang seluas horizon manakala perspektif dan persepsi dihidangkan di meja serikat untuk dibawa pada argumentasi bernilai berlian.
Kita tak pernah berbicara panjang, kita tak pernah sapu pandang, kita tak pernah jalan bersama dan engkau juga tak dekat denganku, tapi aku selalu mengikuti gerak langkahmu yang tanpa gentar itu untuk merubah cara pandang, untuk ikut mengukir nilai sejarah bisnis perusahaan kita, untuk melawan segala bentuk kezaliman bisnis yang ingin memporakporandakan NKRT (Negara Kesatuan Republik Telkom).
Teruslah berjuang Bang. Seorang pahlawan tidak perlu harus selalu berkorelasi dengan benefit dan kompensasi karena pahala jariyah yang abang lakukan adalah khoirunnasi anfa’uhum linnass. Abang dimataku adalah orang terbaik di korps kita yang mampu memberikan nilai manfaat untuk banyak employee. Perjuangan yang abang lakukan adalah menuliskan prasasti untuk perjuangan cerita bisnis agar republik Telkom tidak menjadi batu nisan.
Aku selalu mendoakan abang, dan Allah Azza wa Jalla selalu memberikan siraman rahman dan rahimNya untuk diselimutkan pada sekeping hati yang selalu diterpa angin kering. Bahwa nilai cum laude di mata Allah adalah kado hati yang paling berlian untuk disematkan pada ketegaran jiwa yang berjuang untuk kepentingan khalayak yang berkebun di ladang ini. Pahalanya, Bang, adalah senyum dan pelukan hangat dari Allah yang penyayang tatkala kita bersujud tahajjud.
Wassalam,-
Saturday, January 05, 2008
Jenuh
Suguhan referensi sudah banyak menjelaskan namun secara praktisi perlu ada polesan untuk kriteria seorang pimpinan, tepatnya naluri kepemimpinan. Bahwa seorang pemimpin hars mampu membawa, harus mampu mengajak sudah banyak yang menjelaskannya, namun ketika berbicara tentang persamaan dan gaya, itulah yang memberikan warna sesungguhnya tentang kemampuan membawa dan mengajak itu.
Ketegasan perlu diajak dalam beberapa hal yang memerlukan payung itu, setidaknya agar pengelolaan kebersamaan tadi bisa membawa perspektif dalam persuasi. Bahwa yang terjadi kemudian adalah ketidakmampuan menyelesaikan persoalan interaksi, itulah gambaran tentang leadership yang belum matang. Riteme yang dibawa tergantung suasana peserta, tergantung siapa yang banyak omong, dan tidak bisa mencerna tentang asa dan peluang. Yang ada kemudian adalah berusaha untuk tidak terjadi riak dengan bersenandung bahwa laut tetap berwarna biru, padahal tidak jua secerah yang diceritakan dalam sketsa ruang.
Selama rentang waktu itu, semakin jelas permainan peran yang dikedepankan. Tentang anomali orang bermental banci, tentang peran dominan yang hanya jago kandang, tentang gaya preman yang bermental lontong sayur. Tentang pemutarbalikan opini, tentang ego sektoral yang merasa sebagai tokoh protagonis. Itu tidak bisa dikelola oleh gaya amatir yang menjadikan semua sebagai fragmen tanpa adrenalin. Bahwa semakin jelas duduk ceritanya, tentang kedengkian yang menahun, tentang sms (senang melihat orang susah atau susah melihat orng senang), dikompulasi dengan gaya seorang bujang lapuk yang gagah gemulai, merasa sudah menjadi bintang sinetron pendekar tak punya nyali.
Ya, kepemimpinan adalah bagian dari pengaturan itu. Sayangnya tak mampu untuk menjabarkannya apalagi merangkul untuk berjalan bersama, berlari bersama. Maka bagian yang paling mampu diterangkan adalah episode berjabat tangan, membuka senyum, lalu mengisi alinea dengan berbagai disposisi tanpa pernah menjamah solusi permanen. Bedanya hanya, preman lontong tidak lagi mengumbar gaya bicara bermental autis, atau si gagah gemulai yang semakin renta sikap, kaku gaya dan (paling tidak akan menjadi jompo tanpa nilai keluarga dan kasih sayang).
Tapi, hari tidak harus selasa melulu, hari tidak harus gulita melulu. Maka upaya adalah bagian dari pencaharian titik simpang dan mengakomodasikannya dengan transformasi cerita dan peran. Dan upaya itu adalah bagian dari pembebasan itu, dan upaya itu adalah bagin dari up grade itu, dan mengkalkulasi pada sejumlah pilihan, berlari, berjalan, dan berhenti di halte sampai ada bus yang membawa ke tujuan berikutnya.
*****
Ketegasan perlu diajak dalam beberapa hal yang memerlukan payung itu, setidaknya agar pengelolaan kebersamaan tadi bisa membawa perspektif dalam persuasi. Bahwa yang terjadi kemudian adalah ketidakmampuan menyelesaikan persoalan interaksi, itulah gambaran tentang leadership yang belum matang. Riteme yang dibawa tergantung suasana peserta, tergantung siapa yang banyak omong, dan tidak bisa mencerna tentang asa dan peluang. Yang ada kemudian adalah berusaha untuk tidak terjadi riak dengan bersenandung bahwa laut tetap berwarna biru, padahal tidak jua secerah yang diceritakan dalam sketsa ruang.
Selama rentang waktu itu, semakin jelas permainan peran yang dikedepankan. Tentang anomali orang bermental banci, tentang peran dominan yang hanya jago kandang, tentang gaya preman yang bermental lontong sayur. Tentang pemutarbalikan opini, tentang ego sektoral yang merasa sebagai tokoh protagonis. Itu tidak bisa dikelola oleh gaya amatir yang menjadikan semua sebagai fragmen tanpa adrenalin. Bahwa semakin jelas duduk ceritanya, tentang kedengkian yang menahun, tentang sms (senang melihat orang susah atau susah melihat orng senang), dikompulasi dengan gaya seorang bujang lapuk yang gagah gemulai, merasa sudah menjadi bintang sinetron pendekar tak punya nyali.
Ya, kepemimpinan adalah bagian dari pengaturan itu. Sayangnya tak mampu untuk menjabarkannya apalagi merangkul untuk berjalan bersama, berlari bersama. Maka bagian yang paling mampu diterangkan adalah episode berjabat tangan, membuka senyum, lalu mengisi alinea dengan berbagai disposisi tanpa pernah menjamah solusi permanen. Bedanya hanya, preman lontong tidak lagi mengumbar gaya bicara bermental autis, atau si gagah gemulai yang semakin renta sikap, kaku gaya dan (paling tidak akan menjadi jompo tanpa nilai keluarga dan kasih sayang).
Tapi, hari tidak harus selasa melulu, hari tidak harus gulita melulu. Maka upaya adalah bagian dari pencaharian titik simpang dan mengakomodasikannya dengan transformasi cerita dan peran. Dan upaya itu adalah bagian dari pembebasan itu, dan upaya itu adalah bagin dari up grade itu, dan mengkalkulasi pada sejumlah pilihan, berlari, berjalan, dan berhenti di halte sampai ada bus yang membawa ke tujuan berikutnya.
