Tuesday, December 29, 2009

Doa Berlian Itu

Ya Allah,
Dihari yang indah kutebarkan s'buah doa untuk saudaraku, sahabat sejatiku yang baik hati dan sangat kukagumi..

Ya Allah,
Jadikanlah hari ini awal dari lembaran barunya wujud hari yang penuh berkah baginya,
Mudahkanlah segala urusannya, jadikan ikhlas dalam tiap tarikan nafasnya agar setiap aktivitasnya bernilai ibadah padaMu. Luruskan niatnya, lindungi dia dari hal-hal yang buruk, berikan kebahagiaan dan ridhoMu pada kehidupannya. Jadikanlah dia orang yang sukses, amien.
***
Bast

Doa-Doa Itu

Selamat Pak
Semoga keputusan yang diambil
Membuahkan hasil yang sesuai dengan keinginan dan harapan Om Jag berserta Keluarga
Saya yakin keputusan ini sudah terencana matang "selamat dan sukses selalu"
Salam kami sekeluarga untuk keluarga di rumah, semoga tali silaturahmi kita masih tetap terjalin

Wasalam Wr Wb
Fris & Kel
***

Bang Jack, kita baru masuk tahun baru hijriyah dan saya juga mengucapkan selamat berhijrah buat bang Jack sekeluarga meniti hari-hari baru tidak lagi sebagai seorang pegawai tapi beralih menjadi seorang enterpreneur yang mandiri.

Insya ALLAH langkah bapak ini menjadi langkah kanan, penuh barokah dari ALLAH SWT. Mohon maaf atas khilaf dan salah saya selama ini. dan salam untuk keluarga.

wassalam
Rzy
***

Assalamualaikum wr wb

Bang jack, rencana kami akan mengundang rekan2 . Mohon kehadiran rekan semua dan sesuai tradisi, kami akan memberikan cincin alumni kepada rekan2, untuk itu mohon info diameter ring cincin as soon as possible. Info kepastian pelaksanaan acara akan kami sampaikan setelah ada kepastian apel awal tahun dari corporate. Tks dan sekali lagi selamat, semoga sukses dunia dan akhirat kelak.

Wassalamualaikum wr wb
WS
****

Selamat Hijrah Bpk
Selamat berjuang kawan di lahan yang baru. semoga selalu diberikan kesehatan, rizki, keselamatan, kebahagian, petunjuk dan lindungan dari Allah SWT. amin.

Sebaliknya kami jg mohon maaf atas salah dan khilaf, dan semoga persahabatan kita tetap berlanjut.
Salam buat Keluarga.

Wassalam,
jc9
***

Ass. Wr. Wb.

Lima tahun telah berlalu,

Lima tahun kenangan itu terukir kembali, begitu indah

Lima tahun aku merasakan kebersamaan ini

Waktu berlalu begitu cepat,

Kesedihanpun semakin dalam kurasakan

tak terasa air mata menemani jua

Aku sadar aku bukan siapa-siapa,

Namun rasa ini tak pernah bisa dibohongi.


Kini sebentar lagi kau akan meninggalkan pos,

Tempat dimana kita semua selalu berkumpul,

Dikala salah satu diantara kita punya acara

Tak banyak ku berharap tuk bisa bertemu,

berkumpul seperti dulu lagi

karena lembaran baru telah terbentang didepanmu,

namun....kau selalu dalam kenanganku dan

Ijinkan aku tuk tetap mengagumimu

Ijinkan aku tuk mengantarmu

dengan untaian do'a

Selamat jalan sahabat sejatiku,

selamat mengarungi kehidupan barumu

Semoga kau selalu dalam naungan kasih sayang dan

ridho ILLAHI ROBBI amien.

Jangan lupa do'akan aku agar tidak bersedih dan

bisa melupakan semuanya

Maafkan aku.

Wassalam

AWL

Wednesday, December 02, 2009

Replay

Itulah yang gak nyambung di proses bisnis kita dan selalu lagu lama yang diperdengarkan, judulnya "Koordinasi". Bayangkan saja berapa M yang harus dikeluarkan membuat jalan tol yang bernama Met_e tapi ketika sudah jadi tau-tau pintu tolnya belum atau lupa dibuat, jadilah lalulintas itu gratisan dengan alasan amal jariyah.

Niat sebagian kita memang belum sampai pada hakekat bisnis, melainkan melewatkan hari dengan rutinitas clerikal, penginput, pencatat dan tandatangan. Kalau sudah lintas unit / bagian / sektor, woww huebbat banget, kayaknya bagian dia yang paling top, paling pintar tapi after that yang ada kemudian tak sampai mencetak goal karena memang tak mampu cetak goal.

Maka jangan salahkan kalau diperusahaan ini banyak benalu
Maka jangan salahkan kalau di perusahaan ini banyak bunga tak berkembang
Maka jangan salahkan kalau di perusahaan ini banyak orang amankan posisi
Maka jangan salahkan kalau di perusahaan ini banyak kedengkian

Maka jangan salahkan juga kalau sebagian orang ingin hijrah
Maka jangan salahkan juga kalau sebagia orang ingin menyeberang
Maka jangan salahkan juga kalau sebagai orang ingin merdeka

Sunday, November 22, 2009

Tidak Ingin

Apakah surya akan memberikan ruang hangat bagi satu pernyataan yang dihasratkan untuk dirangsang dengan kepastian, itulah space yang menggantung manakala batas yang diharapkan seakan sudah ada di sebuah surat keputusan. Surat keputusan bukanlah suratan keputusasaan yang dijahit dengan ketidakinginan untuk melanjutkan, tetapi tidak lain untuk memerdekakan harkat dan mengunjungi panorama lain untuk melukis yang bisa dicatatkan.

Menyisir hari adalah meyakinkan sebuah catatan manakala perjalanan sepanjang malam mengakhirkan jua untuk sebuah tujuan, tidak lagi menghampiri ruang keberangkatan yang sudah diseberangkan dengan doa dan keyakinan. Tidak lagi me rewind putaran itu karena ingin menggapai selat yang di ujungnya ada penciptaan harapan. Begitu pun tetaplah dijalankan dengan ruang pandang jernih sembari membersihkan jendela hati yang berembun sejak pagi yang mengisyaratkan ada perbedaan suhu untuk menyikapi sebuah sinar surya yang akan memberikan ruang hangat bagi sebuah diri.

Wednesday, November 11, 2009

Apakah Kita Tidak Menyadari

Apakah kita tidak menyadari rangkaian testimoni dan pengakuan dua minggu ini adalah sebuah pertanda, sebuah alamat yang ingin mengajak kita untuk berbuka, membuka dan dibuka bersama. Apakah kita tidak menyadari isak tangis yang dipertontonkan itu adalah bagian dari skenario Tuhan untuk membuka kebusukan, kehinaan dan yang sederajat dengannya manakala kita sudah tertutup awan kemunafikan berselimut rupiah haram. Apakah kita tidak menyadari rangkaian sumpah dengan menyebut nama Tuhan dan disiarkan langsung itu akan memberikan gaung yang mengaum melintas generasi penyampai sumpah jika hanya gelas tanpa isi.

Lalu mengapa Tuhan tidak menampakkan diriNya atau jangan-jangan malah ikut menonton siaran langsung itu. Atau -meminjam istilah Massardi yang baca puisi di bundaran HI- jangan cepat-cepat mengadu pada Tuhan karena ini negeri para bedebah. Ada dua ruang jawab berbisik di kamar hati nurani ketika menyapa dinihari, adalah karena ini bukan tanah suci, bisa jadi tidak langsung dibayar tunai olehNya. Adalah ini ujian nasional yang seluruh soalnya tidak ada di BAP, tidak ada di testimoni, tapi di suara hati yang ingin mengajak ummat berlaku kembali pada khittah fitrah, bukan merayakan fitrah seperti pada idul fitri.

Lalu mengapa kita tidak menyadari juga manakala negeri ini selalu digoyang gempa seperti makan obat, tiga kali sehari, sampai ada yang menyatakan negeri ini adalah supermarket disaster. MasyaAllah, mengapa kita tidak menyadari jua atau kita menganggap itu bagian dari sinetron breaking news yang mampir di stasiun televisi seluruh dunia. Lantas dengan cara apalagi sekolah keimanan ini disusupkan pada sebongkah hati yang merah darah jika kemudian sertifikat yang dihasilkan berkali-kali hanya dilipat di laci tanpa perlu mendiskusikannya dengan nurani.

Ketika para teroris dihabisi dengan menyebut nama Tuhan, lalu mengapa korupsi, kolusi tidak dihabisi dengan menyebut nama Tuhan, tetapi malah diperdebatkan juga dengan nama Tuhan, membawa nama Tuhan, ada yang pakai Lillahitaala, ada yang pakai Demi Allah. Sebegitu hebatkan kita sampai menjual nama Tuhan padahal baju yang kita pakai adalah kemunafikan dan kefasikan. Sebegitu maha kah kita berani-beraninya menjual nama Tuhan untuk sebuah jabatan yang mati-matian dipelihara.

Wahai Allah, maafkanlah kami yang banyak dusta
Wahai Allah, ampunilah kami yang munafik ini
Wahai Allah, goreskanlah nur hidayahMu di pembuluh nadi kami
(Kami meyakini karena Rahman dan RahimMU mengalahkan AmarahMU, sehingga kami masih bisa terhindar dari azab dan malapetakaMU)
****

Sunday, November 08, 2009

Bukankah?

Titip salam dengan seikat kembang sembari memandangi punggung gunung Ungaran sebelah barat laut, dan melemparnya pada air yang mengalir deras berbuih lalu menyampaikannya pada laut Jawa sembari bertanya: Dimanakah muara itu wahai pantaiMu yang indah?

Lalu Engkau bisikkan pada hati yang pulas dinihari : Bukankah muara itu adalah batas dimana dirimu harus memastikan dan membedakan rasa air laut dan danau bening, karena kegelisahan itu adalah asa yang harus dicelup dengan air putih untuk bisa menjelaskan pada langit biru bahwa di muara itu sudah ada kepastian.

Monday, March 23, 2009

Tetap Berlian

Good Morning sedoyo, mohon maaf baru open imel this morning, soale minggu wingi cuti bertapa. Dalam bertapa itu aku menerawang, dan melihat konco lan sahabat podo seneng ati ne. So makna ne tidak semua yang kita inginkan bisa terlaksana. Maka aku menyadari bahwa jalan yang ada di depan adalah galian potensi untuk dilakoni saja tanpa harus meringis, tanpa harus meronta karena kasih sayang Allah itu adalah menguji ketabahan dan kesabaran lewat kezaliman lakon yang ditontonkan, lewat keangkuhan other person, lewat diskriminasi peran, lewat arogansi kepemimpinan, lewat interaksi yang primordial, lewat apa saja yang menjadi rambu untuk tetap istiqomah.

Aku mengharapkan doa para sahabatku yang cantik hati, dan manis lakon untuk mendoakan aku dapat menjalani hari-hari rutinku dengan indah dan santun. Bahwa keinginan untuk mengakhiri tidak selalu dengan pilihan putus di tengah jalan. Boleh jadi ada cara Tuhan yang Maha Baik untuk memberikan langkah lanjutan buatku, sampai kemudian cara Tuhan pula yang menarik diri untuk meninggalkan arena ketika ujian dan testimoni sempurna kujalani, dalam kacamata Dia.

Semoga persahabatan kita tetap berlian dan menjadi bagian dari keindahan sebuah silaturrahim yang telah terjalin sepanjang masa kerja. Tidak banyak orang bisa melakoni yang bisa kita jalani sepanjang ini, karena di lakon ini kita bisa mencerna semua makna, semua kejernihan menjadi result yang mengenggam jabat nurani untuk kita semua.

Monday, December 29, 2008

Sampai di Titik Simpang

Engkau datang ketika kulminasi mencapai titik sentuh, dan matahari enggan untuk menceritakan kehangatan. Dan kabar yang kau perlihatkan pada puluhan alinea seakan ingin menceritakan tidak usahlah bergumul pada satu simpul sedangkan simpul yang lain adalah cerita tentang keluasan pandangan, bukan hanya pada satu sudut yang sering membuat merah hati, merah nadi.

Dan ketibaanmu kusambut dengan kipas hati, hening ucap untuk memberikan jalan pada nafas diri yang sedang menjelajah angan. Kuceritakan jua pada pendamping hati, pada sosok yang selalu menjadi pakaian diri, pada seorang yang senantiasa tabah dan sabar mengisi hari rutin sepanjang asa, sepanjang cerita tentang asa.