*****
Thursday, January 03, 2008
Kabar
Kabar sesungguhnya adalah gubahan bayu yang dikumandangkan dengan frekuensi kadar telinga based on susunan kalimat yang dicelupkan pada pemahaman isian. Kabarku baik-baik saja, dan sentuhan bunyi itu memastikan bahwa ada yang sudah ditumpahkan dengan lentingan nada dan diterima dengan senyum bergaris lembayung.
Dan kabar yang membawa pada cerita jalan, cerita sepanjang jalan, cerita selama memandang, cerita selama menyapa adalah ukuran yang disematkan pada sejumlah pin dan merekamnya pada perspektif dan persepsi diri. Tak perlu jua memastikan pemahaman orang lain jika cerita hati ingin dilagukan pada senandung harap yang belum tersntuh.
Oleh-oleh dari sejumlah halte yang kusinggahi adalah penyertaan pada pandangan biru muda dan menarikannya dengan irama sentuh. Cerita dari sejumlah ruang yang kusinggahi adalah memastikan bahwa tempat yang telah kupesan adalah keharusan untuk menikmatinya walaupun sesaat dan mencoba mengabarkan pada sekeliling bahwa aku pernah ada, aku pernah datang, aku pernah sapa.
Oleh-oleh dan cerita itu sudah kukemas dan kubacakan pada sebuah prasasti bahwa setiap langkah yang kudapatkan adalah menyertakan kabar pada sejumlah jendela pandang, dan melepaskan rindu hati dengan nyanyian tanpa syair. Dan kabar yang dilepaskan adalah mengurai kata hati dengan segelas minuman dingin, mereguknya dan mengulanginya lagi sembari menjelaskan pada billboard bahwa aku pernah cerita, aku pernah kabarkan ke khasanah luas.
Lama tak berkabar
Karena musim ingin bercerita
Lama tak bercerita
Karena musim ingin menyapa
Lama tak menyapa
Karena musim ingin memandang
Bukankah tidak harus selalu pada dialektika
Ketika genggaman mampu menjamah alunan
Bukankah tidak harus selalu pada jendela
Ketika angin bertiup menyampaikan dingin
*****
Dan kabar yang membawa pada cerita jalan, cerita sepanjang jalan, cerita selama memandang, cerita selama menyapa adalah ukuran yang disematkan pada sejumlah pin dan merekamnya pada perspektif dan persepsi diri. Tak perlu jua memastikan pemahaman orang lain jika cerita hati ingin dilagukan pada senandung harap yang belum tersntuh.
Oleh-oleh dari sejumlah halte yang kusinggahi adalah penyertaan pada pandangan biru muda dan menarikannya dengan irama sentuh. Cerita dari sejumlah ruang yang kusinggahi adalah memastikan bahwa tempat yang telah kupesan adalah keharusan untuk menikmatinya walaupun sesaat dan mencoba mengabarkan pada sekeliling bahwa aku pernah ada, aku pernah datang, aku pernah sapa.
Oleh-oleh dan cerita itu sudah kukemas dan kubacakan pada sebuah prasasti bahwa setiap langkah yang kudapatkan adalah menyertakan kabar pada sejumlah jendela pandang, dan melepaskan rindu hati dengan nyanyian tanpa syair. Dan kabar yang dilepaskan adalah mengurai kata hati dengan segelas minuman dingin, mereguknya dan mengulanginya lagi sembari menjelaskan pada billboard bahwa aku pernah cerita, aku pernah kabarkan ke khasanah luas.
Lama tak berkabar
Karena musim ingin bercerita
Lama tak bercerita
Karena musim ingin menyapa
Lama tak menyapa
Karena musim ingin memandang
Bukankah tidak harus selalu pada dialektika
Ketika genggaman mampu menjamah alunan
Bukankah tidak harus selalu pada jendela
Ketika angin bertiup menyampaikan dingin
*****
Wednesday, December 26, 2007
Makin Jelas
Terbukti dan makin jelas bentuk dan lekuk yang kau kumandangkan setiap depa yang kau bisikkan pada sejumlah boneka. Dan harus kujelaskan pada sisi kebersamaan manakala ada sebuah tanya untuk menyimpulkan. Dan sesungguhnya laku sikap yang kau bentangkan pada sejumlah risalah adalah memastikan titik iri pada koridor ruang yang tak mampu dilepas dari ikatan lagu dengki. Dengki seumur perjumpaan yang dijelaskan melalui bahasa tubuh adalah kepastian yang mengizinkan aku menyatakan bahwa engkau adalah testimoni yang tak ingin disapu awan.
Engkau adalah bayu yang tak mampu menyapu seraut wajah untuk berpose pada highlight memutihkan pohon. Bahwa naluri yang engkau paku pada sejumlah judul adalah ketidakmampuan mengejawantahkan argumentasi berbasis kolektivitas. Engkau pikir engkaulah yang paling bersuara padahal semakin engkau bersuara semakin jelas kesimpulan berbaris kata yang dapat dituliskan. Tidak hanya aku, pada sejumlah boneka pun engkau jahit kemunafikan yang dibungkus dengan lagu hymne, seakan judul yang dinyanyikan adalah pusat kebenaran.
Engkau adalah pencetus opini naluri liar yang tak mampu membendung rangkaian kalimat dengan senandung melodi. Engkau adalah kekasih autis dan tak mampu menyuarakan kemerdekan peran pada ruang sekitar. Dengkimu adalah catatan kemunafikan yang mematrikan kolokasi antara egosentris dan arogansi. Bumbunya adalah racikan akumulasi berwarna comberan hitam. Dan sajiannya adalah secangkir aroma pahit yang tak lagi dirasa sebagai satu rasa. Sayangnya engkau tak mampu mengajak berteriak bersama karena mentalmu ternyata hanya nyanyian ayam sayur tanpa sayur lodeh.
Makin jelas ketika sebuah nilai dikumandangkan, engkau sekali lagi tak mampu membawa kebebasan hatimu pada skenario persepsi dan pespektif. Yang ada hanyalah tumpukan catatan yang telah menjadi bukti kepiawaianmu memainkan halaman bertuliskan pertanggungan moral yang sesungguhnya tak mampu engkau samadengankan karena pertanggungan akhir tahun sudah selesai. Dan yang tertinggal pada lacimu adalah tumpukan bukti yang menjelaskan definisi tentang kemunafikan. Yang tinggal pada lacimu hanyalah tumpukan berlabel operasional yang engkau anggap sebagai plat hitam. Serombongan semut hitam menitip salam : arogansi itu adalah saudara tiri ego dan masih sepupu dengan naluri iri.
****
Engkau adalah bayu yang tak mampu menyapu seraut wajah untuk berpose pada highlight memutihkan pohon. Bahwa naluri yang engkau paku pada sejumlah judul adalah ketidakmampuan mengejawantahkan argumentasi berbasis kolektivitas. Engkau pikir engkaulah yang paling bersuara padahal semakin engkau bersuara semakin jelas kesimpulan berbaris kata yang dapat dituliskan. Tidak hanya aku, pada sejumlah boneka pun engkau jahit kemunafikan yang dibungkus dengan lagu hymne, seakan judul yang dinyanyikan adalah pusat kebenaran.