Itulah pilihan ketika engkau datang mengabarkan asa yang lain ketika satu asa menjadi hitam tanpa bacaan, tanpa huruf dan tanpa warna. Bukankah pilihan itu jua yang akan memberikan ruang untuk menghirup udara segar hijau manakala ada otorisasi yang memberi bukaan portal untuk berjalan tak kembali. Bukankah itu pilihan yang akan mencari tahu sejauh mana pencapaian diri dapat memaksimalkan potensi untuk dikembangkan tanpa harus melihat kebelakang lagi. Tidak lagi karena sudah ada ruang luas yang bercerita berbaris-baris.

Kusambut engkau wahai titik kulminasi
Kusambut engkau wahai titik simpang
Kusambut engkau wahai titik finish
Kusambut engkau wahai titik koma
Untuk menuju titik selesai di satu halte
Dan memberi ruang pada tanda koma
Untuk sebuah kesempatan lain
Aku telah sampai di titik simpang
***

Sunday, December 21, 2008

Ketika Engkau Masih Bertanya

Jawabanku sederhana engkau adalah kezaliman itu. Lucunya engkau tanya lagi dengan mengundang khalayak untuk mencari aura wangi, padahal engkau adalah bunga layu itu. Kalau di depan wajah berganti rupa, berjabat tangan sepertinya easy going, sepertinya pemangku ramah hati dan ramah wajah. Padahal engkau adalah The Bad Father yang tak mampu menggali, yang tak mampu memilah, yang tak mampu menampung, yang tak mampu menyelesaikan.

Engkau adalah urat nadi yang tak mampu memerahkan arteri. Yang biasa engkau lakukan adalah menghindari dinamika konflik, bukan menyelesaikan konflik apalagi memberikan solusi. Engkau adalah keberpihakan karena engkau hanya mengutamakan sektor teknis dan mengabaikan peran kebersamaan yang menjadi motor kinerja. Engkau adalah nyali yang tidak bisa menyampaikan lewat bunyi langsung tetapi hanya berani untuk beradu dialog untuk inner cyrcle saja. Engkau adalah nyali yang tak mampu menghijaukan mata pandang, apalagi mata hati karena engkau tak memiliki ruh untuk menghembuskan damai dan sentosa

Maka
Kukatakan saja
Engkau adalah kezaliman itu
Yang telah memporakporandakan logika menjadi sampah
Yang telah menenggelamkan asa menjadi putus asa
Yang telah menghitamkan matahari menjadi segumpal noktah
Tanpa sinar
Tanpa cahaya

Karena cahayanya telah engkau tepikan dengan kezalimanmu
Robbi nazzini minal qoumi zholimiin

Tuesday, December 02, 2008

Ikhlas Kecil

Sebagai karyawan cilik sejatinya aku sangat prihatin dengan kondisi perusahaan dimana aku bekerja. Sepanjang sejarah usahanya perusahaanku ini selalu tumbuh dengan baik dan menghasilkan profit margin yang cemerlang, sekaligus mampu memberikan nilai kesejahteraan bagi semua strata karyawannya. Namun untuk tahun ajaran marketing tahun ini, sinar cemerlang itu tidak lagi sejernih sinar mentari tahun-tahun sebelumnya. Ada mendung yang menggantung dan cuaca pun mulai tidak bersahabat. Grafik pertumbuhan pendapatan tidak lagi bernilai senyum. Memang masih ada senyum, tapi senyum yang bernuansa keterpaksaan sembari menahan suasana rasa yang tidak karuan. Begitupun sebagai karyawan kecil aku harus bisa memberikan kontribusi sekecil apapun. Dan yang kulakukan adalah memberikan komunikasi pada warga di sekitarku, apakah melalui komunikasi guyon, informal atau dalam pertemuan formal antarwarga.

Setidaknya sudah ada 32 tetangga dan saudara yang kuinformasikan untuk tetap mempertahankan pstnnya dan memberikan apresiasi pada kelebihan yang dimiliki flexi. Secara kuantitas masih sedikit memang dan bahasa yang kusampaikan juga tidaklah muluk-muluk amat. Sekedar memberikan argumen semangat agar tetap mempertahankan pstn karena produk jenis ini adalah produk yang mampu memberikan kekuatan akan kualitas suara, akses speedy, anti jamming dan kelak menjadi saluran IPTV yang dapat dimanfaatkan setiap rumah tangga. Flexi juga memberikan kekuatan pada nilai pengorbanan uang yang demikian kecil dengan kemampuan teknologi cdma yang jernih dan bening. Itu yang bisa kulakukan dan walaupun secara kuantitas tidak banyak berpengaruh pada marketing perusahaanku, tapi setidaknya aku ingin bermarketing dengan cara yang ikhlas, tanpa pamrih, tidak perlu dilaporkan pada manajemen dan bagian dari kecintaanku pada perusahaan yang telah membesarkanku.

Ya, perusahaan ini telah membesarkanku
Ya, perusahaan ini telah mengajarkanku
Ya, perusahaan ini telah mengantarkanku
Semoga ikhlas kecil ini bisa menjadi sebutir doa untuk dipanjatkan
Pada kekuasaanNya yang menggenggam masa depan
Semoga perusahaanku bisa kembali mengolah going concernnya dengan cerdas
Dan menjalani hari hari sulit dengan kebersamaan dan semangat tanding
Semoga Allah meridhoinya, amien

Tuesday, November 25, 2008

Nur Imaji

Melukis tentang kamu adalah kegairahan tanpa awal yang (inginnya) mengalir seperti bening embun di lembah Merbabu. Sebab keniscayaan yang terpampang adalah keinginan untuk menjanjikan pita merah jambu pada sebuah gaun malam yang disemayamkan, pada raut wajah yang absurd, ketidaknyataan yang diaduk dengan ketidakpastian pada adonan tema yang dikumadangkan di bibir hati.

Yang kutahu adalah tentang keanggunan, tentang kearifan yang dibungkus dengan selendang keindahan berkerudung hijau muda, segar, seperti dedaunan pohon bukit asri yang meminta cahaya matahari pagi. Juga tentang kesederhanaan dan keberpihakan pada definisi obyektif tentang persepsi yang dikalimatkan dengan santunnya sejumlah kata yang dilayarkan di kaca monitor. Hanya itu, selain itu adalah silhoute yang tak ingin kunyatakan dengan sketsa karena bisa saja tidak sebanding dengan aroma yang kau sebarkan.