Engkau adalah pencetus opini naluri liar yang tak mampu membendung rangkaian kalimat dengan senandung melodi. Engkau adalah kekasih autis dan tak mampu menyuarakan kemerdekan peran pada ruang sekitar. Dengkimu adalah catatan kemunafikan yang mematrikan kolokasi antara egosentris dan arogansi. Bumbunya adalah racikan akumulasi berwarna comberan hitam. Dan sajiannya adalah secangkir aroma pahit yang tak lagi dirasa sebagai satu rasa. Sayangnya engkau tak mampu mengajak berteriak bersama karena mentalmu ternyata hanya nyanyian ayam sayur tanpa sayur lodeh.
Makin jelas ketika sebuah nilai dikumandangkan, engkau sekali lagi tak mampu membawa kebebasan hatimu pada skenario persepsi dan pespektif. Yang ada hanyalah tumpukan catatan yang telah menjadi bukti kepiawaianmu memainkan halaman bertuliskan pertanggungan moral yang sesungguhnya tak mampu engkau samadengankan karena pertanggungan akhir tahun sudah selesai. Dan yang tertinggal pada lacimu adalah tumpukan bukti yang menjelaskan definisi tentang kemunafikan. Yang tinggal pada lacimu hanyalah tumpukan berlabel operasional yang engkau anggap sebagai plat hitam. Serombongan semut hitam menitip salam : arogansi itu adalah saudara tiri ego dan masih sepupu dengan naluri iri.
****
Tuesday, December 18, 2007
Jadi Tetaplah....
Ulangtahun adalah sebuah catatan ketika kita telah mencapai putaran tanpa pernah tahu sampai dimana batasnya. Dan dengan itu jua kita bisa menyatakan pada khalayak bahwa kisah perjalanan tidak sebatas merayakan seremoni tetapi yang lebih pelangi adalah mencoba memaknainya dengan kecerdasan rasio dengan perban rasa. Bingkai tulisannya adalah : kaligrafi perwujudan syukur tanpa harus berproklamasi.
Bahwa titik raya yang menjadi ungkapan untuk menyatakan tidaklah jua harus berada pada palka yang bernama hari yang sama. Sebab nun jauh di ruang lapang yang lain telah pula dinyanyikan sambutan yang mengiramakan rasa ikut bersenang hati menyanyikannya di sendiri hati. Jadi tetaplah berlangsung walau tak harus sua, dan tetaplah senyum walau tak harus sapa karena langit telah menyampaikan pesan bahwa saatnya tidak untuk bersulang untuk sebuah hari.
Bahwa titik raya yang menjadi ungkapan untuk menyatakan tidaklah jua harus berada pada palka yang bernama hari yang sama. Sebab nun jauh di ruang lapang yang lain telah pula dinyanyikan sambutan yang mengiramakan rasa ikut bersenang hati menyanyikannya di sendiri hati. Jadi tetaplah berlangsung walau tak harus sua, dan tetaplah senyum walau tak harus sapa karena langit telah menyampaikan pesan bahwa saatnya tidak untuk bersulang untuk sebuah hari.
Jadi, tetaplah menyapa hari dengan santun diri tanpa harus menyobek kertas yang tak ditulis apa-apa. Dan tetaplah menjadi sebuah cahaya yang mampu menyemburatkan cahaya kunang-kunang yang menghias langit malam. Selamat ulang tahun, semoga ridhoNya senantiasa disapukan dan diusapkan pada sebuah hati yang selalu bening.
****
Monday, December 17, 2007
Pelangi Mimpi
Kucoba, dan tiba-tiba saja mengalir dan menjelaskan kearah mana perspektif yang hendak dijelajah. Kutulis dan kuimpikan saja sembari menyatakan garis seandainya menjadi landai. Seandainya pantai menjadi landai dan ramah menyambutku. Kuimpikan jua selagi masih bisa menyambungnya dengan rajutan yang belum tergapai dan selesai apalagi sampai. Dan pencarian tidaklah harus serumit meruntun baris kata karena sudah tersedia di kotak pipih yang berwarna hitam legam. Dan kucentang saja pada setiap selang mimpi yang kusulam menjadi sebuah judul : menaruh perahu di pasir putih sembari mengharap ombak datang menjemput dengan riak keramahan.
Mendung di luar tidaklah menjadi soal sebab aku masih ada di ruang kehangatan dan masih menjalani kisah cerita yang kurajut sendiri. Sekiranya jemputan menjelang dan mengabarkan, apa pun itu isi kabarnya tetaplah aku ingin sampaikan pada segumpal awan bahwa setidaknya mimpiku yang sebenarnya adalah pencarian pada tersibaknya ruang celah untuk kembali menyapa dan menata, dan menerbitkan cerita fajar pada sejumlah burung yang bernyanyi di sinar pagi.
Sejumlah arah kusimak dan kusibak, dan menyatakan pada rangkuman isi bahwa halte yang diisi gerimis sepanjang hari adalah mencoba mengambil peran pada sisi yang menjadi pijakan alinea. Agar aku tidak ketinggalan alinea, agar aku tidak ketinggalan kereta, agar aku tidak ketinggalan suasana. Dan sejumlah asumsi memberikan gerakan bathin bahwa bisa saja kelokan menjadi batas yang kutemui pada sejam sehari waktu ke depan, setidaknya ketika menggoreskannya pada sejumlah arah.
Dan kugaris
Dan kulipat
Dan kusimpan
Dan kulumat
Dan kusampaikan
Pada sejumlah sinar yang mampu menghangatkan
Pada sejumlah kehangatan yang mampu menyapu
Untuk catatan berikutnya
Untuk alinea selanjutnya
Untuk memetik catatan pelangi mimpi
****
Sunday, December 16, 2007
Ruang, Jalan
Jalan-Jalan Sepanjang Pekan
Jalan-jalan melingkari hari dan menuntaskan catatan yang ingin disamadengankan. Maka jalanlah aku selama sepekan menyambut matahari di timur, barat dan selatan. Menikmati suasana yang memang menjadi pinanganku selama ini. Menikmati aroma kehijauan yang memang menjadi auraku selama ini. Berjalan, menatap, meluaskan siar pandang seluas yang diperoleh, dan mendengarkan bahasa alam dengan catatan hati yang tanpa mengedip.
Ya tanpa mengedip walau tak harus berkata, walau tak harus berucap. Dan sebaris ruang pandang yang kulirik seperti menyambutku dengan kesegaran nuansa dan mempersilakan untuk melanjutkan perjalanan. Dan aku terus berjalan, menelusuri, menjelajah dan menyatukan dengan segenap keindahan yang kuselipkan. Dan jadilah pekan berwarna warni, dan hijau kesegaran adalah naluri yang mampu menciptakan kehalusan etika ketika kejenuhan menjadi headline yang tak tersingkap.
Betapa keindahan itu adalah catatan yang tak berkesudahan dan mampu mendudukkan dan menundukkan tema cerita yang hendak ditulis. Betapa kehijauan itu adalah anugerah yang tak dapat dinilai dengan kurs apapun kecuali kesediaan hati untuk bercengkerama dengannya. Dan jalan-jalan sepanjang pekan ini adalah pendapatan kesegaran yang kutabung pada setiap sendi nadi dan kelak menjadi analogi pada sejumlah catatan dan paragraf yang masih belum selesai.