Maka engkau bisa ( sangat ) nikmati hari-harimu dengan khusyuk
Maka engkau bisa ( jadi ) menerbitkan kalimat replay untuk menyegarkan suasana
maka engkau bisa ( wajib) menerjunkan argumenmu yang cerdas nilai

Dan
Nikmati hari-hari cerdasmu dengan keyakinan
Nikmati harimu dengan bintang
Nikmati perjalananmu dengan hati-hati
Nikmati suasana ruangmu dengan hati

Semoga kelak menjadi bintang
Semoga kelak menjadi aura
Semoga kelak menjadi cahaya
Semoga kelak menjadi nur yang menghangatkan
Semoga

Ketika Tuhan memperlihatkan Kepemimpinan Yang Bijaksana

Barrack Hussein Obama terpilih secara mutlak menjadi presiden AS awal bulan Nopember ini, dan seluruh dunia menyambut dengan sukacita, bahkan Iran sebagai musuh nomor satu AS melalui presiden Ahmadinejad pagi-pagi sekali sudah mengucapkan selamat kepada Obama. Mengapa mayoritas penghuni permukaan bumi bulat bundar ini begitu heboh, begitu bersemangat mengikuti episode demokrasi paling meriah ini. Jawaban terangnya menjawab tuntutan hati nurani yang standar normanya sama, sama-sama muak dengan gaya kepemimpinan presiden sebelumnya yang arogan, diskriminatif dan cenderung diktator.

Nah, sekarang cobalah sejenak kita pandang wajah beberapa pemimpin negara yang menjadi “piaraan” AS selama ini setelah digantikan lebih dulu. Perdana Menteri Australia Kevin Ruud, atau Perdana Menteri Inggris Brown. Keduanya memiliki raut wajah yang tenang, gaya bahasa yang santun dan lebih sering mendengar daripada mengucapkan bahasa diplomasi bergaya hiperbol. Lihat jua si winner Obama, muda, enerjik, cerah, gigi bersusun putih rapi, menebar senyum penuh semangat, lincah dan bergairah. Lalu, bandingkan dengan Bush atau Howard atau Toni Blair. Dari wajahnya saja sudah mencerminkan citra kepemimpinan yang angkuh, merasa jagoan, bergaya cowboy, mengabaikan yang lain, standar ganda dan menzalimi berjuta orang.

Kalimat menzalimi itu lebih pas disematkan pada Bush yang merasa menjadi polisi dunia. Ironisnya ketika dia bersiap-siap lengser, diperlihatkan dengan nyata dan tragis bagaimana negeri adi daya itu lunglai dihantam krisis finansial yang membuatnya tak berdaya. Krisis terburuk sepanjang abad ini sejatinya adalah perbuatan Amerika sendiri sehingga ketika forum G-20 yang dilaksanakan baru-baru ini hampir semua negara Eropa terutama Perancis ingin “menghukum” Amerika yang membuat negara lain ikut menanggung derita.

Ketika si wajah flamboyan Bill Clinton mengakhiri jabatannya, dia mewariskan negara itu sebagai negara kaya raya, kemakmuran yang berkelimpahan dan masyarakat AS yang digdaya, gemar belanja, tak suka menabung, benar-benar menikmati hidup dengan sempurna. Nah ketika Bush berkuasa selama delapan tahun dengan style militan, beberapa kejadian tragis menimpa negeri itu yang mengakibatkan struktur ekonomi dan kekayaan negeri Paman Sam itu berangsur-angsur bangkrut. Sebut saja penghancuran gedung kembar WTC, perang Irak, perang Afganistan, perang melawan teror, konflik dengan Iran adalah ongkos ekonomi biaya tinggi. Seakan semuanya menjadi deret hitung dan dipungkasi dengan krisis finansial yang luar biasa. Cerita sejarah yang masih segar itu dalam bahasa religi adalah teguran sang Pencipta atas kepemimpinan yang tidak bijaksana.

Persoalan harga minyak misalnya, ketika menyentuh $ US.147 per barel beberapa bulan lalu, berapa milyar ummat manusia yang menjerit merintih sementara segelintir manusia kapitalis tertawa terbahak-bahak meraup keuntungan berlipat-lipat. Harga minyak yang normal menurut kalkulasi OPEC berkisar antara $ US 65-70 dipatahkan dengan senjata psikologis melalui asumsi-asumsi made in rekayasa dengan kondisi Teluk, dengan badai di Teluk Meksiko, dengan serangan teror di Nigeria. Yang ngomong itu kan makelar minyak, dan siapa sih makelar minyak paling akbar di muka bumi ini, semua sudah tahu. Nah sekarang sekali lagi tangan Tuhan ikut bermain di dalamnya dengan mengembalikan posisi harga minyak itu disekitar harga normalnya. Caranya-sekali lagi tentu tidak dengan logika eksakta, caranya tentu tidak dengan asumsi buatan manusia. Tuhan punya cara sendiri dan sangat mudah bagiNya untuk merubah sesuatu yang mustahil menjadi kenyataan.

Tuhan hanya ingin menegaskan : Sesungguhnya Aku tidak menyukai orang-orang yang melampau batas. Maka dengan sentuhan ayat populer Innama amruhu izza arodha syaian ayyakulalahu kun fayakun. Masuk diakalkah ketika hanya dalam hitungan minggu harga minyak jatuh sampai lebih dari setengahnya. Terakhir menyentuh $ US 50. Dan itu adalah jawaban dari doa orang-orang yang dianiaya secara universal di jagat ini. Mudah saja kan, dan logika cara pandang manusia jarang-jarang mengaminkan cara pandang Sang Khalik yang dipertontonkan itu. Meskipun begitu untuk yang satu ini Tuhan masih memaklumi karena rasa sayangnya pada milyaran ummat manusia yang menderita di muka bumi akibat ulah segelintir makhluk rakus berwajah kapitalis.

Masih ingat jua kan ketika badai tsunami menghantam Aceh ketika ribuan orang telah tewas akibat konflik berdarah selama puluhan tahun. Dalam bahasa agama, ini juga sebuah solusi untuk kesempurnaan cara hidup damai di lembaran hari berikutnya. Bayangkan, betapa sulitnya mendamaikan formula di bumi serambi Mekkah itu. Kekerasan dibalas dengan kekerasan sehingga menimbulkan korban yang tidak sedikit. Pernahkan juga diangankan ketika bencana itu usai dengan korban ratusan ribu orang, kedamaian menerbitkan berkah di bumi Aceh. Subhanallah, begitu perkasanya cara Engkau menyelesaikan konflik tanpa harus mengumumkannya, tanpa harus menyuratinya, hanya menyiratkan saja, itu pun bagi orang-orang yang memikirkannya.