Bahwa aku merasa dihadapan
Bahwa aku merasa dikedepankan
Bahwa aku merasa didepan kehijauan
Dan kesegaran ruang pandang adalah palung cerita untuk diendapkan pada ruang hati dan menjadi menu tambahan yang memperindah sejumlah alinea, sejumlah baris kalimat.
*****
Sebuah Nilai
Sebuah nilai, dan sejauh itu perolehan yang didapat adalah penjelasan tentang soal yang tak seirama dengan peran selama ini. Dan sejauh itu jua ketika berhadapan dengan perjumpaan yang apresiasinya adalah tidak pernah menjaga rasa apalagi menjunjung kesetaraan. Perubahan, dan bentuk singgungan nilai yang diumumkan adalah memastikan bahwa sejauh perjalanan itu, adalah keniscayaan yang tak beroleh tempat, dan selalu dicontohkan dengan peran yang meminggirkan jurusan.
Bukti adalah perubahan nilai itu, dan bukti waktu adalah keidaksamaan yang diperoleh sebagai catatan yang mengurai pada seumlah sudut pandang, dan seakan tidak punya celah untuk menyalip kesetaraan dan kebersamaan. Lantas tak perlu jua untuk dijabarkan kecuali menyatakan penghapusan pada sub tema yang menjadi judul sepanjang jalan.
Bahwa sejumlah argumen menjadi patah, ada benarnya untuk ditanam dalam, dan menguburnya dengan keyakinan diri bahwa keniscayaan pada nilai itu adalah hakekat yang ingin digenggam tanpa harus mengumbarnya pada setumpuk baris kata di depan trotoar.
Ya sudah,
Toh catatan yang tergaris adalah menafikan segenggam arus kalimat yang tak terbendung pada musim yang tak terdeteksi. Dan nilai perjalanan itu adalah paradigma yang dapat menjelaskan duduk cerita di hadapan keagungan, bahwa ketulusan adalah bening kaca yang mampu mengantarkan hidangan penyegar raga, dan menyemaikannya pada dada keheningan pada sujud dinihari. Betapa Engkau mendengarkan dan mencatatnya selama ini, wahai Zat yang memutlakkan definisi.
*****
Jalan-jalan melingkari hari dan menuntaskan catatan yang ingin disamadengankan. Maka jalanlah aku selama sepekan menyambut matahari di timur, barat dan selatan. Menikmati suasana yang memang menjadi pinanganku selama ini. Menikmati aroma kehijauan yang memang menjadi auraku selama ini. Berjalan, menatap, meluaskan siar pandang seluas yang diperoleh, dan mendengarkan bahasa alam dengan catatan hati yang tanpa mengedip.
Ya tanpa mengedip walau tak harus berkata, walau tak harus berucap. Dan sebaris ruang pandang yang kulirik seperti menyambutku dengan kesegaran nuansa dan mempersilakan untuk melanjutkan perjalanan. Dan aku terus berjalan, menelusuri, menjelajah dan menyatukan dengan segenap keindahan yang kuselipkan. Dan jadilah pekan berwarna warni, dan hijau kesegaran adalah naluri yang mampu menciptakan kehalusan etika ketika kejenuhan menjadi headline yang tak tersingkap.
Betapa keindahan itu adalah catatan yang tak berkesudahan dan mampu mendudukkan dan menundukkan tema cerita yang hendak ditulis. Betapa kehijauan itu adalah anugerah yang tak dapat dinilai dengan kurs apapun kecuali kesediaan hati untuk bercengkerama dengannya. Dan jalan-jalan sepanjang pekan ini adalah pendapatan kesegaran yang kutabung pada setiap sendi nadi dan kelak menjadi analogi pada sejumlah catatan dan paragraf yang masih belum selesai.
Bahwa aku merasa dihadapan
Bahwa aku merasa dikedepankan
Bahwa aku merasa didepan kehijauan
Dan kesegaran ruang pandang adalah palung cerita untuk diendapkan pada ruang hati dan menjadi menu tambahan yang memperindah sejumlah alinea, sejumlah baris kalimat.
*****
Sebuah Nilai
Sebuah nilai, dan sejauh itu perolehan yang didapat adalah penjelasan tentang soal yang tak seirama dengan peran selama ini. Dan sejauh itu jua ketika berhadapan dengan perjumpaan yang apresiasinya adalah tidak pernah menjaga rasa apalagi menjunjung kesetaraan. Perubahan, dan bentuk singgungan nilai yang diumumkan adalah memastikan bahwa sejauh perjalanan itu, adalah keniscayaan yang tak beroleh tempat, dan selalu dicontohkan dengan peran yang meminggirkan jurusan.
Bukti adalah perubahan nilai itu, dan bukti waktu adalah keidaksamaan yang diperoleh sebagai catatan yang mengurai pada seumlah sudut pandang, dan seakan tidak punya celah untuk menyalip kesetaraan dan kebersamaan. Lantas tak perlu jua untuk dijabarkan kecuali menyatakan penghapusan pada sub tema yang menjadi judul sepanjang jalan.
Bahwa sejumlah argumen menjadi patah, ada benarnya untuk ditanam dalam, dan menguburnya dengan keyakinan diri bahwa keniscayaan pada nilai itu adalah hakekat yang ingin digenggam tanpa harus mengumbarnya pada setumpuk baris kata di depan trotoar.
Ya sudah,
Toh catatan yang tergaris adalah menafikan segenggam arus kalimat yang tak terbendung pada musim yang tak terdeteksi. Dan nilai perjalanan itu adalah paradigma yang dapat menjelaskan duduk cerita di hadapan keagungan, bahwa ketulusan adalah bening kaca yang mampu mengantarkan hidangan penyegar raga, dan menyemaikannya pada dada keheningan pada sujud dinihari. Betapa Engkau mendengarkan dan mencatatnya selama ini, wahai Zat yang memutlakkan definisi.
*****
Thursday, December 06, 2007
Betapa
Ananda,
Sejumlah catatan untuk mengisi hari adalah upaya untuk menebalkan keyakinan, pada lingkaran pengisian pola, pengisian ruang, pengisian cara. Dan semua adalah untuk memastikan betapa luasnya panorama yang engkau hadapi dan akan engkau jalani, bukan hanya sekedar rumah dan sekolah, atau bacaan novel sebagaimana isian waktu yang memenuhi segelas harimu.
Dan betapapun berat rasa untuk melepas barang beberapa waktu terbit matahari, adalah itu jua yang sejatinya akan menjelaskan padamu bahwa kemandirian dengan guru alam di ketinggian yang menyejukkan, yang engkau nikmati bersama, engkau hadapi bersama. Adalah itu untuk mendidik bahasa bathinmu, mendidik rasa rasiomu, mendidik matahatimu bahwa sesungguhnya isian manfaat yang selalu ayahanda inginkan adalah, melatih keluasan cara pandang, mengadoni cakrawala aneka warna, menanamkan ketegaran, mengasah aroma keindahan sejauh mata memandang dan memetiknya sebagai pelajaran kebesaran pemilik kesemestaan.
Ini adalah perjalanan yang kesekian, artinya engkau sudah terbiasa menghadapi cara, engkau sudah terbiasa menjalani dan menikmati bersama kelompok setia kawanmu. Dan itulah yang meringankan langkah, itulah yang memastikan arah bahwa tujuan adalah merangkum kesetiaan berbagi bersama, menawar bersama, menjalani bersama untuk kemudian diaduk menjadi olahan dan olesan yang mengaliri diri.
Dan jalankan itu dengan semangat ketegaran
Dan jalankan itu dengan sejuta nikmat membagi alam
Dan jalankan itu dengan keyakinan pasti
Bahwa ayahanda dan ibunda selalu mengalirimu dengan doa
Bahwa ayahanda dan ibunda selalu mengantarmu dengan senyum
Bukankah alam selalu menafsirkan kedekatan manakala kita mampu mendekatinya, menyalaminya dan mendekapnya dengan selimut malam berlapis embun bening. Bukankah itu sebuah definisi tentang keinginanmu yang ingin menyapa dedaunan di ketinggian jelajah. Bukalah matahatimu, agar engkau mampu menjalaninya dengan kepastian peran, keyakinan langkah dan memakunya dengan pijakan yang kukuh, istiqomah dan sirothol mustaqim.
Jalankan itu dengan senyum, ananda
Nikmati itu dengan doa, ananda
Semoga semakin menegaskan pada citra dirimu
Bahwa perjalanan adalah mengisi gelas air
Untuk membeningkannya pada ruang dada
(Betapa ayahanda sangat menyayangimu)
****
Sejumlah catatan untuk mengisi hari adalah upaya untuk menebalkan keyakinan, pada lingkaran pengisian pola, pengisian ruang, pengisian cara. Dan semua adalah untuk memastikan betapa luasnya panorama yang engkau hadapi dan akan engkau jalani, bukan hanya sekedar rumah dan sekolah, atau bacaan novel sebagaimana isian waktu yang memenuhi segelas harimu.
Dan betapapun berat rasa untuk melepas barang beberapa waktu terbit matahari, adalah itu jua yang sejatinya akan menjelaskan padamu bahwa kemandirian dengan guru alam di ketinggian yang menyejukkan, yang engkau nikmati bersama, engkau hadapi bersama. Adalah itu untuk mendidik bahasa bathinmu, mendidik rasa rasiomu, mendidik matahatimu bahwa sesungguhnya isian manfaat yang selalu ayahanda inginkan adalah, melatih keluasan cara pandang, mengadoni cakrawala aneka warna, menanamkan ketegaran, mengasah aroma keindahan sejauh mata memandang dan memetiknya sebagai pelajaran kebesaran pemilik kesemestaan.
Ini adalah perjalanan yang kesekian, artinya engkau sudah terbiasa menghadapi cara, engkau sudah terbiasa menjalani dan menikmati bersama kelompok setia kawanmu. Dan itulah yang meringankan langkah, itulah yang memastikan arah bahwa tujuan adalah merangkum kesetiaan berbagi bersama, menawar bersama, menjalani bersama untuk kemudian diaduk menjadi olahan dan olesan yang mengaliri diri.
Dan jalankan itu dengan semangat ketegaran
Dan jalankan itu dengan sejuta nikmat membagi alam
Dan jalankan itu dengan keyakinan pasti
Bahwa ayahanda dan ibunda selalu mengalirimu dengan doa
Bahwa ayahanda dan ibunda selalu mengantarmu dengan senyum
Bukankah alam selalu menafsirkan kedekatan manakala kita mampu mendekatinya, menyalaminya dan mendekapnya dengan selimut malam berlapis embun bening. Bukankah itu sebuah definisi tentang keinginanmu yang ingin menyapa dedaunan di ketinggian jelajah. Bukalah matahatimu, agar engkau mampu menjalaninya dengan kepastian peran, keyakinan langkah dan memakunya dengan pijakan yang kukuh, istiqomah dan sirothol mustaqim.
Jalankan itu dengan senyum, ananda
Nikmati itu dengan doa, ananda
Semoga semakin menegaskan pada citra dirimu
Bahwa perjalanan adalah mengisi gelas air
Untuk membeningkannya pada ruang dada
(Betapa ayahanda sangat menyayangimu)
****
Sunday, December 02, 2007
Ritme, Oles
Hanya seremoni
Ritme seremoni perpisahan yang menjadi ungkapan bibir manis kira-kira berbunyi begini : Mohon maaf jika selama interaksi ada sikap yang kurang berkenan, hanya sebatas canda dan tidak bermaksud untuk menyakiti. Ungkapan yang klise dan cenderung tanpa makna karena sedikitpun tidak merasa datang dari ruang hati, ruang rasa. Hanya ungkapan lengkung bibir sebagai rukun acara formal untuk melepas. Sekedar ngomong untuk menggugurkan kewajiban.
Seringan itukah yang terungkap, itulah jika tak pandai memandang interaksi sebagai kesetaraan dan merasa hanya berada pada sudut pandang inner, merasa hanya berada pada planet homogen, hanya pandai mengumbar omong sekedar untuk menutupi belang pada dosa masa lalu, dan menikmati karma pada kunjungan rutinitas tanpa pernah selesai. Itulah sebutir kerikil yang ditendang menuju timur mata angin.
Tidak ada makna yang didapat ketika seremoni hanya dijadikan alat untuk pembenaran bahwa atas nama salah, atas nama khilaf, atas nama canda lantas ingin dikubur dengan ungkapan berbahasa seremoni. Lalu dimana tempatnya harkat dan martabat, apakah lantas ditinggalkan saja di terminal atau stasiun karena hanya sebatas canda, hanya sebatas ungkap. Padahal keseharian adalah catatan, keseharian adalah goresan, keseharian adalah baris kalimat, keseharian adalah mematahkan harkat dan menjual obral pada diskon swalayan cerita dan sikap.
Jalan adalah rangkaian kalimat dan jalan yang dituju adalah menuju gaya bahasa pasaran yang tak bernuansa intelektual. Hanya mampu membesarkan volume tanpa memikirkan equalizer kesetaraan rasa dengar, rasa empati dan rasa riang pada gendang telinga. Dan seremoni hanyalah titik sentuh sebuah fragmen, dan bukan menjadi bagian cerita yang hendak dituntaskan karena lapis sikap dan etika itu bukanlah untuk dicandakan jika sudah berada di wilayah konspirasi. Karma akan memberi jawaban dan sudah pula terlihat pada kunjungan rutinitas yang tanpa pernah selesai itu.
******
Senyum didulang
Syukur itu adalah memberitahu, syukur itu adalah memberi, syukur itu adalah menghidangkan, dan kebersamaan yang dibagi adalah menghidangkan silaturrahmi sembari mencicipi dan menghangatkan dengan omongan ringan, obrolan keakraban dan membawanya pada sosok kedekatan dan mendekatkan .