Ketika petinggi junta militer Myanmar menghantam ribuan demonstran termasuk didalamnya ratusan Bikshu, dan melakukan sapu bersih penangkapan dan penyiksaan, bukankah itu cermin arogansi yang sangat mencengangkan dunia. Bukankah Bikshu itu seorang yang sangat dekat dengan Tuhannya. Bukankah yang disiksa itu rakyatnya sendiri, bukankah yang dihalau itu mereka yang ingin menyampaikan ketidak adilan. Dunia hanya bisa menyeru tapi tidak bisa bertindak lebih jauh. Maka sekali lagi tangan Tuhan memperlihatkan keperkasaannya dengan menyapu seluruh delta Irawady yang subur melalui badai tropis paling menghancurkan. Seratus limapuluh ribu orang tewas, hilang tersapu badai. Bukankah itu juga salah satu tanda-tanda kebesaran Allah bagi mereka yang memikirkannya.

Beberapa akhir ayat dalam Al Quran membahasakan kalimat dengan santun namun syarat makna: Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaanNya bagi orang yang memikirkannya. Renungan religi dengan mengedepankan bahasa hati akan menjawab semua fenomena bahwa menikmati kehidupan di bumi Allah ini adalah membawa misi pertanggungjawaban karena makhluk yang bernama manusia itu adalah khalifah yang memimpin bumi. Sementara para pemimpin yang diamanahkan oleh sekelompok ummat atau rakyat adalah pilihan berdasarkan mekanisme untuk melaksanakan amanah dan tanggung jawab kepemimpinan yang diembannya.

Pemimpin adalah promotor sekaligus motor untuk menggerakkan dinamika yang bernama organisasi mulai dari organisasi level rendah sampai level tinggi, bisa dalam bentuk organisasi perkantoran, organisasi militer, bisa pula dalam bentuk organisasi kenegaraan. Gerak langkah organisasi yang dikomandoi oleh pemimpin akan memberikan gaya yang berbeda satu sama lainnya. Ada yang memiliki style flamboyan, ada yang tegas dan lugas, ada juga yang mengedepankan kebersamaan untuk maju bersama. Tetapi tidak sedikit yang hanya menyanjung ke atas berrmental hipokrit.

Apa pun itu, amanah yang dilakukan seorang pemimpin adalah bagian dari catatan harian yang kelak akan dipertanggungjawabkan. Sejatinya adalah mampu memberikan korelasi antara nilai manfaat dan kemaslahatan bagi sumber daya dan goal. Jika yang diutamakan hanya goal jadilah seperti Bush, Blair atau Howard. Proses mencapai tujuan dilanggar dengan tidak menghormati norma proses yang berkaitan dengan instink kultur, perilaku dan mentang-mentang. Dalam kacamata demokrasi mereka lengser secara bijaksana karena memang sudah harus turun dan itu juga salah satu wisdom yang diperlihatkan dalam kebijaksanaan Tuhan. Walaupun coretan cerita tentang sikap aniaya mereka ketika memimpin adalah dosa horizontal yang disumpahi banyak orang.

Pesan singkatnya sederhana saja, jadilah pemimpin yang mengayomi, bersikap bijaksana, tidak berpihak, tidak melakukan diskriminasi, standar ganda sehingga akan menjadi keberkahan nilai hidup dan pahala bathin yang dipadankan dengan sejarah catatan kepemimpinan. Bukankah hidup ini hanya menjalankan amanah, tanggung jawab setelah itu kembali menuju keabadian. Bukankah pertanggungjawaban kepemimpinan adalah penceritaan testimoni dari perilaku yang diperlihatkan selama kepemimpinan. Bukankah itu atas nama hati nurani, bukankah itu atas nama bahasa hati. Dan hanya suara hati yang bisa menjawab dan mengamininya.-

Monday, August 25, 2008

Pelukan Ramadhan


Datang lagi penantian dari sebelas bulan sebelumnya, sebuah bulan purnama bulat bundar berdurasi bilangan qomariyah yang mengantarkan sejuta keindahan dan keteduhan nuraini berwajah bening. Sekuntum bunga cinta dan seikat kembang kasih sayang terbuka dan dibuka kembali oleh Allah dengan password untuk orang-orang yang beriman, melaksanakan interaksi kompleksitas ibadah di kelas utama yang bergaransi penuh. Jaminan terhadap tersenyumnya rahmat, berkat dan maghfiroh dipersembahkan kepada wajah-wajah pecinta sejati Al Quran dan Sunnah Rasul.

Adalah bukti kasih sayangMu yang memberikan sekali lagi kesempatan untuk ummat yang istiqomah melantunkan dan menayangkan pembuktian rasa tahu diri sebagai makhluk yang memiliki kecerdasan spritual. Itulah sebabnya Engkau selalu memulainya dengan Yaa Ayyuhallaziinaamanu, sebagai pembatas dan kelas akselerasi yang Engkau sekolahkan dalam semester keimanan yang terakreditasi mutlak dalam ijazah ketaqwaan bergaransi jannah. Engkau tidak memilihnya dari kelas Yaa Ayyuhannaass karena Engkau memberikan nilai performansi hanya kepada orang-orang yang tahu diri dan bisa mengaca diri berkat taufik dan hidayahMu.

Adalah bukti kasih sayangMu jua yang tetap setia memberikan kesempatan pintu taubat terbuka setiap saat kepada seluruh sosok berlabel khalifah fil ardhi untuk kembali pada fithrah membersihkan semua daki khilaf, lalai dan dosa dengan deterjen pensucian tanpa harus membayarnya dengan kurs dosa yang telah menggejolakkan dan menghancurkan nilai-nilai istiqomah. Adalah Allah pula yang selalu membuka mata hatiNya untuk menerima pengampunan dalam cucuran air mata dan penyesalan nashuha yang mendalam. Bukankah ini karena rahman dan rahimNya kepada makhluk tercintaNya yang bernama manusia.

Ramadhan, begitu meriahnya sambutan yang dipestakan untuk mempertontonkan kesiapan mempersandingkan rangkaian ibadah dan pembersihan noda cela yang tercarut marut dalam perjalanan kelalaian lakon, ketidaksengajaan peran yang menyentuh titik singgung kewajiban hablumminallah dan hablumminannas. Ruang yang dipersiapkanNya membuktikan masih adanya rentang waktu untuk memutihkan pusat rohani yang terbungkus dalam bilik kamar hati dan mengadoninya dengan bahan-bahan baku rangkaian ibadah wajib dan sunnah.