Bahwa cerita Jumat siang menjadi sesuatu yang membahagiakan, adalah itu yang menjadi tema ketika para sobat setia sengaja datang untuk melunaskan undangan, untuk membagi, untuk menikmati dan menceritakannya kembali pada ruang diri masing-masing. Bagiku juga sebuah kesegaran rasa ketika semua yang kuundang ternyata ada membawa diri dan hati untuk menyapa, ada dan merasa, bahwa kita adalah bagian cerita panjang yang memanjang sepanjang jalan cerita. Kita adalah kedekatan yang menjadi sebuah kisah tanpa pernah selesai karena kita mengariskan pada sebuah pernyataan : silaturrahmi adalah pepanjangan aktivitas dan membagi cerita dengan senyum didulang.
Maka, jalan cerita siang ini adalah olesan yang menjelaskan tanpa harus mengumumkannya pada sejumlah hari. Dan cerita siang ini adalah bagian dari menikmati kebersamaan yang selalu kita gariskan pada setiap langkah bermakna. Langkahku yang bermakna dan telah menyelesaikan itu adalah pernyataan sikap pada sebuah judul syukur yang hendak kukumandangkan. Da kehadiran mereka adalah bukti kesetiakawanan ketika ruang diri menyatakan bahwa pertemanan adalah sepanjang usia kerja dan menuliskannya pada prasasti untuk kelestariannya.
*****
Ritme seremoni perpisahan yang menjadi ungkapan bibir manis kira-kira berbunyi begini : Mohon maaf jika selama interaksi ada sikap yang kurang berkenan, hanya sebatas canda dan tidak bermaksud untuk menyakiti. Ungkapan yang klise dan cenderung tanpa makna karena sedikitpun tidak merasa datang dari ruang hati, ruang rasa. Hanya ungkapan lengkung bibir sebagai rukun acara formal untuk melepas. Sekedar ngomong untuk menggugurkan kewajiban.
Seringan itukah yang terungkap, itulah jika tak pandai memandang interaksi sebagai kesetaraan dan merasa hanya berada pada sudut pandang inner, merasa hanya berada pada planet homogen, hanya pandai mengumbar omong sekedar untuk menutupi belang pada dosa masa lalu, dan menikmati karma pada kunjungan rutinitas tanpa pernah selesai. Itulah sebutir kerikil yang ditendang menuju timur mata angin.
Tidak ada makna yang didapat ketika seremoni hanya dijadikan alat untuk pembenaran bahwa atas nama salah, atas nama khilaf, atas nama canda lantas ingin dikubur dengan ungkapan berbahasa seremoni. Lalu dimana tempatnya harkat dan martabat, apakah lantas ditinggalkan saja di terminal atau stasiun karena hanya sebatas canda, hanya sebatas ungkap. Padahal keseharian adalah catatan, keseharian adalah goresan, keseharian adalah baris kalimat, keseharian adalah mematahkan harkat dan menjual obral pada diskon swalayan cerita dan sikap.
Jalan adalah rangkaian kalimat dan jalan yang dituju adalah menuju gaya bahasa pasaran yang tak bernuansa intelektual. Hanya mampu membesarkan volume tanpa memikirkan equalizer kesetaraan rasa dengar, rasa empati dan rasa riang pada gendang telinga. Dan seremoni hanyalah titik sentuh sebuah fragmen, dan bukan menjadi bagian cerita yang hendak dituntaskan karena lapis sikap dan etika itu bukanlah untuk dicandakan jika sudah berada di wilayah konspirasi. Karma akan memberi jawaban dan sudah pula terlihat pada kunjungan rutinitas yang tanpa pernah selesai itu.
******
Senyum didulang
Syukur itu adalah memberitahu, syukur itu adalah memberi, syukur itu adalah menghidangkan, dan kebersamaan yang dibagi adalah menghidangkan silaturrahmi sembari mencicipi dan menghangatkan dengan omongan ringan, obrolan keakraban dan membawanya pada sosok kedekatan dan mendekatkan .
Bahwa cerita Jumat siang menjadi sesuatu yang membahagiakan, adalah itu yang menjadi tema ketika para sobat setia sengaja datang untuk melunaskan undangan, untuk membagi, untuk menikmati dan menceritakannya kembali pada ruang diri masing-masing. Bagiku juga sebuah kesegaran rasa ketika semua yang kuundang ternyata ada membawa diri dan hati untuk menyapa, ada dan merasa, bahwa kita adalah bagian cerita panjang yang memanjang sepanjang jalan cerita. Kita adalah kedekatan yang menjadi sebuah kisah tanpa pernah selesai karena kita mengariskan pada sebuah pernyataan : silaturrahmi adalah pepanjangan aktivitas dan membagi cerita dengan senyum didulang.
Maka, jalan cerita siang ini adalah olesan yang menjelaskan tanpa harus mengumumkannya pada sejumlah hari. Dan cerita siang ini adalah bagian dari menikmati kebersamaan yang selalu kita gariskan pada setiap langkah bermakna. Langkahku yang bermakna dan telah menyelesaikan itu adalah pernyataan sikap pada sebuah judul syukur yang hendak kukumandangkan. Da kehadiran mereka adalah bukti kesetiakawanan ketika ruang diri menyatakan bahwa pertemanan adalah sepanjang usia kerja dan menuliskannya pada prasasti untuk kelestariannya.
*****
Thursday, November 29, 2007
Titik
Bukankah titik adalah akhir, bukankah titik adalah usai tanpa jeda, bukankah titik adalah closing dan sekaligus menyudahi. Dan gumpalan yang dibawa bersamanya adalah menghempas cakram dan menghunjamkannya pada kedalaman ruang gelap. Dan jangan coba untuk mengolesnya dengan parfum atau bumbu penyedap, atau barangkali mencoba mengangkatnya kembali.
Dan hari yang engkau lalui adalah semesta yang tak mampu mengusir awan apalagi menyentuh dinding kebersamaan, betapapun engkau berupaya untuk memutihkannya. Karena ukiran tentang sosok dirimu adalah perlambang, adalah ikon yang telah mengoyak dinding yang lain selama unjuk sapa dan persentuhan ketidaksetaraan. Engkau adalah kedurjanaan yang mampu menjadi iringan doa, karena engkau adalah kezaliman itu sendiri. Engkau adalah pembawa titik yang tak dapat diteruskan dengan rayuan berwajah sendu seperti yang kau perlihatkan sebelumnya.
Engkau adalah simbol yang telah mencabik. Engkau adalah episode pertunjukan tiga tahun tanpa rehat dengan peran matador tanpa stadion. Yang engkau tunjukkan adalah kehebatan subyektivitas yang sesungguhnya adalah proklamasi keangkuhan tanpa fundamen etika. Etika itu yang telah kau sedot pada sekujur pengulitan diri tanpa merasa telah melakukan transfer pengkerdilan predikat. Dan predikat yang pantas digandeng di sekujur nadi hatimu adalah keangkuhan dengan bumbu penyedap yang bernama kerdil bathin karena engkau telah mengilhami tidak mampunya mengendalikan tata suara.
Dan titiknya adalah jelajah tanpa perlu menyinarkan jingga. Dan titiknya adalah eksplorasi tanpa kepesertaan naluri tenggang rasa. Biar semua tahu bahwa sikap adalah pengumuman pada sejumlah mata angin yang masih mampu menebarkan senyum, dan sekaligus mengirim salam usai tanpa jeda pada sebongkah hati yang tak memiliki nurani. Itulah engkau.