Mendulang galian terbuka dengan kesempatan ibadah yang dipergelarkan dalam Tournament of Ibadah oleh Sang Khalik dengan Grand Slam Ramadhan Open, adalah karunia termegah yang dilaunching secara spektakuler melalui proklamasi wahyu yang dikumandangkan dengan kebenaran firmanMu pada qalam di surat nomor 2 ayat 183. Hanya tinggal mendulang wahai orang-orang yang beriman, tidak perlu lagi menambang dengan galian bawah tanah atau bawah laut. Sudah terbentang dalam lahan sejuta hektar yang dibentangkan dengan anugerah asma Allah diperdengarkan dan dikumandangkan pada kesyahduan dan kekhusyukan ibadah dan i’tikaf.

Bukankah itu sepenggal fragmen yang digratiskan Allah dari berjuta nikmat dan karunia yang dipancarkan tanpa harus membayar dari persewaan hidup yang diperuntukkan bagi hambaNya yang memikirkan nilai-nilai eksistensial keMahaanMu. Tidak ada nilai lain yang dapat disetarakan atau bahkan didaftarkan untuk membungkus rasa syukur menghitung kalkulasi esensial limpahan rahmatMu dalam kesempatan meraih prestasi Ramadhan yang bergelimang medali ibadah.

Lantas, ego apalagi yang akan kau jadikan sebagai alasan (wahai manusia) untuk tidak meminang Ramadhan yang Allah siapkan untuk mencuci bersih kekotoran mesin-mesin hati yang harus ganti oli. Sindiran Allah tersurat nyata dalam Ar Rahman : Fabiayyi aalaaa irobbikuma tukazzibaan, berulang kali disuarakan dalam surat cinta Allah Azza wa Jalla. Hanya orang yang berhati batu dan yang tertutup ruang hatinyalah yang akan memalingkan wajahnya dari keindahan bulan suci penuh ampunan ini.

Keangkuhan kita sebagai manusia adalah selalu melihat materialitas keduniaan sebagai target pengukur gengsi keberhasilan mengumpulkan barang titipan. Yang bernama kekayaan, jabatan dan kekuasaan. Padahal disamping sebagai barang pinjaman yang dihibahkan Allah sementara, dia juga adalah amanah yang akan dan harus dipertanggungjawabkan pada hari akumulasi perhitungan.

Keangkuhan dengan label kekayaan, jabatan dan kekuasaan sering menjadikan orang berkacamata kuda dan melihat nilai disekelilingnya hanya berukuran satu dimensi. Padahal hanya dengan ketinggian jangkauan pesawat terbang misalnya, dari jendela kabin kita dapat melihat keperkasaan yang sesungguhnya, alam yang membentang hijau dan biru dengan selimut awan yang melukis kebesaran ciptaanMu. Dimanakah bersemayamnya keangkuhan keperkasaan nisbi seorang anak manusia sehingga buta dan tuli terhadap tanggung jawabnya sebagai khalifah. Hanya ada pada sepotong hati yang merah hati, kalau dia rusak maka rusak pula instrumen kendali diri. Summa rodadnahu asfalasafiliin.

Perjalanan hidup tidaklah sekedar mencermati instink dan naluri biologis, namun lebih mutlak mengapresiasikan air hina yang dipancarkan sebagai sumber eksistensi kehadiran seorang anak manusia yang fithrah di bumi pertanggungjawaban. Untuk kemudian memberi kesaksian ibadah vertikal dan horozontal pada buku dunia yang menjadi batas waktu kehidupannya. Perjalanan yang kita lalui sampai di batas ini dan bertemu kembali dengan bintangnya bulan (Ramadhan) merupakan saat yang tepat melakukan jurnal eliminasi dan closing terhadap setiap transaksi historis dosa dan kemaksiatan yang tidak sesuai dengan accounting treatment aqidah istiqomah. Bersamaan dengan itu marilah kita menjangkau beningnya fithrah dalam meraih kesempurnaan ibadah Ramadhan untuk membuka buku baru yang berjudul Al Fatah (kemenangan).

Selamat datang Ramadhan. Keniscayaan yang Kau hadirkan dalam berkah Lailatul Qadar adalah insentif bonus yang kadar kepekatan nilanya ada dalam genggamanMu. Kami berupaya untuk mencari dan menemukannya, namun bukan untuk menghitung profit margin yang ada didalamnya, karena nilai itu adalah rahasiaMu.

Pencarian kami adalah menjelajah menembus dinding ornamen Ramadhan, menyentuh keperkasaan asmaMu, melantunkan firmanMu, membisikkan doa, menahan beragam keinginan dunia yang tak pernah putus dan tak pernah puas. Penjelajahan kami adalah mencari ridhoMu, mensyukuri rahmat dan karuniaMu, mohon ampun atas segala dosa dan salah. Bukankah dari ridhoMu pula terbukanya semua pintu kerelaan, pintu rahmat dan keselamatan, wahai Allah.

Marhaban ya Ramadhan, wellcome beautiful month. Marilah kita masuki dan nikmati assesment center aqidah ini dengan kebeningan hati untuk memberikan nilai pencerahan iman dan istiqomah. Subhanallah.-
*****

Sesaat Sendiri

Jelajah after mengantar, sepanjang jalan pamularsih, menjelang siang, adalah kehampaan yang merambat naik, menjelajah ruang diri, dan menarik simpul yang mengikat desakan nafas. Duh Gusti, perjalanan panjang mereka, yang kukasihi, adalah hantaran yang mampu menuangkan rasa kesendirian itu, sebentar menghentak dan benar-benar sendiri.

Duhai adinda, duhai ananda, keberangkatan adalah pelukan yang tak mampu diurai dengan bening air mata, tak mampu dituangkan dalam barisan kata, selain adukan hati yang menggugurkan kekuasaaan rasio. Kalian menuju sebuah pusaran , ketika titik kulminasi niat menyenandungkan kepergian sembilan hari yang jauh nun disana.

Pergilah, karena itu adalah perjalanan hakekat
Pergilah, karena itu adalah perjalanan aqidah
Pergilah, karena itu adalah perjalanan niat

Sampaikan salam pada raudah, sampaikan salam pada pusaran tawaf, sampaikan salam pada hakekat keesaan, sampaikan salam pada keagungan yang tiada tara. Dinda dan ananda akan merasakan nilai-nilai yang mengharukan kalbu dan menyematkan tanda perjalanan pada sejuta nilai.

(Catatan 190808)

Wednesday, July 02, 2008

Selat Sunda

Berjalan diatasmu adalah menggelar biru sepanjang mata memandang tanpa kedip karena engkau adalah pujian itu. Engkau adalah pujian itu dan sekaligus pujaan. Ya pujian yang tak bertepi, ya pujaan yang tak terkira sampai kemudian merapatlah kembali menuju etape perjalanan berikutnya. Engkau adalah anugerah yang hanya bisa dibaca dengan melipat hati dan kembali menengadahkan wajah ke langit luas tak berkesudahan, dimana bersemayam pendiri kedaulatan akidah.

Engkau pula yang mampu menepis keangkuhan manakala sejuta persoalan menjelajah hati sempit dan menyilangkan pandangan tak berwarna, tak berasa. Engkaulah gelombang indah itu, gelombang yang memisahkan, gelombang yang menyejukkan, gelombang yang mampu menghijaukan hati dan membuang sampah arogansi pada sejumlah plastik yang bergoyang di permukaan riak.

Pada sejumlah titik kehijauan pulau di depan, adalah itu yang memberikan makna, pada keinginan untuk berlari menuju. Berlari melintasi, berlari mengarungi dan membalas segala rindu untuk dikupas dan dipasang kembali pada bingkai hati yang dahaga untuk disiramkan pada embun pagimu.

Embun pagimu adalah sepoi-sepoi itu
Embun pagimu adalah sinar mentari senja gempita
Embun pagimu adalah alunan riak yang menyapu dinding ferry
Embun pagimu adalah kesejukan menawarkan episode etappe
Embun pagimu adalah siraman biru menyentuh aura

Tuesday, June 17, 2008

Catatan Bulan Hati (3)

Rehat menikmati secangkir kopi, menjelang matahari menidurkan diri, ditengah keringnya udara dan seraut pandang hanya gersang tanah yang memainkan mata. Kusimak cara sajinya, seperti biasa, cepat, lugas dan tentu tanpa tawar harga, karena memang sudah sedemikian standar harganya. Secangkir kopi hangat.

Beberapa baris sejajar bis-bis ukuran besar dengan pintu sebelah kanan yang khas, bagian bawah untuk bagasi, sementara untuk penumpang melalui anak tangga, dengan toilet di sebelah pintu, sebuah karoseri yang anggun. Tentu dengan built up seperti itu, sangat jauh beda dengan yang ada di domestik negeriku untuk menyesuaikan dengen selera.

Bukan itu yang menjadi sirat pandangku semata, karena ukuran hasrat hati yang memandang serombongan kafilah dari negara beda, namun bersamaan tujuan dengan arah yang seirama, putih warna memberikan silhoute cahaya menjelang rembang petang yang indah, sejuk dan merengkuh pusat cara pandang, matahati.

Ya, mereka sama denganku
Ya mereka sama dengan perjalananku
Memakai putih
Menjalankan putih
Melantunkan putih

Untuk dioles pada hati dan menebalkan dinding hati, menambal pada kealpaan jalan yang didapat, dan menjahit dengan sulaman ucap yang menggema bersama dan menangiskan hati. Betapa, rasa itu jua yang kembali hadir untuk mengiringi langkah catatan bulan hati ketika rehat rembang petang menggamit catatan untuk dituliskan pada sejumput kisah yang dijalankan pada haramain yang dituju. Duhai, betapa luasnya putihMu yang dipertontonkan pada serombongan kafilahnya dan kafilahku dengan lagu yang sama jua.

Wednesday, June 11, 2008

Catatan Bulan Hati (2)

Sahabat sembilan hari,
Dengan satu garis bawah, bahwa perjalanan kita adalah pertemuan yang mampu mensucikan lengan dan sinar untuk dibagi bersama, diurai bersama dan dinyanyikan dalam satu ruangan dengan Ac Split yang berisik. Masak sih berisik katamu, dan katanya juga, bukankah ini tanah suci yang memiliki segala kekayaan, katamu. Aku hening saja sembari menyelimuti diri dengan semangat terbaru. Apapun itu, perjalanan sembilan hari adalah silaturrahmi akbar yang mampu mempertemukan diri dengan dua sahabat yang mau mengerti tentang kesepahaman.

Kamu masih banyak bertanya sedangkan dia adalah tempat kita banyak bertanya sehingga lengkaplah jawaban yang diberikan untuk kemerdekaan bersujud dan bertahajjud. Tuhan telah mempertemukan kita ketika perjalanan masih baru dimulai dan sejatinya kita adalah musafir yang mampu mengikatkan diri dengan sentuhan perkawanan, pertemanan dan persahabatan yang dibentuk ketika kita berjalan bersama mengelilingi tujuh kali, tujuh hari dan tujuh bilangan. Sahabat, nilai tertinggi yang kuberikan pada sejumlah paragraf tentang perjalanan suci ini adalah sebagai catatan bulan hati yang mampu menegur egois diri dan melagukannya bersama kita bertiga, berjalan bersama, makan bersama dan menghitung bersama.

Sahabat, betapa eloknya kemudahan yang kita dapatkan ketika dingin dinihari mampu mengajak kita ke perjumpaan di raudah yang mengharukan. Betapa, sebuah waktu yang diberikan ketika masih sunyi dan dingin mengembangkan hari-hari suci di perjalanan suci dan mampu menuangkan berjumlah alinea untuk dicurhatkan pada kekuasaaan mutlak di sebuah tempat ijabah. Betapa aku merasa sebuah fragmen yang mampu menggetarkan seluruh nadi untuk disajikan dengan kesejukan kalimat doa berbaris-baris. Sungguh sebuah episode yang hanya dapat dijelaskan melalui untaian kalimat terapik, sebagai testimoni bahwa tidur sepulas dua jam mampu menyegarkan rangkaian perjalanan duapuluh empat jam tanpa rehat karena rindunya hati pada raudahmu. Betapa kesyahduan dan kaharuan mampu memberikan sinar bening pada sekujur tubuh sampai matahari pagi menyapa dan menyapu halaman Nabawi yang megah, indah dengan sejuta pesona.

Wednesday, June 04, 2008

Catatan Bulan Hati (1)

Adalah hantaran yang menyampaikanku sampai datang kembali menikmati dan menjelajah suci. Menyampaikan curahan hati pada semesta yang Engkau genggam tanpa akhir dan menerangkannya dengan sejuta firman yang Kau bentangkan. Aku datang lagi Rabb, untuk menikmati setangkai bunga keindahan yang Kau semayamkan pada lingkaran tawaf yang putih jernih (meskipun terik sinar mentari menantang suhu untuk berkeringat). Aku menikmatinya dengan lantunan irama hati dan mengirimkan senyum pada sesiapa yang menyapa tanpa harus mengutarakan sebab. Dan jernihlah sinar pandang untuk dibungkus kembali pada rajutan yang disinarkan.