Dan hari yang engkau lalui adalah semesta yang tak mampu mengusir awan apalagi menyentuh dinding kebersamaan, betapapun engkau berupaya untuk memutihkannya. Karena ukiran tentang sosok dirimu adalah perlambang, adalah ikon yang telah mengoyak dinding yang lain selama unjuk sapa dan persentuhan ketidaksetaraan. Engkau adalah kedurjanaan yang mampu menjadi iringan doa, karena engkau adalah kezaliman itu sendiri. Engkau adalah pembawa titik yang tak dapat diteruskan dengan rayuan berwajah sendu seperti yang kau perlihatkan sebelumnya.
Engkau adalah simbol yang telah mencabik. Engkau adalah episode pertunjukan tiga tahun tanpa rehat dengan peran matador tanpa stadion. Yang engkau tunjukkan adalah kehebatan subyektivitas yang sesungguhnya adalah proklamasi keangkuhan tanpa fundamen etika. Etika itu yang telah kau sedot pada sekujur pengulitan diri tanpa merasa telah melakukan transfer pengkerdilan predikat. Dan predikat yang pantas digandeng di sekujur nadi hatimu adalah keangkuhan dengan bumbu penyedap yang bernama kerdil bathin karena engkau telah mengilhami tidak mampunya mengendalikan tata suara.
Dan titiknya adalah jelajah tanpa perlu menyinarkan jingga. Dan titiknya adalah eksplorasi tanpa kepesertaan naluri tenggang rasa. Biar semua tahu bahwa sikap adalah pengumuman pada sejumlah mata angin yang masih mampu menebarkan senyum, dan sekaligus mengirim salam usai tanpa jeda pada sebongkah hati yang tak memiliki nurani. Itulah engkau.
****
Monday, November 26, 2007
Keniscayaan
Engkau Adalah
Dataran tinggi yang disapa adalah menjelaskan suasana dialog dengan keramahan yang dijunjung sembari menghirup udara segar yang menebarkan keakraban nilai perjalanan. Ya, seperti untuk menyelesaikan janji, seperti untuk mengamini permintaan dan sekaligus menjawab ulangan pertanyaan, maka sambutan yang digelar sepanjang jalan adalah menilai kualitas janji dan mencoba menaruhnya kembali pada keranjang persepsi. Dan seperti biasa ketika menyapa dan disapa, adalah kesederhanaan yang bernilai silaturrahmi elegan yang engkau pertontonkan dihadapan, menyambut dengan senyum sembari bertutur kata yang menyejukkan.
Engkau memang kesimpulan itu
Engkau adalah kesederhanaan itu
Engkau bernilai kejernihan itu
Engkau mampu menjaga nilai perekat itu
Engkau persepsi substansi berlapis legit
*****
Logika yang hendak kau jawab
Logika yang hendak kau jawab adalah mendefinisikan kembali rantai yang belum lepas dari geriginya. Dan perjumpaan yang diinginkan adalah merajut tepian tanpa benang penyambung. Bagaimana sih logikanya, jelas menjadi sesuatu yang abstrak karena tidak ada yang mampu dipercikkan pada kanvas untuk menjadi lukisan. Tidak jua yang memaknai alinea, manakala hanya sebuah pertanyaan berbasis pernayataan yang tak perlu dijawab.
Oleh itu tidaklah ada sesiapa yang mampu untuk menjawab ruang tanya yang disiapkan sampai tiba saatnya ketika matahari harus pamit di batas cakrawalanya sembari titip pesan : toh aku akan tetap hadir di subuh esok menyambut kukuruyuk ayam jantan sekaligus mendefinisi ulang makna yang belum selesai.
Ya itu saja jawaban tanpa harus mengatakan. Toh sebuah janji tidak pernah melewati batas kesetiaan sebuah matahari yang selalu menjaga estetika kehadirannya. Dan perjanjian yang disepakati bukanlah untuk sekedar menandatangani, namun lebih dari itu, bahwa pagarnya adalah kemampuan untuk menjaga kesepakatan dan bermain di koridor itu. Dan logika definisi yang dikumandangkan tidak jua memastikan untuk merajut benang penyambung.
Maka jangan ada pemaksaaan untuk menyatakan definisi.
*****
Segumpal Kepal
Ada persamaan yang dikumpulkan manakala cerita pagi empat mata dibungkus dengan bahasa kesamaan pandang, apalagi kalau bukan tentang tema pergulatan lini tengah yang menjadi terpaan angin sepanjang musim. Semakin jelas saja jalan ceritanya, semakin luas saja rangkuman kisahnya, tapi aku tak perlu untuk menggoreskannya lagi, tak perlu untuk merambah wilayah hegemoninya karena toh sudah banyak yang tahu tentang jalan ceritanya. Bahwa dia adalah segumpal kepal, bahwa dia adalah seonggok tinju yang melunglaikan mental gabusnya. Dan dia memang gabus.
Bahwa kemudian ada persepsi yang sama adalah sebuah sama dengan. Bahwa kemudian ada jalinan yang dirangkum menjadi cerita searah tidak lagi menjadi jalinan titik bergaris tebal, karena semua yang dijelaskan itu, semua yang di curhatkan itu adalah persamaan linier yang menghasilkan kesimpulan idem. Maka cerita pagi empat mata itu adalah merangkum semua definisi dan menyimpannya dalam flashdisk kamar hati untuk diceritakan kembali kepada sanak saudara yang bermukim di hati. Agar mereka tahu tentang tema yang sudah menahun, agar mereka tahu tentang arogansi peran, agar mereka tahun tentang mental telunjuk lurus kelingking berkait. Agar mereka tahu tentang mental gabus yang dimilikinya. Hanya segitu saja.
*****
Titian hati
Pasanglah rindu di trotoar coklat sepanjang pagi
Niscaya sambutan akan mampu menepikan riak
Pasanglah sendu di seberang titian hati
Niscaya sambutan akan mampu menjanjikan teriak
(Pada sebuah argumen, pernyataan sikap yang menghidupkan suasana adalah sampling yang menyatakan prediksi berbasis hipotesis. Bahwa catatan rindu bukanlah untuk menyampaikan hasrat bukan pula untuk menyatakan aroma. Hanyalah dia yang mampu mengutus sekaligus memutus untuk disimpan kembali, untuk dibungkus lagi dan mengedarkannya sebatas ruang pandang).
(Pada sebuah halaman, tanaman hias yang diperbincangkan adalah mengupas judul keindahan, padahal nilai pandangnya hanyalah barisan dengan catatan : hanya itu saja auramu. Dan bincang angan yang terungkap adalah melepas kerinduan pada sebuah nama).
****
Semakin Jelas
Semakin jelas dan menampakkan kehampaan cara dan sikap. Dan dia telah menjadi catatan pinggir, pinggir comberan yang menghitam, kehilangan hakekat dan makna. Cara pandangnya hanyalah pusaran yang tak mampu mengoyak dedaunan, kecuali membuat deru. Cara pandangnya adalah memonopoli argumen tetapi dia tak pernah mampu memblokir kesiapan uji tanding. Dia tak mampu menjembatani logika kebersamaan dengan dukungan kesetaraan. Dia hanya mampu mendribel dan merasa menjadi pemain dominan. Adalah dia yang selalu mampu menghidupkan teori konspirasi bermental kekanak-kanakan dan menyiraminya dengan cairan berlabel : bahan tanpa etika.
Dengan sekutunya dia hanya mampu berceloteh karena perjumpaan di lingkaran, telah memberikan angka minus untuk seluruh keranjang yang disemayamkan di sisi diri. Dia hanya bisa bermain di episentrumnya dan tak mampu menggetarkan lingkungannya dengan getaran skala richter sekalipun, karena dia adalah pusat organ yang tak mampu menyelesaikan renang lintas pertarungan. Dia telah tercerabut dari akar dirinya sendiri. Dia telah menghunjamkan sebongkah noktah yang menjadikan dia seperti pelari yang tak mewakili siapapun. Tidak jua dengan dirinya. Semakin jelas sudah.
****
Dataran tinggi yang disapa adalah menjelaskan suasana dialog dengan keramahan yang dijunjung sembari menghirup udara segar yang menebarkan keakraban nilai perjalanan. Ya, seperti untuk menyelesaikan janji, seperti untuk mengamini permintaan dan sekaligus menjawab ulangan pertanyaan, maka sambutan yang digelar sepanjang jalan adalah menilai kualitas janji dan mencoba menaruhnya kembali pada keranjang persepsi. Dan seperti biasa ketika menyapa dan disapa, adalah kesederhanaan yang bernilai silaturrahmi elegan yang engkau pertontonkan dihadapan, menyambut dengan senyum sembari bertutur kata yang menyejukkan.
Engkau memang kesimpulan itu
Engkau adalah kesederhanaan itu
Engkau bernilai kejernihan itu
Engkau mampu menjaga nilai perekat itu
Engkau persepsi substansi berlapis legit
*****
Logika yang hendak kau jawab
Logika yang hendak kau jawab adalah mendefinisikan kembali rantai yang belum lepas dari geriginya. Dan perjumpaan yang diinginkan adalah merajut tepian tanpa benang penyambung. Bagaimana sih logikanya, jelas menjadi sesuatu yang abstrak karena tidak ada yang mampu dipercikkan pada kanvas untuk menjadi lukisan. Tidak jua yang memaknai alinea, manakala hanya sebuah pertanyaan berbasis pernayataan yang tak perlu dijawab.
Oleh itu tidaklah ada sesiapa yang mampu untuk menjawab ruang tanya yang disiapkan sampai tiba saatnya ketika matahari harus pamit di batas cakrawalanya sembari titip pesan : toh aku akan tetap hadir di subuh esok menyambut kukuruyuk ayam jantan sekaligus mendefinisi ulang makna yang belum selesai.
Ya itu saja jawaban tanpa harus mengatakan. Toh sebuah janji tidak pernah melewati batas kesetiaan sebuah matahari yang selalu menjaga estetika kehadirannya. Dan perjanjian yang disepakati bukanlah untuk sekedar menandatangani, namun lebih dari itu, bahwa pagarnya adalah kemampuan untuk menjaga kesepakatan dan bermain di koridor itu. Dan logika definisi yang dikumandangkan tidak jua memastikan untuk merajut benang penyambung.
Maka jangan ada pemaksaaan untuk menyatakan definisi.
*****
Segumpal Kepal
Ada persamaan yang dikumpulkan manakala cerita pagi empat mata dibungkus dengan bahasa kesamaan pandang, apalagi kalau bukan tentang tema pergulatan lini tengah yang menjadi terpaan angin sepanjang musim. Semakin jelas saja jalan ceritanya, semakin luas saja rangkuman kisahnya, tapi aku tak perlu untuk menggoreskannya lagi, tak perlu untuk merambah wilayah hegemoninya karena toh sudah banyak yang tahu tentang jalan ceritanya. Bahwa dia adalah segumpal kepal, bahwa dia adalah seonggok tinju yang melunglaikan mental gabusnya. Dan dia memang gabus.
Bahwa kemudian ada persepsi yang sama adalah sebuah sama dengan. Bahwa kemudian ada jalinan yang dirangkum menjadi cerita searah tidak lagi menjadi jalinan titik bergaris tebal, karena semua yang dijelaskan itu, semua yang di curhatkan itu adalah persamaan linier yang menghasilkan kesimpulan idem. Maka cerita pagi empat mata itu adalah merangkum semua definisi dan menyimpannya dalam flashdisk kamar hati untuk diceritakan kembali kepada sanak saudara yang bermukim di hati. Agar mereka tahu tentang tema yang sudah menahun, agar mereka tahu tentang arogansi peran, agar mereka tahun tentang mental telunjuk lurus kelingking berkait. Agar mereka tahu tentang mental gabus yang dimilikinya. Hanya segitu saja.
*****
Titian hati
Pasanglah rindu di trotoar coklat sepanjang pagi
Niscaya sambutan akan mampu menepikan riak
Pasanglah sendu di seberang titian hati
Niscaya sambutan akan mampu menjanjikan teriak
(Pada sebuah argumen, pernyataan sikap yang menghidupkan suasana adalah sampling yang menyatakan prediksi berbasis hipotesis. Bahwa catatan rindu bukanlah untuk menyampaikan hasrat bukan pula untuk menyatakan aroma. Hanyalah dia yang mampu mengutus sekaligus memutus untuk disimpan kembali, untuk dibungkus lagi dan mengedarkannya sebatas ruang pandang).
(Pada sebuah halaman, tanaman hias yang diperbincangkan adalah mengupas judul keindahan, padahal nilai pandangnya hanyalah barisan dengan catatan : hanya itu saja auramu. Dan bincang angan yang terungkap adalah melepas kerinduan pada sebuah nama).
****
Semakin Jelas
Semakin jelas dan menampakkan kehampaan cara dan sikap. Dan dia telah menjadi catatan pinggir, pinggir comberan yang menghitam, kehilangan hakekat dan makna. Cara pandangnya hanyalah pusaran yang tak mampu mengoyak dedaunan, kecuali membuat deru. Cara pandangnya adalah memonopoli argumen tetapi dia tak pernah mampu memblokir kesiapan uji tanding. Dia tak mampu menjembatani logika kebersamaan dengan dukungan kesetaraan. Dia hanya mampu mendribel dan merasa menjadi pemain dominan. Adalah dia yang selalu mampu menghidupkan teori konspirasi bermental kekanak-kanakan dan menyiraminya dengan cairan berlabel : bahan tanpa etika.
Dengan sekutunya dia hanya mampu berceloteh karena perjumpaan di lingkaran, telah memberikan angka minus untuk seluruh keranjang yang disemayamkan di sisi diri. Dia hanya bisa bermain di episentrumnya dan tak mampu menggetarkan lingkungannya dengan getaran skala richter sekalipun, karena dia adalah pusat organ yang tak mampu menyelesaikan renang lintas pertarungan. Dia telah tercerabut dari akar dirinya sendiri. Dia telah menghunjamkan sebongkah noktah yang menjadikan dia seperti pelari yang tak mewakili siapapun. Tidak jua dengan dirinya. Semakin jelas sudah.
****
Subscribe to:
Posts (Atom)