Aku datang kembali menujuMu dan menyampaikan seribu lembar catatan untuk dikukus dengan baris doa. Sepanjang angkasa kulingkarkan asa, kupeluk haribaan dan menyapa tanpa kata, menyapa tanpa suara, menyapa tanpa sela. Menikmati garis lurus sepanjang matahari dan melandaskan luapan manakala sampai untuk bertamu. Sangatlah indah ketika mata hati meyapu semua sudut untuk diceritakan tanpa harus dikirimkan karena diri ada di halaman suci untuk memeluk auraMu.-(190408)

Wednesday, April 09, 2008

Menjelang Siang

Menunggu untuk keberangkatan, pada sebuah fokus yang ingin disyahdukan dengan linangan dan menggamitnya menjadi totalitas untuk penyerahan. Aku ingin menjamahnya dengan keseluruhan nadi dan memasukinya dengan putih bathin dan melontarkan sejuta bait tentang kefanaan yang didapatkan. Tentang nilai yang diperoleh, tentang garis yang digoreskan, pada batas ini, pada tepi ini ketika pantai tak menawarkan apapun kecuali debur ombak.

Akan kukatakan pada bayu di ketinggian atas awan, aku berangkat untuk menyampaikan, aku berangkat untuk mengatakan, aku berangkat untuk menceritakan. Bahwa lagu yang kusandingkan dengan kehangatan nadi hati adalah untuk menyatakan, bahwa aku tidak bersemangat melanjutkan. Dan hanya pada sejumlah dialog kusampaikan dengan kesamaan pandang, aku tidak ingin melanjutkan halaman, aku tidak ingin membaca lanjutan cerita, aku tidak ingin melanjutkan langkah.

Halaman buku yang kubaca adalah untuk menggantikan semua corak pandang tentang sebuah warna rutinitas yang menjadikan langkah jalan di depan seperti menanti hujan yang tak kunjung reda. Tetapi itu lebih baik ketimbang menawarkan berita tanpa isi sembari memandang wajah autis yang menari tanpa irama yang jelas. Dan sejumlah bingkisan yang disampaikan adalah untuk memberikan aura bahwa kesepahaman adalah bangunan yang apik untuk disejajarkan dengan kesetaran peran dan kesamaan pandang.
*****

Kuingin pastikan dengan senandung
Kuingin yakinkan dengan dengan lantunan
(Untuk sampai pada jalan searah saja)

Sudah kusampaikan
Sudah kuutarakan
Sudah kuceritakan
Bahwa halte di depan adalah yang terakhir
Bahwa persimpangan di ujung adalah usai
(Untuk sampai pada sehasta dekapan)

Bersiap pada seuntai andaikata
Berlari pada sejumput seandainya
Berdiri pada sebuah sinar lembayung
Bersila pada sebutir asa akhir

Bacaan adalah cerminan
Untuk menggali yang belum tercetus
Untuk menawar yang belum dibeli
Untuk mengais yang belum terbuang
Untuk menampung yang belum tercecer.
*****

Wednesday, March 26, 2008

Safari Timur

Cerah hari mengawali langkah bersama menuju timur yang lama tak disapa. Dan sepanjang jalan adalah memainkan irama dengan nyanyian keteduhan sembari terus memacu dan mengejar. Dan usai pula sehari perjalanan ke Sby dengan sambutan hujan deras yang membasahi kota. Akhirnya sampai jua ketika rasa ingin menyapu sejumlah asumsi untuk dicapai dan dijelajah.

Sambutan adalah kesenjangan ketika harus menjaga waktu untuk menanti. Tetapi bukankah tidak harus menepikan warna kebersamaan ketika pada saatnya bersua dengan cerah hati dan cerah ucap. Semua berjabat dan kehangatan adalah menu yang digambar bersama celoteh tak sua sekian halaman. Dan keasyikan berbagi suasana mampu meminjam hasrat yang lama tak ditorehkan. Waktu jua yang mendatangkan nilai persaudaraan dan waktu jua yang menghabiskan jalinan cerita.

Seingat hari, adalah nilai perjalanan yang membuat semangat untuk bertemu dengan sejumlah argumen, membawa kafilah dan menyapa dengan seruputan teh hangat menjelang senja. Dan cerita sesudahnya adalah menceritakan kisah tak sua sekian jilid sampai mata memerah tak lagi mendengarkan.
*****

Adalah kesejukan yang menerpa ketika sampai di taman bunga dan buah pegunungan. Sekedar berjalan sembari menapak tilas Batu, bahwa aku pernah kesini, dan kini menyapa kembali bersama, memandang seluas mata memandang, hijau segar, sejuk rasa, sejuk aroma. Kemudian berjalan lagi dan menghabiskan hari dengan Jatim Park yang memesona. Kubiarkan semua lepas, semua menjajakan gairah, ada tornado, ada kumpulan koleksi, ada gemericik, dan semua yang menyaksikan adalah kesegaran membagi waktu untuk kepuasan bermain, berjalan dan menjelajah.

Menikmati hidangan menjelang terbenam matahari, mengganti rasa lelah dengan menyantap hidangan ikan bakar di ruang yang ramai dan menyenangkan. Sebuah sajian yang cepat dan lezat menuntaskan rasa lapar dan menggantinya dengan kecupan rasa yang bernilai sembilan, cepat dan nikmat. Semua tertawa, semua puas, dan kembali dengan kecepatan penuh. Tak lupa menyisir pinggiran lumpur fenomenal, luar biasa, dan merasakan suasana yang mencekam, melewati barisan rumah tak berpenghuni, tak beratap, menyisakan kepedihan karena aliran lumpur panas itu.

Malam dibentang dengan lanjutan perjalanan, kali ini melewati utara dengan asumsi lebih cepat. Dan rute perjalanan tak sengaja melewati WBL, yang jadi omongan itu, besar, megah dan menjanjikan keinginan untuk datang. Ya ada waktu khusus untuk datang pada saatnya, setidaknya rute yang dilewati sudah bisa diukur, tinggal membagi waktunya saja. Dan pagi menjelang, purnalah rangkaian perjalanan lengkap yang menyenangkan.
****